Bahasa | English


FAUNA

Terowongan Nyaman untuk Seruni

3 October 2020, 12:19 WIB

Pemerintah membangun lima underpass khusus untuk gajah sumatra di ruas tol Pekanbaru-Dumai agar tidak memutus daerah jelajah dari hewan dilindungi dan terancam punah itu.


Terowongan Nyaman untuk Seruni Gajah melintas di lintas Riau - Dumai. Pemerintah akan membangun underpass khusus gajah di kawasan itu. Foto: Riau.go.id

Ada sisi menarik dari peresmian jalan tol ruas Pekanbaru-Dumai (Permai) sepanjang 131,48 kilometer (km) yang dilakukan secara virtual oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat (25/9/2020). Ruas Permai di Provinsi Riau yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera ini tak hanya dapat dilintasi kendaraan roda empat. Tetapi juga bisa dilintasi satwa karena dilengkapi terowongan (underpass) perlintasan bagi gajah sumatra. Ini adalah terowongan  pertama di Indonesia yang dikhususkan bagi satwa bernama latin Elephas maximus sumatranus dan menjadi subspesies dari gajah asia.

Tak hanya satu terowongan yang dibuat oleh PT Hutama Karya Infrastruktur, selaku kontraktor pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra di ruas Permai, yang menghabiskan anggaran senilai Rp12,18 triliun ini. Ada lima terowongan yang dibangun dan semuanya terdapat di Seksi IV antara Kandis Utara dan Duri Selatan sepanjang 26,5 km. Masing-masing terdapat di Km 61+705, Km 69+154, Km 71+992, Km 72+950, dan Km 74+400. Di ruas tersebut terdapat dua kawasan suaka margasatwa, Balai Raja dan Giam Siak Kecil-Bukit Batu dengan populasi fauna antara lain gajah sumatra, harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), beruang madu (Helarctos malayanus), dan tapir (Tapirus indicus).

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 3978/Menhut-VII/KUH/2014 tertanggal 23 Mei 2014, Suaka Margasatwa Balai Raja ditetapkan seluas 15.343,95 hektare (ha). Sedangkan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil-Bukit Batu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 173/Kpts-II/1986 tertanggal 6 Juni 1986 ditetapkan seluas 84.967 ha. Kedua kawasan konservasi itu berada di Kabupaten Bengkalis.

Mengutip data Rimba Satwa Foundation (RSF) dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, populasi gajah sumatra liar yang menetap di Balai Raja saat ini tersisa tujuh ekor. Sebelumnya ada delapan ekor dan berkurang sejak kematian Dita, gajah betina 25 tahun, pada Oktober 2019, karena sakit. Gajah tertua yang menetap di Balai Raja adalah Seruni, seekor betina berusia 42 tahun yang dua tahun silam melahirkan Rimba. Sedangkan di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, terdapat 50-60 gajah liar yang menetap di dalamnya.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono, seperti dikutip dari Antara, menuturkan bahwa pihaknya sejak awal telah dilibatkan oleh kontraktor dalam penentuan desain terowongan agar ramah terhadap gajah. Setiap terowongan memiliki ukuran bervariasi antara lebar 25 meter hingga 45 meter dengan tinggi 4,5-11 meter disesuaikan dengan ukuran dan berat tubuhnya yang bisa mencapai 6-7 ton. Gajah merupakan satwa mamalia darat terbesar di bumi. Di sekitar terowongan sengaja ditanami tumbuhan hijau sumber pakan gajah termasuk rumpun bambu agar menyerupai habitat asli gajah. Di sekeliling terowongan juga dibangun pagar tembok beton setinggi 1,5 meter agar gajah tidak masuk ke ruas jalan tol.  Jarak terdekat antara habitat gajah liar dengan jalan tol adalah sejauh 65 meter.

