EKONOMI BERBAGI

Kisah Si Gila Henk dari Bandung

  •   Selasa, 7 Agustus 2018 | 04:08 WIB
  •   Oleh : Administrator

Apa yang membuat orang pada saat ini gemar berbagi? Mengapa orang mau berbagi? Apakah ekonomi berbagi itu?

Sebelum berbicara lebih serius tentang fenomena ekonomi berbagi yang masih menjadi perbincangan hangat pada saat ini, tulisan ini ingin memulai bercerita tentang fenomena berbagi di zaman digital informasi yang mengedepankan prinsip saling berbagi dan saling berjejaring yang dilandasi oleh kemajuan teknologi informasi digital pada saat ini.  

Dia tinggal di Bandung dua tahun sebelum krisis ekonomi dan moneter merebak. Pria asal Rotterdam yang telah berusia lebih dari setengah abad ini, awalnya memilih Bandung sebagai tempat untuk mencari harta karun. Harta karun yang dia cari adalah kaset-kaset lama dan piringan hitam yang biasa ditemui di pasar-pasar loak.

Entah dari mana ide untuk mengumpulkan harta karun itu berasal. Henk--nama panggilan pria ini--memilih nama "madrotter" (kebalikan dari Rotterdam) sebagai julukannya sekaligus sebagai penanda situs berbagi koleksinya kepada siapapun yang ingin mendengarnya. Henk memilih platform blog, situs berbagi tulisan gratis untuk mengunggah rekam digital dari berbagai kaset, CD, LD, dan piringan hitam yang di bagikannya secara gratis pula.

Henk datang ke Indonesia bukan dengan kepala kosong. Henk Den Toom Jr adalah nama lengkap Henk yang lahir pada 28 Januari 1965 berdasarkan profil facebook-nya yang aktif hingga saat ini. Henk lahir dari keluarga yang mempunyai kepedulian terhadap masalah sosial. Dari situs http://www.bc-vvcapelle.nl, keluarga den Toom tercatat memiliki kerja sama dengan Yayasan Bhakti Luhur dan Liliane Fonds yang menangani anak-anak cacat dan telantar.

Henk adalah seorang punker. Sebagai seorang punker atau pemberontak, Henk tentu memiliki kacamata dan kecakapan seorang pemberontak yang besar di kawasan Industri Rotterdam. Dalam dunia musik punk dia dikenal sebagai DJ Madrotter.

Pilihan menjadi penggiat musik punk, adalah pilihan anak muda yang besar di akhir 70-an saat ide-ide anarcho-punk menjadi pilihan untuk berontak terhadap sistem sosial. Keberpihakan terhadap kelas pekerja, kebebasan berekspresi, perlawanan terhadap industri musik yang dominan, hingga solidaritas antargerakan sosial, mengantar dia ke Bandung untuk menjadi produser beberapa kelompok hip-hop "indie" sembari mengumpulkan koleksi kegemarannya.

Henk bercerita pada jurnalruang.com proses awal mengapa dia menjadi kolektor "harta karun". Sebagai seorang Disk Jockey, Henk ingin membuat komposisi hip-hop dengan diselingi musik tradisional Sunda. Saat itulah dia mendapatkan piringan hitam penyanyi "kliningan" Titim Fatimah.

Mendengar piringan hitam musik tradisional itu, Henk jadi seperti seorang yang kasmaran. Sejak saat itulah dia memutuskan untuk berkeliling dari lapak ke lapak dengan biaya sendiri memburuk koleksi lawas rekaman seniman tradisional Indonesia. 

Di masa awal-awal itu para pedagang pasar loak menganggap kaset maupun piringan hitam dari seniman-seniman tradisonal dan tidak terkenal sebagai barang yang tidak cukup berharga. Henk bisa mendapatkan berbagai kaset dan piringan hitam dari harga Rp5.000 hingga Rp10.000 saja. Bahkan untuk beberapa artis yang cukup punya nama Henk cukup merogoh Rp25.000. 

Tentu saja saat ini nilai kaset dan piringan hitam lawas sudah menjulang tinggi. Satu hal yang Henk sayangkan, saat ini banyak orang ingin membeli rekaman lawas karena tergiur harga yang sangat tinggi dari para kolektor di luar. Mereka tidak berburu karena cinta pada musik tradisional Indonesia bahkan tidak peduli terhadap kelestariannya.

Selama dia melakukan pengumpulan koleksinya Henk pernah mendapati seorang kolektor dari Perancis yang tinggal lama di Indonesia dan berhasil mengoleksi 10-15 ribu kaset Sunda langka. Saat dia pulang ke Perancis koleksi dia ikut serta bersama dia dan tidak ada jejaknya di Indonesia. Juga seorang Jerman, Henk dapati berhasil membawa sekitar 10 ribu kaset dan piringan hitam, tetapi begitu dia pulang tidak ada pula jejaknya.

Menurut Henk, jika itu terus terjadi hampir tidak ada warisan budaya yang tersisa bagi orang Indonesia. Hal inilah yang membuat Henk Madrotter membuat sebuah blog sejak awal 2000-an untuk berbagi terhadap sesama peminat seni tradisi dan musik Indonesia. Pada awalnya, blog Henk, adalah blog yang bernama http://madrotter.blogspot.com.

Karena ada pihak-pihak yang tidak menyukai langkah Henk, blog itu diretas oleh seseorang. Akibatnya hilang segala jerih payah dia terhadap ratusan unggahan digital koleksi rekaman yang telah dia bagi. Tetapi Henk tidak patah semangat, pada 2007 dia membangun kembali blognya dengan berganti nama menjadi http://madrotter-treasure-hunt.blogspot.com, tentu saja dengan kesadaran untuk membuat fitur keamanan yang lebih kuat. Hingga saat ini Henk Madrotter telah membagi koleksinya dengan menggunakan berbagai teknologi "file-sharing" gratis hingga mencapai lebih dari 1.500 koleksi.