Bahasa | English


SEJARAH

Teka-teki Tagaril

3 Febuary 2020, 02:18 WIB

Di tengah teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai pencanang Bandar Sunda Kelapa, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya.


Teka-teki Tagaril Rombongan Kafilah Mansa Musa di abad 14 dari Mali menuju Mekkah. Foto : history.com

Siapakah Tagaril? Pertanyaan ini sangat klasik dalam ruang lingkup ilmu sejarah dan penulisan sejarah di Indonesia. Nama Tagaril yang ditulis dalam catatan penjelajah Portugis, Fernao Mendes Pinto (1509-1583) ini, oleh para peneliti sejarah umumnya dianggap sebagai  kekeliruan penulisan nama yang wajar. Apalagi jika menyangkut sosok penulisnya, seorang Mendes Pinto yang kontroversial.

Sebagai seorang penjelajah samudra yang hidup di awal abad 16, kisah perjalanan yang dia tulis penuh dengan kisah yang luar biasa. Kehebatan kisahnya mungkin hanya bisa disaingi kisah fiktif pelaut Sinbad dari Kisah 1001 Malam. Hal ini tentu mendatangkan kesangsian. Apakah benar-benar dia mengalaminya atau dia sekadar membuatnya menjadi sensasional.

Catatan arkeolog senior Indonesia, Uka Tjandrasasmita, dalam Arkeologi Islam Nusantara (2009) mengungkapkan pendapat Husein Jayadiningrat (1886-1960) tentang Tagaril sebagai sosok historis yang dia samakan dengan Falatehan. Husein Jayadiningrat, doktor ilmu Sejarah dari Indonesia lulusan Eropa yang pertama, tentu tidak sembarangan menginterpretasikan rekaman sejarah.

Setidaknya ada dua sumber Portugis yang menyebutkan sosok historis yang pernah menjadi penguasa di wilayah Jawa bagian barat. Yang pertama  adalah catatan Joao De Barros (1496-1570). Dia menyebut seorang bernama Faletehan sebagai Raja Sunda bersama dengan anaknya, Hasanuddin, penguasa Banten Girang. Sumber kedua adalah catatan Mendes Pinto yang menyebut Raja Sunda itu sebagai Tagaril.

 

Salah Menuliskan Nama

Buku Husein Jayadiningrat yang berjudul Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten (1983) adalah masterpiece doktoralnya. Bapak historigrafi Indonesia ini menyamakan antara Falatehan dan Tagaril. Majalah Tempo pada Oktober 1983 memuat artikel khusus karya Husein yang digambarkan sebagai sebuah kerja yang luar biasa.

Sumber Husein adalah manuskrip Sajarah Banten yang diperkirakan disusun sekitar 1662-1663. Manuskrip khas Nusantara pada zaman itu disusun dalam bentuk tembang macapat. Penelitian ini adalah disertasi doktoral dalam bidang Bahasa dan Sastra Nusantara pada Universitas Leiden tahun 1913. Siapa promotor disertasi ini? Tak lain dan tak bukan adalah sang orientalis handal Profesor Christiaan Snouck Hurgronje.

Husein berpendapat bahwa tokoh yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat adalah orang yang kemudian dikenal namanya sebagai Sunan Gunung Jati bersama anaknya, Maulana Hasanuddin. Karena nama Sunan Gunung Jati adalah penamaan yang disematkan beberapa waktu setelah tokoh ini meninggal, Husein  mencoba melakukan penelusuran sumber-sumber sejarah lain untuk memastikan namanya. Melalui penelitian BJO Schrieke, Husein menemukan data dua sumber Portugis yang menyebutkan sosok ini. Pertama adalah Falatehan dan yang kedua adalah Tagaril. Untuk kata pertama, Husein menilainya sebagai sebuah kesalahan penulisan nama. Dia mengintrepretasikan kata Faletehan sebagai kesalahan tulis dari kata Fathan yang dalam bahasa Arab berarti kemenangan. Lengkapnya fathan mubinan yang berarti kemenangan yang sempurna.

Sedangkan untuk kata Tagaril, Husein seperti menemukan jalan buntu. Hampir tidak ada petunjuk, pada saat itu, untuk mengungkapkan nama Tagaril. Husein mengikuti Schrieke yang mengaitkan Tagaril dengan sebutan Fagaril, sebagai cara orang Portugis menuliskan istilah Fakhrillah. Husein mengartikannya sebagai kemegahan Allah.

Sumber-sumber lain menyebutkan nama-nama seperti Tubagus Paseh, Wong Agung Sabrang, sampai Fadhillah Khan. Ada sumber lain lagi yang bertolak belakang, yakni tafsir sejarawan Slamet Muljana yang mengklaim mendapatkan sumber berita dari arsip Klenteng Semarang, Cirebon, dan Jakarta.

Slamet menyebutkan, nama Toh A Bo untuk Sunan Gunung Jati, yang artinya Pangeran Timur. Tetapi, sumber Slamet Muljana, hingga kini, masih belum cukup kuat karena belum ada data pembanding tentang perampasan naskah-naskah Klenteng Cina yang dilakukan Belanda. Dari semua penelitian itu ternyata tidak ada yang mendekati kata Tagaril.

Leluhur dari Mesir

Di tengah-tengah berbagai teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai orang yang mencanangkan Bandar Sunda Kelapa, cikal bakal Ibu Kota Jakarta saat ini, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya. Kisah yang cukup populer dari manuskrip Carita Purwaka Caruban Nagari, yang juga masih diragukan keasliannya.

Naskah itu menyebutkan, Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayat lahir di Mekah pada 1448. Dia lahir dari pasangan Nyai Lara Santang dengan Sultan Makhmud al Mishri atau Sultan Makhmud dari Mesir.

Naskah Sajarah Banten menyebutkan nama sultan Mesir ini sebagai Raja Bani Israil. Walaupun skeptis dengan sumber-sumber seperti Carita Purwaka Caruban Nagari, De Graaf dan Pigeaud, duet peneliti Belanda memastikan bahwa ada garis keturunan ibu yang kuat dalam sejarah masuknya Islam di Jawa bagian barat.

Harus dipahami bahwa pada sekitar abad 15 dan 16, di Nusantara telah berkembang perdagangan samudra yang menyambungkan bandar-bandar perdagangan dari sekitar Laut Merah, Teluk Persia, Teluk Kambay, Teluk Benggala, Kedah, Pasai, dan Malaka.

Semua menunjukkan jejak-jejak kosmopolitan. Selain Hamzah Fansuri di Aceh muncul legenda wali di pantai utara Jawa yang menunjukkan warna-warna Islam-Persia. Penelusuran tulisan dari makam Bab Al Ma'lah di Mekah bahkan menemukan jejak Tuan Mas'ud dari Jawa yang lebih tua dua abad sebelumnya.

Pada sekitar abad 13 telah tercatat keberadaan seorang pengikut Tarekat Qadiriah yang memulai perjalanan sufinya dari Hadramaut. Ketika namanya bisa tercatat di salah satu nisan di kuburan tua Mekah, menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan.

Claude Guillot dan Ludvik Kalus, peneliti Prancis, memperkirakan Tuan Mahmud dari Jawa adalah orang yang istimewa. Sebutan "jawi" di belakang namanya menunjukkan jejak keturunan dari garis ibu. Bapaknya pelaut penjelajah samudra, ibunya adalah orang lokal nusantara. Perbandingan ini ternyata mempunyai pola yang sama dengan kisah asal-usul Tagaril.

Orang Paling Kaya Sedunia

Menyebarnya agama Islam pada kurun abad 13 hingga 15 Masehi melalui para wali atau haji, melalui darat atau samudra telah membuat Mekah menjadi tempat yang sangat diidam-idamkan. Hanya orang istimewa yang bisa datang ke sana. Saking istimewanya hanya raja-raja atau orang yang kaya dan berkuasa yang bisa melakukannya.

Salah satunya adalah seorang raja kaya raya sepanjang masa, penguasa segala emas dan permata yang berasal dari Mali, bagian barat Afrika. Namanya Mansa Musa. Encyclopaedia Britanicca menyebutkan bahwa perjalanan haji yang dia lakukan di tahun 1324 hingga 1325 melibatkan 60 ribu pengiring semua menggunakan jubah sutra dari persia, di dalamnya termasuk 12 ribu budak yang tiap satu orang membawa empat pond emas batangan. Segala peralatan yang dia punya bersepuh emas. Termasuk di dalamnya 80 onta yang membawa kantung-kantung berisi butiran emas seberat 50 hingga 300 pond.

Musa memberikan emas kepada orang miskin yang dia temui di jalan. Dia juga memberikan sumbangan kepada kota-kota yang dia datangi termasuk di antaranya adalah Kairo dan Madinah. Konon saking kayanya Mansa Musa, dia membangun satu masjid setiap hari Jumat sepanjang perjalanannya ke Mekah. Kekayaan Musa dan kedermawanannya membuat dia menjadi penguasa Afrika Tengah dari barat hingga ke timur. Luas kekuasaannya membentang dari Mali di barat menembus hingga Mesir bagian selatan.

Pada masa inilah muncul sebuah kisah yang menceritakan kemarahan Raja Mansa Musa. Sejarawan Mesir Shihab Al Umari (1300-1384) mencatat bahwa "raja segala raja" ini marah ketika disambut sebagai Malek At Takarir, yang artinya raja orang-orang Takur atau Dakur (Dakkar-Sinegal). Karena yang dia tahu Dakur adalah salah satu provinsi yang berada di bawah kekuasaannya. Dakur hanyalah salah satu dari 24 wilayah yang dia kuasai.

Umar Al Naqar, dalam Journal of African History Volume 10 nomor 3 tahun 1969, mencatat kekeliruan yang cukup fatal pada waktu Mansa Musa berada di Mekah itu terjadi karena pada sekitar abad 14 awal nama Takarir adalah sebutan bagi para haji yang berangkat dari rombongan besar yang berangkat dari Afrika Barat. Sama seperti sebutan Jawi bagi seluruh haji yang datang dari Asia Tenggara, sebutan Takarir menunjukkan orang-orang yang melakukan perjalanan haji bersama karavan besar yang melalui rute paling panjang dari Timbuktu, Kairo, hingga Mekah. Sampai di sini sepertinya cukup jelas dari mana asal Mendes Pinto menuliskan nama Tagaril. Kalau boleh berteori, kedekatan antara Takarir dengan Tagaril sepertinya lebih bisa dipertanggungjawabkan. (Y-1)

Penulis : Yul Amrozi
Editor Bahasa : Ratna Nuraini

Ragam Terpopuler
Sade, Benteng Terakhir Suku Sasak
Dusun Sade ada sejak 1.100 tahun lampau dan sudah dihuni oleh 15 generasi. ...
Cap Go Meh Cita Rasa Nusantara
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor berlangsung meriah. Nuansa Cap Go Meh tak melulu pentas atraksi etnis Tionghoa, tapi sudah berbaur dengan atraksi kesenian nusantara. ...
100 Calendar of Events 2020
Ada ribuan acara budaya dan wisata yang akan terjadi di Indonesia. Namun pemerintah hanya menetapkan 100 acara sebagai acara nasional. ...
Mengejar Wisatawan Premium di 2020
Pemerintah tak lagi mengejar volume jumlah wisatawan. Tapi kini menitikberatkan pada kualitas wisatawan yang berkunjung. Sehingga, jumlah devisa diharapkan mampu melampaui pendapatan tahun-tahun sebel...
Teka-teki Tagaril
Di tengah teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai pencanang Bandar Sunda Kelapa, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya. ...
Sebuah Filsafat Perenialisme Tertua
Mpu Tantular sangat jauh melampaui zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial bagi publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantu...
Bangunan Bersejarah di Kompleks Kedutaan Besar Amerika
Sebuah bangunan tua tetap kokoh berdiri di kompleks kedutaan Amerika di Jakarta. Gedung ini dipugar oleh Kedubes AS dan dijadikan museum peninggalan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah destinasi bar...
Labuan Bajo, Go International
Labuan Bajo memiliki seluruh potensi kekayaan ekowisata. Tidak salah sekiranya kota pelabuhan ini ke depan diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata premium berskala internasional. ...
Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau
Bangunan raksasa itu jelas sengaja didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan terhadap Budha Maitreya. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu and...
Kratom, Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...