Bahasa | English


PARIWISATA

Melongok Jalan Legendaris di Kota Bandung

22 October 2019, 13:24 WIB

Melintasi Jalan Braga seolah melintasi kembali sejarah yang menyertai perkembangan kota Bandung, Jawa Barat. Bangunan-bangunan kuno masih bisa dilihat di kiri-kanannya. Jalan yang sebelumnya beraspal, kini sudah dilapisi dengan batu andesit.


Melongok Jalan Legendaris di Kota Bandung Jalan Braga Bandung. Foto: Pesona Indonesia

Asal-usul nama “braga” sendiri masih simpang siur hingga kini. Ada yang mengatakan kalau “braga” berasal dari nama Theotila Braga (1834 – 1924) seorang penulis naskah drama. Di kawasan ini memang pernah bermarkas perkumpulan drama bangsa Belanda yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1882 oleh Peter Sijthot, seorang Asisten Residen.

Ada juga yang mengatakan kalau “braga” berasal dari kata “bragi”, nama dewa puisi dalam mitologi bangsa Jerman. Sementara ahli sastra Sunda mengatakan kalau “baraga” merujuk pada jalan di tepi sungai. Dan memang, Jalan Braga ini terletak di tepi Sungai Cikapundung.

Sementara catatan sejarah lainnya menyebut Braga dulunya adalah jalan pedati yang berlumpur. Braga juga dikenal dengan nama karrenweg atau pedatiweg. Jalan Karrenweg itu menghubungkan gudang kopi milik Andreas de Wilde (sekarang bernama Balai Kota Bandung) dengan Jalan Raya Pos (Jalan Asia Afrika sekarang).

Jalan  Braga  mengalami berbagai perkembangan jelang berakhirnya abad ke-19 seiring dengan pembangunan Kota Bandung secara umum. Kawasan ini kemudian dipenuhi dengan tempat perbelanjaan bagi warga Eropa yang tinggal di sekitar Bandung, terutama para preangerplanters atau pengusaha perkebunan teh.

Pada era penjajahan, Jalan Braga menjadi pusat perbelanjaan ternama tempat mondar-mandirnya kaum berduit. Karena itu, kawasan Braga sempat dijuluki sebagai De meest Eropeesche winkelstraat van Indie atau komplek pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia Belanda. Hal ini seperti diungkapkan Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984).

Berburu Es Krim Klasik dan Cokelat

Menyusuri Jalan Braga saat ini, bisa membawa kita sejenak mengenang sebagian wajah Bandung Tempo Dulu. Beberapa kompleks pertokoan di Jalan Braga masih mempertahankan arsitektur pada zaman kolonial Belanda. Sebagian besar bangunan masih digunakan sebagai tempat perbelanjaan, apotek, kantor, hingga gedung pameran.

Misalnya di bagian yang menghadap ke Jalan Asia Afrika, ada Gedung Merdeka yang didirikan pada tahun 1895. Dulunya gedung ini merupakan Societeit Concordia, dan pernah digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Tidak jauh dari Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga, ada juga cagar budaya yang kini digunakan sebagai Apotek Kimia Farma. Dulunya bangunan ini merupakan gedung Bank N.I. Escompto Mij.

Ada lagi yang unik, yaitu Gedung Majestic yang dibangun pada tahun 1925. Gedung yang dulunya berfungsi sebagai bioskop ini memiliki bentuk menyerupai kaleng biskuit. Saat ini Gedung Majestic masih digunakan sebagai tempat pameran, pertunjukan musik, dan pemutaran film.

Berjalan kaki sepanjang Jalan Braga, kita bisa menikmati suasana kota Bandung yang berbeda di sana. Di pinggir jalan, kita dapati deretan seniman yang menjajakan lukisan. Pelukis yang ada di Braga kebanyakan berasal dari  Jelekong, sebuah kampung pelukis di kawasan Baleendah.  Lukisan mereka pada umumnya bercerita tentang panorama pedesaan, adu ayam, buah-buahan, pacuan kuda, ikan koi, dan kereta kencana.

Jika ingin berburu kuliner jadul tempo dulu di Jalan Braga, kita wajib mengunjungi restoran Braga Permai - Maison Bogerijen. Restoran ini dulunya adalah tempat berkumpul orang-orang kelas atas. Menu makanannya kebanyakan khas Eropa. Restoran ini juga menyediakan roti dan kue khas kerajaan Belanda.

Saat ini, Braga Permai masih jadi salah satu tempat vintage yang menghiasi Jalan Braga. Makanan di sana kini lebih beragam, dari mulai masakan khas Nusantara sampai yang western pun bisa dipilih sesuai selera. Selain makanan berat, Braga Permai juga menjual es krim dan aneka cokelat.

Bila ingin makan es krim yang klasik, cobalah ke  Sumber Hidangan  yang sudah ada sejak 1929. Dekorasinya masih bergaya zaman dulu. Lokasi Sumber Hidangan tak jauh dari Braga Permai. Di sana, kita bisa mencoba es krim jadul dengan aneka rasa seperti kopyor, cokelat, vanilla, dan sebagainya. Selain es krim, Sumber Hidangan juga menjual roti dan kue. (K-YN)

Wisata
Ragam Terpopuler
Rekristalisasi Datang, Limbah Hilang
Meningkatnya limbah medis dari sisa-sisa penanganan Covid-19 menjadi persoalan tersendiri. Limbah-limbah tersebut merupakan bahan berbahaya dan beracun atau B3.  ...
Potensi Andalan Ekspor dari Liur yang Lezat
Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara eksportir sarang burung walet ke Republik Rakyat Tiongkok sebesar 75,3 persen. ...
Terowongan Silaturahmi Perkuat Persaudaraan
Terowongan penghubung di bawah tanah akan dibangun antara Masjid Istiqal dan Gereja Katedral. Sinyal tegas kerukunan dan toleransi antarumat beragama di tanah air. ...
Rekaman Suara Pilot Terus Dicari
Meski operasi pencarian dan pertolongan Basarnas telah dihentikan, Presiden Jokowi tetap meminta CVR Boeing 737-500 SJ-182 terus dicari. Penyebab kecelakaan harus diungkap tuntas. ...
PP 2/2021, Agar Penamaan Rupabumi Lebih Tertib
Pemerintah telah menerbitkan peraturan tentang penamaan pulau, daerah, sungai, danau, teluk, atau rupabumi. Tujuannya untuk melindungi kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. ...
Ketika DAS Barito Bobol Tersengat Anomali Cuaca
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat terjadinya penurunan luas hutan alam pada periode 1990-2019 sebesar 62,8 persen di DAS Barito Wilayah Kalsel. Ketika wilayah hulu tertimpa hu...
Dari Dinasti Wuhan sampai ke Varian Baru UK
Varian baru Covid-19 asal Inggris menjadi momok baru. Genom B-117-nya dimungkinkan berasal dari virus lain yang membuatnya lebih menular. Varian Afrika Selatan masih tunggu bukti ilmiah. ...
Si Manis di Ambang Kepunahan
Angka perdagangan gelap trenggiling asli Indonesia masih tinggi. Sepanjang 10 tahun terakhir, 26.000 ekor trenggiling diselundupkan. ...
Ada Kebun Raya di Cibinong
Meski sama-sama menyandang status sebagai kebun botani, konsep Kebun Raya di Cibinong berbeda dengan di Bogor. Jika di Bogor tumbuh-tumbuhan yang ada ditata berdasarkan famili, maka di Cibinong dikelo...
Merawat Eksotisme Benteng Pendem
Benteng Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun di Ngawi, Jawa Timur. Bangunan cagar budaya nasional itu kini sedang direvitalisasi oleh pemerintah ag...