KRI NANGGALA-402
  Duta Besar Indonesia untuk Jerman, Oegroseno turut dalam upacara penghormatan kepada KRI Nanggala 402 di Kiel, Jerman. Kedutaan Indonesia Jerman.

Sebentuk Persahabatan Antarawak Kapal Selam Dunia

  •   Sabtu, 1 Mei 2021 | 16:33 WIB
  •   Oleh : Administrator

Para prajurit dan pensiunan dari Skuadron Kapal Selam Angkatan Laut Jerman menggelar upacara penghormatan terakhir bagi 53 awak KRI Nanggala-402 yang gugur saat kapal selam itu tenggelam di laut utara Bali.

Pagi hari itu, suhu udara yang berkutat di 7 derajat Celcius bagai menusuk tulang. Kondisi yang bergerak menuju kebekuan itu menyelimuti areal The U-Boot Ehrenmal Möltenort yang hijau oleh rimbunan pepohonan. Saat itu angin juga berembus lumayan kencang dari Teluk Kiel di Laut Baltik, menerpa kawasan Monumen Kehormatan Kapal Selam.

Monumen tersebut didirikan sebagai wujud peringatan atas gugurnya sekitar 34.746 prajurit dan 939 unit kapal selam Angkatan Laut Jerman pada Perang Dunia I dan II. Itu tertera jelas dalam 115 plakat perunggu dipasang yang mengitari monumen, bak busur panah.

Lokasi monumen tersebut berada di Heikendorf, Distrik Plon, sekitar 10 kilometer dari pusat kota Kiel, ibu kota negara bagian Schleswig-Holstein, Jerman. Monumen berbentuk pilar besar setinggi hampir 16 meter itu terbuat dari susunan batu warna cokelat kemerahan yang tiap batuannya bisa selebar bentangan tangan orang dewasa.

Pada bagian puncaknya terdapat patung perunggu burung elang mengepakkan sayap setinggi hampir 5 meter. Patung elang seberat sekitar 200 ton itu dibuat seniman patung terkemuka Jerman, Fritz Schmoll pada 1938. Tepat di bawah patung elang tercantum emblem The U-Boot, singkatan Unterseeboot, divisi kapal selam AL Jerman yang sangat ditakuti musuh-musuh pada Perang Dunia I dan II.

Patung elang itu pulalah yang pada pengujung April 2020 menjadi saksi bisu kehadiran hampir 40 orang dalam balutan jas panjang pengusir dingin (overcoat) warna gelap. Sebagian dari mereka juga memakai pet militer putih.

Kehadiran puluhan orang itu, pada Kamis (29/4/2021), seperti dikutip dari laman resmi Kedutaan Besar RI di Berlin, tak lain untuk menjadi peserta upacara penghormatan terakhir atas peristiwa duka yang menimpa awak KRI Nanggala-402. Diketahui, kapal selam itu tenggelam saat melakukan latihan menembak torpedo di perairan laut utara Bali, Rabu (22/4/2021). Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 53 awak gugur sebagai patriot dan bangsa Indonesia pun berduka.

Para peserta upacara terdiri dari Komandan Flotila 1 AL Jerman Admiral Christian Bock, Komandan Skuadron U-Boot Komander Stephan Pfeiffer beserta delapan prajuritnya, Komandan Führungsakademie der Bundeswehr, Sekolah Staf dan Komando (Sesko) AL Jerman, Mayor Jenderal Oliver Kohl. Ikut hadir pula 16 perwira siswa Führungsakademie dari 16 negara seperti Thailand, Brasil, Mesir, Peru, Aljazair, Tunisia, Azerbaijan, Tiongkok, Korea Selatan, dan Tanzania. Turut pula tiga perwira, masing-masing dari TNI-Angkatan Darat (AD), TNI-Angkatan Udara (AU), dan TNI-AL, yang sedang menimba ilmu di sekolah staf dan komando (sesko) yang berpusat di Hamburg tersebut.

Duta Besar RI untuk JermanArif Havas Oegroseno ikut hadir ditemani Konsul Jenderal RI di Hamburg, Ardian Wicaksono dan Atase Pertahanan RI untuk Jerman Kolonel Kavaleri Rio Hendrawan Alin Putra. Hadir pula presiden dan jajaran pengurus Asosiasi Awak Kapal Selam Jerman, Verband Deutscher Ubootfahrer (VDU) dan para anggota Korps Kapal Selam Kiel.

Acara itu juga diikuti oleh perwakilan ThyssenKrupp Marine System, perusahaan yang mengambil alih Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) pada 2005. Di galangan HDW yang telah berdiri sejak 1838 itulah, KRI Nanggala-402 dibuat pada 1977.

 

Kehilangan Sahabat

Dalam rinai gerimis kecil upacara berlangsung khidmat dan tetap mematuhi protokol kesehatan memakai masker serta menjaga jarak. Dalam suasana hening, para peserta upacara dengan berdiri tegak sempurna menghadap monumen.

Hanya tersisa suara deburan ombak menghantam bebatuan pemecah gelombang dan kicau camar tepat di belakang peserta upacara. Dubes Arif mengawali upacara dengan meletakkan karangan besar bunga mawar merah dan putih berpita senada tepat di bagian bawah monumen yang di bagian kanannya ditancapkan bendera Indonesia dan Jerman serta dijaga dua prajurit AL Jerman di kedua sisi. Karangan bunga senada berpita biru juga diletakkan oleh Admiral Bock, Komander Pfeiffer, dan Mayjen Kohl.

Total ada lima karangan bunga memenuhi bagian bawah monumen. Terdapat beberapa tulisan di pita-pita merah-putih dan biru tadi yang mencerminkan kehilangan mereka atas peristiwa di laut utara Bali tersebut. Tak berselang lama berkumandang lagu Ich Hatte Einen Kamerad (Saya Pernah Punya Seorang Sahabat) yang dilantunkan dengan terompet oleh anggota AL Jerman.

"Kami merasa sangat kehilangan atas kepergian sahabat-sahabat kami. Sebagai sesama awak kapal selam, kami sadar tugas yang kami emban penuh dengan risiko dan bahaya. Segiat apa pun kami berlatih, dan secanggih apa pun peralatan yang digunakan, kecelakaan adalah hal yang tidak bisa dihindari," kata Presiden VDU Michael Setzer dalam sambutannya.

Pernyataan Setzer bukan tanpa alasan. Ia merupakan komandan kapal selam AL Jerman, U-27 dari Kelas 206, yang pernah mengalami insiden. Kapal U-27 menabrak kabel baja bawah laut dari anjungan minyak lepas pantai (platform drilling) Oseberg B milik perusahaan migas Norwegia, Norsk Hydro, di perairan Bergen (Norwegia).

Saat peristiwa yang terjadi pada 6 Maret 1988 itu, seperti dikutip dari laman Museum Kapal Selam Jerman, U-27 tengah menyelam di kedalaman 30 meter dan meski posisi platform tidak tercatat pada peta, Setzer mencatatnya dengan periskop. Sayang, selang penahan platform ke dasar laut tidak terlihat akibat adanya kesalahan pada sistem navigasi (navigational error). Dampaknya, kapal selam buatan 1974 itu menyeret kabel baja sejauh 40 meter dan membuat anjungan lepas pantai bergeser serta menenggelamkan asrama pekerja platform. Kendati demikian, Setzer mampu mengarahkan armadanya kembali ke permukaan air dan tidak satu pun dari awaknya yang cedera.

Setzer yang memakai semacam topi sherif tak mampu menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya saat memberikan sambutan. Ia mengatakan, anggota VDU telah memiliki hubungan kolega dan kedekatan pribadi dengan para awak KRI Nanggala-402. "Mereka merupakan brothers in arms (saudara seperjuangan) bagi kami," kata Setzer.

