PAPUA
  Anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) Lekagak Teleggen masuk daftar DPO Polri. Satgas Nemangkawi

Tujuh Kelompok Bersenjata di Pegunungan Tengah

  •   Rabu, 26 Mei 2021 | 16:10 WIB
  •   Oleh : Administrator

Ada tujuh kelompok bersenjata yang diketahui aktif bergerak di kawasan Pegunungan Tengah, Papua. Tokoh utamanya adalah Goliat Tabuni dan Lekagak Tenggelen. Kekerasan merupakan jalan mereka.

Panjang landasannya hanya 600 meter dengan lebar 23 meter, namun kondisinya teraspal rata dan mulus. Sebuah bangunan berangka besi, berdinding aluminum, dan beratap seng biru langit, berukuran 24 kali 10 meter persegi, menjadi terminalnya. Meski sederhana, bandara ini cukup sibuk. Sehari biasa melayani 25--30 penerbangan, bahkan bisa 40 kali bila cuaca cerah.

Namanya Bandara Aminggaru. Lokasinya di Distrik Ilaga, kota mungil di pegunungan, 2.282 meter di atas permukaan laut, yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Puncak, Papua. Bandara ini bisa diakses dengan penerbangan 30 menit dari Bandara Timika, atau sekitar 40 menit dari Wamena (di sisi timur) dan 45 menit dari Nabire di utara.       

Bandara Aminggaru adalah pintu utama bagi segala barang logistik ke Ilaga. Posisinya strategis. Tak heran, bandara itu sering menjadi sasaran teror kelompok kriminal bersenjata (KKB), yang secara laten terus bergentayangan di pedalaman Papua. Belakangan, kawasan Ilaga pun menjadi perhatian publik nasional, menyusul serangkaian serangan KKB yang dipimpin Lekagak Telenggen. Mereka menyebut diri sebagai bagian dari Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM).

Satu unit KKB Lekagak Telenggen itu kembali menyerang Bandara Aminggaru pada pertengahan April 2021. Petugas keamanan bandara dari TNI-AU mengejar dan menembak mati satu penyerang. Hari-hari berikutnya, kelompok KKB itu mengamuk di kampung-kampung di sekitar Ilaga, membakar rumah warga dan gedung sekolah, menganiaya, bahkan membunuh penduduk sipil.

Puncaknya adalah ketika kelompok  KKB itu mencegat rombongan Kepala Badan Inteljen Negara Daerah (Kabinda) Papua Brigjen Putu Danny Karya Nugraha. Ketika itu, rombongan Brigjen Putu Dany sedang bersepeda motor untuk meninjau kampung di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, yang baru saja dibakar kelompok bersenjata.

Di satu lembah, rombongan itu dihadang, dihujani tembakan. Sempat terjadi baku tembak. Brigjen Putu Danny tertembak dan gugur (25 April). Peristiwa itu yang membuat pemerintah mengevaluasi operasi penindakan hukum kepada KKB Papua. Hasilnya, aksi KKB dinyatakan sebagai tindak pidana terorisme dan perlu dihadapi dengan kekuatan lebih besar, laiknya menghadapi terorisme.

Enam Kelompok Menyusup

Kekuatan TNI-Polri segera mengejar kelompok Lekagak Tenggelen yang bersembunyi dan berpencar di seputar Distrik Ilaga. Sepanjang tiga pekan terakhir, 15 milisi KKB ditembak mati karena tak mau menyerah saat disergap di pondok persembunyiannya di sejumlah lokasi. Kelompok ini diduga lari  ke hutan-hutan pegunungan yang sulit dijelajahi. Pasukan TNI-Polri terus mengejar,

Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri menyatakan, justru di tengah gencarnya pasukan TNI-Polri mengejar Lekagak Tenggelen, enam gerombolan lain malah masuk ke Distrik Ilaga. Mereka datang dari daerah operasi mereka di Puncak Jaya, Distrik Sugapa Intan Jaya, Distrik Pilia (Kabupaten Jayawijaya), Paniai, Kuyawage, dan Lanny Jaya. Kekuatan mereka sekitar 150 orang, dengan 70 pucuk senjata.

Kelompok baru ini bermaksud menyusup lantas menghadang pasukan TNI-Polri yang aktif bergerak memburu Lakagak Tenggelen. Untuk menyarukan penyusupan ke Ilaga, jaringan KKB  itu membuat serangan pengalih perhatian di dua tempat terpisah dalam waktu yang hampir bersamaan, yakni pada Selasa 18 Mei 2021.

Pada hari itu, di Distrik Surambakon, Kabupaten Pegunungan Bintang, tim gabungan patroli dari Batalyon Infanteri 403/Wirasada Pratista yang bermarkas di Sleman, DIY, dan Batalyon Infanteri 310/Kidang Kancana (Sukabumi, Jawa Barat) diserang, tatkala mobil mereka menyeberangi sebuah jembatan kayu. Kekuatan mereka 12 orang. Serangan itu membuat empat prajurit terluka di bagian kaki. Sedangkan penyerang cepat kabur begitu ada tembakan balasan.

Pada hari yang sama, di Distrik Dikai, Kabupaten Yahukimo, dua anggota Batalyon Infanteri Para Raider 432/Waspada Setia Jaya atau sering disingkat Yonif Para Raider 432/WSJ dari Maros, Sulawesi Selatan, disergap dan  dikeroyok sekitar 20 orang. Dua personel TNI itu tengah bertugas menjaga pembangunan pagar bandara. Keduanya gugur dengan luka bacok dan senjata mereka pun dirampas.

Serangan pada saat yang hampir bersamaan tentu tidak bisa dianggap kebetulan semata. KKB Papua itu memang terdiri dari sejumlah grup, yang mesti satu sama lain relatif independen mereka bisa bekerja sama dalam batas tertentu. Kelompok bersenjata itu sudah ada sejak era 1970-an dan tak pernah hilang. Patah tumbuh hilang berganti, kendati tak pernah benar-benar tumbuh menjadi kelompok besar.  

Tujuh Kelompok Bersenjata

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah membuat pemetaan sendiri terkait kelompok bersenjata itu. “Saat ini ada tujuh grup yang aktif,” kata  Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar, yang pernah berurusan dengan KKB saat menjabat Kapolda Papua pada 2017-2018. Menurut Boy, masing-masing grup punya wilayah operasi sendiri, meski batas-batasnya cukup fleksibel.

Kelompok bersenjata itu juga tidak memiliki markas tetap. “Mereka selalu bergerak, mobile, namun mereka punya basis wilayahnya sendiri,” Boy Rafli menambahkan.

Wilayah penjelajahannya adalah kawasan dataran tinggi Papua yang sering disebut Pegunungan Tengah. Ke-7 kelompok yang disebut Boy Rafli Amar itu masing-masing adalah:

  1. Kelompok Yambi

Gerombolan KKB di bawah Lekagak Telenggen itu sering juga disebut Kelompok Yambi. Beroperasi  di Kabupaten Puncak, Lekagak Telenggen memilih bergentayangan di sekitar Distrik Ilaga. Ia leluasa mengambil alih dusun terpencil dan menjadikannya sebagai markas. Bila melihat ada ancaman dari petugas TNI-Polri, ia memindahkan markasnya ke kampung yang lain.

Di antara pimpinan KKB yang lain, Lekagak Telenggen cukup dihormati. Ia adalah tokoh kedua yang dituakan setelah Goliat Tabuni. Anak buahnya pun termasuk paling nekat. Mereka berani jual beli tembakan dengan pasukan TNI-Polri pada jarak relatif dekat dalam durasi cukup lama. Kelompok Yambi ini juga biasa melakukan aksi dalam kelompok-kelompok kecil. Tak jarang mereka bergerak menyeberang ke daerah Mimika dan ikut berbuat onar di sekitar pertambangan Freeport.

Namun sejak sebulan terakhir, kekuatan kelompok itu banyak menyusut. Lekagak Telenggen kehilangan belasan anak buah, termasuk dua orangnya yang berpengalaman, yakni Lesmin Walker dan Welingen Tabuni. Keduanya tewas ditembak petugas. Mereka semua disebut kelompok Yambi, karena kiprah pertamanya pada 2006 bermula dari Distrik Yambi, Puncak Jaya. 

  1. Kelompok Tingginambut

Di antara para pemimpin milisi KKB, Goliat Tabuni adalah nama yang dituakan. Ia memimpun KKB Tingginambut, nama yang diambil dari satu distrik di Kabupaten Puncak Jaya, tempat Goliat mulai membangun sarang KKB, setelah bergeser dari Mimika.

Goliat Tabuni sering menyebut dirinya panglima tertinggi Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM). Ia dilantik sebagai panglima 11 Desember 2012 di Tingginambut, usai  dilaksanakan konferensi TPN-OPM yang  diklaim dilaksanakan di Perwomi Biak, 1--5 Mei 2012. Bila Goliat Tabumi adalah panglima, maka Lekagak Tenggelen adalah kepala stafnya. Toh, di lapangan mereka tak punya garis komando yang kuat ke kelompok lain.

