INFRASTRUKTUR
  Pembangunan Stasiun Pompa Ancol Sentiong. KemenPUPR

Membangun Rumah Pompa Ancol Sentiong

  •   Minggu, 16 Mei 2021 | 08:21 WIB
  •   Oleh : Administrator

Dalam rangka mengurangi risiko banjir di Jakarta Utara, Kementerian PUPR membangun Stasiun Pompa Ancol Sentiong.

Sejumlah kegiatan dilakukan pemerintah sebagai upaya dalam mengurangi kerentanan kawasan metropolitan Jakarta dari bencana banjir. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane, tengah menyelesaikan pembangunan Stasiun Pompa Ancol-Sentiong di Jl RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Rumah pompa yang berada di hilir Kali Sentiong ini merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir (flood control) Jakarta. Penanganan banjir Jakarta dikerjakan secara komprehensif dari hulu hingga hilir.

"Di hulu terdapat dua bendungan kering, yaitu Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi, yang insyaallahselesai akhir 2021," kata Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan Endra S Atmawidjaja, yang juga merupakan Juru Bicara Kementerian PUPR, pada Selasa, 4 Mei 2021.

Selanjutnya pada bagian tengah, sudah dilakukan normalisasi Kali Ciliwung sepanjang 33 km, yang kini sudah selesai sejauh 16 km. Direncanakan pada 2021 akan bertambah sepanjang 1,6 km. Di kawasan hilir terdapat pembangunan Stasiun Pompa Ancol-Sentiong untuk mengurangi risiko banjir yang sering menggenangi tiga kecamatan di Jakarta, yakni Kecamatan Tanjung Priok,  Pademangan, dan Kemayoran.

Metode pengendalian banjir pompa Sentiong itu dilakukan dengan memompa air Kali Sentiong ketika elevasinya tinggi dan mengalirkannya kembali ke Teluk Jakarta. "Ini kan daerah rendah, jadi kalau air di Teluk Jakarta itu tinggi, masih bisa kita pompa. Dengan adanya pompa ini kita masih bisa dorong air ke laut sehingga tidak tersumbat di tengah," ujar Endra.

Salah satu fungsi pompa Ancol-Sentiong digunakan untuk penanganan yang sifatnya darurat. Misalnya, dilakukan pada underpass Kemayoran yang sempat tergenang pada awal 2020.

Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air BBWS Ciliwung Cisadane Andri Rachmanto mengatakan, di Jakarta Utara ketinggian tanahnya rendah dan landai. Sehingga, wilayah ini rawan mengalami banjir rob akibat pasang air laut dan menjadi muara dari aliran air yang semuanya ke wilayah Jakarta Utara.

Aliran sungai di wilayah ini sering terkendala oleh pasang surutnya air laut dari Laut Jawa. “Dengan adanya pompa ini kita bisa menjaga elevasi air di tiga kecamatan Jakarta Utara, sehingga ketiga kecamatan tersebut bisa terlindungi dari pasang air laut," tutur Andri.

Pengerjaan Pembangunan Stasiun Pompa Ancol-Sentiong terbagi dalam tiga zona. Yakni, Zona A berupa pemancangan corrugated concrete sheet pile (CCSP) sepanjang 272.89 meter sisi kiri (utara), pemancangan CCSP sepanjang 266.41 meter sisi kanan (selatan), dan pengerukan sepanjang 332.89 meter alur sungai.

Untuk Zona B berupa rumah pompa dengan pompa banjir tipe submersible, sebanyak lima buah masing-masing berkapasitas 10 m3/detik. Selanjutnya Zona C berupa pemancangan CCSP sepanjang 653.17 meter sisi kiri (utara), pengerukan sepanjang 257.11 meter alur sungai, dan pemasangan tetrapod di sisi hilir sepanjang 25 meter.

Pembangunan Stasiun Pompa Ancol- Sentiong dikerjakan oleh kontraktor PT Wijaya Karya (Wika)-Jaya Konstruksi KSO senilai Rp437,6 miliar dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN)-surat berharga syariah negara (SBSN) 2020–2021. Saat ini progres pekerjaannya baru mencapai 3,9%, diharapkan akan rampung pada 14 Oktober 2022.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (Wika)-PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON) KSO terus berupaya melakukan percepatan pembangunan stasiun pompa Ancol-Sentiong  ini untuk membantu mengurangi risiko banjir saat musim hujan tiba.

Kemajuan fisik dari proyek ini memang masih sangat kecil, yaitu baru 3,9 persen. Hal itu karena banyak jaringan kabel milik PT Telkom Indonesia (Persero) (TLKM), jaringan pipa gas, atau pipa PDAM, jaringan kabel listrik tegangan tinggi milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), atau PLN bawah tanah yang perlu direlokasi terlebih dahulu.

Untuk merelokasi seluruh utilitas di bawah tanah tersebut tidak mudah. Sebab, berbagai ancaman yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja sangatlah besar. Oleh sebab itu perlu dilakukan secara hati-hati, dengan penundaan waktu yang relatif lebih lama.

Proyek ini ditargetkan rampung pada 2022. Dengan adanya stasiun pompa itu maka ancaman banjir di tiga kecamatan di wilayah Jakarta Utara, di areal seluas 1.000 ha, bisa diminimalisir. Selama ini air hujan atau kiriman dari wilayah Bogor-Depok tidak bisa langsung mengalir ke Laut Jawa lantaran muka air laut lebih tinggi dari daratan. Di mana itu terjadi akibat adanya penurunan permukaan tanah.

 

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari