Bahasa | English


SITUS PRASEJARAH

Ada Tangisan Noni Belanda di Benteng Vredeburg

28 November 2019, 18:51 WIB

Bila kita punya hobi berwisata ke museum dan gemar mengulik bangunan tua, maka museum Benteng Vredeburg dapat kita jadikan sebagai salah satu pilihan utama. Benteng kuno yang dibangun tahun 1760 ini juga dapat memuaskan mereka yang punya minat wisata ke objek-objek bangunan peninggalan bersejarah.


Ada Tangisan Noni Belanda di Benteng Vredeburg Benteng Vredeburg. Foto: Pesona Indonesia

Berwisata ke bangunan tua yang memiliki nilai sejarah tidak selalu berkonotasi membosankan.  Anggapan  ini dapat ditepis jika kita berkunjung ke Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Selain menjadi ikon peninggalan Belanda, bangunan seluas 2100 meter persegi ini merupakan destinasi favorit para wisatawan lokal dan mancanegara.

Letak benteng Vredeburg berada di Jenderal A. Yani No. 6 (ujung jalan Malioboro) atau titik nol kilometer Yogyakarta. Mengingat lalu lintas di sekitar benteng yang terbilang ramai, kebanyakan para wisatawan memilih menggunakan angkutan umum untuk menuju ke museum. Kita bisa menggunakan angkutan kota Trans Jogja dari halte Malioboro 1 lalu turun di halte Benteng Vredeburg.

Pada awalnya, benteng ini bernama Rustenburg yang artinya benteng peristirahatan. Benteng ini didirikan tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I mengikuti permintaan Gubernur Belanda dari Direktur Pantai Utara Jawa, Nicolaas Harting.

Belanda minta Sri Sultan membangun Benteng Rustenburg demi alasan keamanan kawasan Keraton Yogyakarta. Padahal, tujuan sesungguhya dari Belanda adalah untuk mengetahui setiap pergerakan yang terjadi di dalam keraton. Saat awal dibangun, Benteng Vredeburg jauh dari kesan kokoh. Temboknya dari tanah dengan tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan kayu aren. Untuk atap digunakan rumput ilalang yang disusun rapi.

Benteng tersebut dikelilingi parit yang berfungsi untuk mengantisipasi serangan. Setiap empat sudut dari posisi benteng terdapat menara-menara pengawas yang dinamakan bastion (benteng pertahanan). Uniknya, setiap menara mempunyai nama masing-masing yakni; Jaya Purusa, Jaya Prayitna, Jaya Wisesa, dan Jaya Prakosaningprang. Keempat nama tersebut berasal dari Sang Sultan sendiri.

Bergantinya gubernur Belanda, berganti pula kebijakannya. Belanda minta benteng yang lama direnovasi dalam bentuk permanen. Maka ditunjuklah seorang ahli bangunan dari Belanda bernama Ir. Frans Haak. Pembangunan benteng berlangsung dari tahun 1767 hingga akhirnya selesai pada tahun 1787.

Hampir 100 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1867 terjadi gempa bumi besar yang melanda Jogja dan Jawa Tengah. Belanda pun melakukan pemugaran terhadap bangunan Benteng Rustenburg yang rusak terdampak oleh gempa. Begitu renovasi selesai pada tahun 1867 inilah nama bangunan berubah dari Benteng Rustenburg menjadi Benteng Vredeburg yang berarti Benteng Perdamaian. Nama ini merupakan perwujudan hubungan damai antara pemerintah Belanda dengan pihak Keraton Yogya.

Fungsi dari benteng ini juga berkali-kali mengalami perubahan. Pertama, sebagai benteng pertahanan selama 1760 sampai 1830. Kedua, berganti fungsi menjadi markas bagi militer Belanda yang dilanjutkan oleh Jepang sepanjang 1830 hingga 1945. Ketiga, sejak 1945 hingga 1977 benteng ini berfungsi sebagai markas untuk militer Indonesia. Pada 9 Agustus 1980, benteng ini dialihfungsikan menjadi Pusat Informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara.

Selang beberapa tahun tepatnya pada 16 April 1985, benteng dipugar dan dijadikan Museum Perjuangan. Museum ini mulai beroperasi pada tahun 1987. Terakhir pada 23 November 1992, museum ini diresmikan sebagai Museum Khusus Perjuangan Nasional yang diberi nama Museum Benteng Yogyakarta.

Jadi, museum yang dibangun pada abad ke 18 ini sangat layak menjadi referensi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama perjuangan di kota Yogyakarta. Ada berbagai diorama yang menceritakan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Tentu hal ini bagus sekali sebagai sarana wisata edukasi bagi para pelajar maupun generasi muda.

Di dalam museum terdapat diorama yang menggambarkan secara rinci proses perjuangan bangsa menuju kemerdekaan. Ada 4 bangunan diorama yang masing-masing dilengkapi dengan berbagai media penerangan sejarah. Tidak hanya itu, di setiap ruang juga terdapat koleksi foto para pejuang kemerdekaan. Yang menarik, ada pula layar sentuh yang bisa kita gunakan untuk membaca sejarah perjuangan bangsa.

Juga ada beberapa patung pahlawan terlihat di beberapa sudut museum. Umumnya, para pengunjung menyempatkan berpose di samping patung pahlawan. Koleksi sejarah yang bukan tiruan atau replika dikelola oleh museum Benteng Vredeburg antara lain berupa; perlengkapan rumah tangga, perlengkapan dapur, naskah penting, pakaian, hingga senjata yang digunakan pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Melihat Penampakan Dari Dalam Benteng

Layaknya sebuah bangunan tua, pasti ada misteri atau kejadian-kejadian di luar nalar yang mengiringi. Bagi masyarakat Yogyakarta atau pedagang yang berjualan hingga pagi di sekitar wilayah benteng sudah tak asing bila mendengar atau melihat penampakan makhluk-makhluk halus yang ada di benteng.

Beberapa warga setempat mengaku pernah melihat barisan pasukan tentara Belanda di area Benteng Vredeburg. Yang seram, seluruh tentara tersebut tidak berkepala yang berbaris rapi seperti sedang melakukan barisan. Hantu pasukan tersebut akan menghilang setelah beberapa saat.

Tidak hanya itu, suara teriakan dan tangisan selalu terdenggar hingga keluar benteng, bahkan terdengar sampai ke Pasar Beringharjo. Warga setempat yang mendengarnya, meyakini bahwa suara tangisan itu merupakan jeritan hantu yang berasal dari dalam benteng.

Tak kalah seram adalah cerita noni-noni Belanda yang mengerikan. Tak sedikit yang mengaku melihat sosok wanita Belanda ini berkeliaran di sekitar komplek museum. Hantu noni Belanda ini berkaki seperti kuda. Ada saksi mata seorang tukang becak yang melihat seorang noni Belanda di Benteng Vredeburg saat tengah malam. Ketika ia menyibakkan gaunnya ternyata berkaki kuda, sehingga membuat tukang becak ini lari ketakutan. (K-GR)

Destinasi
Wisata
Ragam Terpopuler
Kegairahan yang Terkendala Harga
Rata-rata satu petak keramba 3x3 meter menghasilkan 12,5 kg lobster. Toh, ada yang bisa produksi 20 kg per petak. Kegairahan budi daya lobster di Lombok terkendala harga yang menyusut secara tiba-tiba...
Laboratorium Alam di Tanah Ciremai
Kawasan hutan konservasi memiliki nilai sumber daya biologi yang sangat penting dalam menunjang kegiatan budidaya masyarakat sekitar. ...
Teguk Kesegaran Airnya, Lindungi Kesehatan Masyarakatnya
Ada empat jenis industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang diakui yaitu air mineral alami, air mineral, air demineral, dan air minum embun yang standarnya telah diatur melalui Standar Nasional Indon...
Revitalisasi Pasar Berbasis Kearifan Lokal
Empat pasar rakyat di empat kabupaten dibangun ulang oleh pemerintah sesuai dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di masing-masing daerah. Satu di anta...
Cuaca Ekstrim di Sekitar Dedaunan
Hamparan embun es yang instagramable kembali hadir di Dieng. Misteri suhu ekstrim dekat permukaan tanah belum terjelaskan. Namun ada bukti bahwa bakteri es bisa mensimulasi terjadinya kristal es (fros...
Si Klepon Naik Daun
Saat ini, jajanan pasar ini tidak kalah populer dengan kue dan roti modern berjejaring dari Prancis, Jepang, atau Korea Selatan. ...
Mengawal Keuangan Negara di Tengah Covid-19
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi kendala pemeriksaan. Bahkan untuk cek fisik, mereka memakai drone dan google maps live. ...
Memompa Semangat Juang di Ruang Publik
Penanganan Covid-19 memasuki babak baru. Solusi kesehatan dan ekonomi dikedepankan secara simultan. Strategi komunikasi sepertinya mengarah ke aksi best practice di tengah musibah. ...
Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air
Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020. ...
Ketika Indeks e-Government Indonesia Naik 19 Peringkat
Komitmen pimpinan pada instansi pemerintah merupakan hal penting dalam melakukan perbaikan yang kontinu untuk mewujudkan peningkatan SPBE secara menyeluruh. ...