 

Selamatkan Daerah Jelajah

Awalnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendesain ruas tol Permai itu tidak melintasi kawasan konservasi. Namun ternyata, tetap harus bersinggungan dengan daerah jelajah (home range) dari gajah. Semula ada delapan titik potensi pertemuan dengan home range gajah liar dan ruas tol Permai, namun disepakati dibuatkan lima perlintasan tepat di bawah badan jalan tol atau underpass agar daerah jelajah satwa berbelalai panjang ini tidak terputus.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan bahwa dalam pengerjaan proyek strategis nasional (PSN), seperti jalan tol, tak bisa dihindari tindakan membelah kawasan konservasi habitat satwa dilindungi. Itulah sebabnya, harus dibuatkan perlintasan khusus bagi satwa.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 56 tahun 1999, gajah sumatra masuk dalam daftar satwa dilindungi karena terancam punah. Sementara itu, lembaga konservasi dunia, International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah memasukkan gajah sumatra dalam daftar Red List CITES Appendix I atau terancam punah (critically endangered).

Dede Hendra Setiawan dari Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) memperkirakan, populasi gajah sumatra di habitatnya saat ini berkisar 1.694-2.038 ekor atau telah terjadi penurunan sebanyak 700 ekor dibandingkan kondisi 10 tahun lalu.

Sehingga, kehadiran tol Permai tak hanya memberikan kemudahan infrastruktur transportasi kepada para pelaku ekonomi seperti industri tambang, gas, perkebunan sawit, karet, dan kawasan industri terpadu di sekitarnya serta masyarakat pada umumnya. Tetapi juga, telah membantu menjaga kelestarian habitat satwa gajah dan fauna lainnya di sekitar lokasi jalan tol karena adanya terowongan khusus satwa.   

 

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Eri Sutrisno/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

BKSDA
CITES
Daerah Jelajah
FKGI
Gajah Sumatra
Hutama Karya Infrastruktur
IUCN
Jalan Tol
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)
Kementerian PUPR
Proyek Strategis
PUPR
Rimba Satwa Foundation
Suaka Margasatwa
Tol Pekanbaru-Dumai
Tol Trans Sumatera
Underpass
Ragam Terpopuler
PP 2/2021, Agar Penamaan Rupabumi Lebih Tertib
Pemerintah telah menerbitkan peraturan tentang penamaan pulau, daerah, sungai, danau, teluk, atau rupabumi. Tujuannya untuk melindungi kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. ...
Ketika DAS Barito Bobol Tersengat Anomali Cuaca
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat terjadinya penurunan luas hutan alam pada periode 1990-2019 sebesar 62,8 persen di DAS Barito Wilayah Kalsel. Ketika wilayah hulu tertimpa hu...
Dari Dinasti Wuhan sampai ke Varian Baru UK
Varian baru Covid-19 asal Inggris menjadi momok baru. Genom B-117-nya dimungkinkan berasal dari virus lain yang membuatnya lebih menular. Varian Afrika Selatan masih tunggu bukti ilmiah. ...
Si Manis di Ambang Kepunahan
Angka perdagangan gelap trenggiling asli Indonesia masih tinggi. Sepanjang 10 tahun terakhir, 26.000 ekor trenggiling diselundupkan. ...
Ada Kebun Raya di Cibinong
Meski sama-sama menyandang status sebagai kebun botani, konsep Kebun Raya di Cibinong berbeda dengan di Bogor. Jika di Bogor tumbuh-tumbuhan yang ada ditata berdasarkan famili, maka di Cibinong dikelo...
Merawat Eksotisme Benteng Pendem
Benteng Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun di Ngawi, Jawa Timur. Bangunan cagar budaya nasional itu kini sedang direvitalisasi oleh pemerintah ag...
KRI Dokter Wahidin Siap Berlayar Melayani Pasien
Satu dari dua kapal bantu rumah sakit pesanan TNI-AL yang diproduksi PT PAL Indonesia telah selesai. Kapal ini setara dengan rumah sakit tipe C. ...
Kalpataru, 40 Tahun Mengapresiasi Pahlawan Lingkungan
Penghargaan Kalpataru diberikan kepada sosok-sosok luar biasa yang mengabdikan hidupnya untuk upaya pelestarian dan penyelamatan lingkungan tanpa pamrih. ...
Museum Timah, Saksi Kejayaan Muntok
Kota Muntok di Pulau Bangka dikenal sebagai pusat produksi dan perdagangan timah dunia. Muntok merupakan hadiah pernikahan Sultan Palembang kepada permaisurinya di tahun 1722. ...
Mendandani Teras Indonesia di Natuna
Pemerintah akan membangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu di Serasan, Natuna Provinsi Kepulauan Riau dengan konsep laut. Ini akan menjadi pos perbatasan terpadu pertama yang dibangun ...