PERUBAHAN IKLIM
  Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya melakukan penanaman mangrove di kawasan wisata Raja Kecik, Desa Muntai Barat, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Riau. ANTARA FOTO/Alfisnardo

Presiden Jokowi Mencemplung Laut demi Mangrove

  •   Sabtu, 2 Oktober 2021 | 07:45 WIB
  •   Oleh : Administrator

Ekosistem mangrove bisa menjadi kekuatan dalam diplomasi perubahan iklim. Rehabilitasi 600 ribu ha mangrove selesai 2024. Daya simpan karbonnya lebih tinggi dari hutan tropis daratan.

Sesuai agenda yang telah ditetapkan, pada Selasa pagi, 28 September 2021, Indonesia One terbang dari Pangkalan TNI-AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Pangkalan Rusmin Nuryadin, Pekanbaru. Dari pintu utama pesawat Boeing 737-800 Merah-Putih itu Presiden Joko Widodo dan rombongan turun, hanya transit. Presiden melanjutkan perjalanannya dengan heli Super Puma TNI-AU menuju Kabupaten Bengkalis. Titik tujuan adalah Pantai Wisata Raja Kecik.

Sejumlah pejabat dari Jakarta, Pemprov Riau, Kabupaten Bengkalis, dan sejumah pegiat konservasi alam telah menunggu Presiden Jokowi di  pantai wisata yang menghadap Selat Malaka. Acara Presiden Jokowi pagi itu adalah ikut melakukan penanaman mangove (bakau) pada area wisata pantai yang belakangan terancam rusak oleh abrasi  yang makin menjadi-jadi.

Kawasan wisata Raja Kecik di Desa Muntai Barat itu sendiri hanya  100 hektare luasnya. Penanaman mangrove akan dilakukan pada area perairan seluas 7 ha. Dalam acara di Bengkalis ini, Presiden Jokowi tak hanya menyaksikan, melainkan ikut terjun lepas sepatu, dan tanpa alas kaki turun ke tanah  becek ikut menanam beberapa batang bibit mangrove. Bila terawat dengan baik, kawasan bakau ini pada beberapa tahun ke depan diharapkan bisa mengurangi gerusan abrasi ke arah Pantai Raja Kecik.

Kehadiran Presiden Jokowi menanam mangrove itu bisa menandai bahwa isu mangrove itu adalah salah satu prioritas dalam pemerintahannya. Rehabilitasi mangrove ada dalam skema pelaksanaan atas  Perjanjian Paris 2015 tentang Pengurangan Emisi  Karbon untuk Pencegahan Perubahan Iklim  di Indonesia. Dengan hutan mangrove seluas 3,4 juta hektare, Indonesia menjadi pemilik 20 persen ekosistem mangrove dunia.

Dalam konteks pencegahan perubahan iklim, ekosistem mangrove  penting. ‘’Karena mangrove bisa menyimpan karbon 4–5 kali lebih besar dibandingkan hutan tropis daratan,’’ kata Presiden Jokowi, yang Sarjana Kehutanan lulusan UGM Yogyakarta itu, saat  berbicara di sela-sela acara tanam bakau itu.

Target pemerintah, menurut Presiden Jokowi, adalah merehabilitasi 600 ribu hutan mangrove nasional yang rusak akibat ulah manusia. Ia berharap rehabilitasi itu selesai 2024.

Di seluruh dunia tercatat ada 72 jenis mangrove dan 41 di antaranya ada di Asia Tenggara. Indonesia sendiri memiliki lebih dari 35 jenis yang hidup di area pasang surut. Yang khas dari mangrove adalah batang, cabang, ranting, serta daunnya tidak mudah lapuk lalu tanggal. Sebagian besar biomassanya menyusup ke bawah lantai tanah atau setidaknya terendam air pasang. Daun tua dan ranting lapuk yang jatuh ke air membusuk dalam suasana miskin oksigen sehingga dekomposisinya tidak melepas karbon ke udara.

