Bahasa | English


WISATA

Menikmati Lagi Agrowisata Sibolangit

22 October 2020, 17:31 WIB

Menggandeng sejumlah elemen masyarakat, pemerintah setempat berupaya menarik kembali minat masyarakat untuk menyambangi Sibolangit.


Menikmati Lagi Agrowisata Sibolangit Hutan Raya Sibolangit. Berbenah meski di tengah pandemi. (KLH)

Bagi Anda yang sedang melancong ke Sumatra Utara, tak elok rasanya jika tidak mengunjungi Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit di Kabupaten Deli Serdang.

Sembari menikmati hawa segar Sibolangit, para wisatawan bisa mendapatkan pelbagai nilai edukasi seperti pendidikan konservasi lingkungan, konservasi satwa liar, pengamatan burung Rangkong, maupun forest healing.

Sebelum menjadi TWA, lokasi agrowisata ini dinamakan Taman Hutan Raya Sibolangit. Konservasi alam ini dibuat pada 1914 atas pemikiran Dr JC Koningsberger yang merupakan Direktur Kebon Raya Bogor, Jawa Barat.

Pada waktu itu di Sibolangit didirikan Kebun Raya (Botanical Garden) Sibolangit oleh JA Lorzing, sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor. Selanjutnya pada 10 Maret 1938 melalui surat keputusan ZB nomor 37/PK, Kebun Raya Sibolangit diubah statusnya menjadi cagar alam.

TWA Sibolangit kini memiliki fasilitas pendukung seperti jalan setapak mengelilingi kawasan, pondok rehat/shelter, penginapan/guest house, dan pusat informasi tentang koleksi flora serta fauna di Kantor Resort Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sibolangit atau Sub Seksi KSDA Deli Serdang. Bagi Anda yang ingin mempelajari dan meneliti vegetasi yang ada di TWA ini, seluruh koleksi pohon maupun tumbuhan telah diberi nama dalam bentuk pelat atau ditempelkan di pohon-pohon tersebut.

Sebagai upaya pencegahan penyebaran Coronavirus disease 2019 (Covid-19), sejak 26 Maret 2020 secara bertahap kegiatan wisata alam di kawasan taman nasional (TN), taman wisata alam (TWA), dan suaka margasatwa (SM) ditutup, termasuk di dalamnya kawasan TWA Sibolangit.

Setelah dievaluasi oleh pemerintah daerah maupun Satgas Penanganan Covid-19 Sumatra Utara, maka dengan menerapkan protokol kesehatan, kawasan TWA Sibolangit dibuka kembali pada Rabu (14/10/2020).

TWA Sibolangit direaktivasi untuk kegiatan kunjungan wisata alam bagi masyarakat umum. Pembukaan kegiatan wisata alam dengan adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Camat Sibolangit Febri Gurusinga menerangkan, sebagian besar wilayah Kecamatan Sibolangit adalah kawasan hutan sehingga keberadaan TWA Sibolangit sangat berperan penting terhadap keberlangsungan kehidupan manusia di sekitar kawasan hutan.

Untuk itu, diharapkan seluruh pengunjung maupun petugas mematuhi protokol kesehatan di wilayah wisata alam. "TWA Sibolangit memiliki potensi untuk kegiatan hash (menjelajah/olahraga dalam hutan) sehingga dalam beberapa waktu ke depan diharapkan akan banyak wisatawan maupun komunitas hasher mengunjungi TWA," jelas Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Deli Serdang Khoirum Rijal.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, pada Selasa (6/10/2020), memaparkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung di Sumatra Utara melalui empat pintu masuk pada Agustus 2020 mencapai 28 kunjungan, mengalami penurunan 80,56 persen dibanding yang datang pada Juli 2020 yang mencapai 144 kunjungan.

Demikian juga bila dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2019, jumlah wisman pada Agustus 2020 mengalami penurunan 99,89 persen, dari 26.609 kunjungan pada Agustus 2019 menjadi 28 kunjungan.

Kondisi yang sama juga terjadi pada wisatawan lokal. Saat AKB diterapkan Juni-Juli sempat ada kenaikan kunjungan wisatawan rata-rata 1.000 orang per hari di beberapa lokasi wisata favorit di Sumut. Namun begitu Agustus mulai terjadi kenaikan kasus Covid-19, terjadi penurunan kembali.

Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Deli Serdang, Pemkab Deli Serdang, dan TWA Sibolangit menggandeng Komunitas Pecinta Alam, Mitra Polisi Hutan, Kader Konservasi Alam dan Kelompok Sadar Wisata Sibolangit, untuk menarik masyarakat kembali menyambangi agrowisata di Sibolangit. Perjalanan ke TWA Sibolangit kurang lebih dua jam bisa ditempuh melalui jalan darat dari Medan, ibu kota Sumut.  

Kegiatan pariwisata alam adalah kategori risiko rendah sehingga memungkinkan direaktivasi pada masa AKB terutama pada wilayah-wilayah yang berdasarkan zona berada pada zona tidak terdampak (hijau) dan zona risiko rendah (kuning).

Berdasarkan data zona risiko Covid-19 yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanggulangan Covid-19 tanggal 22 Juni 2020 terdapat 21 TN, 75 TWA dan 56 SM yang berada pada wilayah zona risiko tidak ada kasus/tidak terdampak (zona hijau) dan zona risiko rendah (zona) kuning, termasuk di dalamnya adalah TWA Sibolangit.

Semenjak itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada September 2020 menerbitkan kebijakan Reaktivasi Kunjungan Wisata Alam di kawasan Taman Wisata Alam Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, yang pada intinya menekankan kewajiban untuk menerapkan protokol kesehatan.

"Para pengunjung diwajibkan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku selama berada di dalam kawasan yaitu menggunakan masker, cuci tangan pada tempat yang sudah disediakan, menggunakan hand sanitizer, melakukan cek suhu tubuh, menjaga jarak kurang lebih 1,5 meter, pembatasan jumlah pengunjung, dan tetap menjaga kebersihan," tukas Kepala Balai Besar KSDA Sumatra Utara Hotmauli Sianturi.

Adapun untuk menekan penyebaran Covid-19, pemesanan tiket masuk TWA Sibolangit dilakukan dengan cara booking online lewat tautan  http://bit.ly/bookingTWASibolangit atau menghubungi Kepala Resort TWA Sibolangit Samuel Siahaan.

 

 

Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Editor: Firman Hidranto/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Covid-19
Dampak Covid-19
Destinasi
Destinasi Wisata
Kabupaten Deli Serdang
Kebun Raya
Konservasi Alam
LawanCovid19
Pariwisata
Pariwisata Indonesia
Sibolangit
Sumatera Utara
Taman Wisata Alam
Wisata
Wisata Alam
Ragam Terpopuler
Mereka yang Kembali ke Cagar Alam
Dipilihnya kawasan ini menjadi lokasi pelepasliaran, karena kondisi hutannya yang sesuai dengan keberadaan pohon pakan orangutan yang berlimpah. ...
Pendap, Pepes Unik Bumi Rafflesia
Dibutuhkan 10-15 lembar daun talas untuk membungkus pendap, pepes ikan khas Provinsi Bengkulu. Konon pendap merupakan makanan kesukaan Presiden Indonesia pertama, Soekarno. ...
Si-Monic, Gelang Pelacak Pasien Covid-19
Si-Monic otomatis akan berbunyi jika melampaui area karantina si pasien atau orang terduga corona. ...
Si Penyendiri dari Lereng Terjal
Kambing hutan Sumatra hidup di ketinggian 200 meter hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Habitatnya berupa hutan primer dan hutan sekunder di dekat pegunungan atau kawasan bukit kapur. ...
Rabeg, Masakan Kesukaan Sultan Banten
Campuran rempah yang khas membuat masakan ini mengeluarkan aroma nikmat dan menggugah selera siapa saja yang mencobanya. ...
Andaliman, Harta Terpendam Tano Batak
Tanaman andaliman khas wilayah pegunungan di Sumatra Utara memiliki beragam manfaat. Tak sekadar pelengkap bumbu masakan kuliner Tano Batak. ...
Magnet Borobudur Pikat Dunia
Kolaborasi cerdas dalam mewujudkan aksi napak tilas Jalur Kayumanis memiliki dampak besar pada perkembangan turisme di tanah air. Borobudur berkali-kali jadi magnet perhatian dunia.  ...
Samudra Raksa, dari Relief Turun ke Laut
Dalam seluruh rangkaian cerita yang terpahat di dinding Candi Borobudur, tercatat ada sepuluh relief yang memuat gambar perahu kuno, dengan model yang berbeda-beda. ...
Agar Tetap Aman dan Selamat Saat Berwisata
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyusun protokol kesehatan, keamanan, dan keselamatan untuk mempertahankan keberlangsungan industri pariwisata nasional. ...
Maksuba, Kue Penuh Kesabaran
Kue maksuba dibuat dengan bahan utama telur bebek. Untuk menghasilkan satu loyang kue dibutuhkan waktu tiga jam. ...