Bahasa | English


PERLINDUNGAN SATWA

Ceumpala Kuneng Kebanggaan Aceh

23 September 2020, 14:47 WIB

Maraknya perburuan dan pembalakan hutan membuat populasi ceumpala kuneng di hutan liar Aceh menjadi semakin terdesak. Kini satwa itu berstatus terancam punah.


Ceumpala Kuneng Kebanggaan Aceh Ceumpala Kuneng (Trichixos pyrropygus). Foto: Alamendah.org

Aceh tak hanya kaya dengan kebudayaan. Tetapi juga keanekaragaman hayati, terutama faunanya. Salah satunya adalah jenis burung yang berdiam di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan dikenal dengan nama kucica ekor kuning atau dalam bahasa setempat dikenal sebagai ceumpala kuneng.

Burung bernama ilmiah Trichixos pyrropygus ini menyenangi kawasan hutan lembab rimbun, termasuk hutan rawa. Ciri khas burung ini ada pada kicauannya yang berupa rangkaian panjang terdiri dari siulan merdu, nada tunggal dan ganda, meningkat dan menurun bergantian secara tidak tetap. Berkat kicauannya yang menarik itu, tak heran burung ini digemari masyarakat.

Ceumpala kuneng pun menjadi burung kesayangan Sultan Iskandar Muda yang memimpin Aceh era 1607-1636. Burung ini kerap disebutkan dalam setiap cerita rakyat tempo dulu di Aceh. Begitu populernya nama kucica ekor kuning sehingga ditetapkan sebagai fauna identitas dari Aceh.

Burung kucica ekor kuning merupakan keluarga burung pengicau dan sering disebut dengan nama Rufous-tailed Shama. Ukuran tubuhnya sekitar 21 sentimeter (cm), dan memiliki ekor yang panjang dengan warna bulu cokelat abu-abu tua mengkilap.

Terdapat ciri khas alis putih terbentuk di atas bagian mata. Paruhnya hitam ramping serta tajam. Di bagian dada dan perut hingga pangkal ekor dan juga punggung burung ini berwarna kuning kemerahan.

Sedangkan pada bagian ujung ekornya terdapat warna hitam dengan pinggir putih di bagian bawah. Warna bulu kucica ekor kuning betina terlihat lebih cokelat serta tidak memiliki alis putih di atas matanya.

Dalam beberapa hal, penampilan burung ini mirip dengan murai batu (Copychus malabaricus). Perbedaan utama terletak pada bulu ekor yang berwarna oranye kekuningan. Karena itulah burung ini dinamakan kucica ekor kuning. 

Kucica ekor kuning sebenarnya bukan burung endemik Aceh. Burung yang tidak memiliki subspesies/ras ini wilayah persebarannya mulai dari Thailand Selatan, wilayah barat Semenanjung Malaysia, serta Sumatra dan Kalimantan termasuk Brunei Darussalam, Sabah, dan Serawak.

Burung kucica ekor kuning berkembang biak dengan cara ovovivipar atau bertelur dan beranak. Jadi embrio burung ini berkembang di dalam telur dan tetap berada di dalam tubuh induk sampai telur menetas. Setelah fase itu, individu baru tersebut keluar dari tubuh induknya. Cadangan makanan yang diperoleh embrio berasal dari dalam telur dan bukannya dari tubuh si induk.

 

Terancam Punah

Di TNGL, populasi kucica ekor kuning terus menurun akibat maraknya perburuan karena bernilai ekonomi tinggi dan pembalakan liar. Tidak ada jumlah pasti berapa banyak populasi kucica ekor kuning yang masih bertahan di alam liar.

Lembaga BirdLife International pada 2012 telah memasukkan kucica ekor kuning dalam daftar burung terancam punah. Menyusul kemudian status Red List of Threatened Species yang dikeluarkan oleh lembaga konservasi internasional, International Union Conservation of Nature (IUCN) pada 2012.

Menurut IUCN, kucica ekor kuning asal Aceh masuk daftar hewan dilindungi karena hampir terancam bahaya atau near threatened (NT).

Bersamaan dengan itu Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Aceh serta Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menerbitkan peraturan daerah (qanun) pada 2013.

Qanun tersebut berisi larangan melakukan perburuan dan perdagangan burung kucica ekor kuning. Bahkan, setiap orang yang berupaya membawa keluar ikon fauna Serambi Mekah ini terancam pidana kurungan dan denda uang.

Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan sangat bergantung kepada kehadiran kucica ekor kuning sebagai predator alami hama penggerek yang acap menyebabkan banyak tanaman pala milik masyarakat menjadi mati. 

 

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Firman Hidranto/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

IUCN
kicau
kucica ekor kuning
qanun
Taman Nasional Gunung Leuser
TNGL
Ragam Terpopuler
Dari Dinasti Wuhan sampai ke Varian Baru UK
Varian baru Covid-19 asal Inggris menjadi momok baru. Genom B-117-nya dimungkinkan berasal dari virus lain yang membuatnya lebih menular. Varian Afrika Selatan masih tunggu bukti ilmiah. ...
Si Manis di Ambang Kepunahan
Angka perdagangan gelap trenggiling asli Indonesia masih tinggi. Sepanjang 10 tahun terakhir, 26.000 ekor trenggiling diselundupkan. ...
Ada Kebun Raya di Cibinong
Meski sama-sama menyandang status sebagai kebun botani, konsep Kebun Raya di Cibinong berbeda dengan di Bogor. Jika di Bogor tumbuh-tumbuhan yang ada ditata berdasarkan famili, maka di Cibinong dikelo...
Merawat Eksotisme Benteng Pendem
Benteng Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun di Ngawi, Jawa Timur. Bangunan cagar budaya nasional itu kini sedang direvitalisasi oleh pemerintah ag...
KRI Dokter Wahidin Siap Berlayar Melayani Pasien
Satu dari dua kapal bantu rumah sakit pesanan TNI-AL yang diproduksi PT PAL Indonesia telah selesai. Kapal ini setara dengan rumah sakit tipe C. ...
Kalpataru, 40 Tahun Mengapresiasi Pahlawan Lingkungan
Penghargaan Kalpataru diberikan kepada sosok-sosok luar biasa yang mengabdikan hidupnya untuk upaya pelestarian dan penyelamatan lingkungan tanpa pamrih. ...
Museum Timah, Saksi Kejayaan Muntok
Kota Muntok di Pulau Bangka dikenal sebagai pusat produksi dan perdagangan timah dunia. Muntok merupakan hadiah pernikahan Sultan Palembang kepada permaisurinya di tahun 1722. ...
Mendandani Teras Indonesia di Natuna
Pemerintah akan membangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu di Serasan, Natuna Provinsi Kepulauan Riau dengan konsep laut. Ini akan menjadi pos perbatasan terpadu pertama yang dibangun ...
Pesona Ketenangan di Pulau Setan
Pulau Setan menjadi salah satu surga wisata di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Apalagi secara keseluruhan objek wisata Kawasan Mandeh memiliki gugusan dan kesamaan dengan Raja Ampat...
Akhirnya Corina Pulang Kampung
Corina merupakan seekor harimau sumatra yang berhasil diselamatkan dari jeratan perangkap baja para pemburu liar satwa endemik Pulau Sumatra ini. ...