Berbeda dari tegakan  hutan tropis basah seperti yang  banyak tumbuh di Indonesia. Dengan ranting dan daunnya yang bisa mencapai tinggi 100 meter, hutan tropis iitu memang bisa menyerap karbon lebih besar setiap tahunnya dari fotosintesanya. Namun, separuhnya jatuh ke serasah lantai hutan sebagai cabang, ranting, atau daun, terdekomposisi dan karbonnya terlepas kembali ke udara. Maka, dalam jangka panjang, timbunan karbon hutan mangrove lebih besar ketimbang hutan daratan.

Namun, jasa mangrove yang diharapkan bukan saja dari serapan karbonnya. Secara fisik tumbuhan ini juga bisa menjadi pelindung pantai di tengah ancaman perubahan iklim yang bisa menaikkan air laut 3--4 mm per tahun.

Pulau Bengkalis seluas 900 km2 adalah salah satu yang menghadapi risiko tinggi, karena berupa dataran rendah yang nyaris rata. Mangrove bisa menjadi pelindung pantai. Tanpa pelindung, Bengkalis terancam masuk daftar pula-pulau yang akan terendam air laut.

Rehabilitasi mangrove di Bengkalis tak hanya di Pantai Raja Kecik. Selama dua tahun (2020-2021) hampir 1.300 ha area mangrove di Bengkalis telah direhabilitasi. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, secara umum kerusakan hutan mangrone itu akibat alih fungsi kawasan menjadi lahan pertanian, perkebunan, pemukiman, infrastruktur, dan tambak ikan atau udang.

Ada juga yang menjadi korban illegal logging, karena ada di lahan gambut yang ditumbuhi pohon-pohon yang punya nilai ekonomi. Akibatnya timbul abrasi yang kuat dan intrusi air laut makin jauh menyusup ke daratan.

Usai menjalankan tugas kunjungan kerja ke Bengkalis, Presiden Jokowi kembali memasuki Super Puma yang membawanya kembali ke Pekanbaru. Serba cepat, pindah ke pesawat Indonesia One, dan meluncur ke Bandara Hang Nadim, Batam. Dari bandara, Presiden Jokowi menumpang mobil sedan RI-1 menuju Kelurahan Setokok, Kecamatan Bulang,  Kota Batam. Acaranya menaman mangrove bareng warga.

Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Pantai Setokok. Air pasang yang tiba-tiba datang, membuat area penanaman itu tergenang air setinggi pinggang dan berarus. Toh, acara harus berjalan. Sejumlah relawan tetap masuk ke air dan menempatkan bibit manrgove setinggi 1,5 meter di atas tanah pantai yang berlumpur itu.

Tak puas hanya menonton, dengan mengenakan jaket merah yang hoodienya menutup bagian kepala, Presiden Jokowi pun melangkah “nyebur” ke air yang berarus. Warga yang hadir bersorak. Situasi di luar protokoler membuat Komandan Grup A Paspampres Kolonel Inf Anan Nurakhman dan pengawal pribadi Presiden Lettu Inf Windra Sanur harus berteriak-teriak meminta agar para undangan VIP tak ikut nyebur ke laut. Tak ada petugas pengaman kecuali untuk presiden.‘’Nggak masalah, kan cuma 10--15 menit,’’ ujar Presiden ringan, tentang acara dadakan itu.

Sebelum meninggalkan kawasan Setokok Batam, untuk kembali ke Jakarta, Presiden Jokowi pun berpesan bahwa selain menjadi tempat penyimpanan karbon (carbon sink), hutan mangrove itu berguna untuk melindungi pantai dari abrasi, memperbaiki ekosistem pantai dan ekowisata yang bisa mendorong kekuatan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Sekali lagi, sebagai negara yang memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia, jadi kita wajib memeliharanya. Karena apa pun, ini adalah kekuatan Indonesia untuk ikut berkontribusi kepada dunia,” ujar Presiden Jokowi. Badannya basah kuyup.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari

 

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber Indonesia.go.id.