Bahasa | English


KEANEKARAGAMAN HAYATI

Uniknya Danau Asin Satonda

20 September 2020, 03:59 WIB

Danau Satonda memiliki kadar asin melebihi air laut di sekitarnya dan menyebabkan hampir semua jenis moluska musnah. Konon air danau berasal dari air mata penyesalan Raja Tambora.


Uniknya Danau Asin Satonda Suasana matahari terbit di atas Danau Satonda. Foto: Istimewa

Ada  tempat nan elok dan indah tersembunyi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Namanya Pulau Satonda. Letaknya di lepas pantai utara Pulau Sumbawa dan masuk dalam wilayah Kabupaten Dompu. Sekitar tiga kilometer dari Selat Sanggar di Laut Flores. Secara administratif berada di wilayah Desa Nangamiro di Kecamatan Pekat.

Pulau Satonda dan perairan sekitarnya memiliki luas 2.600 hektare (ha). Terdiri dari 453,7 ha berupa daratan dan 2.146,3 ha lainnya adalah perairan. Pulau Satonda terbentuk dari letusan Gunung Satonda, belasan ribu tahun silam. Gunung berapi Satonda disebutkan sebagai gunung api purba. Konon berusia lebih tua daripada Gunung Tambora, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pulau ini.

Pulau ini menarik perhatian para ilmuwan dan peneliti baik dari dalam maupun luar negeri, karena terkait dengan letusan fenomenal Gunung Tambora pada 15 April 1815 atau sebelum meletusnya Gunung Krakatau pada 1883. Letusan Gunung Tambora mengguncang beberapa bagian dunia, memuntahkan debu, dan mencemari atmosfer bumi selama bertahun-tahun. Bahkan merobek lapisan ozon yang tipis.

Pulau Satonda memiliki danau tepat di tengah-tengah pulau. Luasnya 335 ha dengan kedalaman mencapai 86 meter. Berdasarkan hikayat yang berkembang, disebutkan bahwa danau di tengah pulau itu adalah air mata penyesalan dari Raja Tambora. Raja murka karena pinangannya kepada seorang perempuan ditolak mentah-mentah. Raja tak tahu bahwa perempuan yang ingin diperistrinya itu adalah ibu kandungnya sendiri, lantaran ketika kecil si raja pernah hilang. Murkanya raja kepada perempuan yang belakangan adalah ibunya sampai-sampai membuat Sang Kuasa berang. Ia membuat Gunung Tambora meletus dan menimbulkan tsunami raksasa serta memisahkan daratan menjadi pulau-pulau kecil, salah satunya Satonda. 

 

Kadar Asin Tinggi

Stephan Kempe dari Jerman dan Josef Kazmierczak asal Polandia yang merupakan profesor biologi Eropa sengaja menyinggahi Satonda untuk meneliti danau tersebut pada November 1984. Ketika itu tengah digelar Dutch Indonesian Snellius II Expedition. Penelitian keduanya berlanjut pada 1989 dan 1996.

Keduanya memandang, Danau Satonda merupakan fenomena langka karena airnya yang asin dengan tingkat kebasaan (alkalinitas) sangat tinggi dibandingkan dengan air laut umumnya. Mereka lalu mencoba merekonstruksi sejarah pembentukan danau dan ekosistemnya. Kempe dan Kazmierczak berpendapat, asin Satonda muncul bersamaan dengan terbentuknya kawah akibat letusan gunung purba Satonda lebih dari 10.000 tahun lalu.

Aslinya, danau itu berisi air tawar yang dibuktikan dari deposit gambut di bawah endapan menyerupai mineral laut di pinggir danau. Danau itu lalu dibanjiri dengan air laut yang merembes melalui celah dinding kawah yang runtuh. Pada waktu itu, permukaan air laut 1 meter-1,5 meter lebih tinggi dibandingkan saat ini. Namun, ketinggian laut secara perlahan menyusut. Penapisan air laut melalui dinding kawah pun melambat. Sekarang, ketinggian air danau relatif stabil, yang menandai tidak ada lagi hubungan dengan air laut.

Perubahan lingkungan air Danau Satonda memengaruhi juga spesies yang hidup di dalamnya. Kejenuhan dan alkalinitas air naik ke tingkat yang menyebabkan pemusnahan hampir semua jenis moluska, kecuali spesies gastropoda (keong/siput) tertentu, seperti Cerithium corallium. Jenis ini diduga menjadi subspesies endemik Satonda. Selain itu juga ditemui beberapa jenis ganggang.

Kazmierczak juga mengambil sampel mirip karang yang disebut stromatolit atau sembulan mikrobial, yaitu struktur terumbu yang tersusun oleh mikroba bakteri dan ganggang. Material stromalit berlimpah pada kurun prekambrium, atau sekitar 3,4 miliar tahun lalu. Struktur stromatolit dalam perkembangannya tidak pernah ditemukan lagi. Kehadiran stromatolit di Satonda menjadi sangat menarik karena menunjukkan danau ini memiliki lingkungan yang menyerupai lautan purba, prakambrium. Stromatolit di dunia modern hanya ditemukan di air dengan kadar salinitas sangat tinggi. Satonda bagi para ilmuwan menjadi model lingkungan kontemporer yang mencerminkan kondisi lautan pada zaman purba.

Letusan Tambora telah menghancurkan hutan di Satonda. Tiadanya pepohonan menyebabkan berkurangnya penguapan, air hujan pun banyak yang terkumpul di kawah. Itu menyebabkan lapisan air bagian atas menjadi lebih tawar. Pada saat yang sama, sebagian air yang lebih tua dan lebih asin tertekan ke bawah atau keluar danau melalui pori-pori bebatuan vulkanik yang terbuka.

Dengan tingkat keasinan yang tinggi ini menyebabkan hanya sedikit keragaman vegetasi yang tumbuh di sekitarnya. Salah satunya adalah Kalibuda, pohon endemik Satonda. Masyarakat di sekitar Satonda menyebut Kalibuda sebagai Pohon Harapan karena dipercaya mampu mengabulkan semua permintaan yang diajukan mereka yang memohon di sekitar pohon. Caranya dengan menggantungkan batu karang atau benda-benda lain seperti kain, sepatu, kaleng, dan bungkus rokok dengan cara diikatkan di batang Pohon Kalibuda.

 

Keindahan Terumbu Karang

Tetapi tidak demikian dengan pemandangan bawah laut di perairan sekitar Pulau Satonda. Ada banyak titik penyelaman untuk menyaksikan terumbu karang cantik dan alami serta koleksi ribuan ikan hias aneka jenis. Pemerintah pun telah menetapkan pulau ini sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL) pada 1999.

Di sini, di antara padatnya terumbu karang, dapat ditemukan banyak kima dengan jenis Acroporidae, Xenia sp, Favidae, Sarcophyton sp, Labophyton sp, Hetractris crispa, Nephtea sp, Capnella sp, Lemnalia sp, dan Astrospicularis sp. Selain itu terdapat bintang laut berwarna biru hingga yang berduri. Kima termasuk dalam kelas Bivalvia, kelompok hewan bertubuh lunak yang dilindungi sepasang cangkang bertangkup.

Bahkan hanya kurang dua meter dari bibir pantai berpasir putih kita bisa menemukan spot karang yang padat dan rumah bagi ikan-ikan cantik seperti kerapu, moorish idol, dan lionfish tak jarang ditemukan, bahkan nemo si ikan badut (clown fish) dapat dilihat bersembunyi di antara anemon.

Adapun jenis flora yang menjadi kekayaan laut sekitar pulau vulkanis ini adalah ketapang (Terminalia catappa), pandan laut (Pandanus tectorius), beringin (Ficus sp), waru laut (Hibiscus tiliaceus), nyamplung (Calophyllum inophyllum), Mentigi (Pempis sp) dan asam (Tamarindus indica).

 

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Eri Sutrisno/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

danau air asin
Danau Satonda
Dompu
Gunung Tambora
letusan
Pulau Satonda
Ragam Terpopuler
Dari Dinasti Wuhan sampai ke Varian Baru UK
Varian baru Covid-19 asal Inggris menjadi momok baru. Genom B-117-nya dimungkinkan berasal dari virus lain yang membuatnya lebih menular. Varian Afrika Selatan masih tunggu bukti ilmiah. ...
Si Manis di Ambang Kepunahan
Angka perdagangan gelap trenggiling asli Indonesia masih tinggi. Sepanjang 10 tahun terakhir, 26.000 ekor trenggiling diselundupkan. ...
Ada Kebun Raya di Cibinong
Meski sama-sama menyandang status sebagai kebun botani, konsep Kebun Raya di Cibinong berbeda dengan di Bogor. Jika di Bogor tumbuh-tumbuhan yang ada ditata berdasarkan famili, maka di Cibinong dikelo...
Merawat Eksotisme Benteng Pendem
Benteng Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun di Ngawi, Jawa Timur. Bangunan cagar budaya nasional itu kini sedang direvitalisasi oleh pemerintah ag...
KRI Dokter Wahidin Siap Berlayar Melayani Pasien
Satu dari dua kapal bantu rumah sakit pesanan TNI-AL yang diproduksi PT PAL Indonesia telah selesai. Kapal ini setara dengan rumah sakit tipe C. ...
Kalpataru, 40 Tahun Mengapresiasi Pahlawan Lingkungan
Penghargaan Kalpataru diberikan kepada sosok-sosok luar biasa yang mengabdikan hidupnya untuk upaya pelestarian dan penyelamatan lingkungan tanpa pamrih. ...
Museum Timah, Saksi Kejayaan Muntok
Kota Muntok di Pulau Bangka dikenal sebagai pusat produksi dan perdagangan timah dunia. Muntok merupakan hadiah pernikahan Sultan Palembang kepada permaisurinya di tahun 1722. ...
Mendandani Teras Indonesia di Natuna
Pemerintah akan membangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu di Serasan, Natuna Provinsi Kepulauan Riau dengan konsep laut. Ini akan menjadi pos perbatasan terpadu pertama yang dibangun ...
Pesona Ketenangan di Pulau Setan
Pulau Setan menjadi salah satu surga wisata di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Apalagi secara keseluruhan objek wisata Kawasan Mandeh memiliki gugusan dan kesamaan dengan Raja Ampat...
Akhirnya Corina Pulang Kampung
Corina merupakan seekor harimau sumatra yang berhasil diselamatkan dari jeratan perangkap baja para pemburu liar satwa endemik Pulau Sumatra ini. ...