Bahasa | English


PARIWISATA

Sabu Raijua, Sorga Tersembunyi di Sunda Kecil

23 October 2019, 03:56 WIB

Bumi Pertiwi punya kekayaan lengkap, mulai dari keanekaragaman etnis, keyakinan, dan bahasa. Banyak daerah yang juga memiliki kekayaan dan keindahan alam yang mungkin tak dimiliki bangsa dan negara lain.  Ibarat kata, sorga itu ada di sini; di Indonesia.


Sabu Raijua, Sorga Tersembunyi di Sunda Kecil Tebing Ke’labba Madja, Sabu Raijua. Foto: Pesona Indonesia

Sabu Raijua tak banyak yang tahu. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Kupang pada tahun 2008. Terdiri dari tiga pulau yaitu Pulau Sabu (pulau terbesar), Pulau Raijua dan Pulau Dana. Punya enam kecamatan yaitu Kecamatan Hawu Mehara, Raijua, Sabu Tengah, Sabu Liae, Sabu Timur, dan ibukota Menia di Sabu Barat.

Seba adalah kota kecamatan Sabu Barat, merupakan kota paling ramai di pulau Sabu. Dulu, pulau Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam provinsi Sunda Kecil. Kabupaten yang terletak diantara Pulau Sumba, dan Pulau Timor ini memang tidak terkenal seperti Pulau Rote yang merupakan pulau paling selatan Indonesia. Pulau Sabu yang merupakan bagian dari Kabupaten Sabu Raijua adalah pulau paling selatan kedua setelah pulau Rote.

Dalam beberapa hal Sabu Raijua sangat mirip dengan Rote yang juga penghasil gula lontar. Pulau Sabu dijuluki rai due donahu artinya pulau penghasil gula lontar, karena gula lontarnya sangat melimpah dan terkenal. Masyarakat lokal menyebut dirinya sebagai Do Hawu dan pulau yang mereka tempati sebagai Rai Hawu.

Dibalik tanah yang gersang, tandus dimana penduduknya bertahan hidup dengan memanfaatkan pohon lontar, ternyata pulau ini menyimpan potensi pariwisata yang dahsyat. Potensi pariwisata pulau ini diketahui masyakarakat luas sejak ada operator pesawat perintis membuka jalur penerbangan dari Bandara El-Tari di Kupang ke Bandara Tardamu, Sabu. Juga dibuka jalur penerbangan dari Kota Ende ke Pulau Sabu.

Pada tahun 2018, salah satu destinasi wisatanya, yaitu Kelabba Maja meraih juara 1 Anugerah Pesona Indonesia (API), Kementrian Pariwisata untuk katagori Surga Tersembunyi Terpopuler. Ini capaian luar biasa untuk Sabu Raijua sebagai wilayah otonom baru.

Sebelumnya, pulau Sabu sangat sepi karena sulit dicapai. Dari Kupang orang harus naik feri dan menghabiskan waktu 12-14 jam mencapai Pelabuhan Seba di Pulau Sabu. Jika memakai kapal cepat, bisa meringkas durasi perjalanan jadi 4 jam. Jika cuaca buruk dan gelombang tinggi, feri atau kapal cepat bisa tertahan di darat, satu hari sampai seminggu.

Meski ada, angkutan umum jarang ditemukan, sehingga harus sewa mobil atau motor untuk mengelilingi pulau yang punya luas 460,78 kilometer persegi ini. Waktu tepat untuk berkunjung ke daerah ini antara Februari sampai Oktober setiap tahunnya.

Beberapa tempat di sana menunjukkan jejak budaya Megalitikum, seperti batu besar yaitu Dolmen (pandhusa). Beberapa desa adat semisal Desa Adat Namata, Desa Adat Kudji Ratu dan Desa Adat Pedarro, masih memelihara ritual adat dengan memakai batu besar untuk tempat sesaji pada hari-hari tertentu semisal permulaan musim tanam, musim panen, upacara kematian dan dipimpin seorang Deo Rai (pemuka adat). Sebagian dolmen dikeramatkan, dan jika dilanggar, pelanggar akan sakit atau tertimba bencana. Untuk masuk ke desa adat, pengunjung harus memakai kain tenun yang bisa disewa.

