Bahasa | English


PARIWISATA

Kampung Beting Kini Tak Lagi Genting

18 December 2019, 10:19 WIB

Kampung ini dulu dijuluki “Texas from Pontianak”. Kemudian Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merubahnya menjadi waterfront city yang cantik. Presiden Joko Widodo menyebut Kampung Beting terbaik dibanding tiga proyek waterfront lain yaitu Kampung Sumber Jaya di Bengkulu, Kampung Tegalsari di Kota Tegal, dan Kampung Tambak Lorok di Semarang.


Kampung Beting Kini Tak Lagi Genting Kampung Beting. Foto: Pesona Indonesia

Bagi yang mengenal Pontinak, Kalimantan Barat (Kalbar), atau lahir di sana, pasti kenal kampung Beting. Wilayah yang masuk Pontianak Timur, tak jauh dari pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak ini terkenal dengan citra negatifnya. Angka kriminalnya lumayan tinggi, terutama keterlibatan sebagian masyarakatnya pada narkotika. Dari 3.000 penduduk di Kampung Beting, ditengarai ada 200 orang penduduk tersangkut masalah narkoba. Kampung ini juga tercatat satu dari 23 kawasan rawan tindak kriminalitas di wilayah Kalbar.

Bukan itu saja, kampung yang sebagian besar dibangun di atas air sungai dan jalan penghubungnya berupa jembatan ini terlihat padat dan kumuh. Sebagian besar masyarakatnya hidup bergantung pada Sungai Kapuas dan Sungai Landak dengan menangkap atau menjadi pedagang ikan. Mereka mandi, mencuci pakaian, dan membersihkan peralatan di bawah rumah mereka sehingga terlihat sangat kotor dan tidak sehat.

Namun sejak tahun 2016, lewat program PUPR kampung itu diperbaiki sehingga kemudian tertata dengan baik. Rumah-rumah yang tadinya membelakangi sungai, kini sebagian besar sudah menghadap sungai. Kamar mandi jamban dan tempat pencucian, ditata sedemikain rupa sehingga tidak saja terlihat rapi, tapi juga layak huni. Wilayah ini terintegrasi dengan penataan Kampung Tambelan Sampit yang juga berada di pesisir Sungai Kapuas.

Program ini tak hanya berupa fisik atau infrastruktur, tapi juga mengajak masyarakat berpartisipasi meningkatkan kualitas lingkungannya. Misalnya dengan menebarkan bibit ikan yang bisa mengurai kotoran. Sanitasi diatur dengan lebih baik menggunakan bahan bangunan yang berkualitas. Secara umum program ini bermaksud mengembangkan pemukiman pesisir berbasis ekonomi perikanan.

Pada September 2019 lalu, ketika meresmikan Waterfront City Pontianak, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa program perbaikan kampung nelayan di Kampung Beting, Pontianak, Kalbar, jauh lebih baik dibandingkan dengan tiga proyek waterfront lainnya. Ketiga proyek waterfront yang dimaksud adalah; Kampung Sumber Jaya di Bengkulu, Kampung Tegalsari di Kota Tegal, dan Kampung Tambak Lorok di Semarang.

Penataan fisik kampung nelayan ini juga diikuti dengan berbagai program pembinaan lainnya seperti meningkatkan keterampilan para ibu dengan membuat kerajinan tangan dan kuliner. Juga berbagai penyuluhan dan penyediaan kesempatan kerja bagi para pemuda agar tidak terjerat lagi dalam kegiatan narkoba. Dengan berbagai kegiatan itu diharapkan Kampung Beting terbebas dari citra buruknya yang lama yaitu kampung dengan julukan “Texas from Pontianak” karena konotasi bahaya atau genting bagi para pendatang atau wisatawan.

Berasal dari Sosok Misterius Berambut Panjang

Alasan lain yang membuat kita harus singgah ke Kampung Beting adalah karena adanya dua cagar budaya di wilayah ini. Cagar budaya tersebut adalah Masjid Jami (Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie) dan Istana Kadriah Kesultanan Pontianak.

Istana Kadriah merupakan tempat tinggal Sultan Pontianak terakhir yaitu Sultan Syarif Machmud Melvin bin Sultan Syarif Abubakar Alkadrie. Istana Kadriah merupakan simbol kesultanan yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sekaligus sebagai sultan pertama wilayah ini pada tahun 1771.

Sultan Abdurrahman Alkadrie datang ke wilayah ini selang tiga bulan setelah ayahnya meninggal. Sang ayah adalah penyebar agama Islam yaitu Al Habib Husin wafat pada tahun 1184 di Mempawah. Dari Mempawah, Sultan menyusuri Sungai Kapuas dan terhenti di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di situ Sultan kabarnya diganggu oleh sosok misterius berambut panjang.

Karena berkali-kali diganggu, akhirnya Sultan mengeluarkan meriam dan diarahkan ke sosok misterius itu. Sultan yang merupakan tokoh agama juga mengusirnya dengan doa. Atas dasar kisah tersebut lahirlah kota Pontianak karena konon daerah itu berasal dari kata kuntilanak yang merupakan sosok misterius pengganggu tersebut.

Setelah wilayah itu dianggap aman, Sultan mendirikan Istana Kadriah dan pemukiman para tokoh dan pegawai keraton. Wilayah pemukiman para tokoh dan pegawai keraton ini dinamakan Kampung Beting. Awalnya, kampung ini ditata sesuai dengan fungsinya.

Kampung ini punya elemen arsitektur berupa langgar (mushalla), kopol (dermaga), tiga rumah besa (tempat musyawarah) dari tiga suku berbeda yang tinggal di wilayah itu, rumah balai (elemen pemerintahan) dan makam. Elemen-elemen diatas dipandang sebagai satu kesatuan sistem dan menjadi artefak dari cerminan karakter kebudayaan kampung tersebut.

Sebagian besar rumah di Kampung Beting adalah rumah di atas air yang dinamakan rumah panggung dan rumah lanting. Rumah panggung terklasifikasi dalam tiga tipe rumah yang sekaligus penunjuk ‘kasta’ atau kelas pemilik rumah. Tiga tipe rumah itu adalah tipe rumah potong godang, tipe rumah potong kawat dan tipe rumah potong limas. Rumah potong limas biasanya dimiliki oleh tokoh masyarakat yang terkait dengan keraton. Sedangkan rumah lanting adalah rumah yang ditinggali rakyat jelata.

Meski dibutuhkan kerja yang sangat keras, ada mimpi besar soal Kampung Beting untuk masa depan, yaitu menjadikannya sebagai destinasi wisata religi seperti Kampung Arab di Singapura. Bukan hal yang mustahil, mengingat Kampung Beting punya modal cukup sebagai destinasi wisata religi yaitu Masjid Jami dan Istana Kadriah. Keduanya bisa jadi daya tarik wisata religi. (K-CD)

Destinasi
Wisata
Ragam Terpopuler
Kegairahan yang Terkendala Harga
Rata-rata satu petak keramba 3x3 meter menghasilkan 12,5 kg lobster. Toh, ada yang bisa produksi 20 kg per petak. Kegairahan budi daya lobster di Lombok terkendala harga yang menyusut secara tiba-tiba...
Laboratorium Alam di Tanah Ciremai
Kawasan hutan konservasi memiliki nilai sumber daya biologi yang sangat penting dalam menunjang kegiatan budidaya masyarakat sekitar. ...
Teguk Kesegaran Airnya, Lindungi Kesehatan Masyarakatnya
Ada empat jenis industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang diakui yaitu air mineral alami, air mineral, air demineral, dan air minum embun yang standarnya telah diatur melalui Standar Nasional Indon...
Revitalisasi Pasar Berbasis Kearifan Lokal
Empat pasar rakyat di empat kabupaten dibangun ulang oleh pemerintah sesuai dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di masing-masing daerah. Satu di anta...
Cuaca Ekstrim di Sekitar Dedaunan
Hamparan embun es yang instagramable kembali hadir di Dieng. Misteri suhu ekstrim dekat permukaan tanah belum terjelaskan. Namun ada bukti bahwa bakteri es bisa mensimulasi terjadinya kristal es (fros...
Si Klepon Naik Daun
Saat ini, jajanan pasar ini tidak kalah populer dengan kue dan roti modern berjejaring dari Prancis, Jepang, atau Korea Selatan. ...
Mengawal Keuangan Negara di Tengah Covid-19
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi kendala pemeriksaan. Bahkan untuk cek fisik, mereka memakai drone dan google maps live. ...
Memompa Semangat Juang di Ruang Publik
Penanganan Covid-19 memasuki babak baru. Solusi kesehatan dan ekonomi dikedepankan secara simultan. Strategi komunikasi sepertinya mengarah ke aksi best practice di tengah musibah. ...
Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air
Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020. ...
Ketika Indeks e-Government Indonesia Naik 19 Peringkat
Komitmen pimpinan pada instansi pemerintah merupakan hal penting dalam melakukan perbaikan yang kontinu untuk mewujudkan peningkatan SPBE secara menyeluruh. ...