Bahasa | English


KONSERVASI SATWA

Tekad dan Patih Kembali ke Habitat Asli

19 September 2020, 13:35 WIB

Di habitat alamiahnya, banteng jawa terancam oleh pemburuan liar dan degradasi genetik. Masuk daftar spesies langka yang terancam punah.


Tekad dan Patih Kembali ke Habitat Asli Banteng Jawa atau Bos javanicus hasil pengembangbiakan exsitu Suaka Satwa Banteng Taman Nasional Baluran yang dilepasliarkan ke habitat alaminya di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis 3 September 2020. Foto: ANTARA/HO-KLHK

Tekad berumur 6 tahun 3 bulan, dan Patih 4 tahun 4 bulan. Keduanya tumbuh sehat, berbadan  kekar, berbulu coklat, dan masing-masing memiliki sepasang tanduk yang runcing melengkung. Untuk ukuran banteng jawa jantan, mereka sudah berusia dewasa. Keduanya lahir dan tumbuh di lingkungan rumah penangkaran banteng, yang berada di pinggiran Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur.

Namun, sejak Kamis (9/9/2020), keduanya harus pamitan dengan keluarga besarnya. Kedua banteng muda ini akan pulang kampung, dilepasliarkan di habitat asli nenek moyang, yakni di hutan Baluran, tidak jauh dari rumah penangkaran itu. Dalam sejarah konservasi satwa di Indonesia, ini kali pertama banteng dibiakkan di penangkaran kemudian dilepasliarkanke habitat aslinya.

Hutan Baluran adalah salah satu habitat asli banteng jawa. Tak banyak lagi hutan alamiah yang masih dihuni sapi liar itu. Selain di Baluran, banteng jawa (Bos javanicus) itu juga masih tertahan di Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Meru Betiri (keduanya di daerah Banyuwangi) serta Ujung Kulon di Banten.

Dengan kondisi yang prima, bebas dari penyakit, diharapkan pula Tekad dan Patih bisa menghasilkan bayi-bayi banteng baru yang lebih sehat bila mereka kelak mengawini betina asli. Kedua banteng itu tidak dilepas begitu saja. Pada badannya telah terpasang GPS Collar, yang bisa digunakan memantau keberadaannya. GPS tersebut sumbangan dari Kebun Binatang Kopenhagen Denmark.

Sebelum dilepasliarkan, Tekad dan Patih dipersiapkan cukup lama. Mereka telah diadaptasikan pada lingkungan asli di pinggir hutan Baluran, mencari makan sendiri, dan dijauhkan dari pergaulan manusia. Untuk memastikan bahwa keduanya bisa bergabung dengan populasi banteng yang asli, ada petugas yang akan mengawasinya selama beberapa bulan.

Taman Nasional Baluran itu menghampar seluas 250 km2. Di sisi Selatan ada Gunung Baluran yang puncaknya 1.243 meter di atas muka laut. Di kawasan gunung ini curah hujan cukup tinggi sehingga vegetasinya hijau sepanjang tahun. Namun, di lembah di sisi Utara yang menghadap Selat Madura kondisinya berbeda, dengan iklim yang khas untuk lingkungan Pulau Jawa.

Hujan di Baluran ini hanya sekitar 4-6 bulan. Selebihnya kering-kerontang. Jangan heran bila pada Lembah Baluran itu struktur hutannya seperti savana, padang rumput dengan gerumbul semak perdu, dan secara terpencar ada pohon asam jawa, kemiri, kepuh, dan belakangan ini Acacia nilotica, spesies asing yang berpotensi mengganggu karakter habitat aslinya.

Padang savana di Baluran tak kurang dari 100 km2 luasnya. Di situlah hidup banteng jawa, antara lain, bersama rusa bawean dan beberapa jenis kera. Namun, gangguan terhadap ekosistem Baluran dan adanya perburuan liar membuat populasi banteng jawa ini kritis, di ambang kepunahan. Kini banteng jawa masuk dalam daftar spesies genting versi International Union for Conservation of Nature (IUCN). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.92/2018 menyebutkan banteng jawa itu sebagai satwa yang dilindungi.

Secara umum, Bos javanicus itu menunjuk jenis sapi liar yang hidup endemik di Asia Tenggara. Dalam perkembangannya, banteng ini menyebar di banyak kawasan, dan pascazaman es kawanan banteng itu masing-masing beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Yang hidup di Jawa, sosoknya mirip Tekad dan Patih asal Baluran itu.

Yang beradaptasi di Kalimantan berkembang menjadi galur tersendiri dan disebut Bos javanicus lowi, sedangkan yang di Myanmar, Thailand, Vietnam, Kamboja, relatif tak terlalu berbeda satu sama lain, dan digolongkan dalam strain (subspesies) Bos javanicus burmanicus. Secara keseluruhan populasinya tak lebih dari 5.000 ekor.

 

Pengayaan Genetik

Dari tiga jalur itu, ukuran banteng jawa relatif paling besar. Pembeda di antara ketiga sub spesies itu adalah warna dan ukuran tubuhnya. Secara umum, ukuran banteng jawa lebih besar dibandingkan banteng Asia, sedangkan banteng Kalimantan memiliki ukuran yang lebih kecil lagi.

Seekor pejantan banteng jawa yang berukuran besar, beratnya bisa mencapai 900 kg, dengan tinggi badan 170 cm. Galur yang lain paling besar 600-700 kg dengan tinggi 160 cm. Di Balai Penelitian dan Pengembangan Ternak Bogo, seekor sapi yang lahir dari silangan pejantan banteng jawa dan betina    sapi Madura bisa tumbuh hingga mencapai berat satu ton. Banteng jawa ini juga bisa menjadi sumber genetik untuk sapi budi daya.

Dalam keterangan tertulisnya yang dirilis Sabtu (5/9/2020), Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Wiratno mengatakan bahwa Tekad dan Patih akan terus dipantau pergerakannya melalui GPS. “Secara manual, perilaku mereka pun akan diawasi sampai tiga bulan ke depan,” kata Wiratno.

Lebih jauh, kata Wiratno, populasi banteng liar di Baluran selama lima tahun terakhir menunjukkan tren meningkat. Dari estimasi 2015, hanya ada 44-51 ekor, kini telah meningkat menjadi 124-140 ekor. Estimasi populasi tersebut didapatkan dari analisa data jebakan kamera yang dilakukan setiap tahun.

Meskipun demikian, dia tidak memungkiri satwa yang dilindungi itu tetap berpotensi punah. Banteng-banteng itu kini hanya hidup di fragmen-fragmen habitat kecil yang terisolasi antara satu dengan yang lainnya. Fragmentasi itu memecah kawanan banteng itu menjadi populasi-populasi kecil yang tak lagi saling berhubungan.

Akibatnya, akan terjadi perkawinan dalam lingkup kecil saja dan mengakibatkan terjadinya pemiskinan genetik. Degradasi genetik tak terhindarkan dan berpotensi menghasilkan keturunan yang kerdil serta ringkih. Kepunahan secara alamiah pun menjadi keniscayaan. Dari aspek ini, pelepasliaran Tekad dan Patih bisa menjadi model pengayaan genetik.

Namun, pengelola Taman Nasional harus lebih dulu fokus mengatasi ancaman jangka pendek. Potensi kerusakan ekosistem akibat pembalakan liar tentu ada, perburuan liar dan pengendalian atas vegetasi asing yang invasif seperti Acacia nilotica yang secara tak terkonsep diintrodusir ke Taman Nasional ini sekitar 40 tahun lalu. Kini Acasia telah menyebar di kawasan seluas 6.000 hektar dan mengubah sifat dan karakter hutan aslinya.

Bila gangguan-gangguan itu bisa teratasi, menurut Dirjen Wiratno, populasi banteng jawa itu bisa pulih secara cepat. “Kemampuan reproduksinya relatif cepat, di mana hampir setiap tahun banteng mampu bereproduksi,” katanya. Maka, ia optimistis bahwa Taman Nasional Baluran bisa dihuni banteng jawa dengan populasi yang optimal. Syaratnya, para pemangku kepentingan yang lain ikut menjaga Hutan Baluran ini tetap lestari.

 

 

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Putut Tri Husodo/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

BantengJawa
BosJavanicus
Taman Baluran
Taman Nasional Baluran
Ragam Terpopuler
Dari Dinasti Wuhan sampai ke Varian Baru UK
Varian baru Covid-19 asal Inggris menjadi momok baru. Genom B-117-nya dimungkinkan berasal dari virus lain yang membuatnya lebih menular. Varian Afrika Selatan masih tunggu bukti ilmiah. ...
Si Manis di Ambang Kepunahan
Angka perdagangan gelap trenggiling asli Indonesia masih tinggi. Sepanjang 10 tahun terakhir, 26.000 ekor trenggiling diselundupkan. ...
Ada Kebun Raya di Cibinong
Meski sama-sama menyandang status sebagai kebun botani, konsep Kebun Raya di Cibinong berbeda dengan di Bogor. Jika di Bogor tumbuh-tumbuhan yang ada ditata berdasarkan famili, maka di Cibinong dikelo...
Merawat Eksotisme Benteng Pendem
Benteng Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun di Ngawi, Jawa Timur. Bangunan cagar budaya nasional itu kini sedang direvitalisasi oleh pemerintah ag...
KRI Dokter Wahidin Siap Berlayar Melayani Pasien
Satu dari dua kapal bantu rumah sakit pesanan TNI-AL yang diproduksi PT PAL Indonesia telah selesai. Kapal ini setara dengan rumah sakit tipe C. ...
Kalpataru, 40 Tahun Mengapresiasi Pahlawan Lingkungan
Penghargaan Kalpataru diberikan kepada sosok-sosok luar biasa yang mengabdikan hidupnya untuk upaya pelestarian dan penyelamatan lingkungan tanpa pamrih. ...
Museum Timah, Saksi Kejayaan Muntok
Kota Muntok di Pulau Bangka dikenal sebagai pusat produksi dan perdagangan timah dunia. Muntok merupakan hadiah pernikahan Sultan Palembang kepada permaisurinya di tahun 1722. ...
Mendandani Teras Indonesia di Natuna
Pemerintah akan membangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu di Serasan, Natuna Provinsi Kepulauan Riau dengan konsep laut. Ini akan menjadi pos perbatasan terpadu pertama yang dibangun ...
Pesona Ketenangan di Pulau Setan
Pulau Setan menjadi salah satu surga wisata di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Apalagi secara keseluruhan objek wisata Kawasan Mandeh memiliki gugusan dan kesamaan dengan Raja Ampat...
Akhirnya Corina Pulang Kampung
Corina merupakan seekor harimau sumatra yang berhasil diselamatkan dari jeratan perangkap baja para pemburu liar satwa endemik Pulau Sumatra ini. ...