Bahasa | English


NERACA PERDAGANGAN

Pertanian Tumbuh Subur, Ekspor Moncer

20 November 2020, 07:39 WIB

Kinerja ekspor membuat neraca perdagangan kembali mencetak surplus besar pada Oktober 2020 mencapai USD3,61 miliar


Pertanian Tumbuh Subur, Ekspor Moncer Kapal kargo bersandar di PT Terminal Petikemas Surabaya, Jawa Timur, Selasa (17/11/2020). Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang sering disebut juga sebagai Mega-Free Trade Agreement (Mega FTA) akhirnya ditandatangani setelah dirundingkan lebih dari delapan tahun.

Indonesia tercatat ikut memprakarsai dan mengawal lahirnya perjanjian perdagangan tersebut. RCEP diselesaikan dan ditandatangani di era Presiden Joko Widodo. Indonesia patut berbangga dengan lahirnya kesepakatan itu, karena negara ini berpeluang memanfaatkannya untuk mendongkrak kinerja perdagangannya.

RCEP adalah sebuah perjanjian perdagangan (FTA) yang melibatkan 15 negara yang mempunyai 29 persen penduduk, 29 persen PDB dunia, dan 27 persen perdagangan dunia. Artinya, RCEP merupakan jawaban atas berbagai tantangan global dan regional baik berupa kemajuan teknologi, tren perdagangan antarnegara maupun konteks khusus seperti pandemi.

Di tengah keberhasilan Indonesia menelurkan kesepakatan RCEP, kinerja ekspor Indonesia juga mencetak rekor tertinggi sepanjang tahun pada Oktober 2020 dengan capaian USD14,39 miliar. Nilai ekspor ini lebih besar dibandingkan dengan capaian pada Maret yang sebelumnya memegang rekor dengan nilai USD14,07 miliar.

Seperti diungkap oleh Badan Pusat Statistik dalam satu konferensi pers Perkembangan Ekspor Impor, Senin (16/11/2020), kinerja ekspor yang moncer itu membuat neraca perdagangan kembali mencetak surplus besar yang pada Oktober 2020 mencapai USD3,61 miliar.

BPS juga mencatat realisasi tersebut lebih tinggi dari surplus USD2,44 miliar pada September 2020 dan surplus USD161 juta pada Oktober 2019. Secara total, neraca perdagangan Indonesia surplus USD17,07 miliar pada Januari-Oktober 2020. Realisasi ini lebih baik dari defisit USD2,12 miliar pada Januari-Oktober 2019.

“Surplus ini meningkat cukup besar karena ada penurunan impor. Sedangkan penyumbang peningkatan ekspor terdapat pada lemak dan minyak hewan/nabati,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa pada Badan Pusat Statistik (BPS), Setianto di konferensi tersebut.

Dari data BPS yang tersaji, nilai ekspor pertanian pada Oktober 2020 mengalami pertumbuhan positif, yakni sebesar USD0,42 miliar atau tumbuh 1,26 persen (m to m) jika dibandingkan pada bulan sebelumnya.  Kenaikan terjadi karena adanya dukungan mobilitas ekonomi di sejumlah negara yang juga terus membaik. Secara YoY pun, ekspor sektor pertanian tumbuh 23,80 persen.

Menurut Setianto, sejauh ini pangsa ekspor nonmigas terbesar Indonesia masih diduduki oleh 3 negara besar baik di Asia maupun di Amerika. Ketiganya adalah Tiongkok, Amereka Serikat dan Jepang. “Yang jelas, ekspor nonmigas kita menyumbang 95,03 persen dari total ekspor Januari-Oktober 2020, di mana 11,38 persen di antaranya berasal dari sektor pertanian,” ujarnya. Sementara itu, sektor pertanian tumbuh sebesar 2,15 persen (y on y).

Lembaga itu menjabarkan lebih jauh pertumbuhan dari sektor pertanian. Menurut BPS, pertumbuhan ini tak lepas dari kondisi harga komoditas kelapa sawit dan kedelai di pasar internasional pada triwulan ke III yang naik secara (q to q) maupun (y on y). Minyak sawit dan produk turunannya menjadi salah satu motor penggerak ekspor. Meski kenaikan harga komoditas memberi kontribusi kenaikan ekspor, pemerintah harus mewaspadai bahwa kinerja dagang akan terus diselimuti ketidakpastian jika mengandalkan produk-produk tersebut.

 

Tumbuh Lebih Positif

Namun, yang jelas Indonesia memang patut bersyukur, tren kenaikan ekspor juga seiring dengan kondisi ekonomi global yang tumbuh lebih positif, terutama untuk kawasan Asia Pasifik yang pengendalian pandeminya lebih baik. Rampungnya pemilihan Presiden Amerika Serikat disebutnya juga mendorong kenaikan permintaan dan fluktuasi harga komoditas bahan baku atau penolong industri manufaktur.

Meskipun neraca perdagangan kembali mencetak surplus pada periode Oktober 2020 sebesar USD3,61 miliar. Di sisi lain, nilai impor yang tercatat hanya mencapai USD10,78 miliar. Impor itu secara bulanan menurun 6,79 persen month-to-month. Secara tahunan, impor terkontraksi sangat dalam, sebesar -26,93 persen year-on-year. Namun, pemerintah patut mewaspadai penurunan impor itu, terutama bahan baku industri, yang menyebabkan melemahnya impor itu.

Sejalan dengan data Purchasing Managers’ Index pada Oktober yang tercatat di bawah 50, yaitu sebesar 47,8. Impor yang turun jauh lebih dalam dibandingkan dengan posisi September 2020 ini.

Berkaitan dengan itu, juru bicara Kementerian Perdagangan Fithra Faisal Hastiadi mengatakan terdapat sejumlah alasan pemicu penurunan impor pada Oktober. Misalnya, inventori industri diperkirakan masih tersedia untuk aktivitas produksi, sehingga pelaku usaha menahan pemasukan.

“Saya memperkirakan impor bahan baku atau penolong atau modal bisa kembali naik pada November atau Desember.”

Adalah Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir yang melihat bahwa permintaan global sudah mulai meningkat. “Sehingga pemerintah akan melakukan yang pertama mendorong ekspor yang Indonesia punya keunggulan komparatif, seperti SDA [sumber daya alam], TPT [industri tekstil dan produk tekstil], emas perhiasan, besi, dan baja,” katanya.

Indikasi mulai rebound-nya sektor perdagangan Indonesia tentu patut disyukuri. Namun, negara ini harus segera melakukan diversifikasi komoditas ekspornya sehingga memiliki fundamental yang kuat dan kompetitif di pasar global, termasuk pasar dari kesepakatan RCEP yang diteken baru-baru ini.

 

 

Penulis: Firman Hidranto
Editor: Putut Tri husodo/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Badan Pusat Statistik (BPS)
BPS
Ekspor
ekspor-impor
Impor
Neraca dagang
RCEP
Narasi Terpopuler
Alokasi APBN untuk Koperasi dan UMKM
Rancangan peraturan pemerintah (RPP) Cipta Kerja akan mewajibkan kementerian, lembaga, dan daerah mengalokasikan 40% belanja barang dan jasanya ke UMKM dan koperasi. Sembilan BUMN menyiapkan Rp35 tril...
Kuota Gratis Mengundang Senyum Manis
Hasil survei Arus Survei Indonesia (ASI) mengungkapkan sebanyak 85,6 persen masyarakat menilai program bantuan internet gratis meringankan beban ekonomi orangtua siswa/mahasiswa. ...
Agar Terang hingga Timur
Perluasan elektrifikasi di Indonesia Timur merupakan bagian penting dari upaya menyediakan listrik di seluruh Indonesia pada 2024. ...
Geliat Awal Pelabuhan Patimban
Pelabuhan Patimban segera diresmikan. Pengiriman perdana produk otomotif dari kawasan industri Jawa Barat sudah bisa dilakukan dari pelabuhan ini. ...
Saatnya Guru Honorer Naik Kelas
Pemerintah membuka kesempatan bagi guru honorer untuk menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Ini adalah wujud negara hadir menyediakan kesempatan yang adil untuk para guru honorer ...
Energi Surya Berakselerasi di Tengah Pandemi
Indonesia berkomitmen porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen pada 2025. ...
Semuanya Harus Extraordinary
Pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) kementerian/lembaga dan Daftar Alokasi TKDD (Transfer Daerah dan Dana Desa) tahun 2021, ada prioritas belanja pada delapan sektor dan fokus pada empat isu...
Nota Sri Mulyani untuk Lembaga Keuangan Dunia
Di sejumlah event dunia, Menkeu Sri Mulyani menekankan pentingnya kesetaraan akses vaksin, bauran kebijakan fiskal, makroprudensial, dan moneter. Pada skenario optimistis, di 2020 India tumbuh 8,8 per...
Satria Menghubungkan Nusantara
Satelit Satria akan berkapasitas 150 Gbps dan menjadi satelit mulitfungsi terbesar di Asia untuk keperluan layanan internet. Kapasitas itu mampu melayani 150.000 titik di seluruh tanah air yang sulit ...
Mengalirkan Dana Pembiayaan Swasta
Indonesia membentuk sovereign wealth fund (SWF) atau lembaga pengelola investasi yang akan beroperasi awal 2021. Sejumlah investor asing sudah berkomitmen berpartisipasi. ...