KEANEKARAGAMAN HAYATI
  Kahan pertanian di lereng Gunung Merbabu, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (30/11/2020). Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Tolak Bencana dengan Akar Wangi

  •   Jumat, 18 Desember 2020 | 19:10 WIB
  •   Oleh : Administrator

Dengan memiliki akar yang kekuatannya setara dengan seperenam kekuatan kawat baja, tanaman vetiver mampu menahan gempuran longsoran tanah pada lereng bukit atau derasnya arus air.

Bencana alam sering  terjadi di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dalam kurun Januari hingga 11 Desember 2020, telah terjadi 2.802 kali peristiwa bencana yang berdampak bagi sekitar 6,1 juta jiwa. Salah satu bencana alam itu adalah tanah longsor, di mana seperti dikutip dari Geoportal Kebencanaan Indonesia BNPB, telah terjadi 535 peristiwa tanah longsor. Salah satu upaya yang dapat dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap berulangnya peristiwa bencana longsor adalah dengan penanaman vetiver atau akar wangi.

Tanaman ini merupakan endemik dari India dengan nama latinnya Chrysopogon zizaniodes. Vetiver ini adalah sejenis rumput-rumputan besar dan dikenal memiliki banyak manfaat bagi pelestarian lingkungan. Di luar negeri, tumbuhan dari famili Poaceae ini telah lama dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ekologis dan fitoremediasi atau upaya memperbaiki lingkungan dengan menggunakan media tanaman pada lahan dan air. Bagian daunnya dapat menyerap karbon, bisa dijadikan pakan ternak, pengusir hama, bahan atap rumah, hingga bahan dasar kertas. Pada bagian akar juga bermanfaat untuk mencegah longsor dan banjir, memperbaiki kualitas air, melindungi infrastruktur, menyerap racun, hingga menyuburkan tanah. Ekstraksi akar wangi ini juga dapat menghasilkan minyak atsiri.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Agus Wibowo, beberapa waktu lalu, rumput besar ini juga dapat digunakan untuk konservasi lahan bekas pertambangan, pencegah erosi lereng, penahan abrasi pantai, dan stabilisasi tebing melalui teknologi vetiver grass technology (VGT) atau vetiver system (VS). Teknologi ini sudah dikembangkan selama lebih dari 200 tahun di India dan merupakan teknologi sederhana berbiaya murah dengan memanfaatkan tanaman kaya manfaat ini untuk konservasi tanah, air, serta perlindungan lingkungan.

Teknologi ini sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara, dan sangat efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan. Tumbuhan yang dikenal juga dengan beragam nama seperti narawastu, usar, larasetu, atau rarawestu oleh masyarakat di sebagian Pulau Jawa ini toleran untuk tumbuh pada ketinggian 500-1.500 meter di atas permukaan laut. Ia dapat tumbuh subur pada suhu berkisar 17-27 derajat Celcius dan curah hujan 500-2.500 milimeter per tahun. Namun, ia juga dapat tumbuh pada lahan kering dan tercemar.

Akar wangi merupakan tanaman ekologis dengan sistem perakarannya yang unik. Tanaman ini memiliki akar serabut yang tumbuh lurus dan bukan menyamping seperti tumbuhan rumput pada umumnya. Akar ini masuk sangat jauh ke dalam tanah. Dalam 1 tahun usia tumbuhnya, akarnya dapat mencapai kedalaman 3-4 meter. Saat ini rekor akar terpanjang adalah 5,2 meter menembus ke dalam tanah. Akarnya juga mampu menembus lapisan setebal 15 sentimeter yang sangat keras. Di lereng-lereng yang keras dan berbatu, ujung-ujung akarnya mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat.

Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tekstur tanah. Dengan struktur akar menghujam jauh ke dalam tanah membuat tanah menjadi kuat, stabil dan tahan terhadap longsor serta memungkinkan tanaman ini tetap kokoh meski diterjang derasnya arus air. Kondisi ini menyebabkan tumbuhan ini dijuluki sebagai "kolom hidup". Dengan bentuk batang kaku dan tegak serta mampu tumbuh hingga 2 meter membuatnya mampu tetap berdiri meskipun di arus air dalam. Ketika ditanam dengan pola rapat, rumpun tanaman pagarnya berguna sebagai penyaring sedimen yang efektif dan penyebar air. Selain itu, tanaman ini juga tahan terhadap hama, penyakit, dan api.

Bagi peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Deden Girmansyah, vetiver merupakan tanaman perawat pada tanah yang sakit karena mampu memperbaiki struktur tanah terutama pada kawasan rawan longsor akibat pengikisan oleh air dan angin. Selain itu, akarnya sangat toleran terhadap beberapa keadaan ekstrem seperti kekeringan biologi meski tak toleran terhadap tempat teduh.

 

Upaya Mitigasi Bencana

Melihat berbagai manfaat dari vetiver itu membuat Presiden Joko Widodo pada awal 2020 meminta agar dikembangkan sebagai alternatif mitigasi bencana terutama untuk pencegahan tanah longsor dan banjir. “Tanaman vetiver dapat menahan gempuran aliran hujan deras dan menjaga kestabilan tanah sebagai langkah upaya mitigasi bencana," kata Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, (8/1/2020). Pernyataan Presiden ini dikeluarkan berselang beberapa hari pascabanjir bandang disertai bencana tanah longsor yang terjadi di kawasan Kabupaten Lebak, Banten dan Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, pascapernyataan Presiden, pun telah menyiapkan pemanfaatan tanaman unik ini. Hal ini dilakukan terutama pada lokasi proyek infrastruktur yang sedang dan telah dikerjakan pihaknya seperti waduk, tanggul sungai, dan tebing jalan nasional serta jalan tol sebagai upaya mitigasi bencana. Penanaman ini menurut Basuki berbarengan dengan upaya lain yang telah dilakukan pihaknya selama ini seperti pengerukan sedimentasi waduk dan sungai, serta perkuatan tebing dengan kolom.

Kepala BNPB Letnan Jenderal Doni Monardo menyebutkan bahwa vetiver dengan akar setara seperenam kekuatan kawat baja telah dikembangkan di lebih dari 100 negara sebagai wadah mitigasi bencana. Indonesia pun sesungguhnya telah memulai pengembangan tanaman yang juga dikenal sebagai akar babau ini sejak 2000.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Evi Savitri Iriani menyatakan bahwa pihaknya telah lama mengembangkan varietas unggul akar wangi jenis Verina 1 dan Verina 2 sebagai bahan baku minyak atsiri.  Saat itu pemanfaatannya sebagai alternatif pencegah bencana, menurut peneliti dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI Titut Yulistyarini, masih dilakukan secara terbatas. Namun, sejak 2013 akar wangi telah mulai dijadikan sebagai tanggul alami pencegah erosi pada tepian aliran Kali Ciliwung yang melintasi daerah Kota Depok, Jawa Barat.

Hal serupa juga telah dilakukan di beberapa titik di Bali, termasuk penanaman tumbuhan yang disebut masyarakat setempat sebagai anggarawastu itu pada lereng timur Gunung Agung, tepatnya di Desa Ban. Puluhan ribu rumpun akar wangi juga sudah mulai ditanam pada lahan seluas 108 hektare di Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak yang masuk dalam Taman Nasional Gunung Halimun.

Kabar terbaru adalah adanya upaya dari BNPB untuk melakukan penanaman vetiter sebagai tanggul alami pada lereng curam dan tepian sungai pascabanjir di Aceh, awal Desember 2020 lalu. Namun demikian, peneliti LIPI Deden Girmansyah mengingatkan agar perlu pengawasan yang bijak dalam penanaman dan pengelolaannya karena vetiver merupakan tanaman pendatang. Penanamannya harus diawasi dan dikelola dengan baik, jangan sampai menjadi liar dan menjadi invasif.

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Eri Sutrisno/ Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini