Bahasa | English


WISATA ALAM

Daya Pikat Hotspring Tanah Karo

25 April 2019, 08:28 WIB

Kolam air panas, bentang alam, udara dingin, suasana perladangan yang kaya tanaman dan dinding gunung menjadi satu potensi alam yang memiliki nilai jual.


Daya Pikat Hotspring Tanah Karo Hotspring Pariban. Sumber foto: K/Gunawan Hutajulu

Sejak tidak lagi aktif, Gunung Sibayak terus tertidur. Namun dari perutnya terus mengalirkan air belerang. Sehingga ladang-ladang penduduk di kaki dan lereng gunung mendapat limpahan air belerang panas. Dengan sedikit sentuhan, para peladang mengubah ladangnya menjadi kolam-kolam pemandian air panas (hotspring).

Kolam air panas, bentang alam, udara dingin, suasana perladangan yang kaya tanaman dan dinding gunung menjadi satu potensi alam yang bernilai jual jika diolah sedemikian rupa. Atas pemikiran itulah, Model Surbakti, 63, seorang petani sayur nekat mengubah ladangnya di kaki Gunung Sibayak menjadi kolam pemandian alam Hotspring Pariban.

Dinamai Pariban dengan dua alasan. Pertama ia menikahi impal-nya sendiri. Impal artinya anak gadis dari Paman. Dalam bahasa Batak, impal sama dengan pariban. Alasan lainnya, kata Pariban cukup akrab di telinga masyarakat Sumatra Utara. Menurut Surbakti, jika membuka usaha dengan branding Pariban, minimal warga Sumatra Utara berpotensi menjadi target segmentasinya.

Surbakti pernah membayangkan, orang berendam berlama-lama di kolam air panas sembari memandangi punggung Gunung Sibayak yang memesona, sekalian dielus angin. "Sensasinya luar biasa," ujar pemilik di kolam pemandian alam (hotspring) Pariban itu.

Pemandian ini terletak di Desa Sidebuk-Debuk, Tanah Karo, Sumatra Utara. Bisa diakses dengan menggunakan jalur darat. Pintu masuk menuju lokasi rekreasi ini harus melalui Desa Doulu, yang berjarak sekitar 3 km dari Kecamatan Sibolangit. Sebelum mencapai Pariban, wisatawan akan melewati beberapa lokasi hotspring lainnya yang berderet. Setelah melintasi lokasi Geothermal milik PT Pertamina, di ujung jalan akan bertemu terminal angkutan. Dari terminal itulah, pintu masuk ke dalam pemandian Pariban. Sepanjang jalan aroma belerang menyambut.

Pariban termasuk pendatang baru di Karo. Namun hotspring satu ini melejit cepat mengungguli belasan pemandian alam lainnya di Desa Sidebuk-Debuk, Tanah Karo, Sumatera Utara. Sejak dibuka pada 2010, hotspring Pariban tidak laku. Padahal tiket masuk ke dalam saat itu hanya dipatok Rp2000. Model Surbakti, 63, terpaksa putar otak untuk membangun lokasi wisata ini agar menarik minat pengunjung.

Waktu itu, kata Surbakti, akses jalan menuju pemandian ini sangat buruk, sehingga mendorong wisatawan malah untuk mengunjunginya. Namun Surbakti dan anak-anaknya tidak patah arang. Keluarga ini bekerja ekstra. Yang mereka lakukan adalah membenahi sejumlah fasilitas sehingga ada pembeda yang kontras dari pemandian lainnya. Tak pelak, hotspring Pariban menjadi satu-satunya pemandian alam air panas yang paling digemari pengunjung. Tak kurang dari 4.000 pengunjung menyambangi pemandian ini setiap bulannya. Semua itu berkat kerja keras Model Surbakti dan anak-anaknya dalam mengemas destinasi wisata lokal.

"Saya sudah keliling dunia, potensi alam kita sebenarnya tidak kalah unggul dari negara lain. Bedanya, mereka serius mengelolanya. Kita ogah-ogahan," jelas Surbakti yang baru saja pulang dari Dubai, Uni Emirat Arab itu.

Menurut Surbakti, ada sejumlah alasan mengapa hotspring Pariban mampu mengungguli pemandian alam lainnya. Pertama, secara konsep. Pemandian Pariban didesain untuk wisata keluarga. Disediakan lima kolam dengan tingkat kepanasan air yang bervariasi, dari yang panas, sedang dan hangat sehingga para pengunjung bisa memilih berendam di kolam tertentu. Ada satu kolam yang cukup luas yang bahkan anak balita pun bisa berendam di sana, karena kehangatan airnya cocok buat anak-anak.

Kedua, dibangun waterboom dengan kolam air dingin segar. Anak-anak dan orang dewasa rupanya amat menyukai kolam air dingin ini. Sementara itu, di dekat kolam disediakan pulau kelinci dan taman bunga, sedangkan parit batas antara pulau kelinci dengan taman dijadikan kolam ikan mas.

Ketiga, dibangun kolam ikan yang terdiri dari tiga kolam ikan emas, dua kolam ikan hias, dan satu kolam ikan lele jumbo. Sehingga selain berenang dan berendam, para pengunjung bisa mengamati ikan-ikan di kolam. Jika berminat, pengunjung juga diperkenankan memberi makan ikan dengan pelet yang harus dibeli seharga Rp2.500 per bungkus.

Kemudian, tersedia lesehan untuk pengunjung yang hendak rehat usai berendam. Selanjutnya ada aula untuk acara-acara khusus dan restoran yang menyediakan beragam makanan dan harganya terjangkau. Restoran ini dibangun di dekat kolam air dingin, sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan ikan-ikan berenang atau memandangi punggung Gunung Sibayak. Disediakan pula rute balapan motor ATV bagi anak-anak dan remaja. Selanjutnya, pemandian alam ini menjaga betul kebersihan tempat wisata.

Jika pengunjung telah puas berendam, mereka bisa membilas tubuhnya dengan air dingin atau air hangat di air pancuran dekat kolam air panas. Bisa juga membersihkan badan di dalam kamar mandi. Kamar mandinya cukup banyak, sehingga pengunjung bebas memilih mau bersih-bersih di ruang kamar mandi mana. Harga tiket masuk ke pemandian ini terbilang murah, hanya Rp10.000.

Sebagai lelaki yang gemar jalan-jalan, Surbakti suka menduplikasi hal-hal baik. Dari hasil wara-wiri ke berbagai negara, seperti Jepang, Dubai, New Zealand, dan Belanda, ia menyerap ilmu tentang cara mengelola wisata alam. "Ketika di Jepang saya belajar bagaimana memanfaatkan lokasi di dekat gunung untuk diolah jadi wisata alam. Kenapa mereka bisa, saya tidak? Padahal Tanah Karo ini jauh lebih indah dari tempat yang saya kunjungi," bebernya.

Tak hanya berpelesir ke luar negeri, Surbakti juga doyan berwisata di tanah air. Ia mengunjungi berbagai pelosok negeri demi menikmati wisata alam sembari mempelajari bagaimana cara memajukan satu destinasi wisata. "Alam kita ini memang anugerah Tuhan. Udaranya sejuk. Hanya perlu ada sentuhan tangan kita, biar makin banyak yang bisa menikmatinya," timpalnya.

Model bercerita, bagaimana nekatnya dia mengubah ladangnya yang seluas 1,5 hektar itu menjadi lokasi pemandian. Ketika itu, para peladang lainnya justru menganggap tindakannya itu bodoh. Tetapi modal pengalamannya keliling dunia telah membuka mata batinnya sekaligus meyakinkannya kalau bisnis wisata ini bakal meledak. "Saya kan bukan anak sekolahan. Pendidikan formal saya memang rendah, tetapi sekolah saya ya belajar dari alam dan dari banyak orang. Itu yang membantu saya berpikir matang," terang lelaki yang cuma tamat SMP itu.

Dengan modal ladang, semangat berbisnis dan mendapat dukungan dari empat anak-anaknya (yang sudah tamat sarjana), Surbakti bulat tekad membangun wisata pemandian air panas. "Di ladang kami waktu itu sudah ada dua sumber air panas. Tinggal bangun kolam. Ya saya mulai," imbuhnya.

Setelah bekerja keras membangun berbagai fasilitas wisata, dan sedikit usaha promosi lewat selebaran, perlahan namun pasti, pemandian alam Pariban kini dikenal luas oleh publik Sumatra Utara. "Bahkan sekarang sudah viral di media sosial dan youtube. Terima kasih kepada siapapun yang membuat video dan foto-foto itu dan yang menyebarluaskannya. Jadi terkenal kolam kita ini," pungkasnya. (K-DH)

Lingkungan Hidup
Sosial
Wisata
Ragam Terpopuler
Menjaga Ikan Manta Tetap Menari
Setiap induk ikan pari manta hanya melahirkan seekor anakan dalam rentang waktu dua hingga lima tahun sekali. Sayangnya, perburuan hewan itu masih saja terjadi. ...
Kerancang Bukittinggi, Sehelai Karya Seni Bernilai Tinggi
Kerajinan bordir Sumbar mulai berkembang pada 1960 dan mencapai puncak kejayaannya pada era 1970-an hingga awal 1990. Salah satu produk kerajinan bordir Sumbar yang terkenal adalah kerancang. ...
Ceumpala Kuneng Kebanggaan Aceh
Maraknya perburuan dan pembalakan hutan membuat populasi ceumpala kuneng di hutan liar Aceh menjadi semakin terdesak. Kini satwa itu berstatus terancam punah. ...
Sensasi Nasi Tutug Oncom Khas Tasikmalaya
Awalnya nasi tutug oncom adalah menu makanan harian bagi masyarakat kelas bawah di tanah Sunda pada era 1940-an. Rasanya yang enak membuat lambat laun makanan ini naik kelas. ...
Kecap Manis: Jejak Silang Budaya Nusantara dan Tiongkok
Awalnya pedagang Tionghoa datang membawa kecap asin. Tapi sesampainya di Jawa kecap asin tidak laku. Gula kelapa jadi solusi, dan kecap asin pun berubah menjadi kecap manis. ...
Uniknya Danau Asin Satonda
Danau Satonda memiliki kadar asin melebihi air laut di sekitarnya dan menyebabkan hampir semua jenis moluska musnah. Konon air danau berasal dari air mata penyesalan Raja Tambora. ...
Tekad dan Patih Kembali ke Habitat Asli
Di habitat alamiahnya, banteng jawa terancam oleh pemburuan liar dan degradasi genetik. Masuk daftar spesies langka yang terancam punah. ...
Kidung Keselamatan Semesta dari Kaki Gunung Slamet
Masyarakat di sekitar kaki Gunung Slamet yang membentang dari wilayah karesidenan Banyumas hingga  karesidenan Pekalongan mengadakan “Sedekah Bumi”. Wujud kesetiaan memelihara tradisi...
Menikmati Surga Bumi di Kaki Borobudur
Sejumlah lokasi wisata di Magelang mulai menggeliat di masa adaptasi kebiasaan baru. Candi Borobudur kini bukan satu-satunya destinasi wisata di sana. ...
Meningkatkan Sistem Imun, Mencegah Virus Masuk
Ada tiga mekanisme respons imun untuk mengeliminasi infeksi virus, yaitu melalui antibodi, dengan mekanisme sitotoksik, dan melalui interferon. ...