Bahasa | English


PARIWISATA

Menguji Nyali di Jeram Citarik

10 October 2020, 17:17 WIB

Mulainya musim penghujan menjadi waktu paling tepat bertualang di derasnya Citarik. Arus deras sungai ini telah diakui dunia dan mendapatkan sertifikasi dari Federasi Arung Jeram Internasional (IRF).


Menguji Nyali di Jeram Citarik Arung jeram di Sungai Citarik. Foto: Tom Fisk/Pexels

Sukabumi terkenal dengan sungai-sungai berarus deras. Satu di antaranya adalah Sungai Citarik yang telah menjadi ikon wisata minat khusus, yaitu petualangan menaklukkan derasnya arus sungai atau dikenal sebagai arung jarum (rafting).

Citarik merupakan anak Sungai Cimandiri yang berhulu dari kawasan hutan di kaki Halimun, bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Mengalir sejauh 44 kilometer, aliran Citarik bermuara di Pelabuhanratu.

Arus deras sungai ini telah diakui dunia dan mendapatkan sertifikasi dengan tingkat kesulitan sedang hingga ekstrem (grade 3-5) dari Federasi Arung Jeram Internasional (IRF). Lokasi ini dinyatakan layak untuk arena olahraga arung jeram. Bahkan pada 29 November hingga 8 Desember 2015, di Citarik digelar Kejuaraan Dunia Arung Jeram diikuti 400 peserta dari 23 negara.

Bagaimana cara wisatawan mencapai Citarik? Jangan khawatir, Anda dapat mencapainya dari Jakarta lewat perjalanan darat selama 3-5 jam dengan rute tanjakan dan turunan curam berpemandangan alam pegunungan, perkebunan sawit, jati, dan sengon.

Ada beberapa operator arung jeram yang beroperasi di Citarik dan mereka menawarkan paket wisata hampir seragam dengan biaya berkisar Rp230.000 hingga Rp375.000 untuk sekali perjalanan.

Ada paket berjarak 5 hingga 9 kilometer (km) dengan waktu tempuh 1-2 jam serta paket 12-22 km berdurasi 3-7 jam. Paket tersebut sudah termasuk asuransi, sertifikat, makan siang, dan minum air kelapa gratis. 

 

Jangan Takut Tenggelam

Kegiatan ini sebaiknya dilakukan secara berkelompok minimal lima orang. Pagi hari adalah waktu terbaik untuk memulai arung jeram. Kampung Parakan Telu dan Kampung Pajagan di Desa Cigelong biasanya menjadi titik awal (put in) berarung jeram. Sedangkan titik akhir (take out) biasanya berada Desa Citangkalo bagi rute 5-9 km atau Desa Cikadu, Pelabuhanratu, untuk rute 12-17 km.

Disediakan angkutan gratis untuk mencapai lokasi put in. Kendaraaan tidak bisa masuk hingga tepi sungai. Kita harus berjalan kaki melewati pematang sawah, empang, dan perkampungan warga serta menuruni jalan setapak terjal.

Setiap peserta wajib memakai peralatan standar arung jeram seperti jaket pelampung (life vest) dan helm pelindung disesuaikan dengan ukuran tubuh serta dayung. Semua telah disiapkan oleh operator. Jangan lupa untuk menitipkan barang-barang berharga seperti dompet atau ponsel di penitipan barang. Jika kita berkacamata, disarankan untuk melengkapinya dengan tali khusus. Gunakan busana kasual saat berarung jeram dan siapkan pakaian ganti.

Sebelum beraksi di sungai, pemandu (skipper) akan memberikan pengarahan kepada peserta, seperti cara mendayung yang benar, posisi duduk dalam perahu, dan aba-aba apabila bertemu jeram.

Misalnya, ketika pemandu berteriak boom, maka semua peserta harus bersiaga karena akan masuk ke jeram dengan tingkat kesulitan tinggi atau bahaya. Pemandu umumnya warga sekitar yang telah mengantongi sertifikat rescue internasional. Tak sedikit dari mereka adalah atlet-atlet arung jeram profesional. Setiap perahu berkapasitas 7-8 orang termasuk pemandu dan umumnya duduk di bagian belakang. Mereka bertugas sebagai leader untuk mengendalikan laju perahu.

Terdapat tali melingkari tepi luar perahu. Namanya chicken line dan berguna sebagai tempat berpegangan tangan peserta jika tercebur atau perahu terbalik saat melewati jeram. Bagi mereka yang tidak bisa berenang jangan takut tenggelam karena kita mengenakan jaket pelampung. Ketika tercebur ke air dan posisi sedikit jauh dari perahu, meski terhanyut sambil menunggu ditolong pemandu, upayakan agar kepala selalu berada di permukaan air dan kaki tetap mengapung ke depan mengikuti arus air.

Selama jaket pelampung masih melekat di badan dan selalu memperhatikan instruksi pemandu, maka kita bisa tetap menikmati keseruan arung jeram.

 

Jeram Golden Gate

Citarik memiliki beberapa jeram terkenal dan diberi nama unik berdasarkan kejadian yang pernah terjadi di lokasi itu. Ada Jeram Ayu, Teureup, Guntur, dan Jeram Rock Brick yang bisa dilewati dengan mudah karena arus airnya sedang.

Keseruan baru dimulai di Jeram Nipah, Big Wave, Paint Ball, dan Jeram Circuit. Karena debit airnya mulai terasa deras ditingkahi kehadiran bebatuan besar yang menciptakan pusaran-pusaran air. Selanjutnya ada jeram diberi nama TVRI karena dulu ada salah satu jurnalis kamera TVRI yang jatuh pingsan saat berarung jeram di lokasi tadi.

Selanjutnya adalah Jeram Golden Gate. Jeram ini diapit oleh bebatuan besar sepintas seperti sebuah gerbang atau gate. Untuk melintas jeram yang berada di tengahnya cukup sulit lantaran ruang yang tersedia sangat sempit. Perahu lebih sering terbalik di jeram ini. Jika ada pemandu yang mampu membawa perahu tanpa terbalik di jeram ini, maka biasanya mereka mendapatkan semacam poin emas.

Masih ada Jeram Zig Zag dan Jeram Big Z yang mengharuskan kita melewatinya dengan cara meliuk-liuk karena derasnya arus air dan tak jarang menghantam bebatuan besar di sekitarnya. Jeram sejenis lainnya adalah Jeram Panjang, Jeram Walk Away, dan Jeram Jumping Jack Flash.

Tak boleh dilupakan pula sajian pemandangan alam memikat yang terhampar di kiri-kanan aliran sungai selama arung jeram. Pepohonan hijau dan rimbunnya bambu serta hamparan sawah menemani perjalanan kita di Citarik. Tak jarang kita bertemu dengan hewan biawak yang sedang berenang atau berjemur di atas bebatuan. Selamat mencoba.

 

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Firman Hidranto/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Arung Jeram
Arus Deras
Dayung
Helm
Jeram
Pelampung
Rafting
Sukabumi
Ragam Terpopuler
PKN 2020, Perhelatan Budaya Terbesar di Dunia di Masa Pandemi
Pekan Kebudayaan Nasional 2020 adalah sebuah perhelatan kebudayaan secara daring terbesar di dunia. Sebanyak 4.791 seniman dan pekerja seni akan terlibat, menghadirkan 27 tema konferensi, 93 pergelara...
Benteng Terluas Sejagat Ada di Buton
Benteng Keraton Buton berada di atas Bukit Wolio setinggi 100 meter dari permukaan laut dan menjadi lokasi strategis untuk memantau situasi Kota Baubau dan Selat Buton. ...
Menikmati Lagi Agrowisata Sibolangit
Menggandeng sejumlah elemen masyarakat, pemerintah setempat berupaya menarik kembali minat masyarakat untuk menyambangi Sibolangit. ...
Kado Manis Abu Dhabi bagi RI
Sejak 2013, Pemerintah Abu Dhabi melakukan perubahan nama sejumlah jalan utama di Abu Dhabi dengan nama-nama pemimpin besarnya. ...
Menjaga Harmonisasi Bambu Warisan Leluhur
Penerapan konsep pelestarian lingkungan melalui kearifan lokal masyarakat di Desa Adat Penglipuran mampu melindungi ekosistem hutan bambu yang telah ada sejak ratusan tahun silam. ...
Si Upik Membantu Menyemai Awan
Fenomena La Nina akan mencapai level moderat pada Desember. Bersama angin monsun, La Nina berpotensi mendatangkan hujan badai. Bencana hidrometeorologi mengancam. ...
Sroto Sokaraja, Soto Gurih dari Bumi Ngapak
Bukan saja menjadi kuliner andalan warga Banyumas dan sekitarnya, Sroto Sokaraja bahkan kondang di antero negeri. ...
Menguji Nyali di Jeram Citarik
Mulainya musim penghujan menjadi waktu paling tepat bertualang di derasnya Citarik. Arus deras sungai ini telah diakui dunia dan mendapatkan sertifikasi dari Federasi Arung Jeram Internasional (IRF). ...
Kuau Raja, Pemilik Seratus Mata
Kuau raja jantan sempat diabadikan dalam perangko seri "Burung Indonesia: Pusaka Hutan Sumatra" pada 2009 dan menjadi maskot Hari Pers Nasional 2018. ...
Menjajal Jembatan Gantung Terpanjang di Asia Tenggara
Sensasi guncangan saat berada di tengah jembatan gantung Situ Gunung membuat pengunjung perlu dibekali sabuk pengaman. ...