Bahasa | English


IKON KOTA

Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua

7 November 2019, 09:33 WIB

Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.  


Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua Jembatan Youtefa Jayapura, Papua. Foto: Dok. PUPR

Jembatan merah Youtefa membentang di atas Teluk Youtefa menghubungkan Kota Jayapura, Kampung Hamadi, dan Distrik Muara Tami. Jembatan ini merupakan jembatan pelengkung baja terpanjang di Papua. Jembatan itu memiliki total panjang 11,6 km yang terdiri atas 433 m bentang tengah, 900 m jembatan pendekat sisi Youtefa, 320 m jalan pendekat sisi Hamadi, dan 9.950 m jalan akses.

Jembatan ini mampu memperpendek jarak tempuh dari Kota Jayapura menuju Distrik Muara Tami dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw. Sebelum jembatan ini dibangun, perjalanan dari kawasan pemerintahan Kota Jayapura menuju Distrik Muara Tami menempuh jarak sejauh 35 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Namun, bila melewati Jembatan Youtefa maka jaraknya menjadi sekitar 12 km dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Ketika meresmikan Jembatan Youtefa, Jokowi mengatakan, jembatan itu merupakan tonggak sejarah di Papua. Bukan hanya sebagai simbol pemersatu Indonesia sebagai bangsa, jembatan itu juga merupakan sumpah membangun tanah Papua.

“Papua harus maju seperti wilayah lainnya di Indonesia," tutur Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat meresmikan Jembatan Youtefa, pada 28 Oktober 2019.

Jembatan Youtefa akan menumbuhkan embrio pusat kawasan ekonomi baru di wilayah perbatasan Skouw karena setelah pembangunan PLBN akan dilanjutkan dengan pasar dan kios. Jembatan ini juga akan digunakan sebagai sarana pendukung dalam kegiatan Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 2020.

Jembatan ikonik berwarna merah dengan nilai konstruksi Rp1,8 triliun itu tak hanya terlihat cantik dan megah saat proses pembangunan selesai. Jembatan itu juga mengantongi dua rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) saat masa konstruksi berlangsung. Rekor pertama untuk pengiriman jembatan rangka baja utuh dengan jarak terjauh dan rekor kedua untuk pemasangan jembatan rangka baja dengan bentuk utuh terpanjang.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XVIII Jayapura Ditjen Bina Marga Osman Harianto Marbun menyebutkan, keberadaan jembatan juga akan mengendalikan laju perkembangan Kota Jayapura di bagian Barat yang berupa pegunungan dan sangat berisiko merusak hutan sebagai daerah tangkapan air bagi keberlanjutan Kota Jayapura. "Jembatan ini akan lebih mengarahkan pengembangan Kota Jayapura ke kawasan Koya," ungkapnya.

Pengembangan selanjutnya dari kawasan sekitar Jembatan Holtekamp, menurut Osman, merupakan untuk wisata air karena didukung dengan pemandangan teluk dan perbukitan. Ditambahkan Osman, Jembatan Holtekamp juga akan memperpendek jarak dan waktu tempuh menuju kawasan Koya sebagai venue beberapa cabang olahraga dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua. Rencananya juga Teluk Youtefa ini akan menjadi venue pertandingan dayung pada PON 2020 Papua.

Pembangunan Jembatan Youtefa merupakan kolaborasi antara Kementerian PUPR, Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Kota Jayapura.

Paket Pekerjaan

Pembangunan Jembatan Youtefa dimulai sejak 9 Mei 2015. Saat itu peletakan batu pertama dilakukan sendiri oleh Presiden Joko Widodo. Jl Akses Sisi Hamadi sepanjang 400 m dengan nilai kontrak Rp51 miliar yang merupakan porsi Pemkot Jayapura. Kedua, bentang tengah sepanjang 433 m dengan nilai kontrak Rp943,6 miliar yang merupakan porsi Kementerian PUPR. Ketiga, Jl Akses Jembatan Holtekamp sepanjang 9.950 m dengan nilai kontrak Rp225,7 miliar, merupakan porsi Kementerian PUPR. Keempat, Jembatan Pendekat Sisi Holtekamp sepanjang 60 m dengan nilai kontrak Rp151,8 miliar, merupakan porsi Kementerian PUPR. Dengan progres 97,14 persen. Kelima, Jembatan Pendekat Sisi Holtekamp sepanjang 840 m dengan kontrak Rp516,5 miliar merupakan porsi Pemprov Papua.

Pembangunan jembatan ini dilakukan oleh konsorsium kontraktor PT Pembangunan Perumahan, Tbk, PT Hutama Karya (persero), dan PT Nindya Karya (persero) dengan total biaya pembangunan sebesar Rp1,87 triliun dengan sokongan dana khusus APBN dari Kementerian PUPR senilai Rp1,3 triliun. Jembatan ini mulai dibangun Mei 2015.

Perakitan bentang utama Jembatan Youtefa yang merupakan tipe boks baja pelengkung tidak dilakukan di lokasi jembatan, di PT PAL Indonesia Surabaya. Produksi jembatan di Surabaya bertujuan meningkatkan aspek keselamatan kerja, meningkatkan kualitas pengelasan, dan mempercepat waktu pelaksanaan hingga 3 bulan.

Ini kali pertama, pembangunan jembatan di mana jembatan pelengkungnya dibuat utuh di tempat lain kemudian dibawa ke lokasi. Dari Surabaya bentang jembatan seberat 2.000 ton dan panjang 112,5 m ini dikirim menggunakan kapal laut dengan menempuh perjalanan sejauh 3.200 kilometer dalam waktu 19 hari. Pemasangan bentang pertama dilakukan pada 21 Februari 2018 sedangkan bentang kedua dipasang pada 15 Maret 2018 dengan waktu pemasangan kurang lebih 6 jam.

Terang benderangnya jembatan ini pada malam hari berasal dari pencahayaan intelligent color lighting, yang memungkinkan output cahaya yang dihasilkan bisa diprogram atau dikendalikan sesuai kebutuhan (fleksibel). Fleksibel dalam segi warna, tingkat terang (dimming), pemrograman, dan sebagainya. Intelligent color lighting ini bisa menghasilkan 16 juta kombinasi warna cahaya. Jembatan ini menggunakan 29 unit lampu ReachElite Powercore dan dikombinasikan dengan Vaya Flood RGB Medium Power sebanyak 125 unit. (E-2)

Ikon Kota
Wisata
Ragam Terpopuler
Perjalanan Huruf Palawa menjadi Aksara Jawa
Aksara telah dikenal di Nusantara selama seribu lima ratus tahun lebih. Legenda Aji Saka perlu dibaca dan diinterpretasi ulang berdasarkan fakta-fakta historis. ...
Kegairahan yang Terkendala Harga
Rata-rata satu petak keramba 3x3 meter menghasilkan 12,5 kg lobster. Toh, ada yang bisa produksi 20 kg per petak. Kegairahan budi daya lobster di Lombok terkendala harga yang menyusut secara tiba-tiba...
Laboratorium Alam di Tanah Ciremai
Kawasan hutan konservasi memiliki nilai sumber daya biologi yang sangat penting dalam menunjang kegiatan budidaya masyarakat sekitar. ...
Teguk Kesegaran Airnya, Lindungi Kesehatan Masyarakatnya
Ada empat jenis industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang diakui yaitu air mineral alami, air mineral, air demineral, dan air minum embun yang standarnya telah diatur melalui Standar Nasional Indon...
Revitalisasi Pasar Berbasis Kearifan Lokal
Empat pasar rakyat di empat kabupaten dibangun ulang oleh pemerintah sesuai dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di masing-masing daerah. Satu di anta...
Cuaca Ekstrim di Sekitar Dedaunan
Hamparan embun es yang instagramable kembali hadir di Dieng. Misteri suhu ekstrim dekat permukaan tanah belum terjelaskan. Namun ada bukti bahwa bakteri es bisa mensimulasi terjadinya kristal es (fros...
Si Klepon Naik Daun
Saat ini, jajanan pasar ini tidak kalah populer dengan kue dan roti modern berjejaring dari Prancis, Jepang, atau Korea Selatan. ...
Mengawal Keuangan Negara di Tengah Covid-19
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi kendala pemeriksaan. Bahkan untuk cek fisik, mereka memakai drone dan google maps live. ...
Memompa Semangat Juang di Ruang Publik
Penanganan Covid-19 memasuki babak baru. Solusi kesehatan dan ekonomi dikedepankan secara simultan. Strategi komunikasi sepertinya mengarah ke aksi best practice di tengah musibah. ...
Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air
Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020. ...