Kiprah Goliat Tabuni melawan pemerintah dimulai pada 2004, dengan mendampingi tokoh senior Kelly Kwalik yang disegani sayap militer OPM. Namun Kwalik tewas dalam serangan polisi di salah satu tempat persembunyiannya di Gorong-Gorong, Timika, 16 Desember 2009. Goliat lantas mengambil alih kepemimpinan.

Sejak merasa dirinya sebagai Panglima TPN-OPM, Goliat Tabuni lebih banyak berada di Puncak Jaya dengan Tingginambut disebut sebagai markas besarnya. Dalam keseharian, ia tak ubahnya pimpinan KKB biasa. Ia sering memimpin anak buahnya menyerang tentara atau polisi dan terlibat baku tembak.

Goliat juga bisa berlaku kejam. Ia pernah menangkap seorang anggota Polri, menyekapnya, dan menembaknya hingga tewas. Alasannya, sebagai balas dendam atas kematian anak buahnya akibat diterjang peluru petugas.

  1. Kelompok Gome

Militer Murib dan Peni Murib adalah dua pentolan milisi yang memimpin kelompok bersenjata tersendiri. Mereka kini beroperasi di Kabupaten Puncak Jaya. Sebelumnya, mereka lebih sering bermarkas di Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua. Di sana mereka hidup dengan menguasai kampung-kampung terpencil. Mereka menjadi penguasa, dan warga kampung adalah rakyatnya.

Kelompok Gome diduga merupakan pecahan dari Kelompok Yambi. Militer Murib dan Peri Murib membangun kelompok sendiri setelah berhasil mengumpulkan senjata dan personel. Kekuatannya sekitar 50 orang dengan 20 pucuk senjata.

Kelompok ini yang diduga melakukan penyenderaan dan pemerasan atas pilot dan tiga penumpang pesawat jenis Pelatus milik Susi Air di lapangan udara Distrik Waybe, Kabupaten Puncak. Tidak ada kekerasan selama dua jam penyenderaan berlangsung pada 12 Maret 2020.

Sebagian anggota KKB Gome memang telah masuk ke Kabupaten Puncak sejak beberapa bulan lalu, dipimpin Peni Murib. Pada 16 April 2021, Peni Murib terlibat dalam penembakan seorang siswa SMA Ilaga. Alasannya, remaja itu dianggap anggota Barisan Merah Putih. Ada rekaman video yang memperlihatkan jasad sang siswa tergeletak di semak dengan sepeda motor yang terbakar, dan di situ Peni Murib menyampaikan pesan keras , akan menembak semua informan TNI-Polri. Video itu diunggah di berbagai platform medsos dan disebar secara luas.

Ketika pasukan TNI-Polri melakukan pengejaran terhadap segerombolan KKB yang bersembunyi di Kampung Maki, Distrik Ilaga Utara, Kabupaten Puncak, baku tembak pun terjadi. Seorang anggota KKB tewas tertembak. Dari penyelidikan di TKP, petugas menemukan jejak Peni Murib di situ. Ia kabur bersama anggotanya yang lain.

  1. Kelompok Lanny Jaya

Tak banyak mendapat sorotan media, KKB pimpinan Purom Okiman Wonda itu termasuk yang gencar melakukan serangan. Dalam catatan kepolisian, Okiman Wonda terlibat dalam sejumlah kasus kekerasan.

Salah satu aksinya adalah menembak anggota Brimob hingga tewas di wilayah Puncak Jaya, lantas merebut  senapan mesin ringan jenis Arsenal, Januari 2011. Kelompok KKB itu juga tercatat telah menembak dan merampas pistol revolver Kapolsek Mulia AKP Dominggus Awes, di Bandara Mulia, Puncak Jaya, November 2021. 

Masih pada 2011, kawanan Okiman Wonda itu menyerang dan merampas senapan AK-47 dari tangan anggota Brimob, di Distrik Tiom, Lanny Jaya. Mereka juga menyerang Polsek Pirime, Lanny Jaya, November 2012, yang mengakibatkan tiga anggota Polri gugur.

Tahu persis bahwa insiden itu akan mengundang peninjauan oleh petinggi Polri, Okiman Wonda pun mengambil posisi pencegatan. Benar, ternyata Kapolda Papua, yang ketika itu dijabat oleh Irjen Tito Karnavian, datang meninjau tempat kejadian perkara (TKP) di Polsek Pirime. Tapi penghadangan itu gagal total.

Penyerangan terus dilakukan. Kelompok Okiman Wonda ini pula yang bertanggung jawab atas kejahatan penembakan dan perampasan senjata api Polri di Jalan Trans Indawa-Pirime, 28 Juli 2014. Berikutnya, penembakan terhadap anggota TNI 756 di lapangan terbang di Distrik Pirime Kabupaten Lanny Jaya yang mengakibatkan satu personel TNI luka tembak pada 2015.

Satu penyerangan lainnya mereka lakukan terhadap personel TNI-Polri yang mengawal kegiatan pemetaan di Puncak Popone, Desember 2017, dan satu serangan lainnya ke petugas keamanan yang tengah melakukan pengejaran, 3 November 2018. Tentu, Purom Okiman Wonda menjadi salah satu pentolan KKB yang paling dicari oleh tim TNI-Polri.

  1. Kelompok Nduga

Di antara KKB, kawanan Egianus Kogoya ini diketahui berisi oleh orang-orang muda. Egianus sendiri usianya masih di awal 20-an, begitu halnya para anak buahnya. Mereka beroperasi di wilayah Kabupaten Nduga. Keahliannya membuat propaganda melalui media sosial. Namun, kesatuannya tak  cukup solid dan banyak yang menyerah. Ketika markasnya di Distrik Kenyam, Nduga, didatangi pasukan TNI-Polri April lalu, Egianus dan anak buahnya memilih kabur tanpa memberi perlawanan.

  1. Kelompok Tembagapura

Dulunya mereka beroperasi di sekitar Tembagapura, Mimika. Namun merasa terdesak di Mimika, KKB itu bergeser ke Kabupaten Intan Jaya. Pemimpinnya Sabinus Waker. Anggotanya sekitar 50 orang dengan sekitar 25 pucuk senjata. Markas mereka tak jauh-jauh dari Distrik Sagapa, kota kecil yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Intan Jaya. Kelompok ini sesekali berani masuk ke Distrik Sagapa dan menyerang petugas. Namun, Sabinus Waker kini harus terus berpindah markas karena diburu oleh pasukan TNI-Polri.

  1. Kelompok Kali Kopi

Beroperasi di Kabupaten Mimika, kelompok ini punya jejak aksi yang panjang. Pimpinan grup disebut sebagai Johny Botak adalah sosok yang berpengalaman. Ia disebut-sebut pernah bersama Goliat Tabuni mengawal tokoh OPM Kelly Kwalik. Ada pun Kelly Kwalik adalah komandan OPM yang pernah melakukan penyenderaan terhadap sejumlah peneliti di kawasan Distrik Mapenduma, Kabupaten Nduga. Namun, Kelly Kwalik terus berpindah-pindah markas dan sering masuk ke Timika.

Kelompok Johny Botak ini bertahan di Kabupaten Mimika, dan banyak menghabiskan waktunya di kawasan Kali Kopi, di wilayah utara kabupaten tersebut. Kelompok ini menjadi gangguan laten bagi Freeport. Mereka sering melakukan penembakan terhadap mobil-mobil Freeport. Bahkan, pada 30 November 2018, mereka menyusup ke area inti PT Freeport di Kuala Kencana, dan menembak ke arah karyawan. Seorang pekerja asal Selandia Baru, Graene Thomas Wall, tewas tertembak.  

Kepada warga kampung yang dianggap tidak koperatif, mereka juga berlaku keras. Kelompok ini pernah menyandera warga dua desa, Banti 1 dan Banti 2, di Mimika, pada 2017, dan baru mundur ketika TNI-Polri menggelar operasi senyap. Kelompok Kali Kopi ini juga tidak kalah kejam dari yang lain. Mereka mengeksekusi mati warga yang dituduh mata-mata, membakar gedung sekolah, klinik kesehatan, bahkan gereja.

Banyak dari anggota kelompok Kali Kopi ini yang tertangkap atau tertembak mati. Tapi, Johny Botak tidak pernah kekurangan personel. Anak buahnya diperkirakan lebih dari 100 orang.

Tujuh kelompok itulah yang belakangan bergerak secara lebih terorganisir. Mereka tampaknya tidak berniat berhenti melakukan kekerasan. Segala bentuk layanan pemerintah kepada warga pedalaman akan disabotase. Program layanan kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, perhubungan, dianggap menjadi ancaman, karena akan mendekatkan warga dengan pemerintah.

Mereka tahu, hanya di lingkungan masyarakat yang tertinggal dan terisolir mereka bisa menjadi penguasa, memisahkan rakyat dari pemerintahnya, seraya menjejalkan ide-ide.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini