Bahasa | English


SATELIT KOMUNIKASI

Solusi Mengatasi Ketimpangan Sinyal

14 September 2020, 10:14 WIB

Pencanangan Preparatory Work Agreement (PWA) Proyek Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria) menjadi bukti investasi telekomunikasi di Indonesia masih bergairah.


Solusi Mengatasi Ketimpangan Sinyal Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyampaikan sambutan jelang penandatanganan kerja sama dimulainya konstruksi Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria) antara PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) dengan perusahaan asal Perancis, Thales Alenia Space (TAS) di Jakarta, Kamis (3/9/2020). Antara Foto: Aditya Pradana Putra

Merdeka Sinyal. Itulah ambisi yang ingin diwujudkan pemerintah setidaknya pada 2024, demi menyediakan infrastruktur berbasis internet di seluruh pelosok tanah air.

Alhasil, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebagai pengampu sektor telekomunikasi terus menggenjot penyediaan infrastruktur dan layanan berbasis digital tersebut.

Mengingat pemanfaatan digital semakin meluas di Indonesia, pemerintahan Joko Widodo berharap dalam dua hingga tiga tahun ke depan seluruh wilayah akan terjangkau layanan selular. Daerah yang masuk kategori terdepan, tertinggal, dan terluar atau 3T diharapkan sudah terlayani broadband berbasis 4G.

Pelbagai infrastruktur pun dibangun. Salah satunya adalah Proyek Palapa Ring, jaringan tulang punggung (backbone) untuk menyambungkan jaringan serat optik di sejumlah titik perbatasan dan terluar Indonesia seperti Natuna, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Melalui proyek itu, Kementerian Kominfo juga menjadikan layanan internet gratis di 150.000 titik layanan publik. Di kantor polisi, fasilitas kesehatan, sekolah, dan universitas, layanan itu diberikan hingga 2023 mendatang.

Tak dipungkiri, iklim investasi telekomunikasi saat ini tengah melandai di tengah pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19). Namun, itu tak menyurutkan pemerintah untuk terus mendorong iklim usaha dan layanan telekomunikasi.

Tahun depan, pemerintah telah meningkatkan anggaran infrastruktur di Kementerian Kominfo untuk pembangunan layanan satu data, infrastruktur digital untuk layanan publik, infrastruktur seluler di daerah, hingga pengembangan satelit.

Pencanangan Preparatory Work Agreement (PWA) Proyek Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria) menjadi bukti investasi telekomunikasi di Indonesia masih bergairah.

Menurut Menteri Kominfo Johnny Gerard Plate, pandemi Covid-19 memberi pengaruh sangat signifikan pada industri ruang angkasa (aerospace), termasuk satelit. Mengutip kajian Space Tech Expo pada Juli 2020, pandemi ini memberi efek negatif pada penundaan penyelesaian proyek, terganggunya mata rantai pasok industri, pelambatan pengoperasian fasilitas untuk pabrikasi, serta terbatasnya ketersediaan tenaga kerja satelit sejak Maret 2020.

Hal tersebut diutarakan Menteri Kominfo saat menghadiri Penandatanganan Kerja Sama Dimulainya Konstruksi Satelit Multifungsi Satelit Indonesia Raya (Satria) di Jakarta, Kamis (3/9/2020).

Penandatanganan PWA proyek Satria itu dilakukan Direktur Utama PSN dan Direktur Utama Satelit Nusantara Tiga (SNT) Adi Rahman Adiwoso, di Jakarta, bersama dengan VP Telecom Business Unit TAS, Pascal Homsy, di Prancis, secara virtual.

Tahapan PWA menandai kesepakatan antara konsorsium perusahaan telekomunikasi nasional, PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) lewat anak usahanya SNT dan pabrikan piranti ruang angkasa Prancis, Thales Alenia Space (TAS), untuk memulai pekerjaan konstruksi satelit mulai bulan ini.

"Preparatory Work Agreement ini sekaligus memastikan bahwa pembuatan satelit dapat dilaksanakan tepat waktu pada saat kontrak, sekaligus menandai bahwa perjanjian pembiayaan akan mulai efektif berjalan. Diharapkan 2023 sudah dapat mengorbit," jelas Menteri Kominfo.

Kominfo melakukan akselerasi proyek ini selama masa pandemi. Pasalnya, meski terjadi pagebluk, sektor telekomunikasi, informasi, dan  komunikasi masih tumbuh positif hingga 10,88 persen.

Proyek Satria yang berteknologi very high troughput satellite (VHTS) menandai peluang investasi di masa datang bakal lebih besar. Setidaknya sampai dengan 2030, kebutuhan kapasitas satelit Indonesia diproyeksikan mencapai 900 Gigabytes (Gbps) atau 0,9 (Terabytes) Tbps.

Pembangunan segmen ruang angkasa ini tentu membutuhkan dukungan segmen di daratan. Operasional Satria pada 2023 akan mewujudkan layanan internet gratis di 150.000 titik tersebut.

