Bahasa | English


VAKSIN COVID-19

Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air

23 July 2020, 09:06 WIB

Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020.


Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air Ilustrasi vaksin Cov-19. Foto: Istimewa

Sekitar sepekan silam, Moderna, perusahaan bioteknologi di Massachusetts, AS, menyampaikan kabar baik pada jagat publik. Uji coba atas vaksin Covid-19 yang mereka lakukan dinyatakan manjur dan tidak berefek samping serius.

Hasil uji klinis fase I perusahaan yang pertama melakukan uji coba vaksin Covid-19 pada manusia itu dipublikasikan sekitar medio Mei 2020. Vaksin yang dinamai mRNA-1273 itu, dalam jurnal New England Journal of Medicine, disebutkan terbukti mampu menghasilkan antibodi.

Khususnya bagi publik tanah air, kehadiran bakal vaksin besutan perusahaan AS itu boleh dikata bak keping mata uang. Di satu sisi, hal itu tentu sangat menggembirakan, mengingat virus SARS COV-2 tergolong berbahaya.

Namun di sisi lainnya, kita tentu tidak bisa menutup mata pada kondisi dalam negeri Amerika sendiri. Tingginya keterpaparan di negeri Paman Sam itu, sebagaimana dimuat dalam laman Johns Hopkins yang intens memantau perkembangan Covid-19 di dunia, tercatat di angka 3.563.848. Tentunya itu sekaligus mencerminkan tingginya kebutuhan atas vaksin dan temuan medis terkait lainnya.

Itulah sebabnya, informasi tentang rencana uji klinis fase III bakal vaksin baru yang dikembangkan perusahaan farmasi asal Tiongkok, SinoVac, tak pelak memunculkan harapan baru. Apalagi, perusahaan yang berkedudukan di Beijing itu, rencananya bakal melakukan uji klinis fase III di Indonesia, pada Agustus 2020.

Menggandeng sejumlah pihak di Tanah Air, yakni Bio Farma dan Pusat Uji Klinis Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, uji klinis fase III itu akan mengambil sampel dari 1.620 subjek, dalam rentang usia antara 18-59 tahun. Jika proses pengujian itu berjalan sesuai harapan, maka rencananya Bio Farma melakukan produksi pada Q1 2021 dengan kapasitas produksi maksimal sebanyak 250 juta dosis.

Bahan uji klinis fase III vaksin corona SinoVac yang rencananya akan dinamai CoronaVac itu sendiri telah tiba di Indonesia pada Minggu (19/7/2020), dan langsung ditempatkan di sebuah lokasi khusus di PT Bio Farma (Persero).

Terkait harapan akan hadirnya vaksin Covid-19, Holding BUMN farmasi itu memperkirakan harga jual vaksin Covid-19 akan berkisar antara USD5-USD10 atau setara dengan Rp73.000-Rp146.000 (dengan asumsi kurs Rp14.600/USD) per dosisnya ketika sudah dilempar ke pasar.

Disampaikan Corporate Secretary Bio Farma Bambang Heriyanto, perusahaan memperkirakan dosis konsumsi vaksin ini sebanyak dua dosis untuk sekali konsumsi. Namun, penentuan dosis itupun masih bergantung pada hasil uji klinis fase III.

Sementara itu ihwal distribusi vaksin, Bambang menyebut akan menggunakan jalur distribusi Bio Farma. Walau tidak tertutup kemungkinan, sambung dia, distribusi juga akan dilakukan anak usahanya, yakni PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) yang memiliki jalur distribusi lebih luas di dalam negeri.

Terkait produksi vaksin, Bio Farma sendiri merupakan perusahaan farmasi dengan kompetensi yang diakui dunia. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pun memercayai Bio Farma untuk memproduksi sejumlah vaksin.

 

Bukan Dadakan

Sebagai sebuah perusahaan, Sinovac Biotech Ltd selama ini memang fokus pada penelitian, pengembangan, pembuatan, dan komersialisasi vaksin untuk penyakit menular terhadap manusia. Tercatat selama ini, SinoVac telah memproduksi sejumlah vaksin komersial, di antaranya Healive (hepatitis A), Bilive (gabungan hepatitis A dan B), Anflu (influenza), Panflu (H5N1), dan PANFLU.1 (H1N1).

Sebagai sebuah perusahaan yang mumpuni, langkah SinoVac mengembangkan vaksin Covid-19 sebenarnya telah dimulai sejak pandemi terjadi, yakni sejak pada 28 Januari 2020. Uji praklinik vaksin tersebut juga sudah diterbitkan di jurnal akademi peer review Science.

Pada 13 April 2020, National Medical Products Administration (NMPA), yang merupakan Badan Pengawas Obat dan Makanan Tiongkok, memberikan izin untuk melakukan uji klinik fase I dan II. Menyusul itu, uji coba pun dilakukan pada 16 April 2020 di Provinsi Jiangsu, Tiongkok.

Ketika itu, pengujian dilakukan terhadap orang dewasa yang teridentifikasi sehat dengan rentang usia 18-59 tahun. Adapun jadwal pemberian vaksin adalah hari ke-0 dan hari ke-14. Hasil pengujian juga telah dilaporkan, di antaranya tidak mengakibatkan efek samping yang serius terhadap 743 relawan yang dilibatkan.

