Bahasa | English


REMPAH-REMPAH

Kisah Si Bunga Paku, dari Iskandariyah hingga Srilanka

31 July 2019, 00:00 WIB

“Tuhan telah menciptakan TImor untuk Kayu Cendana dan Banda untuk Pala serta Maluku untuk Cengkih ..." Tome Pires, (1512-1515).


Kisah Si Bunga Paku, dari Iskandariyah hingga Srilanka Ilustrasi cengkeh. Foto: ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

Kutipan di atas sebenarnya bukan komentar langsung dari Tome Pires. Dia mengutip ucapan seorang pedagang Melayu yang dia temui waktu dia sedang berada di Malaka. Ketiga barang sangat berharga yang menjadi incaran para pelaut pendatang memang tidak ditemukan di tempat lain kecuali di tempat ini. Dengan keberuntungan yang dibawa oleh angin kapal akan sampai ke Maluku dalam enam atau tujuh hari.

Maluku, tepatnya di Kepulauan Maluku Utara, cengkih tumbuh dengan sendirinya. Bahkan hingga saat ini cengkih mudah dijumpai di mana-mana. Seorang kawan yang berdarah Ternate suatu ketika pernah bercerita. "Zaman BPPC adalah zaman paling buruk, .... di mana-mana cengkih berserakan bertumpuk seperti gundukan bunga layu ... sama sekali tidak ada harganya," kata dia menceritakan kampung halamannya di Pulau Moti, Ternate, Maluku Utara. Saat itu adalah paruh pertama 90-an.

Cengkih Si Bunga Paku. Buah rempah itu sering disebut sebagai Bunga Paku karena bentuk jadinya memang mirip paku. Para pemburu rempah menyebutnya sebagai emas cokelat. Konon, katanya, pada zaman perburuan rempah-rempah menjelang abad 15 masehi setengah kilo cengkih bisa membeli tiga kambing. Orang-orang Eropa yang beriklim dingin sangat menghargai khasiat bunga paku itu. Dia menjadi penghangat kala dingin menusuk. Dia menjadi pelega tenggorokan. Bisa mengurangi bau mulut, membuat wewangian, dan lebih berguna lagi untuk mengawetkan daging selama persediaan musim dingin.

Orang Cinalah yang tercatat pertama kali dalam sejarah sekitar 2.300 tahun yang lalu menggunakan cengkih. Seorang Kaisar China mengharuskan orang untuk mengunyah cengkih saat berbicara di depannya. Saat orang Eropa Utara mengetahui kegunaannya di sekitar tahun 1200, rempah-rempah ini menjadi sangat berharga. Cengkih bahkan bisa digunakan sebagai alat tukar.

Tamak karena Cengkih

Menjelang keruntuhan Soeharto di awal 90-an, anak bungsunya, Hutomo Mandala Putra atau Tommy, tergiur dengan harga cengkih yang selalu tinggi. Petri Matanasi dari Tirto.id pernah menulis kemakmuran petani cpada akhir 70-an hingga 80-an. Banyak petani cengkih pada saat itu hidup makmur. Di sekitar Manado, Sulawesi Utara, penjualan mobil meningkat pesat karena harga cengkih yang membaik.

Seorang petani di Wioi, Ratahan, Minahasa, bisa membeli sebuah mobil Datsun hanya dengan menjual 250 kilogram cengkih. Ketua Indomobil pada waktu itu, Subronto Laras, juga mengatakan bahwa penjualan mobil pernah "booming" pada tahun 1980 dan 1981 yang disebabkan panen raya cengkih di Manado.

Harga cengkih pada waktu itu 15 (lima belas) ribu per kilo. Nilai tukar dolar sekitar 220 rupiah, sedangkan harga satu gram emas 9 (sembilan) ribu rupiah. Konon pengusaha Probosutedjo menjadi kaya raya karena mengimpor cengkih. Alih-alih membiarkan petani menikmati harga yang tinggi, pengusaha di sekitar Soeharto itu malah impor dari Zanzibar sejak akhir 60-an. Kebutuhan yang tinggi dari industri kretek adalah peluang yang tidak disia-siakan. Keuntungan itu bahkan bisa masuk menjadi dana nonbujeter yang disebut sebagai bantuan presiden atau banpres. Salah satu yang menggunakan dana banpres adalah pembangunan rumah sakit pusat angkatan darat.

Tetapi, rejeki emas coklat itu tercium oleh anak bungsu Soeharto. Tommy yang masih berusia 28 tahun pada waktu itu diangkat menjadi ketua konsorsium perdagangan cengkih yang disingkat BPPC alias Badan Penyangga Perdagangan Cengkeh. Pendiriannya dilakukan melalui Keputusan Presiden.

BPPC dalam sekejap menjadi gurita monopoli cengkih. Semua cengkih dari petani wajib dijual ke koperasi unit desa (KUD) yang akan dibeli oleh BPPC. Praktik itu ditambahi dengan kucuran kredit likuiditas Bank Indonesia senilai Rp569 miliar ditambah pinjaman komersial Bank Bumi Daya sebesar Rp190 miliar.

Di lapangan yang terjadi adalah dana kredit tidak disalurkan, pinjaman masuk ke kantong pribadi. Sedangkan petani harus mau berhadapan dengan "VOC" baru. Harga dipermainkan sesukanya. BPPC membeli dari petani dengan harga terendah dan menjual ke industri dengan harga tertinggi. Sebelum ada BPPC, harga terendah sekitar Rp20 ribu per kilo, setelah ada gurita itu harganya menjadi Rp2000. Seketika emas coklat menjadi onggokan sampah.

Cerita Lama

M Adnan Amal dalam bukunya Kepulauan Rempah-Rempah (2006) menyelusuri catatan-catatan lama tentang cengkih. Temuan arkeolog menemukan benda serupa cengkih yang berumur sekitar 1.700 tahun sebelum Masehi di Terqa, Mesopotamia, (sekarang Suriah). Tetapi temuan itu masih meragukan karena hanya memiliki kemiripan. Belakangan temuan ini disebut sebagai kesalahan identifikasi. Temuan terbaru pada 2018, dalam sebuah penggalian di situs Mantai, Srilangka, telah diketemukan fosil cengkih. Setelah melalui perhitungan karbon umurnya diperkirakan 200 tahun sebelum Masehi.

Temuan di Srilanka sepertinya mengkonfirmasi kisah dalam Epos Ramayana yang telah mencatat keberadaan cengkih sebagai tanaman obat. Ptolemy atau Plinius menyebutkan bahwa sekitar tahun 70 sebelum Masehi cengkih telah diperdagangkan secara teratur di Erocengkih adalah barang yang mewah yang tidak diketahui dari mana asalnya.

Rujukan tentang cengkih dalam literatur timur terdapat dalam kepustakaan Cina periode Han (220-206 SM). Dia disebut sebagai "Rempah Tenggorokan Ayam" alias ting hiang atau terjemahannya "rempah paku" alias si Bunga Paku. Sementara itu sebuah catatan pada tahun 176 hingga 180 menyebutkan bahwa di Iskandariyah, Mesir, telah dicatat oleh bea cukai sana tentang impor cengkih dari timur. (Y-1)

Komoditas
Perkebunan
Ragam Terpopuler
Kegairahan yang Terkendala Harga
Rata-rata satu petak keramba 3x3 meter menghasilkan 12,5 kg lobster. Toh, ada yang bisa produksi 20 kg per petak. Kegairahan budi daya lobster di Lombok terkendala harga yang menyusut secara tiba-tiba...
Laboratorium Alam di Tanah Ciremai
Kawasan hutan konservasi memiliki nilai sumber daya biologi yang sangat penting dalam menunjang kegiatan budidaya masyarakat sekitar. ...
Teguk Kesegaran Airnya, Lindungi Kesehatan Masyarakatnya
Ada empat jenis industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang diakui yaitu air mineral alami, air mineral, air demineral, dan air minum embun yang standarnya telah diatur melalui Standar Nasional Indon...
Revitalisasi Pasar Berbasis Kearifan Lokal
Empat pasar rakyat di empat kabupaten dibangun ulang oleh pemerintah sesuai dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di masing-masing daerah. Satu di anta...
Cuaca Ekstrim di Sekitar Dedaunan
Hamparan embun es yang instagramable kembali hadir di Dieng. Misteri suhu ekstrim dekat permukaan tanah belum terjelaskan. Namun ada bukti bahwa bakteri es bisa mensimulasi terjadinya kristal es (fros...
Si Klepon Naik Daun
Saat ini, jajanan pasar ini tidak kalah populer dengan kue dan roti modern berjejaring dari Prancis, Jepang, atau Korea Selatan. ...
Mengawal Keuangan Negara di Tengah Covid-19
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi kendala pemeriksaan. Bahkan untuk cek fisik, mereka memakai drone dan google maps live. ...
Memompa Semangat Juang di Ruang Publik
Penanganan Covid-19 memasuki babak baru. Solusi kesehatan dan ekonomi dikedepankan secara simultan. Strategi komunikasi sepertinya mengarah ke aksi best practice di tengah musibah. ...
Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air
Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020. ...
Ketika Indeks e-Government Indonesia Naik 19 Peringkat
Komitmen pimpinan pada instansi pemerintah merupakan hal penting dalam melakukan perbaikan yang kontinu untuk mewujudkan peningkatan SPBE secara menyeluruh. ...