Bahasa | English


COVID-19

Disinfektan Datang Virus Menghilang

11 April 2020, 09:36 WIB

Penyemprotan disinfektan merupakan langkah pencegahan penularan virus penyebab Covid-19 yang mungkin masih bertahan di benda atau tempat tertentu.


Disinfektan Datang Virus Menghilang Warga menyemprotkan disinfektan pada seorang pemakai jalan sebelum masuk di Kelurahan Ketawanggede, Malang, Jawa Timur, Rabu (1/4/2020). Warga di kawasan tersebut secara swadaya melakukan screening kepada para pengguna jalan dengan menyemprotkan disinfektan, mewajibkan cuci tangan, pengukuran suhu tubuh, serta mengurangi akses jalan untuk mencegah penyebaran virus Corona. Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Merebaknya wabah akibat virus SARS COV-2 atau yang lebih dikenal dengan nama corona, sejak pertama kali terendus di Wuhan, Tiongkok, pada awal Januari 2020 lalu, telah meningkatkan kebutuhan penggunaan beberapa produk kesehatan. Tak hanya masker dan alat pelindung diri (APD), cairan disinfektan yang digunakan dengan cara disemprotkan pun laris manis.

Sebagai cairan antiseptik, disinfektan acap disemprotkan di permukiman warga, fasilitas umum seperti rumah-rumah ibadah, pusat perbelanjaan, bandar udara, stasiun kereta, terminal bus, dan berbagai tempat lainnya yang sering disentuh manusia. Penyemprotan cairan berisi bahan kimia ini diharapkan dapat membunuh virus yang mungkin saja berada di sekitar kita.  

Disinfektan didefinisikan sebagai penggunaan bahan-bahan kimia yang dapat membunuh kuman/mikroba (bakteri, fungi, dan virus) yang terdapat di permukaan benda mati (nonbiologis) seperti, pakaian, lantai, dinding). Demikian seperti dikutip dari buku Pedoman Bahan Berbahaya Pada Produk Alat Kesehatan dan PKRT yang diterbitkan Kementerian Kesehatan dan Pusat Pencegahan, Pengawasan Wabah Kementerian Kesehatan Amerika Serikat (CDC).

Efektivitas dari disinfektan dievaluasi berdasarkan waktu kontak atau wet time, yakni waktu yang dibutuhkan oleh disinfektan tersebut untuk tetap berada dalam bentuk cair/basah pada permukaan dan memberikan efek membunuh kuman. Waktu kontak disinfektan umumnya berada pada rentang 15 detik sampai 10 menit, yakni waktu maksimal yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, atau EPA.

Proses disinfeksi atau penyemprotan disinfektan memang efektif untuk membunuh virus. Peneliti Mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiono Saputra mengatakan, disinfeksi merupakan langkah mencegah penularan dengan membunuh virus corona yang mungkin masih bertahan di benda atau tempat tertentu.

Menurutnya, salah satu langkah untuk menghentikan penyebaran penyakit selain personal hygiene juga lingkungan adalah dengan disinfeksi. Penyemprotan harus dilakukan secara rutin, misalkan 2 kali sehari, karena jika benda-benda sudah tersentuh tentu saja masih bisa berpotensi terkontaminasi lagi.

Untuk disinfeksi udara, bisa menggunakan air sanitizer atau sinar UV-C dan juga disarankan kepada masyarakat supaya tidak asal sentuh benda di tempat umum. Apalagi bila belum diberikan disinfektan.

Berbagai macam cairan disinfektan dapat digunakan di antaranya adalah diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70 persen, kloroksilenol, electrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, dan hidrogen peroksida (H2O2).

 

Perhatikan Penggunaannya

Untuk campuran ini tentu ada perbandingan tersendiri agar dosisnya sesuai dan bisa menjadi cairan disinfektan yang bermanfaat dan tidak membahayakan. Salah satu perbandingan yang dianjurkan adalah mencampurkan empat sendok teh cairan pemutih pakaian dengan satu liter air. Aduk kedua jenis cairan itu, lalu semprotkan ke benda-benda yang ingin kita sterilkan.