Pengembangan Satria merupakan suatu keputusan strategis pemerintah yang sangat penting, tidak kalah saat pemerintah memutuskan untuk menggunakan Satelit Palapa A pada 1970 bagi sistem komunikasi satelit domestik yang membuat seluruh masyarakat Indonesia akhirnya dapat berkomunikasi dan menikmati saluran televisi nasional, TVRI.

Sejak 1976, Indonesia sudah memiliki sembilan generasi satelit komersial. Dimulai dari Palapa Seri A, B, C, dan terakhir seri D. Kemudian ada satelit Cakrawarta, M2A, Telkom, Garuda, Brisat, dan Nusantara I. Setidaknya ada 24 peluncuran satelit komersial yang merupakan konsorsium BUMN, swasta dengan pabrikan satelit dunia dari Amerika Serikat, Prancis, Rusia, dan Tiongkok.

Tidak semuanya berhasil mengorbit. Seperti nasib Satelit Telkom 3 yang sempat menghilang dari titik orbit pada Agustus 2012. Paling nahas yang menimpa Satelit Nusantara II pada 9 April 2020, saat peluncuran langsung gagal mengorbit dan jatuh di Perairan Guam, Samudera Pasifik.

Menurut Adi Rahman Adiwoso, proyek Satria bagi kelompok usaha PSN merupakan bagian dari rangkaian seri Satelit Nusantara yang dimulai sejak 2019. Satelit multifungsi ini memiliki kapasitas 150 Gbps dan memakai frekuensi Ka-Band.

Sebagai pembanding, saat ini Indonesia memanfaatkan lima satelit nasional dengan kapasitas sekitar 30 Gbps, dan empat satelit asing yang memiliki kapasitas 20 Gbps.

Proyek satelit Satria dikerjakan dalam skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo bertindak selaku Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK). Total investasi Satria mencapai USD550 juta atau sekira Rp8 triliun yang dibiayai oleh sindikasi perbankan internasional.

Thales Alenia Space pernah menggarap satelit milik PSN sebelumnya, Nusantara II, dan satelit yang dioperasikan Indosat, yakni Palapa D. Sedangkan peluncuran akan dilakukan dengan menggunakan roket Falcon 9-5500 yang diproduksi oleh Space-X, perusahaan asal Amerika Serikat.

Adanya proyek SATRIA mendorong bangsa Indonesia bisa secepatnya menjadi digital society dengan mempermudah layanan pendidikan, pemerintahan, kesehatan, perekonomian, dan sebagainya dengan akses internet.  Kesetaraan digital ini menyiapkan seluruh bangsa menghadapi masa depan yang sebagian besar tergantung pada algoritma digital.

 

 

 

Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur: Firman Hidranto/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

BAKTI Kominfo
Kementerian Kominfo
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia
Ruang Angkasa
Satelit
Satelit Multifungsi SATRIA
Satelit SATRIA
Telekomunikasi
Thales Alenia Space
Narasi Terpopuler
Kamar Hotel untuk Pasien Isolasi
Pemerintah menganggarkan Rp3,5 trilyun untuk penyewaan hotel sebagai tempat isolasi gratis bagi orang tanpa gejala (OTG) atau mereka dengan keluhan ringan. ...
Pandemi tak Menunda Agenda Relokasi
Kawasan industri Batang dikebut pembangunannya. Targetnya, Januari 2021 bisa menerima relokasi manufaktur. Sebanyak b17 perusahaan multinasional siap menjadi penghuninya. ...
Relaksasi Iuran Jaminan Sosial bagi Pekerja
Perusahaan dan pekerja mendapat relaksasi iuran jaminan sosial. Pemerintah membantu mereka agar bisa terus bertahan hingga ekonomi nasional pulih. ...
Menjaga Asa Simpul Konektivitas
Di tengah wabah pandemi Covid-19, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tetap melakukan penguatan simpul konektivitas. ...
Tertahan di Hulu, Hilir Jadi Pilihan
Menteri ESDM mengatakan target serapan pasar domestik untuk batu bara bisa tercapai. Menteri Luhut Binsar Panjaitan menawarkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah. ...
Potret Rinci Dampak Pandemi
Sekitar 82% dari semua unit usaha di Indonesia mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi. Sedangkan 35% harus mengurangi pegawai. Yang tumbuh di tengah pandemi hanya 2%. ...
Panas Bumi Tumpuan Energi Masa Depan
Panas bumi diyakini bakal menjadi salah satu sumber penting penyediaan energi listrik ke depan. Baru 8,9 persen potensi alam yang termanfaatkan. ...
Bangkit Setelah Diterjang Dua Badai
Setelah dihantam badai ganda, perang dagang Amerika vs Tiongkok dan pandemi, permintaan timah di pasar dunia merambat naik. Harga timah bangka bergerak menuju normal. ...
Pemulihan Ekonomi Tetap jadi Prioritas
Pagu anggaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub) naik tipis di 2021. Tapi masih jauh dari perencanaan sebelumnya. Sehingga perlu penajaman program prioritas. ...
Mengejar Penyerapan, Meluaskan Sasaran
Bank Dunia menilai komitmen Indonesia cukup baik dalam penanganan Covid-19 dengan meningkatkan program perlindungan sosial reguler sebesar 28,01% menjadi 59,19%. ...