Salah satu awak yaitu Komandan KRI Nanggala-402, almarhum Kolonel Laut (P) Anumerta Heri Oktavian merupakan lulusan Führungsakademie tahun 2019. Dua pensiunan jenderal petinggi TNI, mendiang Feisal Tanjung dan Herman Prayitno, juga tercatat sebagai lulusan salah satu Sesko AL terbaik di dunia tersebut. 

Ucapan terima kasih pun meluncur dari Dubes Arif. Menurut penerima brevet surveyor kehormatan dari Pusat Hidro-Oseanografi TNI-AL tersebut, ini adalah satu-satunya upacara penghormatan bagi pahlawan yang gugur dan digelar di luar Indonesia. "Atas nama Pemerintah Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, para keluarga korban, saya mengucapkan terima kasih atas solidaritas tinggi dari Asosiasi Awak Kapal Selam Jerman. Ini menunjukkan hubungan yang erat di bidang pertahanan, kerja sama Angkatan Laut dan people to people dalam konteks kemiliteran antara Indonesia dan Jerman," kata Dubes Arif.

Salah satu pengurus VDU yang juga mantan komandan AL Jerman, Juergen Weber seperti dikutip dari kantor berita Jerman Deutsch Welle, mengatakan bahwa pertalian persaudaraan antarawak kapal selam sangat erat. "Ikatan itu lebih kuat dari satuan militer mana pun. Kami memiliki rasa persaudaraan yang luar biasa. Itulah mengapa kami mengadakan acara penghormatan ini."

 

Sekilas KRI Nanggala-402

Pemerintah Indonesia memesan KRI Nanggala-402 di galangan HDW pada 2 April 1977 dan mulai dikerjakan 14 Maret 1978. Kapal selam ini merupakan tipe 209 bermesin diesel elektrik di mana peluncuran perdana model tersebut dilakukan akhir 1960-an. Unit pesanan untuk AL Indonesia berbobot hampir 1.300 ton itu selesai dikerjakan pada awal 1980 dan uji coba penyelaman dilakukan di sekitar perairan Kiel, 10 September 1980.

Mengutip pemberitaan harian Kompas 12 Juli 1981, kapal itu diserahkan kepada Pemerintah Indonesia pada 6 Juli 1981 di Kiel. KRI Nanggala-402 kemudian berlayar meninggalkan Jerman di awal Agustus 1981 dengan 38 awak dipimpin Letnan Kolonel Armand Aksyah dan menjadi kado Hari Kemerdekaan RI ke-36, 17 Agustus 1981.  

KRI Nanggala-402 selama hampir 40 tahun mengabdikan diri untuk Ibu Pertiwi telah melakukan banyak penugasan militer termasuk misi-misi rahasia. Tenggelamnya alat utama sistem persenjataan yang diawaki Korps Hiu Kencana ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi seluruh keluarga para patriot yang gugur, namun juga bagi bangsa Indonesia.

Simpati dari para pemimpin dunia ikut mengalir seperti Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, pemimpin Singapura seperti Presiden Halimah Yacob, Perdana Menteri Lee Hsien Loong, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Hissein Ibrahim Taha. Pemerintah Malaysia ikut menunjukkan rasa dukanya dengan menyalakan lampu warna merah dan putih di beberapa puncak menara gedung seperti Menara Kuala Lumpur.

Sejumlah perwakilan pemerintahan di dunia juga menyampaikan dukanya kepada bangsa Indonesia baik melalui surat resmi maupun di dalam akun media sosial mereka. Presiden Joko Widodo pun selain telah memberikan bintang jasa Jalasena dan kenaikan pangkat satu tingkat, juga memutuskan untuk memberikan beasiswa kepada putra-putri patriot KRI Nanggala-402 untuk melanjutkan pendidikan hingga sarjana.

Selamat jalan para patriot KRI Nanggala-402, terima kasih telah mengabdi untuk Ibu Pertiwi. Selamat melanjutkan patroli abadi menjaga Ibu Pertiwi, Wira Ananta Rudira.

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari