Bahasa | English


PANDEMI COVID-19

Protokol Kepulangan WNI dari Luar Negeri

17 May 2020, 05:37 WIB

Di tengah pandemi dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah, sejumlah pekerja Indonesia di luar negeri mulai berdatangan. Pemerintah tak mau kecolongan.


Protokol Kepulangan WNI dari Luar Negeri Sebanyak 335 pekerja migran Indonesia antre menaiki pesawat Garuda yang disewa khusus di Bandar Udara Internasional Velana, Maldives, Jumat (24/4/2020). Mereka dipulangkan karena pandemi. Foto: ANTARA FOTO/KBRI Colombo/zk/hp.

Ribuan pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di luar negeri terus berdatangan ke tanah air. Badan Pelindung Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat, selama Januari hingga 4 Mei ada 126.742 pekerja migran Indonesia yang sudah tiba di tanah air. Mereka berasal dari 83 negara. Kepulangan mereka karena terimbas kebijakan penguncian wilayah, dideportasi negara tempat bekerja, ataupun habis masa kontrak kerjanya.

Menurut Kepala BP2MI Benny Rhamdani, dari 126.742 itu, 33.434 orang pulang secara mandiri, 17.884 pekerja difasilitasi BP2MI, dan 75.424 pekerja kepulangannya ditangani gugus tugas nasional. Gelombang kedua kepulangan para PMI ini diperkirakan bakal berlanjut hingga Mei dan Juni mendatang. Pada periode itu, menurut Benny, diperkirakan ada 34.300 PMI yang bakal pulang ke tanah air. Mereka berasal dari 54 negara. Kepulangan mereka ini dikarenakan habis masa kontrak kerjanya.

Kepulangan mereka di tengah pandemi Covid-19 ini tentu membuat was-was. Apalagi kepulangan mereka itu saat sejumlah wilayah menerapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya, Menteri Kesehatan mengeluarkan Surat Edaran bernomor HK.02.01/Menkes/313/2020 tentang Protokol Kesehatan Penanganan Kepulangan WNI dan Kedatangan WNA dari Luar Negeri di Pintu Masuk Negara dan di Wilayah pada Situasi PSBB. Surat ini diteken Menteri Kesehatan Terawan pada 1 Mei lalu.

Berikut beberapa poin protokol yang diatur dalam surat edaran itu:

Penanganan di Pintu Masuk

1. Setiap warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia wajib mengikuti prosedur kekarantinaan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan tambahan yang berlaku di Indonesia.

2. Pemeriksaan kesehatan tambahan meliputi:

  • Wawancara
  • Pemeriksaan suhu, tanda, dan gejala Covid-19
  • Pemeriksaan saturasi oksigen
  • Pemeriksaan rapid test dan/atau PCR

3. Setiap WNI yang kembali ke Indonesia sedapat mungkin membawa health certificate dalam bahasa Inggris yang berlaku maksimal tujuh hari sejak diterbitkan oleh fasilitas negara asal dan divalidasi dokter Kantor Kesehatan Pelabuhan/bandar udara/PLBDN kedatangan.

4. WNI yang pulang membawa health certificate yang membuktikan hasil pemeriksaan PCR negatif Covid-19.

  • Dilakukan pemeriksaan kesehatan tambahan kecuali rapid test atau PC
  • Jika tidak ditemukan penyakit dan/atau faktor risiko pada pemeriksaan kesehatan, KKP menerbitkan izin (clearance) kesehatan dan health alert card (HAC) kepada yang bersangkutan.
  • Dapat melanjutkan perjalanan ke daerah asal dengan membawa surat jalan dari pihak Satgas penanganan Covid-19 setempat.
  • Melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing selama 14 hari, menerapkan phyisical distancing, memakai masker dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
  • Clearance kesehatan diserahkan kepada RT/RW setempat yang selanjutnya diteruskan ke Puskesmas setempat agar dilakukan pemantauan selama masa karantina mandiri.

5. WNI yang pulang, jika tidak membawa health certificate;

  • Membawa health certificate dengan masa berlaku lebih dari 7 hari; atau\
  • Membawa health certificate tetapi tidak membuktikan hasil PCR negatif Covid-19 dilakukan pemeriksaan kesehatan tambahan termasuk rapid test dan/atau PCR.

6. Apabila dapat dilakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan PCR di pintu masuk, WNI dapat menunggu sementara di tempat/fasilitas karantina yang disiapkan sampai hasil pemeriksaan PCR keluar. WNI dengan hasil PCR negatif Covid-19 dan tidak ditemukan penyakit dan/atau faktor risiko, maka:

  • Diberika clearance kesehatan oleh petugas kesehatan di fasilitas karantina
  • Membawa health alert card (HAC) yang sudah diberikan di pintu masuk
  • Dapat melanjutkan perjalanan ke daerah asal dengan membawa surat jalan dari Satgas Penanganan Covid-19 setempat, selalu memakai masker selama perjalanan. Perjalanan ke daerah asal akan difasilitasi pemerintah.
  • Melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing selama 14 hari, menerapkan phyisical distancing, memakai masker, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat
  • Clearance kesehatan diserahkan kepada RT/RW setempat yang selanjutnya diteruskan ke Puskesmas setempat agar dilakukan pemantauan selama masa karantina mandiri.

7. Apabila tidak dapat melakukan pemeriksaan PCR di pintu masuk, terhadap WNI dilakukan pemeriksaan rapid test.

8. WNI dengan rapid test non reaktif, maka:

  • Dilakukan karantina di tempat/fasilitas karantina yang disiapkan pihak pemerintah maupun pihak lainnya.
  • Gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 nasional/daerah ataupun pihak lainnya menyediakan fasilitas transportasi dari pintu masuk ke tempat/fasilitas karantina.KKP tetap memberikan HAC kepada yang bersangkutan.
  • Masa karantina berlangsung sampai dengan didapatkan hasil pemeriksaan PCR negatif Covid-19 atau hasil pemeriksaan ulang rapid test pada hari ke-7 sampau 10 non reaktif.

9. WNI dengan rapid test reaktif atau hasil pemeriksaan PCR positif Covid-19 dirujuk ke RS Darurat/RS rujukan di wilayah setempat dengan menerapkan protokol rujukan penyakit Infeksi.

10. Setiap WNI yang masuk ke Indonesia wajib mempunyai health certificate dalam bahasa Inggris yang menyatakan hasil pemeriksaan PCR negatif Covid-19. Health certificate berlaku maksimal tujuh hari sejak diterbitkan oleh fasilitas kesehatan negara asal dan divalidasi dokter KKP di pelabuhan/bandar udara/PLBDN kedatangan.

11. WNA yang masuk dengan membawa health certificate yang membuktikan hasil PCR negatif Covid-19:

  • Dilakukan pemeriksaan kesehatan tambahan kecuali rapid test atau PCR
  • Jika tidak ditemukan penyakit dan/atau faktor risiko pada pemeriksaan, KKP menerbitkan clearancy kesehatan dan health alert card (HAC) kepada yang bersangkutan
  • Dapat melanjutkan perjalanan ke daerah tujuan dengan membawa surat jalan dari pihak Satgas Penanganan Covid-19 setempat, dan selalu memakai masker selama perjalanan
  • Melakukan karantina mandiri di tempat tinggalnya selama 14 hari, menerapkan phyisical distancing, memakai masker, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat
  • Clearance kesehatan diserahkan kepada pihak perwakilan negaranya untuk diteruskan kepada Dinas Kesehatan setempat agar dilakukan pemantauan selama karantina mandiri

12. WNI yang datang tidak membawa health certificate atau membawa health certificate

dengan masa berlaku lebih dari 7 hari atau membawa health certificate tetapi tidak membuktikan hasil pemeriksaan PCR negatif, maka:

  • Tetap dilakukan pemeriksaan kesehatan tambahan termasuk rapid test
  • WNA yang memiliki komorbid, jika hasil pemeriksaan rapid test reaktif dilakukan tindakan rujukan dan isolasi ke RS darurat/RS rujukan Covid-19.
  • WNA yang tidak memiliki gejala dan tidak memiliki komorbid dengan hasil tes reaktif, direkomendasikan kepada pejabat imigrasi untuk dilakukan tindakan deportasi
  • Jika hasil pemeriksaan rapid test non reaktif direkomendasikan kepada pejabat imigrasi untuk dilakukan tindakan deportasi.

 

 

Penulis: Fajar WH
Editor: Putut Tri Husodo/Elvira Inda Sari
Redaktur bahasa: Ratna Nuraini

Covid-19
Dampak Covid-19
Diagnosis Covid-19
Jenazah Covid-19
LawanCovid19
Obat Covid-19
Penanganan Covid-19
Protokol
WNI
Layanan Terpopuler
Panduan New Normal di Lingkungan Kerja
Tak ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Pemerintah berkewajiban menggerakkan roda perekonomian di tengah pandemi ini. ...
Prosedur Izin Keluar Masuk DKI Jakarta
Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan ketentuan bagi masyarakat yang keluar dan masuk wilayah ibu kota selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Surat Izin Keluar/Masuk (SIKM) dapat diurus secar...
Protokol Kepulangan WNI dari Luar Negeri
Di tengah pandemi dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah, sejumlah pekerja Indonesia di luar negeri mulai berdatangan. Pemerintah tak mau kecolongan. ...
Bijak Kelola THR di Era Pandemi
Perlu menggunakan Tunjangan Hari Raya (THR) sewajarnya dan tidak boros. Di samping itu, jangan biarkan pendapatan tambahan ini berlalu tanpa makna. ...
Fatwa Salat Idulfitri dari MUI
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang salat Idulfitri di musim pandemi Covid-19 ini. Umat Muslim bisa melakukan salat sendiri di rumah. ...
Aplikasi 10 Rumah Aman Agar Betah di Rumah
Pemerintah meluncurkan sejumlah aplikasi untuk membendung penyebaran corona. Aplikasi 10 Rumah Aman bisa menjadi teman agar Anda tetap betah di rumah. ...
Kapan Nikah? Cek di siapnikah.org
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan situs siapnikah.org. Situs ini untuk menyiapkan warga negara yang akan membangun rumah tangga. ...
Mesin Pintar Dukung Penerapan PSBB
Di sejumlah daerah yang sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diketahui warganya masih belum patuh. Untuk mendukung penerapan PSBB, pemerintah meluncurkan mesin pintar bernama &ldqu...
Cara Melindungi Lansia dari Virus Corona
Orang lanjut usia (lansia) lebih rentan terinfeksi virus corona dibanding dewasa maupun anak-anak. ...
Cara Ajukan Klaim Perawatan Rumah Sakit Pasien Covid-19
Biaya perawatan seluruh pasien Covid-19 di Indonesia dibebankan pada anggaran Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB). Jika pasien telanjur membayar, rumah sakit harus mengembalikan ke pasien. ...