PAPUA
  Warga Sota menanam emas hijau (vanili) sebagai komoditi baru. Harganya menggiurkan. Eri Sutrisno / INDONESIA.GO.ID

Menambang Emas Hijau di Sota

  •   Jumat, 8 Oktober 2021 | 22:27 WIB
  •   Oleh : Administrator

Puluhan masyarakat Sota, Merauke, menanam emas hijau (vanili) sebagai komoditi baru. Harganya stabil dan sangat menjanjikan.

Pada siang itu, Musa Dimar, warga Kampung Sota, Kabupaten Merauke, Papua sedang membersihkan salah satu kebunnya yang berukuran 50 x 50 meter persegi yang terletak di belakang rumahnya.

Sepetak kebun itu tampak bersih karena setiap daun jatuh, dia ambil dan dimasukkan ke kotak kayu, sebagai pembatas pangkal pohon vanili. Kotak papan berukuran panjang 1 cm, lebar 50 cm, dan tinggi 20--30 cm itu berjajar rapi, berjarak semeter antarpetak. Kotak-kotak itu ia isi dengan tanah humus, kohen (kotoran hewan), dan daun-daun yang rontok dari pohonnya.

Kebun itu ditanami pohon gliresida. Dalam bahasa local disebut pohon gamal. Pohon-pohon gamal itu tumbuh subur dan dipakai sebagai tegakan sekaligus rambatan tanaman vanili. “Akar vanili itu berada di atas tanah, sehingga perlu dilindungi dengan daun-daun supaya terjaga kelembabannya,” kata Musa.

Kampung Sota, berada di dalam Taman Nasional Wasur, Papua. Warga menggantungkan hidup pada hasil bumi secara tradisional seperti keladi, pisang, sagu, petatas, jagung, nangka, mangga, nenas, dan ketela pohon. Juga berbagai sayuran, seperti kol, sawi, tomat, dan cabai.

Kampung Sota berada tidak jauh dari Titik Nol Kilometer batas negara Indonesa dan Papua New Guinea (PNG) di Sota. Musa, lelaki umur 50 tahun itu memelihara tanaman vanili dengan tekun. Setiap hari dirinya membersihkan kebun dan mengawinkan vanili. Maklum vanili tidak mampu melakukan penyerbukan sendiri.

Kini, ada puluhan pohon vanili milik Musa yang tengah berbuah. Ada yang sudah tua, masih muda, bahkan ada yang masih berbunga. Setiap dua hari sekali Musa menyiram tanaman vanili dengan air sumur dari samping rumahnya.

Musa bertutur, ia tertarik menanam vanili karena sebelumnya sering diminta tolong pedagang Merauke mencari vanili ke sebelah. Sebelah adalah istilah kampung di luar perbatasan atau wilayah PNG yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya.

Musa pun tergiur oleh transaksi jual beli vanili tersebut. Bayangkan, setiap kali ia membayar vanili kering per kilonya antara 4 juta—5 juta rupiah atau basah per kilonya mencapai 500 ribu. Hingga muncul pertanyaan kecil dibenaknya, “Kenapa tidak bisa tanam sendiri vanili di Sota? Sehingga tak harus cari di PNG (Papua Nugini).”

Masyarakat Sota, masih satu darah dengan sebagian besar penduduk PNG perbatasan. Mereka masih dalam bagian suku besar Marind, terutama subsuku Kanum. Sehingga sebagian dari mereka punya kartu merah yang bisa menjadi izin perjalanan ke sebelah dan sebaliknya. Mereka terpisahkan oleh garis negara tapi mereka masih punya darah dan tanah yang sama. Bahkan menurut mereka, penguasaan tanah suku Marind juga sampai di seberang.

Di Kampung Sota ini juga terdapat ratusan kepala keluarga dari Jawa, sebagai transmigrasi pertahanan. Nah, suku Jawa di sana ternyata juga mampu dimanfaatkan oleh masyarakat asli Sota untuk belajar bertani. Kedua kelompok sampai sekarang hidup damai tanpa konflik. Mereka hidup rukun dan damai.

Tiga tahun lalu ia mengubah kebunnya yang ukuran 50x50 meter persegi menjadi kebun vanili.  Awalnya ia minta bibit vanili ke saudaranya di PNG. Bibit-bibit itu disemaikan kembali menjadi ratusan pohon.

Dua varian vanili yang dia kembangkan adalah jenis Vanili Tahiti dan Vanili Planifolia. Vanili Tahiti, daunnya lebih kecil dan keras. Begitu pula buahnya tebal dan kuat, tidak mudah pecah kalau dijemur. Buahnya lebih panjang. Sementara itu jenis Planifolia daunnya lebih lebar, dan buahnya lebih lunak dan baunya lebih wangi. Hanya saja ia mudah pecah kalau dijemur.

Secara ekonomi, kebun vanili milik Musa memang belum menghasilkan. Tapi Musa sekarang sudah asyik dengan kebun vanilinya dan meninggalkan aktivitas berburu dan mengojek. Pria asal suku Kanum itu cukup optimistis kebun vanili miliknya bisa memberikan dukungan yang menjanjikan bagi ekonomi keluarganya di masa datang.

Musa tidak ingin menyimpan sendiri pengetahuannya soal bertani vanili. Ia pun mengajak serta saudara dan tetangganya. Kini, sebanyak 25 orang warga Kampung Sota dari Distrik Sota, Kabupaten Merauke bergabung dalam kegiatan itu.

“Saya tidak mau merobek baju orang. Biarkan mereka yang ada kemauan untuk belajar dengan saya soal berkebun vanili,” ujarnya. Merobek baju sebagai istilah ia tidak ingin memaksa orang lain untuk ikut. Tapi kalau pun mereka ikut itu atas kehendak sendiri.

Di sekitar Sota sebenarnya banyak petani yang membudidayakan vanili. Petrus Ndiken adalah penggeraknya. Setelah kuliah di Jawa, dia kembali ke kampung halaman. Dia pun merangkul kaum muda bertanam vanili. Kampung lokal dampingan Petrus, antara lain, Kampung Yanggadur, Onggaya, Toray, Baidup, Bupul. Ia masuk dalam program anggaran belanja kampung.

Petrus mengajak 80 warga memulai mengembangkan vanili. Dia mulai bentuk kelompok usaha pertanian lokal, termasuk pengurus kelompok usaha vanili Kampung Sota. Dia mengajak juga tukang ojek dan karang taruna.

Petrus pun bergabung dalam Perkumpulan Petani Vanili Indonesia, yang baru terbentuk Desember 2018 di Bondowoso, Jawa Timur. Dari sana, dia banyak mendapatkan berbagai informasi seputar bisnis tanaman ini. Ia berharap masyarakat Merauke, menjadi mandiri dengan mengembangkan potensi yang ada, salah satunya vanili.



Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari

 

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber Indonesia.go.id.