Dosen Kimia Universitas Diponegoro, Nor Basid Adiwibawa Prasetya menyebut disinfektan yang dibuat dengan larutan bahan kimia rumahan aman digunakan dan bisa disemprotkan ke segala penjuru bagian rumah atau lingkungan sekitar rumah. Kecuali, alat-alat yang digunakan untuk keperluan konsumsi.

Selain itu, penyemprotan juga jangan sampai mengenai makanan atau kemasan makanan. Keduanya tidak perlu disemprotkan disinfektan, karena hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan makanan dapat menularkan virus corona. Sehingga, untuk memastikan higienitasnya cukup dengan memperhatikan keamanan pangan standar saja.

Menurut CDC dalam situsnya di www.cdc.gov, kita harus membersihkan dan menyemprotkan disinfektan terhadap barang-barang atau area di penjuru rumah, meskipun tidak ada satu orang pun anggota keluarga kita yang sakit. Membersihkan berarti hanya mencuci atau mengelap bagian permukaan barang, sementara menyemprotkan disinfektan berarti mematikan patogen virus yang mungkin saja ada di permukaan barang atau suatu area.

Sebelum didisinfeksi, barang harus dibersihkan terlebih dahulu. Bisa dengan dilap atau disemprotkan begitu saja. Pembersihan dan penyemprotan ini disebut perlu untuk dilakukan setiap hari, apabila ada barang baru atau orang luar yang keluar atau masuk ke dalam rumah Anda.

CDC menyarankan, pembersihan, dan penyemprotan disinfektan ini dilakukan sekali dalam satu hari, terutama pada benda atau bagian yang paling banyak disentuh. Misalnya, gagang pintu, permukaan meja, tombol lampu, remote control, dan sebagainya. Tidak hanya itu, paket atau barang kiriman yang masuk ke rumah juga penting untuk disemprotkan disinfektan.

 

Mampu Bertahan Lama

Mengapa demikian? Peneliti CDC dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menemukan bahwa virus corona dapat bertahan hidup di permukaan suatu benda, salah satunya pada kotak karton atau kardus selama 24 jam. Jadi tidak ada salahnya kita menyemprotkan disinfektan pada benda-benda kiriman tersebut untuk meminimalisir risiko adanya virus.

Sementara itu, untuk produk elektronik yang juga dimungkinkan menjadi tempat hidup virus seperti ponsel, tablet, dan gadget, karena sangat sering disentuh. Namun, jangan semprotkan disinfektan ke permukaannya, karena hal itu bisa saja membuat produk-produk elektronik tersebut rusak. Cukup dilap saja sedikit cairan disinfektan menggunakan kain tipis atau tisu. Selain disinfektan, bisa juga gunakan cairan alkohol dengan kandungan 70 persen.

Penelitian yang dilakukan oleh Institut Kesehatan Nasional AS (NIH) menyebutkan bahwa droplet juga dapat bertahan dalam jangka waktu lama di benda bahkan hingga berhari-hari di permukaan benda berbahan plastik dan stainless steel. Sedangkan di benda lainnya seperti alumunium dan sarung tangan medis hanya bertahan selama beberapa jam. Penelitian dilakukan di laboratorium milik mereka di Montana yang kemudian diterbitkan di New England Journal of Medicine pada akhir Februari 2020.

Droplet adalah butiran air yang keluar dari hidung dan mulut orang yang terinfeksi saat batuk.  Satu batuk bisa menghasilkan hingga 3.000 droplet. Partikel-partikel ini dapat mendarat pada orang lain atau pakaian dan permukaan di sekitar mereka.

