Bahasa | English


PARIWISATA

Desa Sitampurung Sentra Produksi Giring-giring

22 May 2019, 00:00 WIB

Masyarakat kita unik dan kaya keterampilan. Jika Desa Sipoholon, Tapanuli Utara beken dengan gitar akustiknya, maka Desa Sitampurung, Kecamatan Siborongborong, Sumut kesohor dengan kehebatannya menukangi giring-giring (lonceng).


Desa Sitampurung Sentra Produksi Giring-giring Produksi giring-giring. Foto: IndonesiaGOID/Dedy Hutajulu

Desa Sitampurung hanya berjarak sekitar 30 menit dari Bandara Silangit, naik transportasi darat. Dari Kota Balige hanya berjarak sekitar 28 kilometer, dan waktu tempuh sekitar 51 menit baik kendaraan roda dua atau empat. Desa ini sudah dikenal sebagai sentra pandai besi yang memproduksi alat-alat perkebunan, pertanian serta lonceng gereja sejak puluhan tahun lalu, Sitampurung dikenal sebagai produsen besi tempahan. Aneka benda tajam mereka tempah mulai dari parang, babat, pisau, sabit, jarbang, hingga cangkul. Salah satu tempahan yang terkenal dan telah terdistribusi ke Nusantara bahkan mancanegara adalah giring-giring (lonceng gereja). Tak heran jika warga Sitampurung didaulat si topa bosi (tukang tempah besi).

Jika melintas di Jalan Siborongborong menuju Dolok Sanggul dan terdengar suara gemerincing besi yang dipukul bertalu-talu, atau tampak sejumlah giring-giring dengan ukuran bervariasi berjejer di pinggir jalan maka tak salah lagi, daerah itu adalah desa Sitampurung.

Sudah tak terhitung lagi berapa banyak peralatan rumah tangga dan pertanian yang diproduksi warga Sitampurung telah tersebar di kalangan petani dan penduduk di Sumatera Utara. Tak terhitung lagi jumlah giring-giring yang mereka tempah. Lonceng buatan Sitampurung telah tersebar ke berbagai daerah sepasti di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua. Tak hanya lonceng gereja, lonceng-lonceng kecil yang dipakai institusi sekolah-sekolah, kantor penjara, kantor polisi, dan lainnya juga dibeli dari Sitampurung.

Sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya Nasrani, giring-giring punya pangsa pasar lebih menjanjikan ketimbang alat pertanian atau perkakas rumah tangga. Sebab, setiap gereja baru dibangun, pastilah membutuhkan lonceng. Maka, panitia pembangunan gereja bisa dipastikan akan memesan giring-giring dari Sitampurung. Simbiosis inilah yang serta merta mendulang citra positif desa Sitampurung sebagai produsen giring-giring. “Kami sedang membangun gereja di Halmahera, jadi kami beli ke sini,” ujar Rey saat berkunjung ke Sitampurung, tempo hari.

Menurut Rey, ia tahu pembuat giring-giring terbaik ada di desa Sitampurung. Informasi itu ia dapat dari rekannya, orang Batak. Berbekal informasi itulah ia datang jauh-jauh dari Timur Indonesia ke Tapanuli Utara demi mendapatkan satu unit lonceng gereja.

Tahun 2017, Kaleb Pardede, mahasiswa Universitas Negeri Medan pernah meneliti tentang industri pandai besi di Sitampurung. Dalam kajiannya ia menulis bahwa jumlah pengusaha industri pandai besi di Desa Sitampurung tinggal 43 orang. Ia juga memaparkan mengenai langkah-langkah proses produksi, faktor-faktor industri berupa bahan baku yang digunakan, modal awal, jumlah tenaga kerja, keterampilan yang dibutuhkan hingga besarnya pendapatan dan upah.

Menurut Kaleb, seorang pengusaha industri pandai besi memerlukan bahan baku antara 200 kg- 3000 kg per bulan. Bahan baku diperoleh dari kota Tebing Tinggi, Medan dan Kisaran. Sedangkan modal awal yang digunakan pengusaha berada pada interval Rp 5 juta hingga Rp 50 juta. Modal umumnya dari kantong pribadi si pengusaha pandai besi (sekitar 60 persen), sisanya modal pribadi ditambah pinjaman dari bank. Tenaga kerja yang dibutuhkan juga bervariasi antara satu hingga sembilan orang.

Pemasaran hasil tempahan, tulis Kaleb, pada umumnya (88 persen) dilakukan secara tidak langsung, seperti didistribusikan ke luar daerah, diantaranya Medan, Riau dan Jambi. Selebihnya dijual langsung di lokasi produksi (11 persen). Pendapatan juga bervariasi, yakni antara Rp 600 ribuan hingga 20 juta. Aktivitas industri pandai besi ini, menurut warga sudah dimulai sejak 1915 dan terus dilestarikan hingga kini. Meski dalam tiga tahun belakangan, jumlah pengusaha industri pandai besi di Desa Sitampurung menurun. Jika tahun 2015 ada sekitar 53 pengusaha, di 2016 menjadi 47 orang dan di 2017 tersisa hanya 43 saja. Penurunan dipengaruhi oleh proses produksi, modal, bahan baku, tenaga kerja, transportasi, pemasaran dan keterampilan. (K-DH)

Budaya
Seni
Wisata
Ragam Terpopuler
Ketika Atap Kapal Jadi Sumber Energi
Nelayan sekarang sudah bisa memanfaatkan energi matahari untuk mengganti bahan bakar solar. Bayu berganti surya. ...
Mitos Keberaksaraan Orang Jawa
Legenda Aji Saka. Sebuah mitos yang bukan hanya bertutur tentang sejarah dikenalnya aksara bagi orang Jawa, itu sekaligus menjadi momen penanda penting tentang signifikansi sebuah tradisi literasi dal...
Kominfo-Gojek Perluas Akses PeduliLindungi
Aplikasi Gojek menargetkan mampu menyumbang satu juta unduhan PeduliLindungi hingga enam bulan ke depan. ...
Aksesoris Tutul Menembus Pasar Dunia
Dinobatkan menjadi salah satu desa produktif di Indonesia, hasil karya tangan-tangan warga Desa Tutul Kabupaten Jember mampu hasilkan ratusan juta rupiah dalam sebulan. ...
Anak Pekerja Migran Berbagi Sayang di Tanah Lapang
Anak-anak buruh migran bisa berekspresi, orang tua juga bisa berkreasi. Tanoker menjadi wadah keceriaan dan kebahagiaan. ...
Perjuangan Gordon Ramsay Memasak Rendang
Juru masak kelas dunia, Gordon Ramsay sukses mengeksplorasi kekayaan kuliner, budaya, dan keindahan alam Minangkabau. Ia pun memasak rendang yang lamak bana. ...
BLC, Senjata Pemerintah Melawan Corona
Aplikasi BLC tak hanya berguna untuk pemerintah dan masyarakat, melainkan juga untuk petugas kesehatan. ...
Mengenali Likupang untuk Kemudian Jatuh Cinta
Destinasi wisata di Provinsi Sulawesi Utara tak hanya Bunaken. Sejumlah pantai berpasir putih dan berair jernih ada di kawasan Likupang. ...
Akasia Berduri, Dulu Didatangkan, Kini Jadi Ancaman
Akasia berduri bukanlah tanaman asli Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Ia didatangkan dari Kebun Raya Bogor untuk keperluan sekat bakar. Tapi sekarang, flora itu malah berk...
Ventilator Karya Anak Bangsa Siap Diproduksi Massal
Pandemi corona membuat otak-otak kreatif bekerja. Hanya dalam waktu tiga bulan, anak-anak bangsa bisa menghasilkan produk inovasi yang bermanfaat. ...