PARIWISATA
  Kawasan Wisata Batu Cangga. Pariwisata Sumenep

Menguji Nyali di Batu Cangga

  •   Jumat, 18 Juni 2021 | 07:07 WIB
  •   Oleh : Administrator

Objek wisata alam Batu Cangga memberikan tantangan kepada para pengunjungnya. Dimulai saat memasuki area kawasan yang terjal dan bertangga bambu curam, hingga suara derit ketika dilewati.

Gili Iyang, pulau seluas 9,15 kilometer persegi dan menjadi bagian dari Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur, tidak hanya dikenal sebagai tempat berkadar oksigen terbaik di Indonesia. Pulau damai berpenduduk 7.832 jiwa hasil Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik itu juga menyimpan sejumlah potensi wisata yang tak kalah menarik.

Bukan saja 10 gua alam dan Pantai Ropet, pantai berair biru, serta kumpulan tulang belulang ikan paus sepanjang 15 meter yang terdampar di pesisir pulau pada 2010. Di sana masih ada Batu Cangga, sebuah objek wisata alam yang berada tepat di bagian bawah dari sebuah bukit karst yang menjorok ke Laut Jawa di utara Gili Iyang.

Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Betoh Cangge atau batu yang menyangga tebing. Rute menuju Batu Cangga dapat menyusuri jalan setapak di samping lahan Titik Oksigen yang berada di tengah pulau. Atau sekitar 3 kilometer dari timur dermaga penumpang sebagai titik masuk ke Gili Iyang.

Batu Cangga dan Titik Oksigen berada di Bancamara, satu dari dua desa di Gili Iyang, selain Banraas. Titik Oksigen merupakan lokasi dengan kadar oksigen sebesar 20,9 persen. Itu merupakan hasil penelitian atas kualitas udara di pulau tersebut yang dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada November 2006.

Di kiri-kanan jalan dengan ujungnya menuju Batu Cangga terbentang lahan tanah kering yang ditumbuhi pohon-pohon jati. Lahan itu bercirikan tanah grumusol yang terbentuk dari batuan induk kapur dan tuffa vulkanik berwarna kelabu dan cenderung sedikit hitam. Lahan jenis ini mewarnai mayoritas permukaan tanah di Gili Iyang serta sebagian besar daratan di Pulau Madura.

Setelah berjalan kaki selama 15 menit, maka akan sampai di batas jalan berkontur tanah yang ditandai oleh sebuah papan kayu bercat hijau bertuliskan "Anda Berada di Kawasan Batu Canggah". Inilah awal dari sebuah perjalanan menantang dan menguji nyali kita untuk menuju Batu Cangga.

Memang perlu sedikit perjuangan untuk sampai di Batu Cangga. Sebab, kita harus melewati titian tangga dari bambu dengan konstruksi yang sangat sederhana sepanjang 30 meter. Bentuk titiannya lumayan curam dan licin ketika musim hujan, dengan sudut kemiringan sekitar 30 derajat. Lebar anak tangganya tak lebih dari 40 sentimeter dan hanya muat dilewati oleh satu orang.

Anak-anak tangga itu dibentuk dari potongan batang kayu yang diberi jarak sekitar 20 cm per anak tangga. Bilah-bilah bambu 40 cm tersebut dijepit di antara sejumlah batang besar bambu seukuran panjang 3 meter per batangnya yang tersusun memanjang pada kedua sisi anak tangga. Setiap ujung dari anak-anak tangga tadi tersimpul oleh tali-tali tambang plastik biru.

Oh iya, ada beberapa batang jati yang ikut diletakkan tepat di bawah anak tangga sebagai penahan agar titian ini tetap seimbang saat dilewati. Maklum saja karena titian ini dibangun seperti menggantung sekitar 30 cm dari tanah tebing berbatu.

Beberapa bilah bambu ukuran besar lagi-lagi disusun memanjang dengan posisi sekitar 70 cm dari atas anak tangga. Batang-batang besar bambu ini berguna sebagai tempat tangan berpegangan saat meniti anak tangga. Tiap-tiap satu meter ditancapkan batang bambu sebagai tonggak bilah-bilah yang disusun memanjang tadi.

Tonggak dan bilah itu lagi-lagi disatukan menggunakan simpul tali tambang plastik biru. Ini berguna agar konstruksi itu cukup kokoh dan tidak goyah saat dijadikan tumpuan tangan ketika kita sedang berjuang menaklukkan setiap anak tangga. Pemanfaatan material bambu sebagai konstruksi tangga bukan tanpa alasan. Tanaman itu tergolong mudah ditemui dan tumbuh liar hampir di seluruh Gili Iyang.

Nah, saat anak-anak tangga ini kita lewati akan terdengar suara berderit-derit karena gesekan tiap kayu yang kita injak. Ini saja sudah membuat jantung lumayan berdebar kencang, terlebih sambil menaklukkan tangga ini, tepat di depan mata kita terbentang hamparan luas birunya air Laut Jawa. Sungguh menantang.

Kemudian tepat di penghabisan anak tangga, ada semacam pagar bambu sebagai penghalang dan mencegah pengunjung terperosok dari tebing dan masuk ke air laut. Setelah perjuangan sekitar 5 menit menaklukkan titian curam tadi, maka kita akan sampai di Batu Cangga.

Berdiri di Batu Cangga, memiliki sensasi tersendiri. Telinga kita akan mendengar dengan jelas deburan ombak sekitar 100 meter di bawah tebing. Deburannya begitu keras menghantam tepian bawah tebing, diiringi terpaan angin kencang.

Objek wisata ini berbentuk rongga menyerupai lorong sepanjang sekitar 200 meter dengan tinggi langit-langit sekira 5 meter. Dinding lorong bentuknya melengkung mirip gulungan ombak.

Pada salah satu sisi lorong langsung menghadap ke laut lepas yang diberi pembatas berupa pagar bambu. Lorong ini seperti disangga oleh sebuah batu setinggi sekitar 5 meter berdiameter sekitar dua meter mirip,seperti pilar besar pada bangunan gedung.

Batu Cangga diduga bagian dari proses peristiwa letusan gunung purba bawah laut pada masa Tersier atau sekitar 50 juta tahun lampau. Batuan pada lorong dan kontur tebing menyiratkan aliran lava gunung api purba yang bersusun dan membentuk batuan andesit, tuffa, dan breksi.

Diduga lorong tersebut terbentuk akibat adanya abrasi air laut sejak ribuan tahun lampau sehingga menyebabkan munculnya runtuhan tebing (rock fall). Demikian seperti dikutip dari laman www.mgi.esdm.go.id milik Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral.

Sebelum menjelajahi wisata alam yang satu ini disarankan agar memakai alas kaki atau sepatu bersol karet. Tujuannya, agar selain nyaman saat melangkah, juga lebih mudah untuk menaklukkan medan terjal ini.

Jangan lupa juga membawa perbekalan yang cukup. Sebab, tak ada warung makan di sekitar lokasi wisata alam tersebut.



Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari