Indonesia.go.id - Menanti Lahirnya Bandara Antariksa di Biak Numfor

Menanti Lahirnya Bandara Antariksa di Biak Numfor

  • Administrator
  • Selasa, 19 November 2019 | 04:58 WIB
  • 0
BISNIS SATELIT
  Ilustrasi peluncuran satelit. Foto: Dok. Satelit ASEAN

Meski Indonesia sudah memiliki 25 satelit, negara ini tidak punya tempat untuk meluncurkan satelit skala besar.

Tidak lama lagi Indonesia memiliki tempat peluncuran satelit, tepatnya empat tahun dari sekarang, Benar, 2024 negara ini akan memiliki bandara antariksa sendiri, yang berlokasi di Biak, Papua.

Bagi pembaca, tentu paling tidak pernah mendengar beberapa tempat peluncuran satelit dunia, seperti Cape Canaveral Florida atau Pusat Luar Angkasa Kennedy. Keduanya berada di Florida, Pulau Merrit, Amerika Serikat.

Di antara negara-negara dunia, AS bisa disebut negara pelopor satelit bersama USSR (kini Rusia) di dunia. Di AS, mereka tidak hanya memiliki dua tempat untuk peluncuran satelit.

Di Negeri Paman Sam tercatat ada delapan lokasi peluncuran satelit, antara lain, Pangkalan Udara Vandenberg, Kalifornia, Kodiak, Pulau Borough, Alaska, Meadows Field, Bakersfield, California.

Di luar AS, Rusia memiliki Kosmodrom Boukonur, Kazastan, Kosmodron Plesetsk, Rusia. Centre Spatial Guyanais, Kourou, Guyana Prancis, Amerika Latin milik Prancis. Alcantara, Maranhao, Brazil.

Di Tiongkok ada Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan, Jiuquan, dan Xichang, di Jepang ada Pusat Peluncuran Tanegashima, Pulau Tanegashima, dan Uchinouru, lalu di India dengan The Satish Dhawan Space Center, Sriharikota, Andhra Pradesh, dan di Pulau Cristmas (Autralia),

Bagaimana dengan Indonesia? Negara ini memiliki sejarah panjang soal kepemilikan satelit sejak peluncuran satelit pertama, Palapa-A1, yang diluncurkan pada 8 Juni 1976. Hingga saat ini sudah sebanyak 25 satelit yang terdaftar sebagai milik Indonesia yang ada di langit, baik milik swasta, BUMN, maupun milik pemerintah.

Terakhir, dua satelit milik Indonesia yang mengorbit, Satelit Telkom-4 Merah Putih milik PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) dan satelit Nusantara-1 milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), kedua satelit tersebut diluncurkan pada Agustus 2018.

Sejak peluncuran pertama satelit milik USSR pada 4 Oktober 1957, sedikitnya ada 1.300 satelit yang berada di orbit. Mengacu laporan “2017 State of The Satellite Industry Association”, ada empat kepentingan dari satelit itu, yakni telekomunikasi, observasi bumi, ilmu pengetahuan, dan keamanan nasional.

Sayangnya meskipun Indonesia memiliki sejarah yang panjang sebagai konsumen satelit, negara ini tidak punya tempat untuk meluncurkan satelit skala besar. Memang ada tempat peluncuran satelit mlik Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) di wilayah Garut. Pameungpeuk. Tapi wilayah itu sudah tidak memungkinkan untuk dikembangkan. Di sana hanya untuk kelas roket 40 cm, yang walau masih kategori aman tetap saja riskan.

Inilah yang melatarbelakangi Lapan merencanakan mendirikan tempat pelucuran satelit di Desa Soukobye, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Tidak tanggung-tanggung, lembaga itu siap menggandeng mitra internasional untuk mewujudkan mimpi itu.

"Sangat mungkin dengan pihak internasional juga. Jadi ini juga sedang diupayakan untuk nantinya bukan Bandara Antariksa kecil, tetapi Bandara Antariksa Internasional," kata Ketua Lapan Thomas Djamaluddin kepada Antara di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Lapan saat ini belum menghitung seberapa besar pendanaan yang kemungkinan akan dikeluarkan untuk pembangunan Bandara Antariksa yang rencananya akan dibangun di Desa Soukobye, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Yang jelas, dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

"Kami juga berharap nantinya ada mitra-mitra internasional yang bersedia untuk berinvestasi untuk Bandara Antariksa tersebut," kata Thomas.

Ke depan, Indonesia dengan keunggulan lokasinya yang berada di garis khatulistiwa atau ekuator bisa memberikan layanan peluncuran roket satelit. Sejauh ini Lapan telah menghubungi beberapa mitra internasional, baik pemerintahan maupun lembaga swasta dari Tiongkok, Jepang, Korea, India, dan Rusia.

Sebagian dari mereka, kata Thomas, telah menyampaikan ketertarikan untuk bekerja sama, tetapi beberapa hal yang lebih rinci masih dalam proses diskusi. "Semuanya punya peluang. Sekarang tinggal menjajaki, mana yang nantinya dapat mewujudkan (kerja sama) itu," kata Thomas lebih lanjut.

Terkait perkembangan penjajakan kerja sama dengan Tiongkok, Thomas mengakui Lapan telah  melakukan beberapa kali pembicaraan dengan mereka terkait rencana kerja sama tersebut. Tiongkok pada prinsipnya berminat dan membuka kemungkinan untuk berbisnis dalam jasa peluncuran di wilayah Indonesia.

"Tinggal pihak kitanya perlu menyiapkan regulasi yang saat ini juga sedang disiapkan terkait dengan peraturan pemerintah, turunan dari Undang-Undang Keantariksaan untuk menjadi pedoman dalam pembangunan dan pengoperasian Bandara Antariksa," ujar Thomas Djamaluddin.

Menurutnya, dari aspek bisnis, produksi satelit di dunia saat ini semakin meningkat, sementara penyediaan Bandara Antariksa untuk peluncuran roket satelit menjadi semakin terbatas. Oleh karena itu, rencana pembangunan Bandara Antariksa di Biak membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menyediakan jasa lokasi peluncuran roket satelit luar negeri.

"Apalagi posisinya di ekuator. (Selain Indonesia) kan hanya di Amerika Selatan, miliknya Prancis dan Brazil. Harapannya di Asia Pasifik ada satu, di Biak itu. Nantinya, harapannya kita bisa menyediakan jasa peluncuran satelit dengan roket-roket yang disediakan juga oleh mitra-mitra internasional," katanya. (F1)