PROYEK BIFROST
  Pengunjung memindai kode QRIS untuk pembayaran dalam acara Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2021 Eksotisme Lombok di kawasan destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) The Mandalika, Praya, Lombok Tengah, NTB, Rabu (3/3/2021). ANTARA FOTO/ Aprillio Akbar

Indonesia Jadi Perlintasan Komunikasi Data Dunia

  •   Jumat, 9 April 2021 | 10:02 WIB
  •   Oleh : Administrator

Ekonomi digital Indonesia memiliki valuasi di atas USD130 miliar dan menjadikan Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang pesat telah menjadi incaran pelaku bisnis dunia. Mereka melihat pasar Indonesia pasar masa depan ekonomi digital skala global yang patut dilirik. Dalam berbagai kesempatan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pernah merilis bahwa potensi ekonomi digital di Indonesia pada 2025 mencapai USD113 miliar. Pada 2019, ekonomi digital Indonesia tercatat yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai USD40 miliar.

Prediksi kementerian di bawah Airlangga Hartarto itu tidak berbeda jauh dengan proyeksi e-Conomy SEA 2020 yang pernah dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company. Mereka memprediksi ekonomi digital di Indonesia tumbuh hingga dua digit, bahkan memberikan kontribusi yang positif terhadap perekonomian Indonesia.

Tak hanya itu, Google juga memprediksi ekonomi digital Indonesia akan memberikan kontribusi pada perekonomian sebesar USD124 miliar pada 2025. Meskipun wabah pandemi masih melanda Indonesia dan dunia, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate pun sangat gembira dengan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia yang ternyata masih tumbuh positif.

Tahun lalu, valuasi ekonomi digital Indonesia naik dari USD40 miliar menjadi USD44 miliar. Dan pada 2025, valuasi ekonomi digital Indonesia akan mencapai USD130 miliar atau Rp1.820 triliun (jika kurs Rp14 ribu per USD). "2025 ekonomi digital kita setidaknya memiliki valuasi di atas USD130 miliar, valuasi ini menjadikan Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara," kata Johnny, dalam video virtual, Senin (5/4/2021).

 

Kerja Sama 3 Pihak

Merujuk data-data di atas, wajar saja bila sejumlah pelaku usaha skala global melihatnya sebagai peluang bisnis masa depan mereka. Ini yang terjadi dengan kerja sama tiga pihak, yakni Facebook bersama PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) dan Keppel Midgard Holdings Pte Ltd, yang menggelar sistem komunikasi kabel bawah laut di Indonesia.

Dalam siaran persnya belum lama ini, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui anak perusahaannya, Telin, bersama Keppel Midgard Holdings Pte Ltd (KMH) dan anak perusahaan Facebook Inc (Facebook) telah mengumumkan penandatanganan perjanjian pembangunan bersama dalam kepemilikan dan pengembangan sistem komunikasi kabel bawah laut (SKKL) Bifrost. Bifrost merupakan sistem kabel bawah laut pertama di dunia yang langsung menghubungkan Singapura dengan Pantai Barat Amerika Utara. Jaringan SKKL ini akan melewati Laut Jawa dan Laut Sulawesi.

Telin dan para mitranya menargetkan pembangunan SKKL Bifrost selesai pada awal 2024 dengan panjang lebih dari 15.000 km. Saat beroperasi penuh, infrastruktur itu akan menjadi kabel transmisi berkapasitas terbesar yang melintas Samudra Pasifik.

Telin, KMH, dan Facebook bersama-sama telah menunjuk Alcatel Submarine Networks (ASN) dalam penggelaran sistem kabel bawah laut. Presiden ASN Alain Biston mengatakan saat ini terjadi lonjakan permintaan bandwidth data global secara signifikan, yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Saat beroperasi penuh, infrastruktur itu akan menjadi kabel transmisi berkapasitas terbesar yang melintasi Samudra Pasifik. “Kolaborasi dalam SKKL Bifrost akan memenuhi kebutuhan internet yang sangat besar dari Indonesia ke dunia dan sebaliknya,” ujar CEO Telin Sukardi Silalahi dalam siaran persnya, Selasa (30/3/2021). Sementara itu, CEO Keppel T&T Thomas Pang menyambut gembira kerja sama tiga pihak tersebut untuk proyek SKKL Bifrost. Hal senada juga dikemukakan Vice President Network Facebook Kevin Salvadori.

Proyek SKKL Bifrost memang untuk memenuhi kebutuhan pasar Internet Asia, termasuk Indonesia. Laporan Cisco Annual Internet Report (2018—2023) memperkirakan, di kawasan Asia Pasifik, jumlah pengguna internet akan mencapai 3,1 miliar pengguna pada 2023, dari 2,1 miliar pengguna pada 2018. Berdasarkan informasi, SKKL tersebut akan mendarat di empat titik. Menariknya, tiga dari empat titik tersebut berada di Indonesia bagian Timur yaitu Papua, Manado dan Kupang. Satu lagi berada di Batam.

Dengan adanya proyek ini, Indonesia tentu sangat diuntungkan dengan adanya keberadaan infrastruktur telekomunikasi tersebut. Khusus di Indonesia saja, negara ini memiliki infrastruktur telekomunikasi Palapa Ring. Infrastruktur telekomunikasi itu bertujuan agar masyarakat Indonesia bisa menikmati akses internet karena infrastruktur Palapa Ring menjangkau 57 kabupaten/kota dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) untuk mendukung tersebarnya internet cepat di Indonesia.

Tujuan yang sama juga diusung tiga pihak, Telin, Facebook, dan KMH sebagai bagian dari proyek Facebook Connectivity rampung pada pertengahan 2021. Saat ini perkembangan pembangunan serat optik telah mencapai 70%.

Menurut rencana, proyek kabel serat optik yang digelar akan menghadirkan jaringan internet cepat di 61 kabupaten/kota dengan 2.450 desa. Seandainya 1 desa berpenduduk 5.000 orang, jumlah penduduk yang terjangkau sekitar 12 juta.

Adanya infrastruktur ini juga bisa sebagai sistem cadangan untuk mengantisipasi putusnya jalur yang berada di Jepang atau jalur konvensional. Artinya, keberadaaan infrastruktur itu semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin ekonomi digital di kawasan Asia Pasifik.

 

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/ Elvira Inda Sari