KEANEKARAGAMAN HAYATI
  Anggrek hitam, salah satu anggrek asli Papua. PHINEMO

Papua Rumahnya Anggrek Indonesia

  •   Selasa, 12 Oktober 2021 | 07:23 WIB
  •   Oleh : Administrator

Tanah Papua memiliki potensi kekayaan anggrek yang besar. Bahkan Papua menyimpan hampir setengah dari seluruh spesies anggrek yang terdapat di Indonesia.

Tak ada daerah yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya di Nusantara selain tanah Papua. Koleksi flora dan faunanya begitu beragam. Salah satunya adalah tanaman anggrek (Orchidaceae). Jenis flora ini merupakan suku terbesar dari tumbuhan berbunga, yang terdiri dari hampir 25.000 spesies di seluruh dunia, sekitar 3.000-an berada di Bumi Cendrawasih.

Berdasarkan tempat tumbuhnya, tanaman anggrek digolongkan menjadi anggrek epifit dan anggrek terresterial. Anggrek epifit merupakan anggrek yang tumbuhnya menempel pada tumbuhan lain, namun tidak merugikan tumbuhan yang ditumpanginya contohnya genus Dendrobium, Bulbophyllum, dan Coelogyne.

Sedangkan anggrek terresterial adalah anggrek yang tumbuhnya di tanah, contohnya genus Spathoglottis, Calanthe, dan Paphiopedilum. Lebih dari 70 persen dari semua spesies anggrek adalah epifit. Anggota dari suku ini dapat ditemukan di seluruh dunia, kecuali padang pasir yang kering dan daerah yang selalu tertutup salju.

Sebagian besar keragamannya terpusat di kawasan tropis dan subtropis dengan sebaran dari dataran rendah sampai tinggi. Bentuk daun anggrek unik dan cantik, bahkan ada beberapa jenis yang harum baunya. Mudah merawatnya membuat banyak kalangan menyukainya. Tanaman ini sudah menjadi ikon flora asli Nusantara.

Tanah Papua memiliki potensi kekayaan anggrek yang besar. I Nyoman Lugrayasa, Peneliti UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali-LIPI menyatakan bahwa Papua menyimpan hampir setengah dari seluruh spesies anggrek yang terdapat di Indonesia.

Sebagian besar anggrek masih berupa anggrek liar atau anggrek alam dan beberapa spesies merupakan anggrek endemik Papua seperti Paphiopedilum glanduliferum (Blume) Stein, Grammitis ceratocarpa, Grammitis coredrosora, Grammitis habbensis, dan lain sebagainya.

Salah satu spesies yang terkenal adalah anggrek raksasa Irian yang dikenal dengan Grammatophyllum papuanuum. Khusus jenis anggrek Papua menjadi buruan para penggemar tananam hias, kolektor, petani bunga dari dalam negeri hingga mancanegara.

Festival Anggrek Papua

Sebagai upaya mengangkat pamor anggrek Nusantara, khususnya Papua, di sela-sela kegiatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021, para penggemar anggrek menggelar Festival Anggrek Papua atau Papua Orchid Show (POS) 2021.

Perhelatan ini bertajuk “Mari Lestarikan Anggrek Spesies Papua” digelar di Pantai Holtekamp, Kota Jayapura. Festival Anggrek Papua tersebut berlangsung pada 2--6 Oktober 2021.

Dalam POS 2021 kali ini, ada 45 peserta berpartisipasi, yakni 30 peserta dari Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), termasuk 16 pengurus daerah, dan dari komunitas serta institusi terkait. Beragam jenis anggrek ada di tempat itu, termasuk anggrek dari Papua yang terkenal eksotis. Seperti anggrek kerong, anggrek Jayawijaya, anggrek Intan Jaya, dan lainnya.

Anggrek dari Jawa Tengah koleksi dari Magelang dan Wonosobo juga dipamerkan dalam ajang tersebut. Daerah lainnya seperti Kalimantan Tengah, Kota Malang, dan Kota Bitung turut berpartisipasi dalam POS 2021.

Menurut Ketua Panitia POS 2021 Adolina Menanti, selain menampilkan koleksi anggrek terbaik dari masing-masing daerah, POS juga menyelenggarakan lomba anggrek terbaik, putri anggrek terbaik, dan tanaman hias terbaik.

POS kali ini juga menyediakan gerai tananam hias, Badan Karantina Pertanian dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Papua. "Dengan adanya pameran, kami akan membangun tali silaturahmi, antara petani anggrek, pengusaha anggrek, dan pecinta. Bagus juga untuk meningkatkan ekonomi," tukas Adolina.

Dari sekian banyak koleksi anggrek Papua yang unik ini, pesona spesies dari hutan puncak Jayawijaya menarik perhatian pengunjung pameran. Ida Sadi Reyaan, salah satu penjaga gerai Kabupaten Jayawijaya menerangkan mereka menampilkan 11 spesies asal Wamena.

Dari 11 spesies anggrek Jayawijaya itu, yang paling khas, antara lain, Dendrobium Alexandrae, Paphiopedilum Welhelmina (berbentuk seperti kantung semar), Dendrobium Finisterrae, dan Phreatia SP atau Anggrek Padi yang tumbuh di tanah. Ada pula jenis Pandang bellium yang terlihat mirip bunga gladiol dan di dalam rongga mulut bunganya seperti ada anak tikus. Semua tanaman ini diklaim asli dari hutan Wamena.

"Kalau tanaman anggrek khusus dari Jayawijaya kadang kalau di hutan ada, tumbuh begitu saja. Di atas batu melekat di kayu. Tapi kalau kita rawat di rumah. Seperti biasanya kalau kita petani sederhana bisa disiram saja setiap minggu dua kali atau tiga kali. Kalau cuaca terlalu panas kita beri vitamin dari air beras. Mungkin dua minggu sekali," jelasnya.

Bagaimana merawat koleksi anggrek di gerai pameran dengan cuaca panas terik dan terletak di tepi pantai? Idha mengaku, dirinya tidak menggunakan air beras, melainkan dengan vitamin B1. Terbukti bunga anggrek masih merekah dan segar sampai hari kelima pameran.

Ida mengaku beberapa koleksi anggrek yang dipamerkan di POS 2021 terjual habis.Rata-rata harga bunga maupun bibit anggrek di stan Jayawijaya sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000. Jenis Anggrek yang terjual adalah anggrek Dendrobium finisterrae dan Welhemina yang berada di ketinggian 18 ribu kaki di atas permukaan laut.

Anggota Dewan Juri POS 2021, Lucky Silahoy menerangkan ajang Festival Anggrek Papua ini sekaligus mempromosikan aneka ragam anggrek alam maupun anggrek hibrida (persilangan) kepada publik. Sekaligus forum saling bertukar pengalaman antara pegiat anggrek Papua dan daerah lainnya.

POS kali ini bukan forum pertama yang digelar di Jayapura. Terakhir mereka membuat ajang nasional ini pada tahun 2016. Menurut rencana, perwakilan Papua akan berpartisipasi dalan Festival Bunga di Almere, Belanda, pada April--Oktober 2022. Anggrek Papua sudah go internasional.

 

 

Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari

 

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber Indonesia.go.id.