KERAGAMAN HAYATI
  Warga menunjukkan bibit bambu yang dikembangkan dalam program pelestarian bambu di Pulau Flores yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTT didukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Yayasan Bambu Lestari (YBL). (ANTARA/HO)

Sebilah Bambu, Secercah Harapan

  •   Sabtu, 8 Januari 2022 | 10:01 WIB
  •   Oleh : Administrator

Nusa Tenggara Timur adalah sentra industri bambu olahan tingkat nasional. Produk bambu NTT dan olahannya per hari sebesar 20 ton. Potensi lahan ditanami bambu mencapai 40.000 hektare di 22 kabupaten/kota.

Gemulai melambai rumpun pohon satu ini jika tertiup angin sepintas mirip gerak lentur penari pendet. Di balik kelenturannya, tanaman bambu dengan batang berongga kosong dan kerap dijumpai ketika masuk ke belantara hutan tersebut memiliki sejumlah keunggulan.

Anggota keluarga rumput-rumputan ini merupakan spesies tanaman paling cepat pertumbuhannya. Karena ia mempunyai sistem rhizoma dependen unik. Dalam sehari tanaman bernama lain buluh itu mampu tumbuh hingga sepanjang 60 sentimeter atau lebih, bergantung tingkat kesuburan tanah dan iklim di mana tanaman ini tumbuh. 

Secara ekologis, aur, nama lain bambu, dapat menjadi solusi dan sekutu tangguh terhadap ancaman lingkungan dan dampak perubahan iklim. Bambu berperan penting dalam restorasi lahan melalui daya adaptasi jenis tanamannya, pendekatan lanskap, dan keberadaanya dalam ekosistem berkelanjutan.

Hasil penelitian pakar etnobiologi Wawan Sujarwo memperkuat hal tersebut. Kepala Kelompok Penelitian Etnobiologi Pusat Penelitian Biologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini menyebutkan bahwa bambu merupakan tanaman serbaguna. Akarnya panjang menghujam tanah dan berserabut serta memiliki banyak rongga. Sehingga mampu menyerap air lebih banyak dan menyimpannya di dalam akar.

Lewat rupa akar seperti di atas, bambu dapat memegang tekstur dan struktur tanah dengan sangat baik pada lahan miring sekalipun. Ini membuat tanah aman dari bahaya longsor dan dapat mengendalikan erosi. Demikian dikatakan doktor analisis ekosistem dari Università degli Studi di Roma Tre, Roma, Italia, dalam sebuah itu diskusi terkait bambu yang diadakan oleh KLHK di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Wawan mengatakan, rumpun bambu mampu menyimpan air antara 360--391,2 meter kubik (m3) air. Dalam sebuah studi di Kebun Raya Bali, alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada itu menemukan fakta unik pada rumpun bambu jenis betung (Dendrocalamus asper). Dengan usia lima tahun serta 15-20 batang tiap rumpun diikuti tinggi batang rata-rata 15 meter dan diameternya 10--15 sentimeter, akar bambu ini sanggup menyimpan 360 m3 air. Sedangkan batangnya dapat mengkonservasi air sebanyak 391,224 m3 tiap rumpun. 

International Bamboo and Rattan Organization (INBAR) menyebutkan, bambu memiliki kemampuan tinggi untuk menyimpan karbon dioksida. Daya serapnya hingga 100-400 ton dalam tiap m3 batang bambu per tahun. Bahkan pakar bambu dunia dan Kepala Lingkungan Berkelanjutan MOSO International Pablo van der Lugt menyebut angka yang lebih besar, yakni 1.696 ton per m3 batang bambu dalam setahun.

Material bambu merupakan sumber daya alam paling mudah dan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat di Indonesia. Beragam produk berbahan bambu telah dihasilkan masyarakat sejak dahulu, utamanya untuk perabotan rumah tangga, pagar rumah atau kebun, dan lainnya.

Indonesia merupakan rumah bagi 162 dari total 1.450 jenis bambu di seluruh dunia dan salah satu produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), seperti dikutip dari Kabar Hutan, mengungkapkan bahwa bambu terdapat di 30 provinsi menutupi area seluas 2,1 juta hektare.

Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, nilai HHBK bambu dapat mencapai 90 persen dari nilai hasil hutan. Kayu sebagai hasil utama hutan sebenarnya hanya menyumbang 10 persen dari produksi hasil kehutanan. Kenyataan bahwa bambu memiliki potensi nilai ekonomi tinggi dan sebagai substitusi kayu turut diungkapkan peneliti bambu IM Sulastiningsih.

Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi KLHK itu mengatakan, pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini masih terbatas dan dilakukan secara konvensional dengan menggunakan bambu bulat atau kombinasi bambu bulat, bilah bambu, dan sayatan bambu. Diversifikasi produk olahan bambu perlu ditingkatkan dengan menghasilkan produk rekayasa bambu (engineered bamboo), berupa bambu lamina.

Produk bambu lamina ini diperoleh dengan cara menggabungkan beberapa pelepah atau bilah bambu memakai perekat organik hingga membentuk seperti kayu lapis. "Produk bambu lamina lebih ramah lingkungan, diambil dari material dengan pertumbuhan cepat, dan kekuatannya lebih tinggi dibandingkan kayu solid. Bambu lamina juga memberi penampilan unik dan indah pada barang yang tercipta, di samping juga lebih awet," kata Sulastiningsih dalam diskusi terkait bambu beberapa waktu lalu.

Sejumlah produk rumah tangga seperti tempat duduk, lemari, meja-kursi makan, pintu rumah, lantai parket, hingga kitchen set telah dihasilkan menggunakan bahan bambu lamina. Di tingkat global, material bambu lamina dipakai untuk menutup area seluas 25.000 meter persegi dari langit-langit Terminal 4 Bandar Udara Internasional Adolfo Suarez, Madrid, Spanyol. Pemanfaatan bambu lamina membuat interior di dalam area keberangkatan penumpang dari terminal penumpang terbesar di Eropa tersebut semakin unik dan modern.

Sentra Industri Bambu

Sementara itu, Provinsi Nusa Tenggara Timur telah menjadi sentra industri bambu olahan tingkat nasional. Potensi lahan ditanami bambu mencapai 40.000 ha di 22 kabupaten/kota. Lewat Keputusan Gubernur nomor 404/KEP/HK/2018 tentang HHBK Unggulan, provinsi dengan 1.192 pulau itu telah menjadikan bambu sebagai produk terbesar kedua dari sektor HHBK. Pemerintah setempat menggandeng Yayasan Bambu Lestari dan lembaga nirlaba Inggris, Forest Programme 4, memberdayakan bambu untuk meningkatkan perekonomian daerah.

Mereka mendirikan Kampus Desa Bambu Agroforestri di Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, pertengahan Mei 2021. Ini merupakan pusat pembibitan dan pengembangan aneka produk olahan bambu terintegrasi pertama di Indonesia dan mempersiapkan Ngada sebagai sentra bambu nasional dengan luas lahan mencapai 10.000 ha.

Direktur Program Yayasan Bambu Lestari, Muayat Ali Muhsi menyebutkan, saat ini produksi bambu dan produk olahannya dari NTT telah mencapai 20 ton per hari. Pengembangan bambu sebagai produk unggulan ekonomi hijau juga telah lama dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sejak zaman penjajahan Belanda, masyarakat di sana telah menghasilkan berbagai produk olahan bambu seperti mebel, furnitur, peralatan dapur, kap lampu, keranjang, sangkar burung, ornamen-ornamen kafe atau restoran. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan nasional, produk bambu asal Selaawi juga telah menembus pasar ekspor ke sejumlah negara Asia, Australia, dan Uni Eropa.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengajak kementerian-kementerian lain untuk berkolaborasi mengembangkan potensi bambu sebagai produk unggulan pengganti kayu. Demikian dikatakan mantan Kepala Staf Presiden tersebut ketika membuka Selaawi Bamboo Festival 2021 di Gedung Selaawi Bamboo Creative Center (SBCC), Sabtu (18/12/2021).

Saat ini produk olahan bambu mulai diserap oleh swasta, salah satunya adalah IKEA, jaringan toko perlengkapan rumah tangga global asal Swedia. IKEA telah membuka beberapa jaringannya di Indonesia. "Misalnya, lemari bambu dijual di IKEA dengan harga bisa lebih dari Rp3 juta," ujar Teten.

Teten mencontohkan, bambu telah berkontribusi penting pada perekonomian masyarakat perdesaan di Tiongkok hingga 28,4 persen. Di samping itu, hingga 2025 nanti, potensi permintaan bambu dan produk olahannya secara global mencapai USD93 miliar atau sekitar Rp1.339,2 triliun dengan kurs Rp14.400 per dolar.

Tiongkok merupakan penguasa pasar produk bambu hingga sebesar 60 persen. Indonesia masih memiliki peluang untuk mengembangkan bambu sebagai produk unggulan pengganti kayu di masa mendatang. Semoga dengan luasnya potensi lahan untuk ditanami bambu di seluruh Nusantara akan menjadi motor bagi peningkatan ekonomi berkelanjutan berbasis ramah lingkungan.

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari