Bahasa | English


KEANEKARAGAMAN HAYATI

Si Penyendiri dari Lereng Terjal

30 November 2020, 13:38 WIB

Kambing hutan Sumatra hidup di ketinggian 200 meter hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Habitatnya berupa hutan primer dan hutan sekunder di dekat pegunungan atau kawasan bukit kapur.


Si Penyendiri dari Lereng Terjal Seekor kambing hutan sumatera (Capricornis sumatraensis sumatraensis) berada di kandang kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPH) Model Unit XXII Jalan Bukit Barisan, Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Kamis (4/8/2016). Foto: KPH Bukit Barisan

Kawasan Pegunungan Bukit Barisan di Pulau Sumatra kaya akan keanekaragaman hayati berkategori langka dan dilindungi. Termasuk di dalamnya adalah hewan satu ini. Namanya kambing hutan Sumatra atau nama latinnya Capricornis sumatraensis. Satwa ini dikenal juga dengan nama Sumatran serow dan menjadi endemik Sumatra. Ia adalah satu dari enam jenis kambing hutan yang ada di Asia bagian timur.

Tidak seperti kambing pada umumnya, ia memiliki ciri fisik lebih kekar. Tubuhnya tertutup bulu lebat dan kasar dengan warna hitam keabuan, sekilas mirip anak kerbau. Moncongnya juga mirip moncong kerbau. Tanduknya ramping, pendek dan lurus ke belakang seperti tanduk antelop dengan panjang rata-rata 12 hingga 16 sentimeter (cm). Berat badannya antara 50-140 kilogram dengan panjang badan antara 140-180 cm. Saat dewasa, tingginya bisa mencapai 85-94 cm.

Satwa ini termasuk pemalu dan hidupnya soliter atau senang menyendiri terlebih si pejantan. Untuk menandai suatu wilayah kekuasaannya, kambing ini akan mengeluarkan kotoran dan air seni.  Ia akan aktif berkeliling mencari betina saat masuk musim kawin antara Oktober dan November. Masa kehamilan berlangsung selama tujuh bulan. Seekor induk kambing bisa melahirkan satu ekor anak.

Umur maksimum hewan langka ini sekitar 20 hingga 21 tahun untuk jantan, dan 21 hingga 22 tahun untuk betina. Kendati lebih banyak menghabiskan waktunya di daratan, C sumatraensis juga dikenal sebagai perenang ulung. Uniknya, kambing ini juga dikenal sebagai satwa yang tangkas memanjat lereng terjal di mana biasanya hanya bisa dicapai oleh manusia dengan bantuan tali.

Mereka aktif pada pagi dan sore hari. Siangnya, istirahat di tempat teduh di balik bebatuan besar atau gua. Sumber makanan utamanya adalah tumbuh-tumbuhan kaya nutrisi. Ia hidup di ketinggian 200 meter hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Habitatnya berupa hutan primer dan sekunder di dekat pegunungan atau kawasan bukit kapur.

Populasinya masih bisa ditemui di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), dan Taman Nasional Pegunungan Bukit Barisan. Selain di Indonesia, kambing hutan asal Sumatra juga dapat ditemukan di Semenanjung Thailand-Malaysia.

 

Satwa Rentan Punah

Sebuah penelitian terhadap populasi kambing hutan Sumatra pernah dilakukan oleh lembaga konservasi internasional, International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) di kawasan pegunungan Sumatra dan dataran tinggi Malaysia pada akhir 2007. Menurut salah satu penelitinya asal Australia, JW Duckworth, secara umum populasi kambing hutan Sumatra itu terus menurun hingga lebih dari 30 persen sejak 21 tahun terakhir. Perburuan liar terhadap kambing hutan Sumatra dan pembalakan liar di dalam ekosistem mereka sehingga menghilangkan sumber pakan utama menjadi salah satu penyebab terus menurunnya populasi si pemanjat ulung ini. Bukan itu saja. Mereka juga telah menjadi sumber makanan bagi jenis-jenis kucing besar seperti macan tutul (Panthera pardus) dan harimau Sumatra (Panthera tigris).

Di Indonesia sendiri tidak ada catatan resmi berapa jumlah populasi kambing hutan Sumatra ini tersisa. Kepala Balai TNBG Sahdin Zunaidi menyatakan, pihaknya telah memulai kegiatan sensus terhadap keberadaan satwa ini. Terlebih pemerintah telah memasukkan kambing hutan Sumatra sebagai hewan dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. IUCN pun telah memasukkan kambing hutan Sumatra ke dalam daftar Redlist satwa berkategori Rentan (Vulnarable/VU) pada 2008.

Satwa ini pernah beberapa kali menampakkan diri serta masuk ke permukiman penduduk, terutama saat Gunung Sinabung di Sumatra Utara erupsi. Pada 2013, penduduk Desa Beras Tepu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo menemukan kambing hutan Sumatra tersesat ke pekarangan rumah penduduk. Kondisi tubuhnya kurus dan lemas. Penduduk semula mengira satwa ini adalah kambing milik warga. Pada 2016, seorang petani di Toba Samosir juga menemukan satwa ini tersesat di pinggir hutan.

Juga seorang warga di Sopotinjak, Kabupaten Mandailing Natal pada 18 Januari 2020 melihat kambing hutan Sumatra ini tersesat ke permukiman warga. Kemudian pada 28 Mei 2020, pengelola Balai TNGL menggunggah informasi keberadaan dua ekor kambing hutan Sumatra yang terekam kamera. Dari video rekaman, tampak keduanya merupakan sepasang kambing hutan jantan dan betina. Perlu kesadaran semua pihak termasuk masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian satwa langka ini agar tetap terjaga kekayaan dan keanekaragaman hayati Indonesia.

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Firman Hidranto/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Bukit Barisan
Gunung Sinabung
IUCN
kambing hutan sumatra
Pulau Sumatra
Ragam Terpopuler
PP 2/2021, Agar Penamaan Rupabumi Lebih Tertib
Pemerintah telah menerbitkan peraturan tentang penamaan pulau, daerah, sungai, danau, teluk, atau rupabumi. Tujuannya untuk melindungi kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. ...
Ketika DAS Barito Bobol Tersengat Anomali Cuaca
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat terjadinya penurunan luas hutan alam pada periode 1990-2019 sebesar 62,8 persen di DAS Barito Wilayah Kalsel. Ketika wilayah hulu tertimpa hu...
Dari Dinasti Wuhan sampai ke Varian Baru UK
Varian baru Covid-19 asal Inggris menjadi momok baru. Genom B-117-nya dimungkinkan berasal dari virus lain yang membuatnya lebih menular. Varian Afrika Selatan masih tunggu bukti ilmiah. ...
Si Manis di Ambang Kepunahan
Angka perdagangan gelap trenggiling asli Indonesia masih tinggi. Sepanjang 10 tahun terakhir, 26.000 ekor trenggiling diselundupkan. ...
Ada Kebun Raya di Cibinong
Meski sama-sama menyandang status sebagai kebun botani, konsep Kebun Raya di Cibinong berbeda dengan di Bogor. Jika di Bogor tumbuh-tumbuhan yang ada ditata berdasarkan famili, maka di Cibinong dikelo...
Merawat Eksotisme Benteng Pendem
Benteng Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun di Ngawi, Jawa Timur. Bangunan cagar budaya nasional itu kini sedang direvitalisasi oleh pemerintah ag...
KRI Dokter Wahidin Siap Berlayar Melayani Pasien
Satu dari dua kapal bantu rumah sakit pesanan TNI-AL yang diproduksi PT PAL Indonesia telah selesai. Kapal ini setara dengan rumah sakit tipe C. ...
Kalpataru, 40 Tahun Mengapresiasi Pahlawan Lingkungan
Penghargaan Kalpataru diberikan kepada sosok-sosok luar biasa yang mengabdikan hidupnya untuk upaya pelestarian dan penyelamatan lingkungan tanpa pamrih. ...
Museum Timah, Saksi Kejayaan Muntok
Kota Muntok di Pulau Bangka dikenal sebagai pusat produksi dan perdagangan timah dunia. Muntok merupakan hadiah pernikahan Sultan Palembang kepada permaisurinya di tahun 1722. ...
Mendandani Teras Indonesia di Natuna
Pemerintah akan membangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu di Serasan, Natuna Provinsi Kepulauan Riau dengan konsep laut. Ini akan menjadi pos perbatasan terpadu pertama yang dibangun ...