BURSA EFEK
  Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/9/2021) Antara Foto/ Aditya Pradana Putra

Indeks Bergerak Mengincar Level Tertinggi

  •   Selasa, 19 Oktober 2021 | 10:31 WIB
  •   Oleh : Administrator

IHSG merangkak naik sekitar 8,9 persen sepanjang tiga minggu dan mendekati level all time high 6.689. Sentimen positif bertaburan. Level all time high bisa terlampaui dalam waktu dekat.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) cukup mendebarkan pada sesi perdagangan, Senin (18/2/2021) pagi. Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat 32 poin hingga ke level 6.667, mendekat ke angka 6.689, level tertinggi sepanjang sejarah alias all time high yang tercatat pada Februari 2018.

Sebanyak 228 saham naik, 56 saham turun dan 251 saham stagnan. Semua indeks sektoral menguat, dalam menopang kenaikan IHSG. Yang mengalami kenaikan terbesar adalah IDX sektor bahan baku, yang terungkit 1,27%, IDX sektor transportasi naik 0,86%,, dan IDX sektor perindustrian terkerek tipis 0,45%.

Para investor yang bermain di BEI berharap bisa pecah rekor, IHSG tembus melampaui level tertinggi all time high 6.689. Namun, rupanya IHSG bergerak alot. Hingga sampai penutupan sesi I hari itu dia hanya bertengger di level 6.666. Bahkan, pada sesi kedua ia terkoreksi tipis dan turun ke level 6.658, masih dalam zona positif–ada kenaikan dari posisi Jumat (15/10/21).

Dalam beberapa hari ke depan, ada saja kemungkinan besar IHSG bakal terkoreksi beberapa puluh poin, gagal mencapai level all time high, untuk kemudian mengalami dinamika barunya lagi setelah tiga pekan secara konsisten mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yakni 8,9 persen. Aksi ambil untung bisa jadi tak terelakkan. Toh, sejumlah analis meyakini IHSG masih berpeluang bergerak naik, ke level 6.750, lantaran banyak saham yang belum mengalami kenaikan sepadan dengan kinerjanya, dan baru berikutnya terjadi aksi profit taking.

Kenaikan IHSG itu menandai semakin besarnya valuasi modal yang dipertaruhkan di BEI. Pada sesi penutupan pekan sebelumnya, Jumat (15/10/21), dengan IHSG pada level 6.633, kapitalisasi bursa telah menembus angka Rp8.134 triliun. Ada kenaikan 2,34 persen pada IHSG di pekan itu (11--15 Oktober 2021), dengan traksaksi harian rata-rata Rp17,5 triliun. Modal asing terpantau mengalir cukup deras ke BEI, dengan nilai Rp23,8 triliun selama satu bulan terakhir (month on month).

Sentimen Positif

Kenaikan IHSG menjadi salah satu indikator kegiatan ekonomi. Bila ekonomi dianggap cerah, maka para investor bergairah menanamkan modal mereka ke dalam portofolio saham, dengan harapan  market akan menggeliat. Perkembangan bisnis yang positif akan meniupkan sentimen positif, juga sebaliknya. IHSG akan dipengaruhi langsung oleh sentimen pasar di dalam dan luar negeri.

Sebelum memasuki pekan terakhir September 2021, sentimen positif sebetulnya sudah membanjir ke pasar modal. Harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) melesat tinggi, begitu halnya dengan batu bara dan timah. Banyak sektor industri yang melaporkan pertumbuhannya. Di saat yang sama situasi pandemi Covid-19 di Indonesia terus membaik, dengan angka insidensi kasus baru bergerak ke level di bawah 1.000 kasus terkonfirmasi per hari, positivity rate di bawah 1 persen, PPKM meluncur ke level yang lebih rendah dan angka kematian jauh menyusut.

Namun, pergerakan naik masih tertahan oleh isu-isu dari luar negeri. Ganjalannya, antara lain, dari kisruh keruntuhan Evergrande Group, raksasa properti dari Tiongkok, yang dikhawatirkan dampaknya merembet  ke sana-kemari, karena tangan-tangan bisnisnya selama ini menjangkau banyak sektor bisnis di luar Tiongkok. Ganjalan keduanya ialah isu The Federal Reserve AS yang akan membeli banyak obligasi dan menaikkan suku bunganya. Semua menunggu.

Ganjalan besar itu mencair setelah muncul kabar bahwa Pemerintah Tiongkok akan siap membantu Evergrande. Pada saat yang sama, The Fed memberi isyarat kuat akan menaikkan suku bunga. Di tengah situasi yang kondusif itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, ekonomi Indonesia pada kuartal III-2021 tumbuh 4--5 persen. Ganjalan lepas, dan IHSG pun mulai merangkak naik.

Hari-hari berikutnya terus diwarnai oleh sentimen positif terkait pandemi yang menyusut, vaksinasi yang terus meningkat, dan kebijakan pemerintah membuka kembali Bali untuk wisatawan asing per   14 Oktober (dengan persyaratan yang ketat). Kuatnya harga komoditas CPO, batu bara, timah, nikel olahan, turut menyediakan daya dorong.

Pekan pertama dan kedua Oktober 2021 diwarnai sentimen positif oleh window dressing sejumlah emiten, yang menunjukkan laporan kinerja sementaranya sebelum tutup buku di akhir tahun. Aksi window dressing itu bisa menjaga momentum kenaikan IHSG. Paparan kinerja sejumlah bank pelat merah, PT Telkom, PT Astra International, dan sejumlah BUMN Karya dianggap bisa menyebarkan aroma segar yang mendorong kegairahan di lantai BEI.

Sentimen positif itu pun berlanjut dengan penyampaian Menteri BUMN Erick Thohir tentang laba di lingkungan perusahaan milik negara. Menteri Erick Thohir menyebutkan, laba pada semester I-2021 di seluruh BUMN, mencatat kenaikan 356 persen dibandingkan laba semester I-2020. Program pemulihan ekonomi nasional (PEN) memberi hasil.

Namun, seberapa jauh segenap sentimen positif itu bisa memenuhi harapan bahwa pada akhir tahun IHSG bisa mencapai 7.000? Bila melihat fakta bahwa dalam tiga pekan IHSG bisa naik lebih dari 500 poin, harapan itu bukan hal yang mustahil. Namun, pola yang selama ini terjadi, IHSG naik pada Oktober, kemudian turun selama November, dan naik lagi sepanjang Desember.

Sentimen positif dari dalam  negeri tampaknya cukup banyak, tapi  IHSG itu juga sangat dipengaruhi kondisi pasar regional dan global.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari