Bahasa | English


PIMPINAN DPR

Pendiri Partai Gerindra dan Pekerja Senyap

9 October 2019, 02:27 WIB

Sufmi Dasco memang orangnya tidak suka publikasi yang berlebihan. Namun, justru itu yang menjadi faktor penentu keberhasilannya.


Pendiri Partai Gerindra dan Pekerja Senyap Wakil Ketua Sufmi Dasco Ahmad (kedua kiri) usai pelantikan dalam Rapat Paripurna ke-2 Masa Persidangan I Tahun 2019-2020 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Di tengah-tengah tensi politik dalam negeri yang masih memanas pasca-Pemilihan Presiden 2019, publik dikejutkan adanya pertemuan antara capres Joko Widodo dan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus, Sabtu (13/7/2019).

Sontak publik pun bertanya-tanya, apakah Prabowo sudah menyerah? Pelbagai penafsiran pun muncul dari pertemuan itu. Masih belum tuntas dengan kejutan pertemuan di Stasiun MRT Lebak Bulus itu, seminggu kemudian publik kembali disajikan adanya pertemuan dua pucuk pimpinan partai, Megawati dan Prabowo di kediaman Megawati Jalan Teuku Umar, Jumat (24/7/2019).

Tak dipungkiri, dua pertemuan dari dua kubu yang sudah berseteru mulai dari pileg hingga berlangsungnya pilpres itu langsung mendinginkan tensi politik yang meninggi saat itu. Cerita itu tentu sudah banyak yang membahas dan menganalisisnya.

Namun, publik bisa dipastikan banyak yang tidak mengetahui siapakah aktor di balik dua pertemuan itu. Siapakah yang melakukan ‘kerja senyap’ itu? Adalah Ketua DPP Gerindra Habiburokhman yang mengungkapkan dua aktor penting, dari dua kubu yang berbeda, yang menyiapkan pertemuan yang bersejarah dan menjadi peristiwa penting di kancah perpolitikan terkini negeri ini.

Dan, dua orang itu bukan tokoh-tokoh yang sudah senior dan malang melintang di panggung politik negeri ini, melainkan justru dua orang yang selama ini kurang disorot. Seperti disampaikan Habiburokhman, dua orang itu adalah Budi Gunawan dari kubu petahana dan Sufmi Dasco Ahmad dari kubu Prabowo.

Habiburokhman pun memuji kerja senyap yang dilakukan Sufmi Dasco itu. Dia pun mengakui kinerja kader dan pendiri Gerindra itu. “Kami sering memanggilnya komandan. Memang, orangnya tidak suka publikasi yang berlebihan. Namun, itu justru menjadi faktor penentu keberhasilannya, termasuk dua pertemuan itu,” ujar Habiburokhman.

Yah, itulah cerita dari sohib separtai, yang menceritakan personaliti dari Sufmi Dasco Ahmad. Benar, Sufni merupakan satu dari lima pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang telah ditetapkan sebagai pimpinan lembaga itu di Sidang Paripurna, Selasa (1/10/2019). Lima pimpinan DPR terdiri dari satu ketua dan empat wakil ketua. Puan Maharani pun telah ditetapkan sebagai ketua DPR dalam Sidang Paripurna itu.

Sufmi terpilih mewakili Fraksi Partai Gerindra bersama tiga wakil ketua lainnnya masing-masing Aziz Syamsuddin dari Fraksi Partai Golkar, Rachmat Gobel dari Fraksi Partai Nasdem, dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

Khusus figur Sufmi Dasco Ahmad, tidak ada sama sekali resistensi dari masyarakat atas terpilihnya dirinya sebagai Wakil Ketua DPR. Pasalnya, Sufni juga tercatat sebagai salah satu pendiri Partai Gerindra.

Dan, yang terpenting, Sufmi Dasco ditunjuk juga atas restu Prabowo, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra untuk menggantikan posisi pimpinan DPR periode 2014-2019 dari partai yang sama, Fadli Zon.

Berkaitan dengan terpilihnya Sufmi Dasco Ahmad, Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (30/9/2019), mengatakan, penunjukan Dasco sebagai pimpinan parlemen merupakan rotasi kepemimpinan dari Gerindra untuk parlemen.

Regenerasi Kepemimpinan

Rotasi tersebut merupakan sebuah hal yang wajar dilakukan Gerindra demi menciptakan regenerasi kepemimpinan baik di DPR maupun di MPR RI. Faktor lain terpilihnya Dasco adalah pria ini juga tercatat sebagai salah satu pendiri Partai Gerindra.

"Pergiliran kepemimpinan dalam partai itu juga penting sehingga ada regenerasi dalam kepemimpinan legislatif,” ujar Ahmad Muzani.

Memang jawaban Ahmad Muzani terkesan klasik. Namun, terpilihnya Sufmi Dasco bisa jadi loyalitas dan kesetiaannya di partai, sehingga Probowo pun mempercayakannya ke Dasco untuk mewakili partainya sebagai wakil pimpinan DPR periode 2019-2024.

Bila dilihat dari latar belakang pendidikannya, pria lulusan Teknik Elektro Universitas Pancasila dan lahir di Bandung, 7 Oktober 1967 kini lebih banyak menekuni masalah hukum dibandingkan masalah Teknik Elektro.

Sufmi mengawali pendidikan dasar di SD Negeri 66 Palembang pada 1973 dan SMP Negeri 43 Jakarta pada 1979. Dan, kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Negeri II Manado dan lulus pada 1985.

Selain di Teknik Elektro Universitas Pancasila dan lulus pada 2003, Sufmi juga mengenyam pendidikan sarjana di Fakultas Hukum Universitas Jakarta pada 2009. Bahkan, pendidikan master (2012) dan doktor hukum (2015) pun dilahapnya di Fakultas Hukum, Universitas Islam Jakarta.

Di Partai Gerindra, Sufmi adalah senior dan terlibat langsung dengan pendirian Partai Gerindra. Di parpol ini, dia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Advokasi Gerindra hingga saat ini.

Pada 2019, ia ditunjuk sebagai Direktur Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional Gerindra. Bahkan, Sufmi sempat menjadi penjamin penangguhan penahanan Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Lieus Sungkharisma, terkait kasus dugaan penyebaran hoaks dan makar.

Tak dipungkiri dalam menghadapi pelbagai kasus, partai lebih mempercayakan soal hukum kepada Sufni Dasco. Bisa jadi dengan pertimbangan latar belakang pendidikannya yang berkonsentrasi pada studi hukum sehingga dirinya dipercaya menanganinya.

Menjadi Anggota DPR sejak 2014 Sufmi memulai karir politiknya dengan mengikuti pemilihan umum 2014 sebagai calon legislatif (caleg) DPR dari Partai Gerindra untuk dapil Banten III.

Dia pun terpilih dan dilantik menjadi anggota DPR periode 2014-2019. Di periode itu, Sufmi bertugas di Komisi III DPR dengan ruang lingkup kerja terkait hukum, hak asasi manusia, dan keamanan.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI setelah dilantik menjadi anggota legislatif di periode tersebut. Sufmi pun kembali mencalonkan diri sebagai caleg dalam Pemilu April lalu dan terpilih kembali.

Menurut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tertanggal 24 Mei 2019, Sufni Dasco memiliki total kekayaan sebanyak Rp32,196 miliar. Dalam LHKPN tersebut, tercatat bahwa Sufmi memiliki tanah dan bangunan di Kota Jakarta dan Tangerang.

Luas total tanah yang dimiliki di Kota Jakarta adalah sebesar 1.260 m2. Sementara itu, luas total tanah yang dimiliki di Tangerang adalah sebesar 315 m2. Nilai dari tanah dan bangunan yang dimiliki adalah sebesar Rp19,298 miliar.

Selain itu, Sufmi Dasco juga memiliki sejumlah alat transportasi dan mesin dengan nilai sebesar Rp3,5 miliar yang terdiri dari mobil Toyota Vellfire Minibus keluaran 2015, mobil BMW sedan tahun 2014, dan mobil Mercedez Benz sedan besutan 2014.

Sufmi juga tercatat memiliki harta bergerak lainnya dengan nilai sebesar Rp294,239 juta dan surat berharga senilai Rp600 juta. Ia pun tercatat memiliki kekayaan kas dan setara kas sebesar Rp32,196 miliar. (F-1)

Pimpinan DPR
Narasi Terpopuler
5 Tahun Membangun Tanah Papua
Pemerintahan Joko Widodo periode 2014-2019 sangat menaruh perhatian terhadap pemajuan masyarakat Papua dan Papua Barat. ...
Wajah Ekonomi Kerakyatan Sangat Kental
Kita melihat wajah pemerintahan yang sangat peduli terhadap ekonomi kerakyatan. Wujudnya, adanya aliran dana ke desa, terciptanya desa mandiri dan penggunaan dana desa yang tepat. ...
Lima Tahun untuk Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Pemerintah terus memberdayakan dan meningkatkan peran perempuan dalam berbagai bidang, termasuk memperbaiki kemandirian ekonomi perempuan melalui industri rumahan. ...
Keamanan Membaik, Tapi Politik Masih Berisik
Meski teror meski ada, ancaman terorisme di Indonesia lebih rendah dibanding Jerman, Prancis, dan Inggris. Postur TNI lebih kuat. Tapi, masih ada gangguan hak sipil dan hak politik minoritas. ...
Membangun Keindonesiaan Lewat Jalur PMDK
Rektor IPB Dr Arif Satria lebih melihat Profesor Abdul Basith sebagai ultranasionalis ketimbang penganut Khilafah Islamiyah. Dosen terpapar paham HTI memang ada, hanya 6 orang dari 1.300 Dosen. ...
Andalkan Kekayaan Budaya dan Industri Kreatif
KEK Singhasari di Malang ini didesain dengan pendekatan wisata dan budaya. Salah satunya ikon sejarah kerajaan Singhasari. ...
Berharap Regional Topang Ekonomi Nasional
Hingga kini dari 13 KEK yang sudah resmi beroperasi, komitmen investasi sudah mencapai Rp85,3 triliun. ...
Ada Musik dan Salsa di Kampus Dramaga
Sivitas Akademika IPB meneken Deklarasi Komitmen Kebangsaan. Meski diterpa isu sebagai sarang radikal, IPB bertahan di level papan atas dan menjadi kampus terbaik ke-3 di Indonesia 2019. ...
Ambil Risiko Sesuai Rantai Komando
Berdiri di depan dalam langkah penanggulangan separatisme, HAM, isu khilafah, dan aksi-aksi massa, Jenderal Purnawirawan Wiranto menjadi sasaran ketidakpuasan banyak pihak. Ia memilih ambil risiko itu...
Suara Optimistis pun Datang dari Tanah Papua
Teknologi digital sudah menerobos batasan jarak dan waktu. Bahkan, internet yang cepat adalah keniscayaan yang harus dihadirkan di seluruh wilayah di Indonesia. ...