Dari hasil penelitian itu terungkap bahwa bahan plastik paling disukai virus corona untuk dijadikan rumah, di mana mampu bertahan hingga 5 hari. Demikian pula dengan kertas yang mampu bertahan hingga 4-5 hari. Hal yang sama juga terjadi pada kaca dan kayu yang disukai corona sebagai rumah mereka, yaitu mampu bertahan 4 hari. Sedangkan pada stainless steel, corona mampu bertahan selama dua hari. Corona juga mampu bertahan selama maksimal 8 jam pada sarung tangan medis dan aluminium.

Menurut WHO, droplet terlalu berat untuk bisa bertahan di udara sehingga akan langsung jatuh ke lantai atau permukaan sesuatu. Sehingga menurut WHO, penularan juga bisa terjadi saat menyentuh permukaan yang terkena droplet terkontaminasi dan secara tak sadar menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum cuci tangan. Oleh kerena itu WHO memperingatkan untuk menjaga diri tetap aman dari virus corona dengan cara menjaga jarak minimal 1 meter dari seseorang yang terinfeksi virus corona Covid-19. Dan pastikan untuk rutin mendisinfeksi permukaan-permukaan benda yang sering disentuh.

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Eri Sutrisno
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Corona
Covid-19
Covid-19
Dampak Covid-19
Disinfektan
Droplet
Kementerian Kesehatan
LawanCovid19
Obat Covid-19
Positif Covid-19
sars cov2
Ragam Terpopuler
Ceumpala Kuneng Kebanggaan Aceh
Maraknya perburuan dan pembalakan hutan membuat populasi ceumpala kuneng di hutan liar Aceh menjadi semakin terdesak. Kini satwa itu berstatus terancam punah. ...
Sensasi Nasi Tutug Oncom Khas Tasikmalaya
Awalnya nasi tutug oncom adalah menu makanan harian bagi masyarakat kelas bawah di tanah Sunda pada era 1940-an. Rasanya yang enak membuat lambat laun makanan ini naik kelas. ...
Kecap Manis: Jejak Silang Budaya Nusantara dan Tiongkok
Awalnya pedagang Tionghoa datang membawa kecap asin. Tapi sesampainya di Jawa kecap asin tidak laku. Gula kelapa jadi solusi, dan kecap asin pun berubah menjadi kecap manis. ...
Uniknya Danau Asin Satonda
Danau Satonda memiliki kadar asin melebihi air laut di sekitarnya dan menyebabkan hampir semua jenis moluska musnah. Konon air danau berasal dari air mata penyesalan Raja Tambora. ...
Tekad dan Patih Kembali ke Habitat Asli
Di habitat alamiahnya, banteng jawa terancam oleh pemburuan liar dan degradasi genetik. Masuk daftar spesies langka yang terancam punah. ...
Kidung Keselamatan Semesta dari Kaki Gunung Slamet
Masyarakat di sekitar kaki Gunung Slamet yang membentang dari wilayah karesidenan Banyumas hingga  karesidenan Pekalongan mengadakan “Sedekah Bumi”. Wujud kesetiaan memelihara tradisi...
Menikmati Surga Bumi di Kaki Borobudur
Sejumlah lokasi wisata di Magelang mulai menggeliat di masa adaptasi kebiasaan baru. Candi Borobudur kini bukan satu-satunya destinasi wisata di sana. ...
Meningkatkan Sistem Imun, Mencegah Virus Masuk
Ada tiga mekanisme respons imun untuk mengeliminasi infeksi virus, yaitu melalui antibodi, dengan mekanisme sitotoksik, dan melalui interferon. ...
Pesona Kayang Tari Melemang
Puncak pertunjukan terjadi ketika para penari pria dalam formasi lingkaran melakukan kayang atau melemang untuk kemudian mengambil sejumlah barang yang sengaja diletakkan di lantai panggung. ...
Meningkatkan Imun Tubuh dengan Tanaman Herbal
Diabetes, hipertensi, jantung, atau kolesterol dan radang hati dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak tanaman herbal di sekitar kita yang dapat membantu sistem imun tubuh. ...