TES COVID-19
  Ilustrasi. Alat deteksi Covid-19 buatan salam negeri. ANTARA FOTO

Menyiapkan Produksi Massal Alat Deteksi Covid-19

  •   Rabu, 31 Maret 2021 | 06:22 WIB
  •   Oleh : Administrator

Metode pemeriksaan diagnostik Covid-19 RT-LAMP dengan sampel air liur dapat membantu peningkatan jumlah testing di berbagai wilayah Indonesia.

Telah setahun penanganan pandemi Covid-19 merebak di tanah air, pengetesan dan pelacakan kasus semakin beragam. Penapisan (screening) maupun tes diagnostik virus SARS COV-2 sudah tersedia dalam beberapa cara. Mulai dari tes serologi imunoglobin untuk mengecek antibodi tubuh, tes usap antigen, alat tes pernapasan GeNose, hingga tes usap reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) sebagai acuan standar tertinggi (gold standard).

Belum lama ini, tersedia lagi alat tes diagnostik Covid-19 karya anak bangsa dengan sampel air liur (saliva). Tes diagnostik Covid-19 dengan sampel air liur ini menggunakan metode RT-LAMP (reverse transcription-loop mediated isothermal amplification) yang dapat mendeteksi secara spesifik asam nukleat yang merupakan material genetik dari virus SARS COV-2.

Tes diagnostik ini merupakan hasil pengembangan dari Stem Cell & Cancer Institute sebagai unit R&D PT Kalbe Farma. Piranti ini telah melalui uji performa analitik dan klinis di dalam negeri.

Proses penelitian alat tersebut sudah dilakukan mulai Juni 2020. Pada Maret 2021 telah mendapat nomor izin edar dari Kementerian Kesehatan KEMENKES RI AKD 20303120508 dengan merk ELVA Diagnostic SARS COV-2 Saliva Nucleic Acid Test Kit.

Peluncuran alat ini lantas mendapatkan dukungan dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). "RT LAMP Saliva ini bisa menjawab tantangan akan keterbatasan laboratorium kita, yang mungkin tidak semua daerah bisa mempunyai fasilitas ini," jelas Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro, Kamis (25/3/2021).

Dalam hal ini, Kemenristek/BRIN mendorong RT-LAMP Saliva ini agar masuk dalam e-catalog produk inovasi Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sehingga bisa diakses oleh lembaga pemerintah maupun BUMN untuk dapat ditempatkan di ruang-ruang publik.

Meski jumlah ketersediaan laboratorium pemeriksaan sampel Covid-19 sudah mencapai 721 laboratorium, sebarannya belum merata di wilayah kabupaten/kota di Indonesia. Kecepatan tes diagnostik menjadi kunci dari penanganan pandemi Covid-19 agar tidak cepat meluas penularannya.

Meskipun saat ini juga digunakan tes cepat antigen sebagai alternatif pemeriksaan diagnosis Covid-19 selain pemeriksaan RT-PCR, pengembangan metode pemeriksaan diagnostik Covid-19 RT-LAMP melalui sampel saliva ini tentu dapat membantu peningkatan jumlah testing di berbagai wilayah Indonesia.

Perangkat RT-LAMP adalah salah satu tes molekuler yang termasuk dalam kategori NAAT atau nucleic acid amplification test bersama dengan RT–PCR dan tes cepat molekuler (TCM) untuk diagnosa kasus Covid-19 sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. 01.17/MENKES/3602/2021.

Adapun, produksi reagen LAMP Saliva dilakukan oleh anak perusahaan PT Kalbe Farma. Menurut Presiden Komisaris PT Kalbe Farma Irawati Setiady, kapasitas produksi LAMP Saliva saat ini adalah 460.000 tes per bulan, dan akan ditingkatkan menjadi 2 juta unit alat tes per bulan.

 

Cara Mengambil Sampel

Bagaimana cara mengambil sampel air liur RT-LAMP Saliva? Alat tes ini tidak membutuhkan alat khusus seperti halnya tes usap RT-PCR atau antigen dengan mencolok memakai cotton bud saat mengambil lendir dari lubang hidung maupun cairan dahak dari tenggorokan.

Pola RT-LAMP Saliva cukup meludahkan air liur ke dalam ampul/kontainer yang tersedia di produk itu. Hasilnya bisa keluar dalam waktu kurang lebih satu jam.

Akterono Dwi Budiyati, IVD Division Research Manager Stem Cell and Cancer Institute, menerangkan bahwa RT-LAMP Saliva dianggap memiliki performa akurasi yang tinggi, dengan sensitivitas mencapai 94 persen dan spesifisitas 98 persen.

Untuk menjalankan RT-LAMP Saliva ini hanya dibutuhkan tenaga laboratorium dengan kemampuan dasar teknis aseptik dan prinsip kerja di fasilitas molekuler untuk menganalisis sampel air liur ini.

Sama dengan RT-PCR, metode RT-LAMP juga membutuhkan sampel lendir yang diambil dari pangkal hidung dan pangkal tenggorokan pasien atau yang dikenal dengan swab test. Setelah itu, sampel pasien diekstrak dan dicampur dengan zat pereaksi atau dikenal dengan reagen. Selanjutnya, sampel siap untuk diuji.

Hanya saja, alat yang digunakan dalam metode RT-PCR bernama thermocycler harganya bisa mencapai ratusan juta. Karena harganya mahal maka tidak semua alat atau rumah sakit mempunyai alat ini dalam metode pengujian PCR.

Pada RT-PCR, sampel akan diberi suhu yang berubah-ubah dengan cepat. Dimulai dari suhu 50 derajat Celcius sampai 96 derajat Celcius. Oleh karena itu, butuh alat yang canggih untuk melakukan PCR.

Dengan metode RT-LAMP, maka sampel hanya akan diberi suhu konstan yaitu 60 derajat Celcius selama 30 sampai 60 menit. Dengan alat yang sangat sederhana, cukup menggunakan inkubator, water bath atau heat block.

Untuk indikator positif atau negatif, dapat dilihat dari perubahan warna pada sampel dengan kasat mata. Apabila berubah menjadi keruh, maka sampel tersebut positif terpapar virus corona. Pengecekannya bisa juga menggunakan alat spektro. Alat ini secara otomatis akan memeriksa sampel mana yang berwarna keruh.

Menristek Bambang Brodjonegoro mendorong Satgas Covid-19 agar dapat menempatkan RT-LAMP Saliva sebagai pelengkap dari alat RT- PCR di laboratorium daerah-daerah dengan kasus terinfeksi SARS COV-2 tinggi maupun daerah terpencil. Alat RT-LAMP ini bisa ditempatkan di fasilitas kesehatan setingkat puskesmas atau klinik kesehatan pratama. 



Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari