Bahasa | English


PANDEMI GLOBAL

Luapan Badai nan tak Kunjung Melandai

14 September 2020, 14:03 WIB

Asia Selatan-Tenggara menjadi zona paling aktif dalam penularan Covid-19. Eropa kembali menggeliat naik. Amerika, Afrika, dan Pasifik Barat menyusut. Angka kematian menurun.


Luapan Badai nan tak Kunjung Melandai Sejumlah staf memakai Alat Pelindung Diri (APD) di dalam stadion sebelum pertandingan sepak bola Brasilerio Championship antara Gremio melawan Fortaleza, menyusul wabah penyakit virus corona (COVID-19) di Arena do Gremio, Porto Alegre, Brasil, Minggu (13/9/2020). Foto: ANTARA FOTO/REUTERS/Diego Vara

Angka rekor tertinggi kasus Covid-19 global terjadi 4 September 2020. Pada hari itu, tercatat ada 301.676 kasus baru per 24 jam. Hari berikutnya, Sabtu (5/9/2020) terjun ke level 269 ribu, dan tertahan di posisi 231 ribu sehari kemudian. Meskipun berfluktuasi tajam, menurut data WHO, secara global kasus Covid-19 ini masih tertahan antara 260--290 ribu per hari.

Sejak pertengahan Juli lalu, tak ada tanda-tanda menanjak, tapi tidak pula bergerak menyusut secara nyata. Pada pekan ketiga Agustus sempat ada kabar baik, kasus Covid-19 secara global turun 5 persen. Tapi, sepekan terakhir bulan Agustus naik lagi 1%. Pekan pertama September pun naik lagi 1%. Belum ada kesimpulan dari WHO.

Yang terlihat adalah variasi pada pola penyebaran dari satu zona ke zona yang lain. Ada yang pasang, ada yang surut. Kawasan Asia Selatan dan Tenggara, yang di dalamnya termasuk India dan Indonesia, saat ini masih menghadapi luapan badai Covid-19, dan menunjukkan kurva yang terus menanjak.

Begitu halnya dengan kawasan Eropa. Setelah mencapai puncak di pertengahan Maret hingga April, angka insidensi di Eropa menyusut lalu melandai hingga akhir Juli. Namun, sejak Agustus kasus Covid-19 kembali berjangkit di wilayah Eropa, terutama Spanyol dan Italia. Bahkan, pada 5 September lalu tercatat ada 46 ribu kasus baru di seluruh Eropa, yang tertinggi di sepanjang musim pandemi ini.

Tren menyusut terjadi di Afrika. Penularan Covid-19 secara umum terkendali di Benua Hitam itu. Kecenderungan serupa juga terjadi di zona Pasifik Barat yang terbentang dari New Zealand, Australia, Papua Nugini, Singapura, Malaysia, Kamboja, Vietnam, Tiongkok, hingga Korea Selatan dan Jepang. Kecuali di Filipina, wabah di zona Pasifik Barat ini telah susut. Kurvanya melandai. Sebagai kontributor kasus infeksi terbesar, zona Amerika juga menunjukkan gejala menyurut.

 

Enam Kawasan

Dalam catatan WHO, per 7 September 2020 terdapat angka kasus 27,3 juta kasus dengan 3,2% kematian. Dari jumlah kasus itu, sekitar 69% (18,8 juta pasien) sudah dinyatakan sembuh dan bebas dari infeksi. Dalam menyusun laporan epidemiologis Covid-19, WHO membagi dunia ini menjadi lima kawasan regional atau zona.

Berikut ini adalah diskripsi masing-masing kawasan dengan kondisi terkini pandeminya.

1. Kawasan Amerika

Zona Amerika ini meliputi seluruh Benua Amerika, mulai dari Alaska, Kanada, Amerika Serikat (AS), Meksiko, ke negara-negara kecil seperti Guatemala, Costa Rica, Panama, kemudian ke Colombia, Venezuela, Brazil, Argentina, Peru, dan Chile. Zona Amerika menyumbang kasus Covid-19 yang terbesar, yakni 14,12 juta per 6 September 2020. Angka kematiannya 487 ribu atau 3,45%.

Secara umum, pandemi di zona ini belum terkendali. Kasus positif Covid-19 per harinya masih sekitar 120-140 ribu, susut dari puncaknya pada bulan Juli yang berfluktuasi di angka 150-170 ribu kasus baru per harinya. Namun, ada perkembangan yang menarik di wilayah ini. Pada dua pekan terakhir Agustus 2020, kasus Covid-19 di situ menunjukkan perkembangan negatif -1% dan -11%.

Negara yang menyumbang kasus terbesar adalah Amerika Serikat (AS) dengan angka kasus 6,18 juta kasus per 6 September. Pada peringkat kedua adalah Brazil dengan 4,14 juta kasus. Kedua negara mencatat angka kematian akibat Covid-19 pada level 3%.

2. Asia Selatan – Tenggara

Zona Asia Selatan-Tenggara meliputi Maldives, India, Sri Lanka, Nepal, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Indonesia, dan Timor Leste. Secara keseluruhan di daerah ini tercatat 4,79 juta kasus Covid-19 per 6 September lalu, dan menelan korban jiwa 84,5 ribu jiwa (1,77%).

India menyumbang 4,20 juta kasus dengan tingkat kematian 1,7%. Di luar India, hanya ada dua negara, yakni Indonesia dan Bangladesh, yang diterjang Covid-19 dengan intensitas cukup berat. Per 7 September, Indonesia tercatat dengan 197 ribu kasus dan Bangladesh 327 ribu, masing-masing dengan tingkat kematian 4,1% dan 1,4%.

Negara yang lain tidak membukukan angka kejangkitan yang tinggi. Sampai 7 September 2020, di Thailand hanya ada 3.445 kasus dan di Myanmar 1.518 kasus. Namun, wilayah Asia Selatan dan Tenggara ini sedang menghadapi lonjakan pandemi. Dalam dua pekan terakhir Agustus, angka pertumbuhan kasus Covid-19 ini secara berturut-turut mencapai 9 dan 4 persen.

3. Eropa

Zona Eropa ini meliputi Islandia, Negara Skandinavia, Latvia, terus ke Selatan hingga Rumania, Turki, Israel, Balkan, Italia, Spanyol, Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, Jerman, dan negara sekitarnya. Secara umum, gelombang pandemi masih naik turun di situ. Pekan ketiga Agustus, penularan sempat naik 5%, namun turun 1% pada pekan berikutnya.

Hingga 6 September, di seluruh Eropa ada 4,51 juta kasus, dengan korban jiwa 223 ribu. Angka kematian di Eropa mencapai 4,9%, tertinggi dibanding kawasan lainnya. Kurva pergerakan Covid-19 di Eropa agak mengkhawatirkan. Setelah mencapai puncak ada bulan Maret-April, lalu susut ke level terendah pada bulan Mei-Juni, penularan virus kembali merangkak naik sejak Juli, dan mencapai puncak kedua pertengahan Agustus, dan belum menunjukkan gelagat akan segera menyusut kembali.

Namun, angka kematiannya menurun tajam. Saat ini, dengan kasus baru 30--40 ribu per hari di seluruh Eropa, angka kematian hariannya berkisar pada 35--40 orang. Kemajuan yang signifikan.

Salah satu negara yang masih mengalami fluktuasi yang sulit diduga ialah Spanyol. Seperti para tetangganya, Spanyol mengalami ledakan wabah di bulan Maret, lalu menyusut dan mencapai level terendah pada Mei-Juli, lalu naik mencapai puncak kedua akhir Agustus, dan menyusut lagi sejak akhir Agustus. Kini, penambahan kasus baru di Spanyol sekitar 3.000--4.000 per hari, dengan kematian 35--60 orang per hari.

4. Kawasan Mediterania Timur

Dalam pemetaan WHO, Zona Mediterania Timur itu mencakup Pakistan, Afganistan, Iran, Irak, Syiria, negara-negara Teluk, Yaman, Yordania, Lebanon, Palestina, Arab Saudi, menyeberang ke Mesir, Somalia, Sudan, serta Afrika Utara, mulai dari Libya, Tunisia hingga Maroko. Kawasan ini mencatat 2,01 juta kasus positif Covid-19 dengan angka kematian 53 ribu (2,6%).

Negara yang mencatat kasus tertinggi di kawasan ini adalah Iran (388 ribu kasus), Arab Saudi (321 ribu), Pakistan (299 ribu), dan Irak (264 ribu), per 7 September, dengan  masing-masing menorehkan angka kematan 5,72%, 1,2%, 2,1% dan 2,8%.

Serangan Covid-19 di kawasan Mediterania Timur mencatat puncaknya pada bulan Juni lalu, dan setelah itu berangsur turun. Namun, sejak awal Agustus laju penurunannya tertahan dan setelah itu cenderung mendatar sejak masuk Agustus. Pada pekan ketiga Agustus, kasus baru Covid-19 sempat turun 6 persen, namun kembali naik 1 persen di pekan berikutnya.

5. Afrika

Regional Afrika dalam pemetaaan WHO adalah menunjuk pada kawasan Afrika Timur, Tengah, Selatan, dan Barat. Sisi Afrika Utara, ditambah Sudan dan Somalia, masuk ke zona Mediterania Timur. Per 6 September, kawasan Afrika ini mencatat 1,09 juta kasus dengan angka kematian 2,3 persen. Sebagian besar terjadi di Afrika Selatan, dengan 639 ribu kasus positif Covid-19 dan kasus kematian 2,3 persen.

Setelah mencatatkan penularan tertinggi pada Juli lalu, secara konsisten kasus barunya susut. Pada pekan ketiga dan keempat Agustus lalu, penurunan kasus Covid-19 di wilayah ini sampai 20% dan 8%. Penyusutan terjadi karena sebagai episentrum pandemi, level penularan di Afrika Utara juga terus menurun, dan tak ada gelagat virus ini akan meledak di negara tetangga.

6. Pasifik Barat

Kawasan Pasifik Barat ini mencatat kasus positif Covid-19 yang terendah, yakni 520 ribu. Satu-satunya negara yang masih menunjukkan laju positif hanya Filipina. Per 6 September lalu, ada 238 ribu kasus dengan angka kematian 1,6%. Dibanding regional lainnya, angka mortalitas dari Pasifik Barat itu juga paling rendah, yakni 2,1%.

Di Tiongkok, tempat di mana virus penyebab penyakit Covid-19 itu mulai bergulir, sampai pekan pertama September hanya mencatatkan 85 ribu kasus dengan 4.600 kematian (5,4%), dan Jepang 71 ribu kasus dengan 1.363 kematian (1,9%). Negara lainnya yang mencatat jumlah kasus yang cukup besar adalah Singapura, 57 ribu, namun angka kematian di negeri mungil ini hanya 0,05%.

Di negara-negara lainnya di zona ini, seperti Korea Selatan, Vietnam, Monggolia, Laos, Kamboja, Malaysia, Papua Nugini, New Zealand, dan Australia, serangan Covid-19 cukup terkendali, dan angka kematian yang muncul relatif tidak besar. Tren serangan Covid-19 di Pasifik Barat, kecuali di Filipina, menyusut. Secara keseluruhan, pada pekan ketiga dan keempat Agustus, penularan Covid-19 di wilayah ini menurun 13% dan 5%.

 

Kebijakan Kesehatan

Setiap negara memiliki kebijakan masing-masing dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Toh, kebijakan umumnya adalah mencegah penularan tanpa mengistirahatkan mesin ekonominya. Kebijakan lockdown dalam skala luas tak ada lagi. Yang masih ada ialah pembatasan sosial dan pembatasan jarak fisik, mengenakan masker, dan melakukan protokol kesehatan secara umum.

Pembatasan gerak transportasi umum juga diberlakukan di bebagai negara. Di India, misalnya, masih ada pembatasan pelayanan kereta api dan bus umum antarnegara bagian. Yang umum terjadi pula adalah pembatasan pergerakan lintas wilayah negara.

Namun, di banyak negara segala pembatasan itu tak cukup menekan mobilitas manusia sampai batas yang diperlukan guna menekan laju penularan. Protokol kesehatan pun tidak sepenuhnya diindahkan. Perilaku ini terlihat di semua kawasan. Maka, penularan pun masih terus terjadi.

Harapan di tengah situasi ini adalah obat dan vaksin yang dalam beberapa bulan ke depan bisa beredar. Toh, masih ada ketidakpastian juga ihwal khasiat obat dan vaksin itu, di tengah badai virus yang terus bermutasi.

Sementara itu, di tengah pandemi ini, warga dunia juga dapat melihat secara kasat mata, mereka yang mampu menekan laju penularan ialah masyarakat yang secara kolektif bisa menghargai keselamatan diri dan orang lain, dan punya cara tetap produktif tanpa mengabaikan protokol kesehatan.

 

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Editor: Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Cegah Covid-19
Corona
Covid-19
Dampak Covid-19
Dampak Pandemi
Diagnosis Covid-19
Gugus Tugas Nasional Covid-19
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito
LawanCovid19
Obat Covid-19
Pandemi
Pandemi Covid-19
Pemeriksaan Covid-19
Penanganan Covid-19
Penanggulangan Covid-19
Positif Covid-19
Satgas Penanganan Covid-19
WHO
Narasi Terpopuler
Kamar Hotel untuk Pasien Isolasi
Pemerintah menganggarkan Rp3,5 trilyun untuk penyewaan hotel sebagai tempat isolasi gratis bagi orang tanpa gejala (OTG) atau mereka dengan keluhan ringan. ...
Pandemi tak Menunda Agenda Relokasi
Kawasan industri Batang dikebut pembangunannya. Targetnya, Januari 2021 bisa menerima relokasi manufaktur. Sebanyak b17 perusahaan multinasional siap menjadi penghuninya. ...
Relaksasi Iuran Jaminan Sosial bagi Pekerja
Perusahaan dan pekerja mendapat relaksasi iuran jaminan sosial. Pemerintah membantu mereka agar bisa terus bertahan hingga ekonomi nasional pulih. ...
Menjaga Asa Simpul Konektivitas
Di tengah wabah pandemi Covid-19, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tetap melakukan penguatan simpul konektivitas. ...
Tertahan di Hulu, Hilir Jadi Pilihan
Menteri ESDM mengatakan target serapan pasar domestik untuk batu bara bisa tercapai. Menteri Luhut Binsar Panjaitan menawarkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah. ...
Potret Rinci Dampak Pandemi
Sekitar 82% dari semua unit usaha di Indonesia mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi. Sedangkan 35% harus mengurangi pegawai. Yang tumbuh di tengah pandemi hanya 2%. ...
Panas Bumi Tumpuan Energi Masa Depan
Panas bumi diyakini bakal menjadi salah satu sumber penting penyediaan energi listrik ke depan. Baru 8,9 persen potensi alam yang termanfaatkan. ...
Bangkit Setelah Diterjang Dua Badai
Setelah dihantam badai ganda, perang dagang Amerika vs Tiongkok dan pandemi, permintaan timah di pasar dunia merambat naik. Harga timah bangka bergerak menuju normal. ...
Pemulihan Ekonomi Tetap jadi Prioritas
Pagu anggaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub) naik tipis di 2021. Tapi masih jauh dari perencanaan sebelumnya. Sehingga perlu penajaman program prioritas. ...
Mengejar Penyerapan, Meluaskan Sasaran
Bank Dunia menilai komitmen Indonesia cukup baik dalam penanganan Covid-19 dengan meningkatkan program perlindungan sosial reguler sebesar 28,01% menjadi 59,19%. ...