PEMULIHAN EKONOMI
  Kapal pembawa peti kemas bersandar di New Priok Container Terminal One, Jakarta Utara, Jumat (9/4/2021). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.

Konsumsi dan Investasi Jadi Instrumen Pertumbuhan

  •   Jumat, 4 Juni 2021 | 13:31 WIB
  •   Oleh : Administrator

Kinerja ekspor dan impor yang secara berturut-turut tumbuh 6,74 persen dan 5,27 persen memberikan sinyal yang positif. Ekonomi Indonesia sudah berada pada jalurnya.

Tren makro ekonomi yang terus membaik, dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik, menguatkan tekad pemerintah untuk mempertahankannya. Bahkan, pemerintah akan terus digenjot menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Dalam rangka itulah, ada tiga komponen utama pembentuk produk domestik bruto nasional yang kini dikejar, sebagai mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Di triwulan II-2021, pemerintah menargetkan pertumbuhan pada kisaran 7 persen.

Ketiga komponen menurut pengeluaran, seperti disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, adalah konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga (LNPRT), dan pembentuk modal tetap bruto/investasi.

“Tentu kita harus berkonsentrasi pada konsumsi rumah tangga, LNPRT, dan terkait PMTB. Ini yang harus kita dorong di triwulan II-2021 agar kita bisa tumbuh lebih tinggi, atau di kisaran 7 persen,” katanya dalam bincang dengan wartawan secara virtual di Jakarta, Rabu (19/5/2021).

Sepanjang triwulan I-2021, ketiga komponen pengeluaran itu menyumbang 88,91 persen produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan yang mencapai Rp2.683,1 triliun.

Airlangga berkeyakinan, bisa mencapai angka pertumbuhan ekonomi pada kisaran 7 persen karena pada triwulan II-2020 berada pada basis yang sangat rendah. Saat triwulan II-2020, realisasi PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp2.589 triliun.

“Di kuartal I-2021 ini kita Rp2.683 triliun, sehingga tentu untuk Rp2.700-an triliun relatif bisa tercapai. Mengingat, beberapa kebijakan yang sudah dilakukan dan peredaran jumlah uang,” ucap Airlangga.

Beberapa indikator memang menguatkan keyakinan pemerintah. Airlangga menjelaskan, indikator itu adalah peredaran uang kartal pada lebaran 2021 yang meningkat 41,5 persen atau Rp154,5 triliun dibandingkan tahun lalu. Khusus di Jabodetabek, imbuhnya, realisasi bahkan mencapai Rp34,8 triliun atau melonjak 61 persen.

Hal itu menunjukkan kebijakan pemerintah soal tunjangan hari raya (THR) yang harus dibayar penuh memberi likuiditas di pasar. “Tentu dengan angka-angka tersebut kami optimistis bahwa perekonomian akan kembali berada di trek positif,” katanya.

Melihat produk domestik bruto secara kuartalan, dia menegaskan, grafik pertumbuhan Indonesia sudah membentuk huruf V. Konsumsi pemerintah pada triwulan I-2021 tumbuh 2,96 persen dibandingkan periode sebelumnya.

 

Jalur Positif

Menurutnya, jalur positif juga terlihat pada ekspor dan impor. Secara berturut-turut, keduanya tumbuh 6,74 persen dan 5,27 persen. Ini memberikan sinyal positif bahwa ekonomi Indonesia sudah berada pada jalurnya.

Pendapat senada diungkapkan Menteri BUMN Erick Thohir. Dirinya optimistis perekonomian nasional yang sebelum terdampak pandemi Covid-19, akan kembali normal pada 2022. “Kita optimistis pada tahun depan perekonomian nasional akan kembali normal,” ujar Erick seperti dikutip Antara.

Erick meyakini, dengan dukungan yang diberikan DPR, pemerintah pusat dan daerah, terlebih lagi dukungan pihak swasta, pemulihan ekonomi nasional akan berjalan lebih baik. Menteri BUMN itu juga berpesan kepada semua pihak agar terus menyebarluaskan informasi tentang pentingnya menjalankan disiplin protokol kesehatan terhadap diri sendiri.

Sikap optimisme juga menyeruak juga di kalangan analis. Salah satunya diungkapkan Head of Macroeconomic & Market Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dian Ayu Yustina. Dia menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2021 diperkirakan dapat tembus di atas 6 persen.

Sebelumnya, pertumbuhan PDB Indonesia di kuartal I-2021 masih terkontraksi sebesar 0,74 persen. Pertumbuhan positif di kuartal II-2021 dapat terjadi karena low-base effect yang disebabkan oleh kontraksi ekonomi pada kuartal yang sama di tahun sebelumnya.

“Walaupun ada faktor [low base effect] karena tahun lalu kita kontraksi cukup dalam. Namun, rebound-nya juga akan ditopang oleh perbaikan aktivitas ekonomi di kuartal II-2021,” ujarnya.

Beberapa faktor pendukung pertumbuhan berasal dari belanja pemerintah yang memang sudah menjadi salah satu pendorong utama yang positif pada PDB di kuartal I-2021. Secara terperinci, belanja modal pemerintah cukup meningkat signifikan untuk proyek infrasturktur yang sempat tertunda di 2020.

Selain itu, belanja untuk anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), yang salah satunya membiayai pembelian vaksin, juga ikut berpotensi mendorong pertumbuhan positif di kuartal II-2021.

Tak dipungkiri, program vaksinasi yang relatif on the track dapat mendukung prospek pemulihan ekonomi ke depan. Sehingga secara keseluruhan 2021, ekonomi Indonesia tumbuh lebih baik lagi.

Memang ada juga suara yang menyangsikan pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen di triwulan II-2021 bisa tercapai. Alasan yang dipakai terkait asumsi itu adalah pertumbuhan konsumsi masyarakat yang lebih tinggi karena faktor Ramadan dan Idulfitri. Umumnya kedua faktor ini mendorong meningkatnya permintaan barang dan jasa dari masyarakat.

Terlepas dari semua itu, besar harapan pertumbuhan ekonomi bisa terus tumbuh dan terbang tinggi. Masyarakat sudah cukup menderita dengan kondisi tanpa ada geliat ekonomi. Namun untuk menuju ke arah itu, vaksinasi massal wajib terus ditingkatkan selain masyarakat wajib mematuhi protokol kesehatan.

 

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari