Bahasa | English


E-CONOMY SEA 2019

Indonesia Jadi Raja Digital Asia Tenggara

9 October 2019, 11:07 WIB

Menkominfo Rudiantara memberikan isyarat akan lahir satu perusahaan rintisan sebagai unicorn selanjutnya, yakni berasal dari sektor pendidikan.


Indonesia Jadi Raja Digital Asia Tenggara Menkominfo Rudiantara. Foto: IndonesiaGOID/Hermawan Susanto

Indonesia kembali mendapatkan pengakuan sebagai raja digital di kawasan Asia Tenggara. Disebutkan, Indonesia menyumbang USD40 miliar, atau sekitar Rp567,5 triliun dari total nilai ekonomi digital di Asia Tenggara pada tahun ini.

Pengakuan ini muncul dari laporan e-Conomy SEA 2019 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain belum lama ini. Studi dengan tebal 65 halaman itu merupakan laporan yang keempat dari serangkaian laporan tahunan yang diterbitkan oleh Temasek dan Google sejak 2016.

Tujuan dari laporan dua korporasi global adalah bagian dari upaya melacak pertumbuhan ekonomi digital yang sedang booming di wilayah tersebut. Bain and Company baru bergabung belakangan, terutama dalam laporan terbaru tersebut.

Menurut laporan itu, nilai ekonomi digital di Asia Tenggara hingga akhir 2019 ini diperkirakan mencapai USD100 miliar atau setara dengan Rp1.419 triliun (kurs Rp14.187 per dolar AS). Dan, pada 2025, bisnis ini diprediksi bisa menembus USD300 miliar, naik tiga kali lipat dari kondisi saat ini.

Di antara negara-negara di kawasan itu, masih kata e-Conomy SEA 2019, Indonesia dan bersama Vietnam, tercatat mencetak pertumbuhan ekonomi digital mencapai 40% sejak 2015.

Dan, tahun ini ekonomi digital di Indonesia diproyeksikan bisa mencapai Rp567,5 triliun pada 2019 dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 49%.  Google, Temasek, dan Bain juga memperkirakan ekonomi digital Indonesia menembus USD133 miliar atau sekitar Rp1.887 triliun pada 2025. Luar biasa.

Memang, laporan ekonomi digital itu tidak menghitung pergerakan perputaran dana yang terjadi di media sosial. Tapi,  nilai ekonomi tersebut adalah akumulasi dari aktivitas di lima sektor ekonomi berbasis internet yaitu e-commerce, media daring, ride-hailing, e- travel, dan fintech.

Tidak dipungkiri, sebagai negara yang menganut ekonomi terbuka, persaingan untuk menikmati kue ekonomi digital juga tidak mudah. Siapa yang bisa memanfaatkan dan mengoptimalkannya, dialah yang menjadi pemenangnya.

Kompetisi Keras

Wajar saja, di era ekonomi berbasis internet di Indonesia, kita menyaksikan kompetisi yang keras antara perusahaan teknologi lokal dan luar negeri. Pertarungan antara dua pemain utama di sektor berbagi kendaraan, misalnya, yaitu Grab dan Gojek membuat pasar sektor tersebut tumbuh enam kali lipat dalam 4 tahun terakhir.

Sedangkan pertarungan antara pemain lokal seperti Tokopedia dan Bukalapak dengan perusahaan asal luar negeri seperti Shopee dan Lazada mendongkrak pasar dagang elektronik melonjak 12 kali lipat dalam 4 tahun terakhir. Sektor lain yang juga dinilai berdampak besar pada perkembangan ekonomi digital di Indonesia adalah pembayaran digital.

Bisa jadi persaingan telah memunculkan kreasi untuk terus melakukan inovasi. Dengan laju pertumbuhan saat ini, Google, Temasek, dan Bain memperkirakan ekonomi digital Indonesia menembus USD133 miliar atau sekitar Rp1.887 triliun pada 2025.

Bagi Indonesia, ekonomi digital sudah disadari akan menjadi mesin pertumbuhan baru ekonomi negara ini. Presiden Joko Widodo pun pernah memberikan gambaran berkaitan dengan ekonomi digital tersebut. Pada 11 tahun lalu, kepala negara memberikan ilustrasi, kondisi perusahaan multinasional terbesar kini sudah sangat berbeda.

Sebelas tahun lalu, Presiden mengutip data, hanya ada satu perusahaan teknologi yang masuk ke dalam daftar 10 perusahaan terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar.

Namun kini, kondisi tersebut berubah. Dari total 10 perusahaan berkapitalisasi besar skala global, sedikitnya 5 perusahaan teknologi masuk ke dalam daftar tersebut. "Tadi hanya salah satu contoh kecil bagaimana kemajuan teknologi sudah mengubah dunia kita. Revolusi industri 4.0 sedang terjadi dalam proses terus membawa perubahan yang sangat dahsyat dan cepat," Joko Widodo menjelaskan.

