Bahasa | English


PARIWISATA

Pesona Seribu Patung Penari Gendrung di Tanah Blambangan

24 September 2019, 12:00 WIB

Di ujung paling timur pulau Jawa, terdapat taman cantik yang isinya 1.000 patung penari. Tepatnya ada di Taman Gandrung Terakota yang berada di Kabupaten Banyuwagi, Jawa Timur.


Pesona Seribu Patung Penari Gendrung di Tanah Blambangan Pesona seribu patung gandrung. Foto: Gandrung Terkota

Taman Gandrung Terakota  Banyuwangi  merupakan ikon baru pariwisata yang cukup instagenik di Tanah Blambagan. Taman Gandrung Terakota berada di kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort, dimana ada ratusan patung penari gandrung yang siap menyambut kita ketika berkunjung ke sini.

Adalah Sigit Pramono, mantan pekerja disalah satu bank milik negara yang berada dibalik pembuatan Taman Gandrung Terakota. Idenya sendiri berasal dari Terracotta Warrior and Horses di Tiongkok yang dibangun pada masa Kaisar Qin Shi Huang (259-210 SM).

Penataannya juga melibatkan kurator seni rupa dari Galeri Nasional Indonesia sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dr Suwarno Wisetrotomo. Meskipun idenya sudah ada sejak beberapa tahun lalu, pembuatannya baru dimulai awal tahun 2018.

Taman Gandrung Terakota tidak hanya menyajikan deretan patung-patung penari gandrung. Memasuki kawasan ini, pengunjung akan dipertontonkan bukit hijau dan hamparan sawah, para petani yang sedang membajak sawah, kebun kopi, pohon durian, beraneka jenis bambu, serta tanaman endemik setempat. 

Bergeser sedikit kita akan menemukan Amfiteater Taman Gandrung Terakota, disini kita bisa menikmati keindahan pegunungan sekitar. Pengunjung juga bisa melihat empat buah gunung dikejauhan, yaitu Merapi, Raung, Meranti dan Suket.

Di sisi barat, kita akan menyaksikan keindahan Gunung Ijen yang memiliki ketinggian  2.443 meter diatas permukaan laut. Sementara jika pandangan diarahkan ke timur, maka akan tampak Selat Bali dengan airnya yang kebiruan.

Dasar alasan kenapa letak Taman Gandrung Terakota dibangun di area persawahan, dikarenakan berdasarkan filosofi tarian gandrung yang dinilai sebagai kesenian sakral di  Banyuwangi. Pada intinya, tari gandrung berasal dari tradisi rakyat, dimana awalnya merupakan perwujudan rasa syukur pada Dewi Sri atau yang dikenal dengan Dewi Padi atas hasil pertanian yang subur dan melimpah.

Karenanya, letak dari taman ini ada di lahan sawah aktif yang menampilkan beragam aktivitas para petani. Terakota sendiri adalah nama lain dari tembikar. Diketahui, ternyata patung-patung di Taman Gandrung Terakota ini terbuat dari tembikar.

Bukan asal berkreasi, oleh sang pencipta ternyata semua itu ada filosofi kuat. Patung gandrung terbuat dari sejenis gerabah yang dibakar maksimal dengan suhu 1.000 derajat Celcius. Ini artinya kualitas di bawah keramik dan rapuh, patung pun juga berongga dan tidak padat.

Konsep gerabah yang berongga di dalam patung jadi isyarat bahwa tidak ada yang abadi di dunia. Tujuan berkarya dari tembikar ini pun bukan untuk menciptakan sesuatu yang kekal tetapi sementara, yang sama seperti kehidupan.

Tari gandrung juga masih satu genre dengan tari tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger di wilayah Banyumas dan joged bumbung di Bali. Tarian ini melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu terutama pria, dengan iringan musik gamelan.

Namu jika ditarik alur sejarah lebih jauh, gandrung adalah alat perjuangan. Gandrung erat dengan sejarah perjuangan rakyat Banyuwangi tempo dulu saat melawan penguasaan Kolonial Belanda. Konon saat banyak rakyat Banyuwangi yang gugur mempertahankan tanah kelahirannya, gandrung tampil sebagai penyambung informasi para gerilyawan. Gandrung melakukan konsolidasi dengan para gerilyawan, agar bisa tetap berjuang melawan kolonial Belanda.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya, baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Biasanya, pertunjukan gandrung dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh.

Dari literatur yang kami rangkum, Kesenian Tari Gandrung awalnya muncul dan dilakukan oleh kaum laki-laki dengan membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana. Mereka berkeliling setiap hari mendatangi tempat yang dihuni oleh sisa rakyat Blambangan sebelah timur untuk melakukan Tari Gandrung dan mendapatkan semacam imbalan dari penduduk yang mampu.

Hasil sumbangan tersebut kemudian dibagikan kepada mereka korban perang yang kondisinya memprihatinkan, baik mereka yang mengungsi di pedesaan, pedalaman, dan di hutan. Mereka juga mengajak para korban tersebut untuk kembali ke kampung halamanya dan sebagian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang diprakarsai oleh bupati yang baru, bernama Mas Alit.

Setelah hutan tersebut selesai dibabad kemudian dikenal dengan nama Banyuwangi. Dari situlah terlihat peran besar tari gandrung yang sangat berpengaruh dalam sejarah berdirinya kota Banyuwangi.

Terbagi Menjadi Tiga Babak

Seiring dengan perkembangan, penari gandrung beralih menjadi penari perempuan. Dalam pertunjukannya, tari gandrung sebenarnya terbagi menjadi tiga babak. Pertama, dibuka dengan jejer, yaitu bagian dimana penari menyanyikan lagu dan menari sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan paju atau yang di daerah lain disebut ngibing, yaitu penari memberikan selendangnya kepada tamu yang datang untuk diajak menari.

Dalam babak ini penari terkadang menari dengan gaya menggoda para tamu yang akan diajak menari. Selain itu  pada babak ini selain menari juga diselingi repen atau nyanyian yang tidak ditarikan. 

Dan pada babak terakhir adalah seblang subuh yaitu penutup, dimana penari menari dengan penuh penghayatan dengan menggunakan kipas yang dikibaskan sesuai irama sambil bernyanyi. Pada bagian ini akan sangat terasa kesan mistisnya. Hal ini masih berhubungan dengan ritual seblang, yaitu suatu ritual penyembuhan atau penyucian yang dilakukan oleh penari jaman dahulu. Namun, di masa sekarang ini bagian seblang subuh sudah mulai jarang digunakan, meskipun merupakan bagian penutup pertunjukan tari gandrung.

Dalam pertunjukan, tari gandrung juga diiringi oleh iringan musik pengiring, diantaranya seperti kempul, gong, kluncing, biola, kendang dan kethuk. Selain itu sebagai kreasi biasanya juga terdapat beberapa instrumen lain seperti saron bali, angklung, rebana, dan electone.

Selaian itu, dalam pertunjukan, tari gandrung juga diiringi dengan panjak, yaitu seorang pemberi semangat dengan sorakan dan kata-kata yang kocak sehingga dapat memeriahkan pertunjukan. Peran panjak tersebut biasanya dilakukan oleh pemain kluncing.

Busana yang dikenakan penari tari gandrung, sangat kental dengan perpaduan  gaya Jawa dan Bali. Pada bagian tubuh atas, penari menggunakan baju yang berbentuk seperti kemben berwarna hitam yang terbuat dari beludru dan kain diikat di leher menutupi dada yang dihiasi ornament berwarna emas.

Lalu pada bagian bawah penari menggunakan kain batik khas Banyuwangi panjang sampai bagian atas mata kaki. Dan pada bagian kepala penari menggunakan mahkota dengan berbagai ornamen berwarna merah dan emas yang disebut omprok. 

Selain itu juga berbagai asesoris seperti kelat pada tangan, selendang yang dikenakan di bahu dan pada bagian pinggang diberi ikat pinggang dan sembong yang dihiasi warna emas. Tidak lupa tata rias khusus yang membuat penari terlihat cantik dan sesuai dengan busana yang dikenakan. (K-YN)

Destinasi
Wisata
Ragam Terpopuler
Kegairahan yang Terkendala Harga
Rata-rata satu petak keramba 3x3 meter menghasilkan 12,5 kg lobster. Toh, ada yang bisa produksi 20 kg per petak. Kegairahan budi daya lobster di Lombok terkendala harga yang menyusut secara tiba-tiba...
Laboratorium Alam di Tanah Ciremai
Kawasan hutan konservasi memiliki nilai sumber daya biologi yang sangat penting dalam menunjang kegiatan budidaya masyarakat sekitar. ...
Teguk Kesegaran Airnya, Lindungi Kesehatan Masyarakatnya
Ada empat jenis industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang diakui yaitu air mineral alami, air mineral, air demineral, dan air minum embun yang standarnya telah diatur melalui Standar Nasional Indon...
Revitalisasi Pasar Berbasis Kearifan Lokal
Empat pasar rakyat di empat kabupaten dibangun ulang oleh pemerintah sesuai dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di masing-masing daerah. Satu di anta...
Cuaca Ekstrim di Sekitar Dedaunan
Hamparan embun es yang instagramable kembali hadir di Dieng. Misteri suhu ekstrim dekat permukaan tanah belum terjelaskan. Namun ada bukti bahwa bakteri es bisa mensimulasi terjadinya kristal es (fros...
Si Klepon Naik Daun
Saat ini, jajanan pasar ini tidak kalah populer dengan kue dan roti modern berjejaring dari Prancis, Jepang, atau Korea Selatan. ...
Mengawal Keuangan Negara di Tengah Covid-19
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi kendala pemeriksaan. Bahkan untuk cek fisik, mereka memakai drone dan google maps live. ...
Memompa Semangat Juang di Ruang Publik
Penanganan Covid-19 memasuki babak baru. Solusi kesehatan dan ekonomi dikedepankan secara simultan. Strategi komunikasi sepertinya mengarah ke aksi best practice di tengah musibah. ...
Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air
Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020. ...
Ketika Indeks e-Government Indonesia Naik 19 Peringkat
Komitmen pimpinan pada instansi pemerintah merupakan hal penting dalam melakukan perbaikan yang kontinu untuk mewujudkan peningkatan SPBE secara menyeluruh. ...