Bahasa | English


KULINER

Kue Lompong, Si Hitam Manis Asal Kutuarjo

30 September 2019, 14:54 WIB

Kenyal, harum, dan manis legit. Itulah rasa yang muncul dari kue lompong, penganan khas Kutoarjo, Jawa Tengah.


Kue Lompong, Si Hitam Manis Asal Kutuarjo Kue Lompong. Foto: Pesona Indonesia

Disebuah rumah kuno khas Cina bercat putih di tengah kota Kutoarjo. Sirap-sirap kayu warna hijau tua menutup muka bangunan di Jalan Pangeran Diponegoro 59. Papan etalase bertuliskan menjual kue lompong “King” tampak dari luar.

Disanalah salah satu toko kue lompong tertua yang keberadaannya masih terkenal hingga kini. Karena sangat legendarisnya kue lompong “King” ini, membuat pakar kuliner almarhum Bondan Winarno pernah berkujung kesana.

Sekilas dari luar, kue lompong tak tampak seperti jajanan kue pasar lainnya yang berwarna cerah. Kue lompong memang berwarna hitam legam. Namun, ketika dibelah tengahnya, kue lompong memiliki isi berwarna coklat.

Pemilik toko lompong “King”, Ruth Sarijani Gondo Santoso, mengatakan kue lompong dibuat dari bahan-bahan seperti batang daun talas atau lompong, tepung merang (tangkai padi yang kering), tepung ketan, dan gula pasir. Sementara, isinya dari tumbukan kacang tanah.

”Kalau masih panas, kue lompong itu memang kenyal, kalau dingin agak lembek atau kenyal. Dan disini kami menjaga betul kualitas bahan. Kue kami bebas bahan pengawet,” kata perempuan yang berusia 72 tahun itu saat ditemui di tokonya beberapa waktu lalu.

Perempuan berdarah Tionghoa inipun menambahkan bahwa kemungkinan kue lompong termasuk penganan yang telah mengalami asimilasi antara kuliner lokal dan Tiongkok. Ruth mengatakan usahanya itu warisan dari leluhurnya. Menurut dia, kue lompong “King” ada di Kutoarjo sejak tahun 1930. Namun Ruth baru meneruskan usaha milik leluhurnya itu sejak 1958.

“Kami juga tidak menyetor kue ini ke toko-toko lain karena kami khawatir dicampur bahan pengawet. Jadi satu-satunya kue lompong yang asli ya ada disini,” tegas Ruth.

Proses membuat kue lompong dikatakan Ruth terbilang gampang-gampang susah. Kue lompong dimasak dengan cara dikukus.

Batang daun talas sebagai bahan baku utama kue lompog didapatkan dari penduduk yang tinggal di sekitar Kutoarjo. Warga setempat biasanya juga bisa mendapatkan batang daun talas di pasar-pasar di Kutoarjo. Selanjutnya batang daun talas itu dikupas bersih lalu dipotong kecil-kecil. Bahan dasar itu direndam hingga terbebas dari getah. Batang daun talas lalu direbus hingga menjadi bubur.

Setelah masak, batang daun talas yang telah menjadi bubur disaring untuk diambil sarinya hingga menghasilkan warna kehitaman. Untuk mendapatkan warna hitam yang lebih pekat, adonan itu dicamput tepung merang atau bubuk batang padi yang dibakar. 

Adonan tersebut lalu diaduk dan diberi minyak kelapa atau goreng agar tak lengket saat dikukus. Setelah merata, adonan kue lompong dikukus dengan bungkusan daun pisang kering atau klaras. Adonan kue lompong dengan isi kacang tanah itu lalu dikukus selama kurang lebih dua jam.

Dijual  Rp 3.500 per biji, kue lompong “King” dikatakan Ruth banyak diburu pembeli untuk oleh-oleh saat bepergian ke Singapura, Amerika Serikat, dan Jerman. Pembelinya, kebanyakan berasal dari Semarang, Yogyakarta, dan Magelang. 

“Biasanya toko kami ramai pembeli pada akhir pekan. Saat itu banyak yang beli untuk oleh-oleh. Ada beberapa kali yang kesini bilang kuenya akan dibawa ke luar negeri buat saudara-saudara. Dan kebetulan kue lompong disini bisa awet sampai 10 hari juga soalya,” jelas Ruth. (K-YN)

Ragam Terpopuler
Tantangan Terberat Priok, Wujudkan International Hub Port
World Bank (2011) mendefinisikan dwelling time sebagai ‘Waktu yang dihitung mulai dari petikemas (kontainer) dibongkar/diangkat dari kapal sampai petikemas itu meninggalkan terminal pelabuhan me...
Kronik Sejarah Kota Pelabuhan Sunda Kelapa
Sejarah mencatat, setidaknya jika dihitung pada kasus Sunda Kelapa secara partikular, maka bisa dikata kota bandar tua ini barulah berhasil kembali ke pangkuan ibu pertiwi, setelah selama lebih dari t...
Alex dan Frans dari Kawangkoan, Patriot Bersenjata Kamera
Di masa sulit, penghasilan yang berkurang jauh di bawah Jepang membuat Alex dan Adam Malik harus mencari tambahan dengan menyelundupkan jam dan kamera. Karena menguasai wilayah pelabuhan Tanjung Priok...
Seba, Ritual Syukur Masyarakat Baduy
Suku Baduy/Badui terselip diantara banyaknya suku yang ada di Indonesia. Hidup bersama alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, mereka dikenal seba...
Bandar-bandar Tua dan Kronik Sejarah
Mari disimak beberapa bandar tua dan catatan kronik sejarahnya. Tulisan ini hendak memaparkan sejarah dan profil singkat dari tiga bandar laut, yaitu Aceh, Sibolga, dan Padang. ...
Mitos Si Jagur yang Memiliki Kekuatan Magis
Pada bagian belakang meriam itu ada ornamen berbentuk tangan dengan posisi ibu jari dijepit jari tengah. Di Indonesia, secara umum simbol itu mengartikan sebuah lambang yang berkonotasi sebagai s...
Mengusir Dahaga dengan Es Laksamana Mengamuk
Selain terkenal sebagai pusat adat Melayu, Provinsi Riau juga menyimpan kekayaan kuliner. Salah satu kuliner khas Riau yang pantas dicoba --karena menggugah selera-- adalah es laksamana mengamuk....
Melongok Jalan Legendaris di Kota Bandung
Melintasi Jalan Braga seolah melintasi kembali sejarah yang menyertai perkembangan kota Bandung, Jawa Barat. Bangunan-bangunan kuno masih bisa dilihat di kiri-kanannya. Jalan yang sebelumnya bera...
Dulu Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Maritim
Catatan I-Tsing (671-695 M) menceritakan perjalanannya dari Kanton di China ke Perguruan Nalanda di India Selatan, menggunakan kapal Sriwijaya, Dick-Reid menaksir kapal itu memiliki panjang hingga 50 ...
Makna Demokrasi dalam Pena Tiga Tokoh
Demokrasi bisa tertindas sementara karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan keinsyafan (Bung Hatta dalam Demokrasi Kita, 1966). ...