Bahasa | English


SENI ARSITEKTUR

Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau

21 January 2020, 10:45 WIB

Bangunan raksasa itu jelas sengaja didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan terhadap Budha Maitreya. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu andesit yang saat itu sengaja didirikan menyembul di tengah sebuah danau yang kini telah mengering. Konon, dahulu candi ini dicat berwarna putih dengan semen kuno.


Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau Foto : Indonesia Travel

Adalah WOJ Nieuwenkamp (1874 – 1950), seorang etnolog Belanda, pelukis dan arsitektur yang menekuni bangunan bergaya Hindu dan Budha. Pada 1931, ia menerbitkan penelitiannya, Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur). Nieuwenkamp berpendapat, dahulu di sekitar Candi Borobudur terdapat danau kuno.

Bangunan megastruktur yang didirikan di atas puncak sebuah bukit pada abad ke-8 itu, menurut Nieuwenkamp, bagaikan bunga teratai yang mekar di tengah-tengah danau, namun kini danau itu telah mengering.

Nieuwenkamp beranggapan, desain arsitektur Candi Borobudur pada dasarnya merupakan representasi dari bentuk bunga padma (lotus), simbol kesucian dalam Budhisme. Desain bangunan ini diibaratkan Nieuwenkamp menyerupai ceplok bunga teratai, dengan daun dan bunganya mengelilingi bakal buah yang terletak di tengah-tengah kolam.

Merujuk tulisan Moekhardi (2019) dalam Bunga Rampai Sejarah Indonesia, dari Borobudur hingga Revolusi Nasional disebutkan, pada awal 1932 Nieuwenkamp kembali menulis opininya di jurnal Nederlandsch-Indie oud en nieuw. Ia kembali mengatakan, bangunan raksasa itu didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan atas Budha Maitreya. Secara mitologis, sosok ini dinarasikan lahir dari rahim bunga teratai. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu andesit menyembul di tengah sebuah danau.

Pada 1937, Nieuwenkamp melakukan penelitian lanjutan. Ia mempelajari topografi daerah di sekitar Candi Borobudur. Hasil penelitiannya pernah dimuat di harian Algemeen Handelsblad pada 2 Mei 1937, lengkap dengan gambar peta dan danaunya.

Foto: Dok Kemdikbud

Dari rekonstruksi Niewuwenkamp itu diandaikan, Candi Mendut dan Candi Pawon, yang berada pada garis lurus dengan Candi Borobudur, berada di daratan dengan lokasi di tepian danau. Dari Candi Pawon-lah, masih menurut Nieuwenkamp, dapat diperoleh panorama Borobudur yang paling bagus. Bahkan Nieuwenkamp, bangunan candi itu dahulu dicat berwarna putih dengan semen kuno yang bernama ‘bajralepa’.

Untuk membuktikan hipotesanya ini, Nieuwenkamp menunjukkan beberapa nama desa di sekitar lokasi candi. Secara toponimi nama desa-desa itu berhubungan erat dengan danau atau air, memakai nama “tanjung” dan “segara”. Desa-desa itu di antaranya ialah Tanjungsari, Bumisegoro, Sabrangrowo, Segaran, atau Wanurejo yang asalnya mungkin dulu berasal dari nama Banyurejo.

Ya, beranjangsanalah ke Borobudur. Naiklah hingga ke atas. Dari posisi puncak stupa terbesarnya, segera layangkanlah pandangan ke kawasan sekitar candi itu. Maka akan timbul kesan, candi itu seperti sengaja dibangun di atas suatu bukit kecil di tengah hamparan dataran yang luas. Melayangkan pandang menyisiri panorama alam di sana, segera terlihat bukit-bukit pegunungan Menoreh. Di antara gunung-gemunung itu tampak, seolah-olah ada pegunungan yang menyerupai sosok manusia tengah tidur.

Menyaksikan panorama itu, para tour guide sering berseloroh, “Itulah Budha Tidur!” atau “itulah si Gunadharma!, sang arsitek pembangun candi ini tengah menikmati buah karyanya.”

Barangkali, kesan inilah yang mengembangkan daya fantasi Nieuwenkamp sampai pada hipotesisnya. Sebagai seorang seniman, daya fantasi Nieuwenkamp memang hebat. Kalau kita ikuti fantasi Nieuwenkamp, maka bisa dibayangkan bagaimana indahnya panorama Candi Borobudur. Berada di atas sebuah danau dengan lanskap alam sekitarnya berupa gunung-gemunung biru.

Mendengar itu, Theodoor van Erp, orang Belanda yang juga berjasa memimpin pemugaran Candi Borobudur, langsung spontan menyanggahnya! Van Erp tentu memahami benar segi-segi teknis bangunan itu.  Data bahwa Candi Borobudur dibangun dari dua juta kubik batu andesit, terdiri 1.460 panel bergambar dan 1.212 panel dekoratif, dan juga 504 patung Buddha tiga dimensi, plus satu stupa besar dengan diameter 52 kaki, ialah hasil pencatatan van Erp.

Berdasarkan pengetahuan dan argumentasi segi teknis bangun itulah, masih menurut Moekardi, van Erp mengkritik fantasi Nieuwenkamp. Hipotesa Nieuwenkamp dianggap ngawur. Pasalnya hipotesa ini tidak didasarkan bukti-bukti prasasti yang menyebutkan adanya lingkungan danau di sekitar candi itu.

Meski demikian, sejak Nieuwenkamp mengemukakan hipotesanya itu, ia telah berhasil merangsang ilmuwan lain untuk membuktikannya, bahkan hingga kini. Sebutlah nama geolog negeri kincir angin, RW van Bemmelen, misalnya. Pada 1949, Bemmelen mengamini hipotesa Nieuwenkamp. Lewat makalahnya The Geology of Indonesia, Bemmelen menghubungkan hipotesis Nieuwenkamp itu dengan fenomena erupsi Gunung Merapi di tahun 1006.

 

Hipotesa Danau Purba

Kipas aluvial penutup telaha Borobudur Foto : Murwanto et al, 2014

 

Tigapuluh tahun lebih semenjak Nieuwenkamp mengemukakan hipotesanya, yaitu di tahun 1964 ketika pemerintah Indonesia merencanakan pembangunan Tugu Nasional, teori Nieuwenkamp mendapat perhatian kembali. Presiden Soekarno, sosok yang berjiwa seniman dan pencetus ide pembangunan monumen sohor disebut Tugu Monas itu, menyarankan replika dan diorama pembangunan Candi Borobudur ditempatkan pada lanskap danau supaya tampak lebih indah.

Masih seturut buku Moekardi, merespons ide Presiden Soekarno tersebut saat itu sempat dikerahkan tim geologi dari Bandung untuk melakukan penelitian lapangan di daerah Borobudur. Hasilnya, ditemukan adanya sisa-sisa lapisan endapan tanah yang memberi kesan bahwa sebagian dari daerah di kawasan Borobudur dahulu memang pernah digenangi air. Berpijak dari riset inilah, adegan Candi Borobudur dalam diorama itu akhirnya hanya diberi lukisan danau sebagai latar belakang.

Keraguan akan adanya danau di sekeliling Borobudur menguat tatkala seorang peneliti berkebangsaan India yaitu Thanikaimoni, yang menimba ilmu di French Institute, Pondicherry, Prancis, melakukan riset di kawasan Borobudur pada 1983. Dalam artikel Helmy Murwanto, Situs Danau di Sekitar Bukit Borobudur Jawa Tengah, disebutkan bahwa penelitian Thanikaimoni dengan pendekatan palinologi tersebut ternyata gagal menemukan serbuk sari tanaman air.

Dalam bukunya Palynological Investigation on the Borobudur Monument, Thanikaimoni menyimpulkan bahwa dengan tidak ditemukannya sedikitpun pollen sebagai indikasi yang adanya tumbuhan-tumbuhan rawa atau tanaman air, maka berarti bisa disimpulkan bahwa tidak ada lingkungan danau di kawasan sekitar bangunan teratai raksasa tersebut.

Namun wacana danau di sekitar Candi Borobudur mengemuka kembali pada 1986, setelah JJ Nossin dan Caesar Voute memaparkan hasil riset mereka. Dengan analisis geomorfologi, berdasarkan interpretasi foto udara plus observasi lapangan, mereka tiba pada kesimpulan bahwa dahulu dataran di sekitar Borobudur memang pernah merupakan lingkungan danau.

Hanya saja saat lingkungan danau masih ada di sekitar kawasan Borobudur itu, menurut Nossin dan Voute, tidaklah berlangsung di masa dinasti Syailendra di abad ke-8 M, melainkan jauh saat bumi masih berada pada paruh kedua Zaman Kuarter. Zaman Kuarter sendiri dimulai kira-kira 600 ribu tahun yang lampau.

Namun riset ilmiah tidaklah berhenti di situ. Helmy Murwanto, seorang geolog asal Indonesia, punya bukti dan hipotesa lain. Dengan pendekatan geologi, ia ternyata justru menemukan endapan batu lempung yang berwarna coklat kehitaman yang mengandung serbuk sari tanaman komunitas rawa seperti Nymphaea stellata, Cyperaceae, Eleocharis, Commelina, Hydrocharis, dan lainnya.

Berdasarkan penelitian radio karbon C-14 terhadap batu lempung hitam yang mengandung fosil kayu itu, dengan mengambil berbagai sampel dari areal seluas 10 kali 8 kilometer di sekitar lokasi Candi Borobudur, ia tiba pada kesimpulan seragam: lempung itu mengandung serbuk sari tanaman air.

Sementara itu bicara usia lempung hasilnya ialah: pada endapan lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun; sementara pada lempung hitam yang dibor dari sumur kedalaman 40 meter diketahui umurnya 22 ribu tahun.

Dari sinilah, Murwanto menyimpulkan, terbentuknya lingkungan danau sudah terjadi mulai kala Pleistosen Atas dan berakhir jauh setelah Candi Borobudur itu dibangun, yakni pada kisaran akhir abad ke-13. Atau dengan kata lain, danau itu—sebutlah “Danau Borobudur”—telah menggenangi kawasan ini pada kurun 22.000 hingga 660 tahun silam.

Sementara itu, bicara pembangunan Borobudur yang rancang bangunnya dibuat oleh Gunadharma terjadi pada sekitar 800-an Masehi atau sekitar 1.200-an tahun lampau. Artinya, bukan tidak mungkin hipotesa Nieuwenkamp bukanlah mitos dan sekadar buah fantasi belaka.

Bunga teratai yang tumbuh di danau sengaja dibuatkan dalam bentuk bangunan batu berukuran megastruktur. Ya, Candi Borobudur sebagai bangunan teratai raksasa yang menyembul di tengah danau tampaknya sengaja dibuat sebagai bentuk dedikasi dan pemuliaan kepada Sang Budha Maitreya. Sungguh sebuah mahakarya yang sangat serius dan lagi estetis. (W-1)

Ragam Terpopuler
PKN 2020, Perhelatan Budaya Terbesar di Dunia di Masa Pandemi
Pekan Kebudayaan Nasional 2020 adalah sebuah perhelatan kebudayaan secara daring terbesar di dunia. Sebanyak 4.791 seniman dan pekerja seni akan terlibat, menghadirkan 27 tema konferensi, 93 pergelara...
Benteng Terluas Sejagat Ada di Buton
Benteng Keraton Buton berada di atas Bukit Wolio setinggi 100 meter dari permukaan laut dan menjadi lokasi strategis untuk memantau situasi Kota Baubau dan Selat Buton. ...
Menikmati Lagi Agrowisata Sibolangit
Menggandeng sejumlah elemen masyarakat, pemerintah setempat berupaya menarik kembali minat masyarakat untuk menyambangi Sibolangit. ...
Kado Manis Abu Dhabi bagi RI
Sejak 2013, Pemerintah Abu Dhabi melakukan perubahan nama sejumlah jalan utama di Abu Dhabi dengan nama-nama pemimpin besarnya. ...
Menjaga Harmonisasi Bambu Warisan Leluhur
Penerapan konsep pelestarian lingkungan melalui kearifan lokal masyarakat di Desa Adat Penglipuran mampu melindungi ekosistem hutan bambu yang telah ada sejak ratusan tahun silam. ...
Si Upik Membantu Menyemai Awan
Fenomena La Nina akan mencapai level moderat pada Desember. Bersama angin monsun, La Nina berpotensi mendatangkan hujan badai. Bencana hidrometeorologi mengancam. ...
Sroto Sokaraja, Soto Gurih dari Bumi Ngapak
Bukan saja menjadi kuliner andalan warga Banyumas dan sekitarnya, Sroto Sokaraja bahkan kondang di antero negeri. ...
Menguji Nyali di Jeram Citarik
Mulainya musim penghujan menjadi waktu paling tepat bertualang di derasnya Citarik. Arus deras sungai ini telah diakui dunia dan mendapatkan sertifikasi dari Federasi Arung Jeram Internasional (IRF). ...
Kuau Raja, Pemilik Seratus Mata
Kuau raja jantan sempat diabadikan dalam perangko seri "Burung Indonesia: Pusaka Hutan Sumatra" pada 2009 dan menjadi maskot Hari Pers Nasional 2018. ...
Menjajal Jembatan Gantung Terpanjang di Asia Tenggara
Sensasi guncangan saat berada di tengah jembatan gantung Situ Gunung membuat pengunjung perlu dibekali sabuk pengaman. ...