Hal itu terbukti. Kini, Indonesia sudah memiliki tiga startup yang berstatus unicorn—startup dengan nilai valuasi di atas USD1 miliar. Ketiganya adalah Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka. Sedangkan satu startup yang sudah naik kelas menjadi decacorn—bervaluasi di atas USD10 miliar—adalah Gojek.

Menjelang akhir tahun, ada satu lagi startup menyandang status unicorn, yakni OVO, sebuah startup teknologi finansial, atau tepatnya dompet digital. Telah lahirnya unicorn baru dibenarkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di sela-sela acara Siberkreasi di Jakarta, Sabtu (5/10/2019).

“Saya sudah bicara dengan founder-nya, dan memang iya [OVO jadi unicorn]. Makanya, saya berani bicara setelah saya konfirmasi,” ujar Rudiantara.

Sebelumnya, firma analisis perusahaan, CB Insight, dalam laporannya menulis valuasi OVO sudah mencarap USD2,9 miliar atau sekitar Rp41 triliun. Situs CB Insight bahkan mencatat valuasi OVO sebesar itu sejak 14 Maret 2019.

Soal potensi perusahaan rintisan lain sebagai unicorn selanjutnya, Rudiantara memberi isyarat bahwa startup itu berasal dari sektor pendidikan. “Bagaimana pun, secara logika, 20% APBN pemerintah untuk pendidikan, 5% untuk kesehatan. Jadi, masa sih tidak ada unicorn dari sektor itu,” ujar Rudiantara.

Harus diakui, Indonesia dengan potensi penduduknya yang luar biasa telah menjadi lahan subur tumbuhnya bisnis berbasis ekonomi Internet, baik lokal maupun dari asing. Dan, pelaku ekonomi Internet dari lokal ternyata mampu berkibar dan bersaing dengan pelaku asing tersebut.

Keberhasilan sejumlah pelaku usaha lokal untuk bersaing itu tidak terlepas dari adanya kemauan kuat untuk terus melakukan inovasi. Benar, terus berinovasi adalah kata kunci untuk bisa bersaing dan bertahan.

Bagi perusahan yang tidak inovatif, ibaratnya tinggal menunggu kematian. Kemajuan teknologi dan perubahan perilaku pelanggan, sudah pasti menuntun perusahaan untuk terus melakukan perubahan. Dan itu terbukti dengan pengakuan e-Conomy SEAS 2019 tersebut. (F-1)

Ekonomi
Narasi Terpopuler
Alokasi APBN untuk Koperasi dan UMKM
Rancangan peraturan pemerintah (RPP) Cipta Kerja akan mewajibkan kementerian, lembaga, dan daerah mengalokasikan 40% belanja barang dan jasanya ke UMKM dan koperasi. Sembilan BUMN menyiapkan Rp35 tril...
Kuota Gratis Mengundang Senyum Manis
Hasil survei Arus Survei Indonesia (ASI) mengungkapkan sebanyak 85,6 persen masyarakat menilai program bantuan internet gratis meringankan beban ekonomi orangtua siswa/mahasiswa. ...
Agar Terang hingga Timur
Perluasan elektrifikasi di Indonesia Timur merupakan bagian penting dari upaya menyediakan listrik di seluruh Indonesia pada 2024. ...
Geliat Awal Pelabuhan Patimban
Pelabuhan Patimban segera diresmikan. Pengiriman perdana produk otomotif dari kawasan industri Jawa Barat sudah bisa dilakukan dari pelabuhan ini. ...
Saatnya Guru Honorer Naik Kelas
Pemerintah membuka kesempatan bagi guru honorer untuk menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Ini adalah wujud negara hadir menyediakan kesempatan yang adil untuk para guru honorer ...
Energi Surya Berakselerasi di Tengah Pandemi
Indonesia berkomitmen porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen pada 2025. ...
Semuanya Harus Extraordinary
Pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) kementerian/lembaga dan Daftar Alokasi TKDD (Transfer Daerah dan Dana Desa) tahun 2021, ada prioritas belanja pada delapan sektor dan fokus pada empat isu...
Nota Sri Mulyani untuk Lembaga Keuangan Dunia
Di sejumlah event dunia, Menkeu Sri Mulyani menekankan pentingnya kesetaraan akses vaksin, bauran kebijakan fiskal, makroprudensial, dan moneter. Pada skenario optimistis, di 2020 India tumbuh 8,8 per...
Satria Menghubungkan Nusantara
Satelit Satria akan berkapasitas 150 Gbps dan menjadi satelit mulitfungsi terbesar di Asia untuk keperluan layanan internet. Kapasitas itu mampu melayani 150.000 titik di seluruh tanah air yang sulit ...
Mengalirkan Dana Pembiayaan Swasta
Indonesia membentuk sovereign wealth fund (SWF) atau lembaga pengelola investasi yang akan beroperasi awal 2021. Sejumlah investor asing sudah berkomitmen berpartisipasi. ...