Bahasa | English


SENI TRADISIONAL

Kain Tenun Baduy, Penuh Makna dan Bernilai Historis

28 May 2019, 00:00 WIB

Indonesia memiliki keragaman suku bangsa dan budaya. Bukan hanya kaya dengan budaya, seperti tari-tarian atau adat istiadat, ada satu kekayaan Indonesia juga. Kekayaan tersebut adalah di kain.


Kain Tenun Baduy, Penuh Makna dan Bernilai Historis Kain tenun baduy. Sumber foto: Pesona Indonesia

Kita mengenal ulos dari batak, sasirangan dari Banjar, sarung bugis, songket Palembang dan Lombok, kain lurik dan beragam kain khas Indonesia lainnya. Salah satu kain khas ini adalah dari Suku Baduy.

Pernah mengenal suku Baduy dari Banten?

Suku Baduy/Badui ini juga dikenal dengan Urang Kanekes, Orang Kanekes merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi Urang Kanekes ini diperkirakan 26.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Baduy Dalam.

Asal muasal sebutan "Baduy" merupakan pemberian  penduduk luar dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden).

Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.

Suku Baduy ini memiliki kain tenun yang disebut dengan Tenun Baduy. Kain Tenun Baduy ini memiliki makna-makna yang erat hubungannya dengan tradisi dan kepercayaan mereka. Kain ini bukanlah untuk memenuhi kebutuhan sandang saja.

Kain ini, bagi Orang Kanekes, juga menjadi identitas terlebih khusus nilai-nilai adat yang juga melambangkan kehadiran mereka. Kain tenun ini sangat dekat dengan kehidupan khususnya lingkungan keluarga.

Sekilas, aktivitas menenun tampak sebagai kegiatan sampingan yang seolah-olah hanya merupakan aktivitas pengisi waktu luang bagi kaum perempuan Baduy. Namjun ternyata setelah ditelusuri secara lebih dalam,aktivitas menenun mengandung sejumlah nilai yang lebih penting.

Bagi masyarakat baduy, menenun mengajarkan kedisiplinan. Setiap anak perempuan yang lahir di Baduy, sedari kecil mereka sudah ditanamkan kedisiplinan yang tinggi dengan cara mempelajari aturan adat dan nilai-nilai Masyarakat Adat Baduy. Salah satunya berhubungan dengan aktivitas menenun.

Mereka meyakini, kegiatan menenun merupakan wujud dari ketaatan yang dilakukan oleh perempuan Baduy terhadap aturan adat yang mereka junjung.

Kain tenun baduy memiliki kekhasan dari bahannya yang agak kasar dan warnanya cenderung dominan. Bintik-bintik kapas dari proses pemintalan tradisional telah menghasilkan tekstur khas tenun Baduy.

Alat untuk memintal dari kapas menjadi benang, merupakan alat yang mereka ciptakan sendiri sejak ratusan tahun lalu. Urang Kanekes  menyebut alat pemintalan dengan gedogan/raraga.

Kain tenun yang awalnya dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan sandang itu dibuat sederhana. Motif andalan mereka adalah motif geometris, seperti garis berbentuk kait, spiral atau disebut juga pilin, garis lurus, segi tiga, segi empat, bulatan, dan masih banyak lagi.

Tenun Baduy tak ubahnya ungkapan estetika dan alam sekitar pegunungan Kendeng, tempat masyarakat Baduy bermukim. Coraknya mencerminkan sikap hidup dan adat istiadat yang masih ketat dijaga sebagai warisan nenek moyang. Ragam hias yang mencerminkan filosofi hidup mereka.

Untuk menghasilkan kain tenun Baduy ini, prosesnya cukup lama. Bahkan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Lamanya proses ini disebabkan oleh besar dan kerumitan membuat motif kain. Biasanya motif kain Suku Baduy berupa garis warna-warni dan motif yang terinspirasi dari alam.

Suku Baduy menggunakan kain tenun ini sebagai bahan utama pembuatan baju adat. Terlebih lagi jika menyangkut dengan Suku Baduy Dalam yang masih memegang teguh aturan adat. Pakaian harus terbuat dari kapas dan tidak boleh menggunakan mesin jahit dalam pembuatannya.

Untuk Suku Baduy dalam kain tenun yang dihasilkan didominasi dengan warna putih. Warna ini diartikan dengan suci dan aturan yang belum terpengaruh dengan budaya luar.

Sedangkan untuk masyarakat Baduy Luar, kain tenun akan didominasi warna hitam dan biru tua menjadi warna yang sering dipakai. Untuk kaum perempuan kain digunakan dalam membuat baju adat yang memiliki bentuk menyerupai kebaya.

Jika kita ini melihat langsung kegiatan menenun Suku Baduy kita bisa mengunjungi Kampung Cibeo, salah satu kampung di Desa Kanekes. Di kampung ini,  wisatawan dapat belajar dan mempelajari rumitnya proses pembuatan kain yang dilakukan dengan cara menenun. Bambu dan bilah-bilah kayu yang saling beradu serta menyelipkan benang dalam alat tradisional membuat wisatawan akan kesulitan saat melakukan kegiatan menenun.

Satu yang menarik, kegiatan menenun hanya boleh dilakukan oleh kaum perempuan saja. Konon jika pihak laki-laki terkena alat tenun apalagi mencoba kegiatan tradisi ini maka laki-laki tersebut akan berubah perilakunya menjadi seperti perempuan.

Karena sangat unik, jika ingin  berkunjung ke Kampung Baduy, jangan lupa untuk membeli kain tenun khas Baduy. Harga jual tenun Baduy sangat terjangkau, yaitu berkisar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta.

Bagi yang berminat membeli kain  tenun itu, warga di sekitaran perkampungan Baduy berperan menjadi perajin dan penjualnya.

Selain karena keunikannya, pamor tenun Baduy mulai naik manakala beberapa desainer fesyen kenamaan menjadikan tenun itu sebagai bahan dasar karya mereka.

Untuk membuat sehelai kain tenun berukuran 32 meter persegi rata-rata dibutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Berminat? (K-TB)

Seni
Ragam Terpopuler
Revitalisasi Pasar Berbasis Kearifan Lokal
Empat pasar rakyat di empat kabupaten dibangun ulang oleh pemerintah sesuai dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di masing-masing daerah. Satu di anta...
Cuaca Ekstrim di Sekitar Dedaunan
Hamparan embun es yang instagramable kembali hadir di Dieng. Misteri suhu ekstrim dekat permukaan tanah belum terjelaskan. Namun ada bukti bahwa bakteri es bisa mensimulasi terjadinya kristal es (fros...
Si Klepon Naik Daun
Saat ini, jajanan pasar ini tidak kalah populer dengan kue dan roti modern berjejaring dari Prancis, Jepang, atau Korea Selatan. ...
Mengawal Keuangan Negara di Tengah Covid-19
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi kendala pemeriksaan. Bahkan untuk cek fisik, mereka memakai drone dan google maps live. ...
Memompa Semangat Juang di Ruang Publik
Penanganan Covid-19 memasuki babak baru. Solusi kesehatan dan ekonomi dikedepankan secara simultan. Strategi komunikasi sepertinya mengarah ke aksi best practice di tengah musibah. ...
Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air
Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020. ...
Ketika Indeks e-Government Indonesia Naik 19 Peringkat
Komitmen pimpinan pada instansi pemerintah merupakan hal penting dalam melakukan perbaikan yang kontinu untuk mewujudkan peningkatan SPBE secara menyeluruh. ...
Mystery Shopper untuk Layanan Kependudukan Lebih Baik
Direktorat Jenderal (Ditjen) Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membentuk tim penyamar untuk mengecek pelayanan publik layanan kependudukan di 34 provinsi....
Uji Klinis Berhasil, Akankah jadi Oase di Tengah Gurun?
Dari balik tembok perusahaan bioteknologi di Massachusetts, AS, kabar baik dihembuskan. Uji coba vaksin Covid-19 dinyatakan manjur dan tidak berefek samping serius. ...
Titik Rawan Tangsi Tentara
Dua kluster Covid-19 muncul dari tangsi militer. Gubernur Ridwan Kamil meyakini, tradisi disiplin yang tinggi membuat kluster itu tak meluas. ...