COVID-19
  Vaksinator mempersiapkan vaksin COVID-19 Astrazeneca sebelum diberikan kepada warga di Puskesmas Kota Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (22/3/2021). ANTARA FOTO/Umarul Faruq

Vaksin Masih Efektif Lawan Virus Baru Corona

  •   Rabu, 24 Maret 2021 | 08:49 WIB
  •   Oleh : Administrator

Munculnya varian baru virus SARS COV-2 diyakini tidak akan memengaruhi efektivitas vaksin yang diberikan kepada masyarakat.

Pemberian vaksin adalah intervensi yang sudah teruji manfaat kesehatan bagi masyarakat untuk menyelamatkan nyawa. Oleh karena itu, masyarakat disarankan tidak menunda vaksinasi atas dasar kekhawatiran varian baru virus SARS COV-2 yang muncul. Sekalipun, vaksin dinilai kurang efektif terhadap beberapa varian virus penyebab Covid-19.

Pemerintah meyakini, berdasarkan analisis dan penelitian terakhir munculnya varian baru virus penyebab Covid-19 itu diyakini tidak akan memengaruhi efektivitas vaksin yang diberikan kepada masyarakat. Adapun jika salah satu vaksin yang ada terbukti kurang efektif terhadap satu atau lebih varian, maka hal itu akan menjadi dasar perbaikan komposisi vaksin untuk melindungi dari varian tersebut secara spesifik.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Profesor Wiku Adisasmito mengatakan, kini kondisi pandemi Covid-19 yang belum surut itu laiknya sedang berperang. Oleh karenanya, sambung dia, vaksin yang ada sekarang adalah senjata untuk memenangkan pertarungan melawan virus berbahaya itu.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah berkomitmen terus melakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas vaksin yang ada saat ini. Pemerintah juga melakukan percepatan pengadaan vaksinasi di Indonesia, dan juga memprioritaskan kelompok yang rentan untuk menekan laju penularan dan kemunculan varian baru.

Saat ini para peneliti lembaga pemerintahan bidang kesehatan, para ilmuwan bekerja keras mengidentifikasi varian virus baru melalui whole genome sequencing(WGS) atau cara melihat identitas virus. Yang kemudian dikumpulkan melalui Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID), untuk mendalami pengaruhnya terhadap perilaku virus tersebut.

GISAID adalah lembaga bank data yang menjadi acuan untuk data genom virus SARS COV-2. Para peneliti dan produsen saat ini harus terus menyesuaikan kondisi evolusi virus penyebab Covid-19. Misalnya, memasukkan lebih dari satu strain dalam pengadaan produk vaksin, dan menambahkan suntikan penguat atau booster.

Yang tak boleh dilupakan adalah studi tentang dampak pembentukan antibodi pada penerima atau efektivitas vaksin juga menjadi penting untuk mengetahui dampak program vaksinasi. Misalnya dengan melakukan zero survey pada masyarakat.

Kemunculan varian baru, merupakan bagian dari proses semua virus termasuk SARS COV-2 memperbanyak diri. Saat menggandakan diri terkadang terjadi sedikit perubahan yang sangat normal. Perubahan-perubahan inilah yang disebut mutasi.

Virus dengan satu atau lebih mutasi disebut varian dari virus aslinya. Dan ketika virus menyebar luas di populasi dan menyebabkan angka kasus yang tinggi, maka kemungkinan virus bermutasi juga meningkat.

Dan sebagian besar mutasi virus tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap kemampuan virus menyebabkan infeksi atau penyakit. Namun, berdasarkan lokasi perubahan pada material genetik virus, maka sangat mungkin memengaruhi sifat virus seperti sifat penularannya. Bisa kurang atau lebih cepat menular atau besar keparahan yang ditimbulkan.

Untuk itu vaksin Covid-19 yang sedang dalam pengembangan atau sudah disetujui diharapkan dapat memberikan setidaknya beberapa proteksi untuk melawan varian virus baru. Pada prinsipnya, vaksin Covid-19 dalam pengembangannya memperhatikan respons imun yang luas dan mempertimbangkan berbagai antibodi dan sel.

"Oleh karena itu, perubahan atau mutasi pada virus tidak membuat vaksin menjadi tidak efektif sama sekali," tegas Wiku.

Perkuat Prokes

Sementara itu, Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi dalam Talkshow BNPB, Jumat (12/3/2021), mengatakan bahwa tidak ditemukan penularan baru virus corona dari enam kasus mutasi virus corona B.1.1.7 asal Inggris. Kasus kontak erat dengan enam kasus itu juga dinyatakan negatif.

Kasus varian virus corona asal Inggris ini ditemukan di lima provinsi yaitu dua kasus di Jawa Barat, satu di Sumatra Utara, dan satu di Sumatra Selatan. Kemudian, masing-masing satu di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Belum ada kasus varian virus ini ditemukan di DKI Jakarta. Pun, enam orang yang terinfeksi virus Inggris tersebut sudah dinyatakan sembuh.

Berdasarkan rekomendasi WHO, yang perlu mendapat perhatian khusus bagi negara-negara seluruh dunia adalah mutasi virus B.1.1.7 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, dan P1 dari Brasil.

Kabar teranyar, Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio menyebutkan, sudah ada 48 kasus virus corona varian N439K yang masuk ke tanah air sejak akhir 2020. Puluhan kasus tersebut ditemukan dari 547 sampel whole genome sequencing virus SARS COV-2. Kasus ini sudah dilaporkan ke GISAID.

Penularan varian baru virus corona itu memang tak secepat B.1.1.7, namun mampu bertahan terhadap antibodi. Varian jenis ini baru ditemukan di penelitian laboratorium, masih diperlukan pengecekan di lapangan. Dengan demikian, di Indonesia sudah ada tiga varian virus Corona yang terdeteksi, yakni; D614G, B.1.1.7, dan N439K.

Kendati demikian, Amin Soebandrio mengatakan, belum ada penelitian yang menyebutkan vaksin Covid-19 yang tengah dikembangkan tak mampu melawan virus. "Jadi vaksin-vaksin yang sekarang beredar itu dianggap masih efektif untuk varian ini," pungkasnya.

Kemenkes juga mengingatkan kuncinya dalam menghadapi varian virus baru ini agar masyarakat tetap mengikuti protokol kesehatan secara ketat. Tentunya diimbangi dengan gaya hidup sehat. Cukup dengan menggunakan masker sesuai standar kesehatan secara baik dan benar maka bisa menurunkan risiko tertular serta menularkan Covid-19 sampai 90 persen.



Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari