Bahasa | English


PANDEMI COVID-19

Pesan Terbuka di Balik Angka-Angka

18 May 2020, 08:41 WIB

Kapasitas diagnosis molekuler meningkat empat kali lipat. Pasien yang positif Covid-19 cenderung susut, dari 10,7% ke 8,86%. Namun, antrean pasien yang harus menjalani diagnosis tambah panjang.


Pesan Terbuka di Balik Angka-Angka Petugas melakukan pemeriksaan cepat COVID-19 (Rapid Test) kepada karyawan di salah satu mal di Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (13/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

Masih terjadi penularan di tengah masyarakat. Tidak terhitung lagi, berapa kali Kolonel dokter Achmad Yurianto, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19, mewanti-wanti atas bahaya pandemi virus ini. Gerak penularan itu harus diputus. Karenanya, dokter lulusan Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, 1986, itu meminta supaya  masyarakat  ikut  aktif melakukan pencegahan, dengan cara tetap tinggal di rumah, rajin cuci tangan dengan sabun, melakukan physical distancing, bekerja di rumah, beribadah di rumah, dan tidak mudik.

Sebagai dokter dan perwira TNI, pembawaannya tenang, lurus, tegas, dan serius, saat menyampaikan perkembangan pandemi itu, atau kebijakan terbaru terkait dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dalam hal data harian, Yuri, begitu ia biasa disapa, membiarkannya mengalir tanpa  tafsir-tafsir. Sosok  yang sejak Maret silam, menjabat  Direktur  Jenderal Pencegahan dan  Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), itu seperti tak ingin memantik kontroversi yang tak perlu. Ia hanya menyodorkan data faktual yang terbaru.

Dalam media biefing di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Jumat (15/5/2020), Yuri menyebutkan, ada  penambahan 495 kasus Covid-19 baru. Pada sejumlah daerah, menurutnya, ada perkembangan bahwa penambahan kasus baru sudah cenderung mendatar, tidak eksponensial. Yuri tak memberi  ulasan panjang di luar data standar. Lurus saja: kasus baru, pasien sembuh, meninggal, pasien dalam pengawasan (PDP), atau orang dalam pemantauan (ODP).

Belakangan, angka temuan pasien positif Covid-19 itu per harinya bertambah lebih besar. Sejak akhir April, misalnya, penambahan harian sering melejit di atas 400 orang. Seperti pada 1 Mei 2020 ada pertambahan 433 orang, lalu 484 orang di 5 Mei, 533  orang di 9 Mei, melonjak ke 689 dan 568 orang pada 13 dan 14 Mei, dan 490 orang di 15 Mei. Cukup menyentak.

Tak urung, muncul  kegusaran di banyak kalangan. Yuri menjawab kalem  dan hati-hati. Ia mengatakan, kini pemeriksaan atas PDP dilakukan oleh lebih banyak laboratorium. Ada 59 jaringan laboratorium yang terlibat dalam diagnosis molekuler PCR di berbagai kota. Ada pula 15 rumah sakit (RS) yang menjalankan pemeriksaan dengan tes molekuler, antara lain, di RS Darurat di Wisma Atlet Kemayoran dan RS Pertamina Jaya di Jakarta, bahkan di RSUD Serui di Kepulauan Yapen, Papua.

Dengan semakin banyaknya fasilitas tersebut, berarti kian banyak spesimen swab yang dapat diperiksa setiap harinya. Antrean spesimen PDP dipangkas. Karena populasi spesimen yang dicek lebih besar, tak heran bila ditemukan hasil positif Covid-19 lebih besar. Untuk menghindari kerumitan statistiknya,  Yuri memilih penjelasan yang lebih sederhana. Bahwa, diagnosis Covid-19 sejak bulan Mei ini bisa dilakukan dengan piranti tes molekuler di kota-kota yang jauh dari pusat, seperti di Tarakan, Kupang, dan Serui.

Semula, pada, awal Maret lalu, saat Covid-19 mulai merebak, pemeriksaan  diagnostik dipusatkan di Laboratorium Biomedik Kemenkes di Jakarta. Dengan cepat spesimen yang harus  dites meningkat. Gugus Tugas Covid-19 mulai melibatkan laboratorium- laboratorium Kemenkes di daerah, laboratorium RS daerah, juga laboratorium kampus-kampus dan lembaga penelitian. Maka, kini 59 laboratorium telah beroperasional dan masih mungkin ditingkatkan menjadi 78 laboratorium.

Berikutnya, ada tambahan sarana diagnostik lagi. Piranti tes cepat molekuler (rapid test molecular) yang dioperasikan sejak 2015 pada sejumlah RS, termasuk di daerah, ternyata bisa digunakan untuk diagnosis Covid-19. Perkakas ini biasanya dipakai memeriksa kuman TBC atau Pneumonia, tapi  oleh prinsipalnya, Cepheid dari Amerika Serikat, ternyata bisa di-upgrade untuk mendeteksi  virus SARS COV-2. Cepheid hanya meng-install program baru dan memberikan catridge dengan reagen yang sesuai.

Kapasitas diagnosis  Covid-19 pun terus meningkat. Jika pada  awal Maret baru sekitar 1.000 spesimen per hari, di pertengahan Mei telah mendekati  6.500 spesimen per hari. Kesempatan untuk mencapai 10.000 spesimen per hari masih terbuka mengingat masih ada potensi mesin PCR dan piranti tes cepat molekuler yang sedang dipersiapkan.

 

Penularan Menyusut

Ada dinamika yang  menarik di balik angka-angka pandemi  itu. Bila ditarik garis batas per 1 Mei, maka pada periode 1 Maret - 30 April tercatat rata-rata dilakukan 1.576 tes molekuler per hari. Ada pun per  1 hingga 10 Mei rata-rata dijalankan 6.367 tes per hari. Ada peningkatan empat kali lipat.

Pada periode 1 Maret - 30 April, tes molekuler menemukan adanya hasil positif Covid-19 sebanyak 10,70% dari seluruh spesimen. Sedangkan pada kurun 1 - 10 Mei 2010 itu, spesimen swab yang positif ada di level 8,86%. Susut 1,84%. Penularan melemah? Masih terlalu pagi disimpulkan.

Yang perlu dicermati ialah angka kematian. Meski jumlah kematian terus bertambah dari hari ke hari dan mencapai 1.076 per 15 Mei, selama sebulan terakhir tak menunjukkan lonjakan yang luar biasa. Angka kematian terbesar terjadi pada 14 April dengan 60 kasus dan 19 April dengan 47 kasus. Setelah itu tingkat kematian cenderung menyusut rata-rata di bawah 20 orang per hari.

Yang belum menggembirakan justru angka kesembuhan. Bila diasumsikan bahwa angka kematian 6,5 persen, dengan masa perawatan satu bulan bagi pasien positif Covid-19, mestinya angka kesembuhan ada di atas 300 orang  per hari. Secara faktual angka kesembuhan itu, yang dikonfirmasi dengan  hasil negatif dua kali tes molekuler, masih jauh dari harapan. Secara rata-rata antara 1-15 Mei hanya ada 152 kasus sembuh per hari.

Boleh jadi, hasil negatif  tak serta muncul  ketika pasien secara simtomatik telah bebas dari penyakit Covid-19. Perlu waktu lebih panjang untuk memastikan koloni virus itu bersih dari tubuh pasien.

Data kumulatif ODP dalam paparan Gugus Tugas Covid-19, memang terus meningkat. Pada posisi 15 Mei mencapai hampir 263 ribu. Namun, seperti sering kali disampaikan Achmad Yurianto, data ODP adalah catatan akumulatif  bagi  orang-orang,  yang menurut hasil tracing berpotensi terpapar Covid-19.

Secara faktual ODP sudah jauh berkurang, tinggal tersisa sekitar 30 ribu saja. Ada dari mereka yang jadi PDP, terkonfirmasi positif, bahkan meninggal dunia. ‘’Namun, sebagian besar mereka menjalani isolasi mandiri dan tidak terjadi apa-apa atas mereka,’’ kata Achmad Yurianto dalam beberapa kesempatan.

Yang perlu terus dicermati adalah angka PDP. Mereka adalah pasien yang secara faktual menunggu dan mengantre guna mendapatkan kesempatan menjalani pemeriksaan PCR atau tes cepat molekuler. Pada posisi 15 Mei, angka PDP masih meningkat, yang berarti ada antrean yang lebih panjang. Kapasitas tes molekuler yang kini mencapai 6.500 per hari belum cukup untuk menekan angka PDP.

Ada kesempatan untuk mengaktifkan laboratorium- laboratorium kampus lainnya di daerah dan mesin tes cepat molekuler di sejumlah rumah sakit di daerah. Namun, masih  ada keterbatasan kiriman reagen dan cartridge dari luar negeri. Perlu waktu dan kesabaran.

Secara  statistik, ada pesan terbuka bahwa sekitar 9% dari populasi PDP itu akan jadi positif Covid-19. Mengacu kepada catatan selama hampir 11 pekan ini, ada kematian sebesar 6,5% dari pasien Covid-19. Cerita-cerita sedih itu masih akan terus berulang, di tengah kisah pilu lainnya sebagai dampak pandemi global yang menikam warga dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun spiritualnya.

Tidak heran bila hari-hari ini, di atas mimbar aula Graha BNPB, Kolonel dokter Achmad Yurianto nyaris tak bisa tersenyum.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Editor: Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

RS Darurat Covid-19
Corona
Covid-19
Dampak Covid-19
Diagnosis Covid-19
Jenazah Covid-19
LawanCovid19
Obat Covid-19
Penanganan Covid-19
Positif Covid-19
protokol utama untuk penanganan kasus penyebaran virus corona
Narasi Terpopuler
Optimistis Ekonomi Pulih di Kuartal III
Purchasing manager’s index (PMI) Indonesia itu sudah sama dengan PMI global, artinya geliat industri sudah mengalami ekspansi lagi. Industri makanan, minuman, farmasi, dan otomotif terus menguat...
Kurikulum Darurat, Fokus pada Kompetensi Dasar yang Esensial
Keterbatasan dalam proses belajar-mengajar di tengah pandemi Covid-19 menjadi perhatian serius insan pendidikan. Kurikulum darurat pun diluncurkan. ...
Izin Bersekolah di Zona Kuning
Relaksasi kebijakan belajar-mengajar segera digelar di zona kuning Covid-19. Pembelajaran jarak jauh berpotensi menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan. ...
Vitamin Pendongkrak Investasi
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru dirilis untuk memberikan kepastian hukum skema bagi hasil, sekaligus  menstimulasi investasi minyak dan gas (migas) di tengah rendahny...
Sinyal Positif di Tengah Pandemi
Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal 2 mengalami kontraksi 5,32 persen year on year (oy). Angka ini lebih dalam dari ekspektasi sebelumnya. Meski begitu, pada kond...
Protokol Kesehatan jadi Pilihan Tunggal
Kasus baru Covid-19 masih menanjak secara global. Skema karantina wilayah sudah tidak jadi pilihan karena situasi ekonomi. Pelaksanaan protokol kesehatan menjadi pilihan tunggal. ...
Minat Investasi Lokal Tetap Menyala
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pun terus memompa optimistisnya. Bahwa, realisasi investasi tahun ini akan mencapai setidaknya Rp817,2 triliun atau sekitar 92,2 persen dari target awal Rp886 t...
Merdeka Sinyal hingga Pelosok Negeri
Tahun 2020 pemerintah menargetkan seluruh desa dan kelurahan akan terjangkau sinyal 4G. Tersisa 12.548  yang akan dirampungkan saat ini. ...
Harta Tersembunyi di Bumi Cenderawasih
Kunci keberhasilan menekan kebakaran lahan gambut di Papua adalah pelibatan tokoh setempat. Melalui mereka, warga diingatkan tentang bahaya membakar lahan. ...
Menata Riset agar Berdaya Saing
Prioritas Riset Nasional merupakan instrumen kebijakan untuk mensinergikan kegiatan riset dan pengembangan kementerian/lembaga. ...