Pada fase II, relawan diamati lagi dalam 14 hari setelah 2 kali divaksin pada hari ke-0 dan hari ke-14. Di fase ini, ada manula, remaja, dan juga anak-anak. Riset tersebut masih dalam pemantauan sampai akhir 2020.

 

Mitra Internasional

Rupanya, tak hanya Indonesia yang memperoleh kesempatan untuk menguji klinis fase III bakal vaksin CoronaVac. Bersama Brazil, uji klinis besar-besaran juga akan dilakukan SinoVac dengan mengandeng Instituto Butantan, salah satu perusahaan farmasi papan atas di Negeri Samba tersebut. Langkah itu ditempuh menyusul adanya izin dari Badan Regulasi Kesehatan Brasil (ANVISA), pada Jumat (3/7/2020).

Dalam prosesi itu, rencananya akan dilibatkan 9.000 relawan uji klinis fase III. Hal itu tidaklah mengherankan, pasalnya kini Brazil tercatat berada di urutan kedua keterpaparan SARS COV-2 di dunia. Angka per hari ini di laman https://coronavirus.jhu.edu/map.html menunjukkan sebanyak 2.012.151 orang terinfeksi di negara dengan populasi 204,5 juta yang tersebar di wilayah seluas 8,4 juta km2 (4,2 kali daratan Indonesia).

SinoVac juga dikabarkan hendak melakukan uji klinis serupa di Bangladesh dengan melibatkan 4.200 relawan. Rencana itu mengemuka setelah Bangladesh Medical Research Council (BMRC) disebutkan memberi lampu hijau bagi pelaksanaan pengembangan vaksin tersebut.

Di negeri dengan keterjangkitan virus corona sebanyak 196.323 itu dan angka kematian 2.668 korban itu, uji klinis rencananya dilakukan oleh Pusat Penelitian Penyakit Diarrheal Internasional di Bangladesh (ICDDR, B), pada Agustus 2020, dan digelar di tujuh rumah sakit khusus COVID-19 yang terletak di Dhaka, Ibu Kota Bangladesh.

 

 

Penulis: Ratna Nuraini
Editor: Firman Hidranto/Elvira Inda Sari

Covid-19
Dampak Covid-19
LawanCovid19
Obat Covid-19
Pandemi Covid-19
Pemeriksaan Covid-19
Penanganan Covid-19
Penanggulangan Covid-19
Vaksin
Vaksin Anti Virus
Vaksin Covid-19
Ragam Terpopuler
Rekristalisasi Datang, Limbah Hilang
Meningkatnya limbah medis dari sisa-sisa penanganan Covid-19 menjadi persoalan tersendiri. Limbah-limbah tersebut merupakan bahan berbahaya dan beracun atau B3.  ...
Potensi Andalan Ekspor dari Liur yang Lezat
Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara eksportir sarang burung walet ke Republik Rakyat Tiongkok sebesar 75,3 persen. ...
Terowongan Silaturahmi Perkuat Persaudaraan
Terowongan penghubung di bawah tanah akan dibangun antara Masjid Istiqal dan Gereja Katedral. Sinyal tegas kerukunan dan toleransi antarumat beragama di tanah air. ...
Rekaman Suara Pilot Terus Dicari
Meski operasi pencarian dan pertolongan Basarnas telah dihentikan, Presiden Jokowi tetap meminta CVR Boeing 737-500 SJ-182 terus dicari. Penyebab kecelakaan harus diungkap tuntas. ...
PP 2/2021, Agar Penamaan Rupabumi Lebih Tertib
Pemerintah telah menerbitkan peraturan tentang penamaan pulau, daerah, sungai, danau, teluk, atau rupabumi. Tujuannya untuk melindungi kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. ...
Ketika DAS Barito Bobol Tersengat Anomali Cuaca
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat terjadinya penurunan luas hutan alam pada periode 1990-2019 sebesar 62,8 persen di DAS Barito Wilayah Kalsel. Ketika wilayah hulu tertimpa hu...
Dari Dinasti Wuhan sampai ke Varian Baru UK
Varian baru Covid-19 asal Inggris menjadi momok baru. Genom B-117-nya dimungkinkan berasal dari virus lain yang membuatnya lebih menular. Varian Afrika Selatan masih tunggu bukti ilmiah. ...
Si Manis di Ambang Kepunahan
Angka perdagangan gelap trenggiling asli Indonesia masih tinggi. Sepanjang 10 tahun terakhir, 26.000 ekor trenggiling diselundupkan. ...
Ada Kebun Raya di Cibinong
Meski sama-sama menyandang status sebagai kebun botani, konsep Kebun Raya di Cibinong berbeda dengan di Bogor. Jika di Bogor tumbuh-tumbuhan yang ada ditata berdasarkan famili, maka di Cibinong dikelo...
Merawat Eksotisme Benteng Pendem
Benteng Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun di Ngawi, Jawa Timur. Bangunan cagar budaya nasional itu kini sedang direvitalisasi oleh pemerintah ag...