Legenda menuturkan, bahwa nenek moyang penduduk Sabu berasal dari tempat yang sangat jauh yang disebut bou dakka ti dara dahi, agati kolo rai ahhu rai panr hu ude kolo robo. Artinya kurang lebih, nenek moyang mereka dari tempat yang jauh sekali. Beberapa peninggalan, menunjukkan bahwa Sabu mendapat pengaruh kuat dari kota Surat (yang dilafalkan Hura), Gujarat, India. Itu tertuang pada kain tenun berbentuk patola bercorak khas India, gambar pura dan penggunaan benang berwarna emas.

Menurut cerita rakyat, Raja Majapahit dan istrinya pernah singgah di Ketita, Pulau Raijua, dan Pulau Sabu. Jejaknya ditandai dengan batu peringatan yang disebut Wowadu Maja dan sumur Maja di Daihuli dekat Ketita. Ada juga dua desa yaitu Tana Jawa dan Molie yang didiami masyarakat Sabu keturunan Jawa. Jejak India dan Majapahit ini memperkuat dugaan jaringan perdagangan Trans-Asiatic kuno di wilayah Nusa Tenggara.

Bangsa Portugis dan VOC yang mengincar cendana di wilayah timur juga pernah singgah di pulau ini. Saat itu Raja Sabu terikat perjanjian yang disepakati pada tahun 1756 untuk menyediakan tenaga bagi pertahanan VOC di Kupang. Kapten James Cook yang merupakan penemu benua Australia juga pernah terdampar dan mendapat bantuan logistik dari raja dan penduduk Sabu untuk kapal HM Bark Endeavour.

Alam dan budayanya memesona banyak wisatawan

Nyaris seluruh bagian di Sabu Raijua masih menunjukkan sifat asli, termasuk keramahan penduduknya. Meskipun sebagian besar hidup jauh dari berkecukupan, tapi penduduk Sabu Raijua gembira, empati dan toleran, suka menolong dan penuh semangat kekeluargaan. Keramahan masyarakat Sabu melebihi suku-suku di wilayah NTT lainnya.

Salah satu bentuk keakraban itu adalah salam khas Sabu yaitu cium hidung, yang disebut henge-dho. Dengan menyewa mobil dan menginap di Seba, wisatawan bisa menikmati beberapa destinasi yang sangat berbeda dengan daerah lain. Yang paling terkenal adalah Kelabba Madja yang terletak di desa Raerobo, kecamatan Sabu Liae. Beberapa bagian jalan menuju destinasi itu rusak dan berliku. Tapi jika sudah sampai di lokasi, kita akan terkagum pada destinasi ini.

Kelabba Maja dalam bahasa Sabu berarti ‘tempat para dewa’ adalah tempat sakral yang indah. Jika dihitung, ada 29 tingkatan pilar di sana. Berbentuk ngarai berukir hasil erosi ribuan tahun dan berwarna gradasi merah marun, pink, coklat, dan kelabu. Tampak pilar-pilar batu berwarna merah muda dengan puncak berbentuk mirip jamur berwarna merah tua menjadikannya sangat indah. Jika kita ke sana pada jam-jam tertentu, gradasi warna itu akan berubah menjadi biru dan putih yang kerap memesona wisatawan.

Beberapa orang menyamakannya dengan Grand Canyon yang terletak di Arizona, Amerika Serikat (AS). Grand Canyon adalah tebing hasil kikisan sungai Colorado selama jutaan tahun dan memantulkan warna sangat indah. Kelabba Maja memang tak sebesar itu tapi keindahannya memukau banyak orang. Kelabba Maja juga sering disamakan dengan Zhangye Danxia di Tiongkok, tapi lebih mirip dengan Painted Hills yang ada di Oregon, AS.

Tak salah jika tim Kemenpar memilihnya untuk memperoleh penghargaan pariwisata. Kelabba Maja punya dolmen yang berjajar tiga yang menggambarkan ayah, ibu dan anak. Setiap bulan Juli saat purnama, masyarakat dusun Kelanalalu, Desa Wadu Medi melakukan ritual untuk para Dewa Maja sebagai persembahan akan keselamatan dan kesuburan.

Disamping menyembelih kambing atau ayam merah, juga tersedia sesajian lain berupa sorgum dan kacang hijau. Jika masuk ke situ, kita tak boleh berkata kotor atau memaki. Pengunjung juga tidak diperkenankan naik ke puncak dolmen karena dianggap wilayah suci.

Tak jauh dari Kelabba Maja, juga ada destinasi alam Hu Penyoro Wea di Desa Dainao. Destinasi ini terletak di dalam laut sehingga baru bisa dikunjungi jika air surut. Menurut penutur peradaban masyarakat Sabu, Hu Penyoro Wea dipercaya sebagai tempat tinggal manusia pertama Sabu yang bernama Kika Ga.

Selain destinasi yang disebutkan di atas, masih banyak destinasi lain di Sabu Raijua, seperti Lede Maja, Bukit Salju, Gua Lie Madira yang punya interior sangat cantik dan kolam jernih. Ada juga Pantai Napae di Sabu Barat. Benteng Ege dan Batu Gong.

Seperti dijelaskan di atas, selain beberapa desa adat, di Sabu Raijua juga ada Istana Teni Hawu peninggalan raja terakhir, Raja Paulus Charles Djawa. Dalam istana terdapat dokumen dan peralatan yang dipakai raja untuk mempersatukan masyarakat Sabu. Istana ini terpelihara dengan baik dan beberapa kamarnya disewakan bagi wisatawan.

Jangan khawatir soal infrastruktur. Pemerintah Daerah sedang menyiapkan relokasi bandara dari Sabu Barat ke Sabu Tengah, agar lebih dekat dengan destinasi pariwisata. Sesekali waktu sempatkanlah ke Sabu Raijua. Kita akan menikmati surga kecil yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. (K-CD)

Destinasi
Wisata
Ragam Terpopuler
Perjalanan Huruf Palawa menjadi Aksara Jawa
Aksara telah dikenal di Nusantara selama seribu lima ratus tahun lebih. Legenda Aji Saka perlu dibaca dan diinterpretasi ulang berdasarkan fakta-fakta historis. ...
Kegairahan yang Terkendala Harga
Rata-rata satu petak keramba 3x3 meter menghasilkan 12,5 kg lobster. Toh, ada yang bisa produksi 20 kg per petak. Kegairahan budi daya lobster di Lombok terkendala harga yang menyusut secara tiba-tiba...
Laboratorium Alam di Tanah Ciremai
Kawasan hutan konservasi memiliki nilai sumber daya biologi yang sangat penting dalam menunjang kegiatan budidaya masyarakat sekitar. ...
Teguk Kesegaran Airnya, Lindungi Kesehatan Masyarakatnya
Ada empat jenis industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang diakui yaitu air mineral alami, air mineral, air demineral, dan air minum embun yang standarnya telah diatur melalui Standar Nasional Indon...
Revitalisasi Pasar Berbasis Kearifan Lokal
Empat pasar rakyat di empat kabupaten dibangun ulang oleh pemerintah sesuai dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di masing-masing daerah. Satu di anta...
Cuaca Ekstrim di Sekitar Dedaunan
Hamparan embun es yang instagramable kembali hadir di Dieng. Misteri suhu ekstrim dekat permukaan tanah belum terjelaskan. Namun ada bukti bahwa bakteri es bisa mensimulasi terjadinya kristal es (fros...
Si Klepon Naik Daun
Saat ini, jajanan pasar ini tidak kalah populer dengan kue dan roti modern berjejaring dari Prancis, Jepang, atau Korea Selatan. ...
Mengawal Keuangan Negara di Tengah Covid-19
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi kendala pemeriksaan. Bahkan untuk cek fisik, mereka memakai drone dan google maps live. ...
Memompa Semangat Juang di Ruang Publik
Penanganan Covid-19 memasuki babak baru. Solusi kesehatan dan ekonomi dikedepankan secara simultan. Strategi komunikasi sepertinya mengarah ke aksi best practice di tengah musibah. ...
Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air
Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020. ...