Bahasa | English


ENSIKLOPEDIA

Taman Raja-Raja, Kitab Aceh Abad 17

10 October 2019, 11:31 WIB

Taman Raja-raja memang dia buat sebagai buku pegangan sejarah universal dan petunjuk kode etik bagi para penguasa.


Taman Raja-Raja, Kitab Aceh Abad 17 Illustrasi Wazir sekaligus Sufi yang terpelajar. Foto: Indian Art Emporium

Tuan Nurdin dari Ranir alias Syaikh Nuruddin Ar-Raniry tercatat dalam sejarah Nusantara sebagai penulis yang sangat produktif. Menurut penelitian Ahmad Daudy (1930-2018), mantan rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tuan Nurdin ini menulis kurang lebih 29 buku. Sementara itu, arkeolog Islam senior Uka Tjandrasasmita mencatat ada sekitar 18 karya Tuan Nurdin.

Tuan Nurdin ini sangat dikenal dalam literatur sejarah di Indonesia. Sejak zaman pengajaran sejarah Hindia Belanda di awal abad 20, nama Tuan Nurdin sudah kerap dikenalkan. Adalah Douwe Adolf Rinkes atau DA Rinkes, pendiri Balai Pustaka sekaligus penasihat Belanda untuk urusan syariat Islam yang banyak meneliti ulama-ulama Aceh pada masa awal Islam di Nusantara.

Rinkes adalah salah seorang sarjana yang dipromosikan oleh Snouck Hurgronje untuk melanjutkan berbagai rintisan penelitian tentang Islam di Hindia Belanda. Catatan Rinkes tentang karya Tuan Nurdin dia peroleh pada saat dia melakukan penelitian tentang Abdurrauf Singkel saat dia bebas dari tugas mengajar sekitar tahun 1911. Riwayat lebih jauh tentang Rinkes bisa dilihat dalam sebuah situs yang didedikasikan untuk dia. (http://www.rinkes.nl/genealogie/douwe-adolf-rinkes/)

Pada tahun 1999 seorang peneliti dari Universitas Kebangsaan Malaysia berhasil mempertahankan distertasi doktoralnya di SOAS (School of Oriental dan African Studies) University of London dengan mengangkat karya Tuan Nurdin yakni Bustan al Salatin. Dia adalah Jelani Harun kelahiran Perak 57 tahun yang lalu. Tulisannya di Jurnal Indonesia and the Malay World, vol. 32, No. 92, bulan Maret 2004 bercerita banyak tentang hasil karya penulis kelahiran Surat, sebuah pelabuhan tua di wilayah Ranir atau Rander, muara sungai Tapti, Provinsi Gujarat, pantai barat India.

Pentingnya Mencantumkan Nama

Satu hal yang sangat menarik dari sosok Tuan Nurdin dari Ranir, dalam penelitian Jelani Harun, adalah kesadaran dirinya sebagai seorang penulis. Dari berbagai manuskrip karyanya yang berhasil dikumpulkan ahli sejarah, Tuan Nurdin tidak pernah lupa menuliskan nama dirinya sebagai pembuat karya. Dalam salah satu karya dia yang pertama, ditulis sekitar 1634-1644 dia menulis lengkap identitasnya. Di sana tertulis "Syeikh Nuruddin al-Raniry, namanya, Muhammad Jailani ibn Ali ibn Hasanji ibn Muhammad (orang tuanya), Hamid nama bangsanya, Syafi'i nama Madhabnya, Raniry negeri tempat kediamannya".

Tuan Nurdin, berdasarkan tanggal yang dicantumkan dalam Bustan Al-Salatin dipercaya datang di Aceh sekitar tahun 1047 H atau 1637 M. Tetapi tanggal ini meragukan karena catatan sejarah lain menunjukkan fakta bahwa dia sudah pernah datang ke aceh sebelum tahun itu walapun tidak menetap. Peneliti sejarah Najib Al-Attas (1966) memperkirakan bahwa dia tinggal di Pahang pada periode itu. Di sana lah dia bertemu dengan Tun Sri Lanang, yang memberinya banyak wawasan tentang Sejarah Melayu yang dijadikan rujukan dalam karyanya.

Tuan Nurdin, sebagaimana ulama penyebar agama Islam pada masa itu adalah juga seorang sufi. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Jawahir-Al-Ulum fi Kasyful Ma'lum, dia dengan jelas menulis silsilah tarekatnya. Dalam banyak hal penulisan silsilah atau nisbah yang ketat dalam tradisi tarekat sangat membantu kerja-kerja penelitian sejarah. Di sana tertulis Tuan Nurdin adalah bagian dari Tarekat Rifa'iyah, sekaligus juga bagian dari Tarekat Qadiriyah. Dia adalah orang pada urutan ke 36 (tigapuluh enam) dalam daftar yang mendapatkan "ijazah" dari Sayyid Abu Hafs Umar ibn Abdullah Ba Syaiban al-Tarimi al Hadrami atau biasa dikenal sebagai Sayyid Umar al-Aydarus.

Naskah Asli Belum Ketemu

Naskah asli, atau manuskrip orisinil dari Bustan al-Salatin hingga saat ini belum diketemukan. Para ahli memperkirakan naskah ini sudah hilang atau sangat sulit untuk ditemukan. Manuskrip-manuskrip yang diteliti untuk menyusun sebuah karya yang dinilai banyak orang sebagai Magnum Opus ini adalah salinan dari penulis yang menyertakan bagian dari Bustan al-Salatin sebagai rujukannya. Jelani Harun, menjelaskan bahwa seluruh manuskrip yang digunakan untuk menyusun karya Tuan Nurdin semuanya tidak lengkap.

Jelani mencatat setidaknya ada 34 manuskrip yang menyertakan bagian dari Bustan al-Salatin yang ada saat ini. Satu naskah berada di Aceh, dua ada di Berlin, satu di Brussels, satu di Cape Town, Afrika Selatan, satu di Colombo, satu di Frankfurt, tiga di Jakarta, dua di Kuala Lumpur, tiga belas di Leiden, lima di London, tiga di Paris, dan satu di Kuala Terengganu. Jelani merasa beruntung bisa menjumpai langsung 25 dari 34 manuskrip tersebut dan membuat salinan fotokopinya. Sisanya yang sebagian ternyata hilang yakni di Berlin, Cape Town, Colombo, dan Paris, Jelani berhasil mendapatkan salinan mikrofilm dan berkas-berkas penelitian dari peneliti sebelumnya.

Ensiklopedia dalam Tujuh Bab

Bustan al-Salatin, atau dibaca bustanussalatin, adalah sebuah karya raksasa, dalam arti harafiah karena tebalnya, yang dibagi menjadi tujuh jilid atau bagian. Setiap bagian dibagi lagi dalam beberapa pasal atau sub bab. Cara Tuan Nurdin menyusun tiap bagian dalam karyanya bukanlah cara yang asal-asalan. Dia menyusun buku ensiklopedianya berdasarkan dua wilayah. Wilayah pertama yakni Buku I dan Buku II  adalah karya tentang Sejarah Umum. Sedangkan wilayah kedua yakni Buku III hingga Buku VII adalah tentang Adab (Kode Etik Penguasa).

Karya Tuan Nurdin bermula dari cerita asal-usul raja-raja dunia beserta catatan-catatn sejarah dengan data-data yang ada saat itu. Bagian yang paling penting dari hal itu adalah menceritakan semua itu sebagai bagian dari pengajaran agama. Cerita sejarah itu ditulis sebagai kisah tentang raja-raja yang adil dan tidak adil, menteri-menteri yang bijaksana dan menteri-menteri yang celaka, sampai dengan kisah-kisah orang-orang budiman. Semuanya dikemas sebagai bagian dari pengajaran agama yang menyertakan penjelasan atas berbagai peristiwa yang masuk akal dan menjadi pengetahuan berdasarkan prinsip-prinsip ajaran islam dan nilai-nilai Islam.

Dua kerangka besar inilah yang menyebabkan struktur Bustan al-Salatin menjadi sangat kuat. Jika dibuat perbandingan barangkali karya Tuan Nurdin ini dalam cara penyusunannya hanya sedikit di bawah Tarikh Al-Tabari atau Chronicles of Tabari yang ketika diterjemahkan dalam bahasa Inggris bisa mencapai 40 jilid.  Adapun  isi karya Tuan Nurdin yang diberi judul Taman Raja-raja dalam bahasa Melayu terdiri dari:

  • Buku I:   Sejarah Penciptaan Langit dan Bumi (30 bab)
  • Buku II:  Sejarah Nabi dan Penguasa (13 bab)
  • Buku III: Sejarah Raja-raja Adil dan Menteri yang Bijak (6 bab)
  • Buku IV: Pemimpin yang Zuhud dan Wali yang Saleh (2 bab)
  • Buku V:  Pemimpin yang tidak adil dan Menteri yang jahat (2 bab)
  • Buku VI: Orang Mulia, Dermawan, dan Orang Berani (2 bab)
  • Buku VII: Pemikir, Ahli Pengobatan, Fisiognomi (ciri-ciri bangsa-bangsa), Perempian, dan lain-lain (5 bab)

Niat Tuan Nurdin dalam menyusun bukunya memang tidak sembarangan. Dalam alam berpikir Tuan Nurdin yang sarjana lulusan Mekah dan mempunyai pembimbing kuat dari Madrasah Al Azhar Mesir ini buku Taman Raja-raja memang dia buat sebagai buku pegangan sejarah universal dan petunjuk kode etik bagi para penguasa. Karya Tuan Nurdin ini sedikit banyak dipengaruhi tradisi Greko Roman yang berkembang di Mesir. Sebagaimana diketahui buku karya Machiavelli, Il Principe, ditulis sekitar satu abad sebelum Tuan Nurdin menyusun kitab kode etiknya. (Y-1)

Ragam Terpopuler
Tantangan Terberat Priok, Wujudkan International Hub Port
World Bank (2011) mendefinisikan dwelling time sebagai ‘Waktu yang dihitung mulai dari petikemas (kontainer) dibongkar/diangkat dari kapal sampai petikemas itu meninggalkan terminal pelabuhan me...
Kronik Sejarah Kota Pelabuhan Sunda Kelapa
Sejarah mencatat, setidaknya jika dihitung pada kasus Sunda Kelapa secara partikular, maka bisa dikata kota bandar tua ini barulah berhasil kembali ke pangkuan ibu pertiwi, setelah selama lebih dari t...
Alex dan Frans dari Kawangkoan, Patriot Bersenjata Kamera
Di masa sulit, penghasilan yang berkurang jauh di bawah Jepang membuat Alex dan Adam Malik harus mencari tambahan dengan menyelundupkan jam dan kamera. Karena menguasai wilayah pelabuhan Tanjung Priok...
Seba, Ritual Syukur Masyarakat Baduy
Suku Baduy/Badui terselip diantara banyaknya suku yang ada di Indonesia. Hidup bersama alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, mereka dikenal seba...
Bandar-bandar Tua dan Kronik Sejarah
Mari disimak beberapa bandar tua dan catatan kronik sejarahnya. Tulisan ini hendak memaparkan sejarah dan profil singkat dari tiga bandar laut, yaitu Aceh, Sibolga, dan Padang. ...
Mitos Si Jagur yang Memiliki Kekuatan Magis
Pada bagian belakang meriam itu ada ornamen berbentuk tangan dengan posisi ibu jari dijepit jari tengah. Di Indonesia, secara umum simbol itu mengartikan sebuah lambang yang berkonotasi sebagai s...
Mengusir Dahaga dengan Es Laksamana Mengamuk
Selain terkenal sebagai pusat adat Melayu, Provinsi Riau juga menyimpan kekayaan kuliner. Salah satu kuliner khas Riau yang pantas dicoba --karena menggugah selera-- adalah es laksamana mengamuk....
Melongok Jalan Legendaris di Kota Bandung
Melintasi Jalan Braga seolah melintasi kembali sejarah yang menyertai perkembangan kota Bandung, Jawa Barat. Bangunan-bangunan kuno masih bisa dilihat di kiri-kanannya. Jalan yang sebelumnya bera...
Dulu Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Maritim
Catatan I-Tsing (671-695 M) menceritakan perjalanannya dari Kanton di China ke Perguruan Nalanda di India Selatan, menggunakan kapal Sriwijaya, Dick-Reid menaksir kapal itu memiliki panjang hingga 50 ...
Makna Demokrasi dalam Pena Tiga Tokoh
Demokrasi bisa tertindas sementara karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan keinsyafan (Bung Hatta dalam Demokrasi Kita, 1966). ...