PARIWISATA
  Kawasan Kota Lama Semarang. Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan

Rumah Hantu yang Kini Jadi Galeri Industri Kreatif

  •   Sabtu, 26 Oktober 2019 | 04:55 WIB
  •   Oleh : Administrator

Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, sedang bersolek. Puluhan bangunan peninggalan zaman Kolonial Belanda yang dulu banyak tidak terawat kini sudah direstorasi dan direvitalisasi. Salah satu yang direstorasi adalah bangunan tua di Jalan Garuda nomor 1 Kota Lama, Semarang. Dulu, bangunan itu dikenal dengan sebutan “Rumah Hantu.”

Pada awalnya, bangunan “Rumah Hantu” tersebut merupakan gudang milik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Namun, setelah direstorasi dan direvitalasi, bangunan yang dulu compang-camping dimakan usia, berubah menjadi cantik dan kemudian diberi nama Galeri Industri Kreatif Kota Semarang.

Galeri tersebut sudah dibuka untuk umum lima bulan yang lalu. Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryati Rahayu, mengungkapkan sebenarnya bangunan kuno tersebut milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Namun, perusahaan pelat merah ini meminjamkannya ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah untuk dijadikan gudang. “Dulu, gudang penuh rongsokan. Kini sudah kita ubah jadi Galeri Industri Kreatif yang cantik, ini luar biasa,” kata Hevearita, ketika meresmikan gedung galeri tersebut.

Setelah diubah menjadi galeri, pengelolaan gedung tua ini berpindah ke Pemerintah Kota Semarang. Perlu dana Rp1,6 miliar untuk merenovasi bangunan tua itu agar penampakannya seperti waktu pertama kali dibangun dulu. Setelah dibuka, galeri ini menawarkan berbagai produk industri kreatif seperti fashion, kuliner, furnitur, handicraft, dan lain-lain termasuk barang-barang kuno yang antik.

Galeri Industri Kreatif Kota Semarang menempati tiga bangunan tua di kawasan Kota Lama. Bangunan pertama menampung pasar barang antik yang menjual beragam koleksi lawas yang sedap dipandang mata seperti benda-benda pusaka, patung, keramik, dan lain-lain. Cara pembayaran barang belanjaan tidak dengan uang tunai tapi dengan uang elektronik yang disediakan oleh pihak pengelola galeri.

Di bangunan kedua, diisi bermacam fashion khas daerah-daerah di Jateng seperti batik, kebaya, dan handicraft. Rata-rata batik yang dipajang merupakan batik tulis. Sedangkan di bangunan ketiga, merupakan pujasera yang menjajakan kuliner khas Jateng, antara lain, lumpia, soto, dan masakan lainnya.

“Saya tidak menduga rumah hantu ini bisa kita perbaiki menjadi keren. Akhirnya kita punya tempat untuk  memamerkan karya-karya menarik masyarakat Jateng, disini,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Ganjar berharap ke depan Galeri Industri Kreatif ini bisa mengadakan kegiatan rutin. Misalnya, pertunjukkan musik kreatif yang mengiringi wisatawan berbelanja oleh-oleh di galeri tersebut. “Ini baru awal. Kita akan mengisi banyak kegiatan di sini. Kota Lama Ini adalah putri tidur yang butuh pangeran untuk menciumnya,” harap Ganjar.

Kota Lama Semarang yang memiliki luas 31 hektare ini sudah mulai direstorasi dan direvitalisasi sejak 2017. Pemerintah Pusat sudah menggelontorkan anggaran Rp.183 miliar untuk “menyulap”  bangunan-bangunan kuno di sana. Tujuannya, kawasan Kota Lama harus menjadi ikon destinasi wisata Kota Semarang.

Di mata warga Kota Semarang, kawasan Kota Lama merupakan saksi bisu sejarah Indonesia pada masa kolonial Belanda. Kini, Kota Lama memiliki sejarah penting bagi Semarang. (K-MB)