COVID-19
  Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/4/2021). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Vaksinasi Terbukti Efektif Melawan Pandemi

  •   Senin, 19 April 2021 | 08:32 WIB
  •   Oleh : Administrator

Gerakan vaksinasi di Inggris dan AS terbukti ampuh menekan kasus Covid-19 dan kematian akibat virus flu mutan itu. Kasus positif di Inggris susut dari 68 ribu per hari menjadi 2.600 kasus saja.

Situasi terus membaik selama tujuh pekan terakhir di Indonesia. Kasus positif Covid-19 yang pernah mencapai 14.500 per hari di akhir Januari, telah turun menjadi rata-rata 5.200 kasus di  pertengahan April 2021. Angka positivity rate yang saat itu pernah menyentuh 40 persen bisa turun menjadi 10,5 persen. Perbaikan pun terlihat pada sejumlah indikator pandemi lainnya seperti kesembuhan, angka kematian, bed occupancy ratio (BOR), jumlah zona merah, dan indikator lainnya.

“Tapi pandemi masih jauh dari selesai,” kata juru bicara Satgas Penanggulangan Covid-19 Profesor Wiku Adisasmito.

Angka kejangkitan yang masih cukup tinggi, yang ditunjukkan oleh positivity rate 10,5 persen, masih jauh dari batas angka aman sesuai anjuran WHO, yang 5 persen. “’Kita tak boleh lengah, jalankan protokol kesehatan dan patuhi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM),’’ ujarnya dalam konferensi pers virtual Kamis, (15/4/2021) di Jakarta.

Bahkan, kalau pun indikator itu terus membaik, tak berarti situasi sudah aman. “Situasi baru aman kalau semua negara sudah aman,” Profesor Wiku menambahkan.

Faktanya, kondisi itu jauh panggang dari api. Guru besar kebijakan dan penanggulangan penyakit infeksi dari UI itu mengingatkan, tren dunia yang dalam tujuh pekan terakhir justru menunjukkan kenaikan penularan Covid-19. “Pada pekan terakhir ini, laju kenaikannya meningkat rata-rata 9 persen,” katanya pula.

Pandemi Covid-19 dunia memang sedang memapaki gelombang ketiganya. Setelah menyusut tujuh pekan, sejak akhir Desember 2020 hingga pertengahan Februari 2021 dari kasus baru Covid-19 rata-rata sekitar lima juta turun ke 2,2 juta kasus per hari, tujuh pekan berikutnya kembali naik. Pada medio April 2021, kasus harian global sudah mencapai 4,2 juta per hari.

Negara-negara  yang mengalami lonjakan kasus Covid-19, antara lain, Filipina, India, Iran, dan Turki. Filipina pekan lalu mencatat rekor 10.800 kasus baru dalam sehari. Pada saat yang sama Iran menorehkan angka penularan 23.700 kasus per hari dan Turki 61.400 kasus. Namun, yang kini menjadi kekhawatiran dunia adalah India. Pada Jumat 16 April lalu ada lonjakan sebesar 217 ribu kasus baru dalam sehari. Itu merupakan rekor baru di India, negeri yang dihuni 1,3 juta miliar penduduk.

Otoritas Kesehatan India menyatakan, ledakan kasus Covid-19 itu didorong oleh tiga masalah pokok. Pertama, tingkat kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan rendah. Yang kedua, lambatnya vaksinasi. Sampai akhir pekan lalu, baru 1,1 persen warga India yang menjalani vaksinasi penuh, dan 6,5 persen lainnya baru menerima sekali suntikan. Ketiga, adanya varian baru Covid, yakni B-1617.

Varian B-1617 ini diakui lebih  ganas dan menular. Laju transmisinya disebut 20 persen lebih tinggi dibanding  varian yang selama ini ada. Sampai Januari lalu, varian B-1617 ini tidak terdeteksi. Namun hasil surveilansi pada April 2021 menunjukkan, dari semua sampel yang dikumpulkan untuk dirunut genomnya di seluruh India, 55 persen adalah B-1617. Tak  heran bila di seputar Mumbai, salah satu episentrum Covid-19 di India, 60 persen pasien dinyatakan terserang oleh varian  B-1617.

Varian baru ini sudah menyebar ke 10 negara bagian, dari 29 negara bagian dan 7 daerah khusus di India.  Dengan tingkat penularan yang tinggi, jika tak dilakukan pengendalian segera, dikhawatirkan prevalensi infeksi dari varian B-1617 itu akan dominan seperti halnya B-117 di Inggris dan B-1351 di Afrika Selatan.  Varian B-1617 itu sendiri telah tersebar  di 10 negara, antara lain Inggris (termasuk Skotlandia) dengan 77 kasus, Amerika Serikat (AS),  Australia, dan Selandia Baru.

Dengan adanya lonjakan baru itu, kini ada 13,5 juta kasus Covid-19 di seluruh India. Dengan begitu, india menempati peringkat  dua dunia dalam jumlah kasusnya setelah AS, yang telah membukukan 31 juta kasus. Pada peringkat ketiga adalah Brazil dengan 13,4 juta kasus

Brazil sendiri masih kesulitan menekan angka kasus Covidnya sejak mengalami lonjakan gelombang ketiganya pertengahan Desember lalu. Dengan dominasi varian baru P-1 khas Brazil, negeri Samba ini masih membukukan 65-70 ribu kasus baru Covid per harinya.   

Kemanjuran Vaksin

Kalangan peneliti India menyatakan belum mampu memastikan apakah vaksin yang tersedia cukup ampuh untuk menghadapi varian baru B-1617. Penelitian tentang efektivitas vaksin juga masih dikerjakan. India sendiri menggunakan tiga jenis vaksin, yakni Covishield dan Covaxin, buatan  dalam negerinya, dan Spunik yang diimpor dari Rusia. Sejauh ini, India sudah menyuntikkan 110 juta dosis vaksin bagi warganya.

Para ahli memiliki pandangan yang berbeda mengenai efektivitas vaksin menghadapi varian baru ini. Dengan segepok data, sebagian pakar menyatakan bahwa vaksin tertentu tidak atau kurang efektif menghadapi varian tertentu. Namun, Profesor Eric Topol, pakar pengobat molekuler dari Scripps Reasearch di La Jolla, California, merupakan insan yang optimistis terhadap vaksinasi.

‘’Yang berisiko tinggi itu mereka yang tidak divaksinasi,” katanya seperti dikutip The New York, Times, edisi 15 April 2021. Bahwa ada vaksin yang mencatatkan tingkat efektivitas berbeda di satu dan menghadapi varian tertentu, itu tak berarti vaksinnya  tak bekerja. “Vaksin-vaksin itu tak hanya melindungi dari infeksi, melainkan juga mencegah agar orang tak perlu masuk rumah sakit, betapapun varian baru berseliweran,’’ katanya.  Vaksin tetap punya perlindungan.

Setidaknya, vaksinasi  yang gencar dilakukan di AS telah menunjukkan hasilnya. Gencar melakukan vaksinasi sejak awal Januari 2021, kasus Covid-19 di Amerika berangsur turun. Bila di 9 Januari 2021 mencatat rekor tertinggi dengan 254.000 kasus Covid-19 dalam satu hari, maka pada 15 April tercatat “hanya” terjadi 74 ribu kasus, dengan rata-rata 70.500 kasus dalam satu pekan terakhirnya. Angka kematian pun menyusut dari 3.000 kasus pada 9 Januari, menjadi rata-rata 750 kasus sehari selama sepekan terakhir ini.

Amerika melakukan vaksinasi dalam skala yang luar biasa. Sampai 15 April 2021 lalu, tercatat sudah 78,5 juta (23,9 persen) yang sudah genap menjalani dua suntikan vaksinasi. Sementara itu, ada 14,4 persen lainnya (dari populasi penduduk) yang telah menjalani satu kali suntikan.

Di Eropa, Inggris kini tercatat sebagai negara yang paling sukses menekan angka kejangkitan Covid-19. Selain terus menjaga kepatuhan warga  pada protokol kesehatan, dan melakukan pembatasan kegiatan sosial, Inggris juga gencar melakukan vaksinasi sejak awal Januari 2021.

Sampai 15 April 2021, sedikitnya 12,8 persen (8,5 juta jiwa) warganya telah menerima vaksin genap dua kali suntikan. Ada 35,9 persen lainnya yang menerima satu kali suntikan. Hasilnya pun terlihat jelas bahwa kasus harian Covid-19 menyusut. Bila pada 8 Januari 2021 masih  tercatat ada 68 ribu kasus baru Covid-19 di hari itu, angkanya menjadi rata-rata 2.600 kasus infeksi baru pada sepekan terakhir ini. Angka kematiannya pun menyusut jauh dari rata-rata 1.250 orang per hari pada medio Januari menjadi rata-rata 26 orang per hari pada pertengahan April 2021.

Kondisi Indonesia juga membaik. Namun masih terlalu dini untuk disebut telah mengikuti jejak Inggris. Vaksinasi lengkap di Indonesia baru mencapai 2,1 persen (5,5 juta orang) dari jumlah populasi dan 10,5 juta orang lainnya baru menerima sekali suntikan. Namun, setidaknya 1,3 juta nakes (tenaga kesehatan) telah menerima suntikan dosis lengkap. Mereka kini telah lebih terlindungi dari virus ganas ini.

 

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari