Bahasa | English


PENGEMBANGAN INDUSTRI

Minyak Atsiri Menanti Sentuhan

28 September 2018, 12:45 WIB

Jika kita singgah di Pulau Buru, Maluku, lantas berjalan melintas menuju Kabupaten Buru Selatan, di sepanjang jalan cukup mudah menjumpai hamparan pohon minyak kayu putih. Daunnya kecil dan ramping, tumbuh liar dan berserakan begitu saja.


Minyak Atsiri Menanti Sentuhan

Oleh masyarakat, pohon minyak kayu putih dimanfaatkan dengan membuat penyulingan tradisional. Mereka mengambil bahan baku dari hutan. Biasanya, para penyuling terdiri dari beberapa keluarga. Dalam sehari, bisa didapat dua atau tiga jeriken ukuran lima liter minyak kayu putih.

Sebelum menghasilkan, para pengepul sudah membayar produk mereka. Harganya sekitar Rp1,2 juta per lima liter. Wajar saja para pengepul langsung membayar, sebab meskipun bahan bakunya tumbuh bebas dan subur, kebutuhan minyak kayu putih terus memingkat sementara pasokannya minim.

Menurut sebuah hitungan, industri farmasi nasional membutuhkan 3500 ton per tahun. Sementara itu, produksi nasional hanya mampu memenuhi 400 ton saja. Artinya, di dalam negeri kebutuhan minyak kayu putih masih sangat besar.

Untuk menutupi kekurangan, industri farmasi akhirnya mengimpor bahan substitusi dari Cina berupa minyak ekaliptus. Minyak yang diproduksi Cina memang mengandung zat yang mirip dengan minyak kayu putih. Tetapi aromanya jauh berbeda. Aroma minyak kayu putih khas Indonesia jauh lebih akrab dan menyegarkan.

Persoalannya harga minyak akaliptus dari Cina jauh lebih murah dari minyak kayu putih Indonesia. Ini menyangkut dengan kemampuan produksi. Indonesia hanya memproduksi minyak kayu putih 400 ton setahun. Sedangkan Cina memproduksi 4.000 ton per tahun. Apalagi 90% produk minyak astiri Indonesia ditujukan untuk ekspor.

Artinya, secara umum permintaan minyak kayu putih di dalam negeri masih sangat besar. Diperlukan sebuah upaya untuk mengembangkan industri ini di tanah air.

Tumbuhan yang menghasilkan minyak kayu putih adalah Melaleuca Cajuputi subsp. Cajuputi. Tumbuhan itu secara alami subur di Maluku. Perum Perhutani telah mengembangkan tanaman ini di Pulau Jawa, pada 1926.

Secara keseluruhan Indonesia termasuk negara penghasil minyak atsiri di dunia. Ini adalah jenis minyak esensial yang diolah dari bahan tanaman seperti minyak nilam, kayumanis, cengkih, atau minyak sereh.

Kini Indonesia menempati peringkat ke enam dan tujuh produsen atsiri di dunia. Data menjelaskan, 40 persen jenis atsiri diproduksi di Indonesia. Lebih dari 150 jenis minyak atsiri yang ada di dunia, setidaknya terdapat 50 jenis yang bisa diproduksi di Indonesia. 

Hingga kini, minyak atsiri dari alam masih sangat dibutuhkan, meskipun beberapa senyawanya mulai dibuat secara sintetis. Eksportir memperkirakan, nilai ekspor atsiri Indonesia 2011 adalah 230-250 juga dolar AS dengan tujuan utama yakni AS, Uni Eropa, India, Cina, dan negara di Asia Pasifik lainnya. 

Tiga produk utama yakni nilam, cengkih, dan pala mengambil bagian 75 persen dari nilai total ekspor. Sementara itu, produk lainnya banyak digunakan untuk keperluan domestik.

Sebagai peringkat keenam dan ketujuh produsen minyak atsiri dunia, Indonesia memproduksi 6.500 ton per tahun dari berbagai jenis atsiri. Itu baru mencapai 5% dari total perdagangan dunia. Nilainya hanya Rp2 triliun per tahun. Sedangkan, potensinya masih terbuka sangat lebar. 

Narasi Terpopuler
Minat Investasi Lokal Tetap Menyala
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pun terus memompa optimistisnya. Bahwa, realisasi investasi tahun ini akan mencapai setidaknya Rp817,2 triliun atau sekitar 92,2 persen dari target awal Rp886 t...
Merdeka Sinyal hingga Pelosok Negeri
Tahun 2020 pemerintah menargetkan seluruh desa dan kelurahan akan terjangkau sinyal 4G. Tersisa 12.548  yang akan dirampungkan saat ini. ...
Harta Tersembunyi di Bumi Cenderawasih
Kunci keberhasilan menekan kebakaran lahan gambut di Papua adalah pelibatan tokoh setempat. Melalui mereka, warga diingatkan tentang bahaya membakar lahan. ...
Menata Riset agar Berdaya Saing
Prioritas Riset Nasional merupakan instrumen kebijakan untuk mensinergikan kegiatan riset dan pengembangan kementerian/lembaga. ...
Meruncingkan Ujung Tombak Transformasi Ekonomi Nasional
Lima tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi kita tidak lagi berbasis pada bahan mentah, tetapi bertransformasi menjadi nilai tambah. ...
Momentum Perbaiki Layanan Kesehatan Nasional
Pemerintah menyebut pandemi Covid-19 menjadi momentum bagi perbaikan sistem kesehatan nasional. ...
Tetap Wujudkan Kegembiraan Anak di Masa Pandemi
Kesehatan fisik anak, baik melalui pemenuhan gizi anak dan imunisasi dasar, serta kesehatan mental anak merupakan hal yang perlu diperhatikan menghadapi adaptasi kebiasaan baru masa pandemi. ...
Korporasi Padat Karya pun Bernapas lagi
Fasilitas penjaminan kredit ini mampu mendorong sektor swasta menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional, melengkapi dorongan dari belanja pemerintah. ...
Memompa Solidaritas Sosial di Tengah Pandemi
Momentum ibadah kurban tahun ini diharapkan dapat membawa maslahat secara luas dari sisi sosial bagi masyarakat yang terhimpit ekonomi karena pandemi. ...
Memotong Antrean Beli Tiket Feri
Aplikasi Ferizy memudahkan para pelancong yang ingin bepergian ke kawasan wisata di Banyuwangi, Gunung Bromo, Bali, Banten, maupun pesisir Pantai Lampung. ...