Bahasa | English


BIOTEKNOLOGI

Eijkman Melompat Memburu Corona

2 May 2020, 10:48 WIB

Lembaga Eijkman dulu membuka mata dunia kedokteran akan fakta penyakit yang bukan akibat kuman. Kini, Eijkman mencoba memburu virus corona dan menjinakkannya dengan vaksin.


Eijkman Melompat Memburu Corona Gedung Eijkman. Foto: Eijkman Institute

Setumpuk harapan kini tersemat di bahu Lembaga Eijkman Jakarta. Presiden Joko Widodo meminta institusi itu memimpin kolaborasi lintas  lembaga, guna menyiapkan vaksin Covid-19. Dalam jejaring kerja itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) serta sejumlah perguruan tinggi dilibatkan.

Tugas khusus itu diberikan pertengahan Maret lalu. ‘’Dalam waktu 12 bulan mudah-mudahan bisa kita selesaikan,” kata Profesor Amin Soebandrio, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Begitu selesai, racikan vaksin itu akan dikirim ke Laboratorium PT Biofarma di  Bandung, untuk menjalani proses uji klinis. Vaksin itu diujicobakan ke manusia, tanpa risiko keselamatan.

Seraya meracik vaksin, Lembaga Eijkman pun masuk dalam jaringan gugus tugas pembuat formula reagen, larutan khusus untuk diagnosis Covid-19 dengan piranti Polymerase Chain Reaction (PCR). Pekerjaan ini seperti berlomba dengan waktu karena memburu target diagnosis 10 ribu spesimen per hari di masa pandemi saat ini.

Yang hari-hari ini mengurus energi para peneliti di Lembaga Eijkman, yang bermarkas di bangunan bergaya kolonial di Kompleks Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta itu adalah pemeriksaan spesimen swab, lendir yang diambil dari tenggorokan, dengan PCR. Mesin PCR akan mendiagnosis secara presisi kehadiran antigen (virus SARS COV-2) pada spesimen. Setidaknya 360 spesimen bisa ditangani setiap harinya di Eijkman.

PCR perlu reagen khusus dalam proses penggandaan (amplifikasi) material genetik virus itu. Secara umum, material genetik pada spesimen tak cukup banyak. Maka, materi genom perlu digandakan, agar sensor pemindai PCR bisa mengkonstruksikan struktur asam nukleatnya secara lebih utuh. Pada proses penggandaan itu diperlukan reagen khusus, berupa enzim serta protein untuk membangun rantai asam nukleat baru yang sepenuhnya identik dengan genom aslinya.

Bahkan, karena kebutuhan darurat, urusan tabung kemasan pun Lembaga Eijkman ikut ambil bagian. Memanfaatkan piranti mekaniknya, Eijkman memproduksi tabung virus transport medium (VTM). Sudah lebih dari 40 ribu unit VTM diproduksi di sana, dan langsung dibagikan ke berbagai rumah sakit di seluruh Indonesia.

Tabung VTM digunakan sebagai wadah bagi spesimen swab sebelum diperiksa di lab. Spesimen ini tak bisa dikemas sembarangan, karena di dalamnya ada koloni virus ganas. Spesimen harus terjaga agar sampel virus tak lolos, dan tak boleh rusak agar menjamin akurasi diagnosis.

Penugasan yang terkait pandemi Covid-19 ini boleh dibilang pekerjaan ekstra. Sebelumnya, Eijkman sudah menjalankan tugas regulernya. “Eijkman  sedang mengembangkan vaksin malaria, hepatitis, dengue (demam berdarah),” kata Profesor Amin, dokter lulusan UI 1977 yang meraih gelar PhD pada 1988, setelah sebelumnya menjalani pendidikan lanjutan di Osaka University dan  Kobe University itu. Profesor Amin yang juga mengantungi brevet dokter spesialis Mikrobiologi Klinis sejak 1992 itu menyebutkan, lembaganya juga sedang mengembangkan vaksin untuk penyakit paru.

Bersatu dalam Keberagaman

Gerak Lembaga Eijkman sesungguhnya tak dibatasi sebatas pada wilayah kedokteran. Visinya ialah memajukan penelitian dasar dan terapan bidang biologi molekuler di Indonesia, dengan fokus pada aspek biomedis, biodiversitas, bioteknologi, dan biosekuritas, serta menerapkan kemajuan untuk kesejahteraan masyarakat.

Dengan begitu, pekerjaan peneliti Eijkman tidak melulu berurusan dengan isu kedokteran, meski tak bisa terlalu jauh dari isu kesehatan. Dalam subjek biosekuritas, misalnya, yang diteliti adalah aspek pencegahan penyebaran  penyakit, dengan pengendalian sepak terjang agen-agen pembawa bibit penyakit itu, termasuk di dalamnya nyamuk, tikus, burung, atau makhluk hidup lainnya.

Dalam isu biodersivitas, penelitian Lembaga Eijkman selama 15 tahun membuktikan bahwa secara genetik tak ada manusia asli Indonesia. Suku-suku di Indonesia lahir dengan DNA campuran, antara warisan tetua Austroasiatik, dari pedalaman Tiongkok (Yunan), dan tetua dari Polynesia yang tergolong ras Afrika. Ada kawin-mawin di antara mereka dan melahirkan beragam suku di Indonesia.

Semakin ke barat secara umum, semakin besar porsi DNA Yunan-nya, dan kian ke timur kian tinggi pula porsi DNA Afrika atau Polynesia-nya. Keragaman genetik ini terus mengalami pengayaan seiring dengan kedatangan para perantau dari Eropa, Arab, India, hingga Tiongkok, yang tinggal di Nusantara sejak awal abad pertengahan. Penelitiannya melibatkan 3.000 orang sebagai sampel. Mereka dari delapan pulau mewakili 30 komunitas.

Hasil penelitian itu disampaikan kepada publik oleh Profesor Herawati Sudoyo, Wakil Direktur Eijkman, Oktober 2019. Profesor Herawati menyajikannya dalam berbagai forum dengan tajuk menarik The Peopling of Indonesian Archipelago: Unity in Diversity. Eijkman memberikan gambaran faktual atas keniscayaan azas Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam keberagaman pada sebuah negara bangsa.

Penelitian susunan genetik orang Indonesia itu tentu tak semata-mata untuk etnogeografi. Eijkman menjalankan penelitian tentang peta genetik itu juga dalam kaitannya dengan penyakit menurun. ‘’Contohnya, penyakit  thalassemia,’’ kata Profesor Herawati Sudoyo. Menurutnya, penyakit  kelainan darah yang berakibat penderitanya kekurangan haemoglobin itu terkait dengan sifat bawaan dalam gen seseorang. Dengan penelitian ini, Tim Eijkman ingin mengetahui sebaran gen tersebut secara etnografis.

 

Perhargaan Nobel

Lembaga Eijkman adalah kelanjutan dari Central Geneeskundig Laboratorium (Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat) yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda pada 1888. Lokasinya di sebuah bangunan dalam Kompleks Rumah Sakit Militer Hinda Belanda yang kini menjadi RS Gatot Subroto di Jakarta Pusat. Dokter syaraf dan sekaligus ahli mikrobiologi asal Belanda Christian Eijkman tercatat menjadi direktur pertamanya (1888-1896).

Eijkman adalah nama besar di dunia kedokteran. Ia meraih penghargaan Nobel 1929 berkat jasanya menyibak misteri penyakit beri-beri, yang saat itu banyak menyerang negeri-negeri tropis, termasuk Hindia Belanda. Hal penting yang ditorehkan Eijkman, tidak semua penyakit diakibatkan oleh kuman sebagaimana yang dipahami oleh dunia kedokteran saat itu.

Ketika diangkat menjadi Direktur Geneeskundig Laboratorium di Batavia ia memang mendapat tugas  meneliti penyakit beri-beri. Ketika itu, beri-beri dihipotesiskan akibat serangan kuman seperti halnya TBC, kolera, atau antraks. Dalam perjalanannya, ia sempat meneliti penyakit pada ayam yang diduga akibat gangguan kuman pada syaraf.

Secara tak sengaja, ia menemukan bukti bawa ayam yang diberi makan nasi murahan (tanpa sosoh) bisa bertahan ketimbang ayam yang diberi makan nasi putih bersih. Ia pun tertarik meneliti misteri di balik nasi murahan itu. Ternyata, kulit ari pada beras memiliki kandungan khusus, yang pada tahun-tahun berikutnya disebut vitamin B-1.

Penemuan fenomena ajaib pada anak ayam yang terjadi di awal 1890-an itu kemudian ia terapkan ke pasien beri-beri. Ternyata, kulit ari beras alias dedak itu manjur mengobati beri-beri. Dari situlah Eijkman membangun teori bahwa ada penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan nutrisi tertentu, yang diperlukan pada metabolisme tubuh dan tak bisa dihasilkan oleh badan itu sendiri.

Penemuan Eijkman ini yang membuka khazanah baru tentang vitamin, hal yang sebelumnya masih gelap. Eijkman meraih Penghargaan Nobel 1929, setahun sebelum ia meninggal di Belanda.

Pada 1899, Eijkman ikut mendampingi gurunya, Robert Koch, dalam ekspedisi malaria di Jawa. Ketika itu Koch (1843-1910) sudah mengukir nama besar. Koch yang menemukan kuman penyebab TBC, antraks, dan kolera. Ia membangun teori yang disebut Postulat Koch yang  berlaku hingga saat ini. Ketika baru lulus dokter, Eijkman sempat belajar mikrobiologi kepada Koch di Universitas Berlin, untuk tambahan bekal bertugas di Batavia.

Selama di Jawa, Koch sempat melakukan observasi ke Ambarawa, lalu ke Desa Tosari di Tengger, di ketinggian 1.777 meter di permukaan laut. Dari ekspedisi itu Koch membuat catatan bahwa cukup banyak bukti untuk menyatakan bahwa plasmodium penjangkit malaria dibawa oleh nyamuk yang beradaptasi luas di kawasan tropis. Koch meraih Penghargaan Nobel 1905.

Sepeninggal Eijkman yang kembali ke Belanda, Geneeskundig Laboratorium terus berkiprah. Dokter-dokter lulusan Sekolah Kedokteran STOVIA pun mulai dilibatkan. Sejak awal 1920-an, Kampus Stovia, Rumah Sakit Pusat CBZ (Centrale Burgelijke Ziekenhuis) berada di  dalam satu blok di Jl Salemba, lokasi yang kini menjadi Kompleks RSCM, FKUI, serta Lembaga Eijkman. Secara resmi, Geneeskundig Laboratorium itu berubah menjadi Eijkman Institute pada 1938.

Berbagai penelitian patologis, terutama penyakit menular dan epidemi, dilakukan di sana, termasuk pembuatan vaksin. Namun, di era pascakemerdekaan lembaga ini tak dapat cepat bangkit, bahkan sempat dihentikan operasinya sejak awal 1960-an.

 

Peran BJ Habibie

Atas inisiatif Menteri Riset dan Teknologi Profesor Dr BJ Habibie, Institut Eijkman itu dihidupkan lagi pada 1992. Sesuai perkembangan, Habibie meminta lembaga itu melompat dari dunia mikrobiologis ke dataran  biomolekuler. Dr Sangkot Marzuki, ahli biomolekuler lulusan University  of Monash, University Australia, didapuk untuk memimpinnya. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman itu berada di bawah Kementerian Riset dan Teknologi.

Profesor Sangkot didampingi oleh ahli-ahli biomolekuler muda (ketika itu) seperti dokter Amin Soebandrio dan dokter Herawati Sudoyo yang telah menorehkan reputasi akademis yang menonjol. Profesor Sangkot memimpin Lembaga Eijkman hingga 2014 dan digantikan Profesor Amin hingga kini.

Lembaga Eijkman ini menjadi pintu penting bagi masuknya teknologi biomolekuler mutakhir di tanah air. Piranti Real Time Polymerase Chain Reactor (RT-PCR), Genom Sequenser, sudah berada di sana sejak hampir 30 tahun lalu. Lembaga Eijkman pun terlibat dalam jejaring dunia dalam  riset dan penyelidikan penyakit HIV-Aids, flu burung  (H5N1), SARS-1, hingga kini SARS COV-2 pembangkit Covid-19.

Sebagai badan riset, Eijkman telah memiliki reputasi yang tak mengecewakan. Namun sebagaimana lembaga penelitian lain di Indonesia, Eijkman juga harus bergulat dengan keterbatasan anggaran.

 

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Editor: Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Central Geneeskundig Laboratorium
Corona
Covid-19
Dampak Covid-19
Diagnosis Covid-19
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman
Eijkman
LawanCovid19
Lembaga Eijkman
Obat Covid-19
Penanganan Covid-19
Penangkal Virus
Positif Covid-19
sars cov2
Vaksin
Vaksin Anti Virus
Virus
Ragam Terpopuler
Perjalanan Huruf Palawa menjadi Aksara Jawa
Aksara telah dikenal di Nusantara selama seribu lima ratus tahun lebih. Legenda Aji Saka perlu dibaca dan diinterpretasi ulang berdasarkan fakta-fakta historis. ...
Kegairahan yang Terkendala Harga
Rata-rata satu petak keramba 3x3 meter menghasilkan 12,5 kg lobster. Toh, ada yang bisa produksi 20 kg per petak. Kegairahan budi daya lobster di Lombok terkendala harga yang menyusut secara tiba-tiba...
Laboratorium Alam di Tanah Ciremai
Kawasan hutan konservasi memiliki nilai sumber daya biologi yang sangat penting dalam menunjang kegiatan budidaya masyarakat sekitar. ...
Teguk Kesegaran Airnya, Lindungi Kesehatan Masyarakatnya
Ada empat jenis industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang diakui yaitu air mineral alami, air mineral, air demineral, dan air minum embun yang standarnya telah diatur melalui Standar Nasional Indon...
Revitalisasi Pasar Berbasis Kearifan Lokal
Empat pasar rakyat di empat kabupaten dibangun ulang oleh pemerintah sesuai dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di masing-masing daerah. Satu di anta...
Cuaca Ekstrim di Sekitar Dedaunan
Hamparan embun es yang instagramable kembali hadir di Dieng. Misteri suhu ekstrim dekat permukaan tanah belum terjelaskan. Namun ada bukti bahwa bakteri es bisa mensimulasi terjadinya kristal es (fros...
Si Klepon Naik Daun
Saat ini, jajanan pasar ini tidak kalah populer dengan kue dan roti modern berjejaring dari Prancis, Jepang, atau Korea Selatan. ...
Mengawal Keuangan Negara di Tengah Covid-19
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi kendala pemeriksaan. Bahkan untuk cek fisik, mereka memakai drone dan google maps live. ...
Memompa Semangat Juang di Ruang Publik
Penanganan Covid-19 memasuki babak baru. Solusi kesehatan dan ekonomi dikedepankan secara simultan. Strategi komunikasi sepertinya mengarah ke aksi best practice di tengah musibah. ...
Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air
Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020. ...